Kamis, 10 Desember 2009

WIRID PURBA JATI MENGENALI JATI DIRI Hakekat Neng, Ning, Nung, Nang

MENGENALI JATI DIRI
Hakekat Neng, Ning, Nung, Nang

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia ? Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar-salah. Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan karena berkenaan dengan eksistensi Tuhan sendiri yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhlukNya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahamiNya  sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak samasekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi  kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian. Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni; immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

Unsur Bumi

Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan).  Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni ; daging, tulang, sungsum dan darah. Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.
Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

Unsur Tuhan

Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus).  Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi. Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.

Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan

Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut  terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai  media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawa bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda,  menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif.  Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan  perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Kami akan memaparkan melalui perspektif Javanism atau kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan “membumi”.

Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Laku Prihatin

Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit). Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

Hawa Nafsu ; Ibarat Satu Keping Mata Uang

Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif –meminjam istilah Arab— sebagai an-nafs al-muthmainah.. Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah (kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsu amarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah (mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi. Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

Manusia Bebas Mencoblos Memilih

Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi). Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia. Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah.  Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati).
Kadang kala Tuhan Maha Pemurah menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

Laku Prihatin adalah Jihad Sejati

“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi.  Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan”  terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa / rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati. Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku. Laku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif. Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding di medan perang dalam kalbu antara tentara Muslim nafsu positif melawan tentara Amerika nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif)  dalam hati kita.  “Bahan peledaknya” bernama C4 dan TNT laku prihatin dan olah batin (wara’ dan amr ma’ruf nahi munkar).

Target Utama dalam “Berjihad” (Laku Prihatin)

Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif atau nafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan  (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya  disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf). Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca  indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego. Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang, (untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap  sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

Menjadi Pribadi yang Menang

Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang  yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

Kemenangan Pendawa Lima diraih  tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah.  Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut. Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

1.     Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi.  Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi  gelombang Tuhan.
2.     Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga”  kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun  jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga  kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.
3.     Nung; artinya      kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya  selalu bermanfaat untuk orang banyak.
4.     Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya.  sehingga amal perbuatan baik yang tak  terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatinKemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat  (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

MENGAKSES ENERGI ALAM SEMESTA UNTUK KEDAMAIAN HIDUP DAN MELENYAPKAN PENDERITAAN

Ini adalah salah satu amalan mengakses energi alam semesta dan digunakan untuk melenyapkan penderitaan yang kita alami, hidup dinamis dan mencapai kedamaian hidup.

Pejamkan mata, duduk santai dan visualisasikan sebuah teratai di dalam hati kita memancarkan cahaya putih ke semua anggota tubuh kita. Lalu, lantunkan puisi mantra ini di dalam hati.

“HATIKU ADALAH HATIMU
SEMUA HATI ADALAH SATU HATI
SATU HATI ADALAH HATI ALAM SEMESTA”

Lalu diam dan rasakan aliran energi alam semesta yang begitu dahsyat merambat di nadi, darah, tulang dan seluruh tubuh kita selama 5 menit. Sederhana dan mudah bukan? Ya, memang ini cara yang sangat sederhana dan tidak perlu diperumit. Mengakses energi alam ini ada di semua agama semua tradisi spiritual dan aliran kepercayaan manapun di dunia. Cara boleh berbeda namun, tentu saja hakikatnya sama: MENYADARI SEMUA YANG ADA BERASAL DARI SATU SUMBER. YAITU TUHAN YANG MAHA SEGALANYA YANG MERUPAKAN CAUSA PRIMA (SUMBER SEBAB TERAKHIR YANG TIDAK DISEBABKAN LAGI).

Praktek rutin visualisasi ini sangat efektif dapat melenyapkan semua penderitaan yang kita alami dan menghilangkan hawa nafsu serta mendapatkan pencerahan hakiki. Bahwa sesungguhnya manusia adalah bagian dari dinamika alam semesta. Dinamika kosmologis yang terhubung oleh satu kesadaran rasa/batin untuk selalu bersujud pada Tuhan.

Mengapa efektif? Sebab visualisasi ini secara esoterik akan menyapa alam semesta (Alam semesta adalah makhluk terbesar ciptaan Tuhan) secara tulus sehingga alam semesta juga menyapa kita dan terjadi transfer energi alam semesta yang luar biasa dahsyat.

Bila kita tidak mengirim getaran sinyal rasa welas asih pada mereka, bagaimana mereka dapat menerima sinyal kita? Karena itu hati yang tulus sangat penting kita pancarkan ke alam semesta. Hati yang tulus dapat menggugah hati alam semesta untuk menyelimuti kita dan memberikan energinya (yang sejatinya bersumber dari energi-Nya) pada kita. Sebaliknya, hati yang tertutup dan keras membatu akan memancarkan energi penolakan sehingga antara kita dan alam semesta tidak bisa nyambung dan alam juga tidak akan membuka pintu energinya untuk kita.

MENGUNGKIT HIDUP DALAM PIKIRAN

Menggapai perjalanan abadi akan terkait dengan pemahaman atas pandangan hidup dan mati, sejalan dengan itu sebagai muslim sebagai suatu pendekatan untuk memberikan daya dorong dalam bersikap dan berperilaku dalam maka dua kata dalam mengungkapkan hihmak berpikir untuk menentukan kadar iman dan amal manusia dalam kehidupan beragama diman manusia mengungkapkan keyakinan dan kepercayaan yang terkait dalam siapa, diarimna dan kemana manusia.

Sejalan dengan pemikiran itu, maka dalam kehidupan ini kita dihadapkan pada kehidupan didunia bahwa kemampuan berpikir menentukan pula sikap dan perilaku manusia dalam menjunjung arti kyakinan dan kepercayaan atas kebesaran Allah.

Oleh karena itu, maka pembicaraan, perbuatan dan kebiasaan akan menunjukkan kepribadian manusia. Jadi kepribadian akan menggambarkan tingkat kedewasaan manusia memamndang masalah hidup dan mati yang terkait dengan harapan dan ketakutan kepada Allah.

Bila kita sejenak untuk memahami tentang asal kejadian manusia maka dengan keyakinan dan kepercayaan pula kita dapat mengingat kembali apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada :

S.Q. 23 : 12 “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

S.Q. 23 : 13 “ Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”

S.Q. 23 : 14 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jdikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Secilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Dari surat dan ayat tersebut diatas, kita dapat memahami asal kejadian manusia bahwa manusia berasal dari air, dari air berketurunan dimulai dari tanah, lalu air kemudian diberi roh dengan bercampuran suami isteri, dari setitik mani yang bercampur terpencarlah cairan terjadilah kehamiln. Dari air yang lemah dan hina, dari tidak ada menjadi ada, diciptakan oleh Allah dan kembali.

Tentang kata manusia, begitu banyak diungkapkan dalam Al Qur’an yang tercantum dalam Q.S.No.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29, 30,31,32,33,34,35,36,37,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51, 52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,114 d , bserta ayat-ayat yang terkait dalam surat tersebut.

Disamping kata manusia, maka dalam Al Qur’an akan kita dapatkan pula makna manusia dalam kehidupan ini. Dalam perjalanan hidup ini hindari dari ketidaktahuan menjadi ragu-ragu, oleh karena itu simaklah pada surat dibawah ini untuk memahami inilah manusia pada :

S.Q. 96 : 1-6” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam

„Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

Dengan mengingat dan menghayati hal-hal yang diungkapkan dalam Al Qur’an akan dapat menuntun bersikap dan berperilaku dalam kehidupan untuk mengingat kita yaitu :

    * Manusia akan dicoba dengan kelaparan, ketkutan, dan jiwanya.
    * Manusia beriman akan dikumpulkan beserta keluarganya dalam surga.
    * Manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan
    * Manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi
    * Manusia dicoba dengan harta dan anaknya
    * Manusia diciptakan Allah tidak dengan sia-sia
    * Manusia diperintah berbuat baik terhadap orang tua
    * Hidup manusia penuh perjuangan
    * Hubungan manusia dengan Tuhan
    * Keberuntungan bagi manusia yang mensucikan jiwanya
    * Keadaan manusia di saat sakaratul maut
    * Manusia lebih sempurna dari mahluk lain
    * Dan seterusnya.

Jadi dengan sering kita menghayati makna manusia dan arti keberadaannya di dunia ini, kita lebih bisa mengendalikan buah pikiran yang dapat merusak sikap dan perilaku.

Dengan pemikiran tersebut maka manusia dapat memahami arti hidup dan mati dalam menuju perjalanan abadi berdasarkan tuntunan Aqidah (1. Iman kepada Allah, 2. Iman kepada Malaikat, 3. Iman kepada Kitab, 4. Iman kepada Rasul, 5. Iman kepada Hari Akhir, 6. Iman kepada Qadha dan Qodhar) dan Syariah (1. Bersuci, 2. Shalat, 3.Puasa, 4. Zakat, 5. Haji) yang dapat menuntu perjalanan hidup ini kedalam apa yang disebut :

    * Tentang umurnya untuk apa dihabiskannya
    * Tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan
    * Tentang hartanya dari mana diperoleh dan kemana digunakannya
    * Tentang jasadnya dipergunakan untuk apa

Dengan kesiapan itu, sadarlah dalam perjalanan hidup ini, lambat atau cepat kita pasti akan pulang ke akhirat. Oleh karena itu, keyakinan dengan agama yang memperdalam keimanan akan adanya kehidupan setelah mati, adalah merupakan sbagai penolong bagi manusia dengan keadaannya yang fana atas perjuangannya secara gigih dalam menempuh jalan yang baik dan harga diri yang abadi.

Jadi bila kita mengaku muslim, berarti menyerah dengan sebulat hati, maka segala perintah dan hukumnya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, larangannya aku hentikan dengan segenap kerelaan, sehingga manusia dan takdirnya mengharapkan dengan hidayah Allah, orang akan memperoleh ridhanya, dengan ridha itu ada harapan orang akan selamat dari siksa abadi dan dimasukkan kedalam kesenangan yang sepurna di syurga.

Dengan memahami makna „OTAK“ dalam berpikir, diharapkan manusia dalam mengaktualisasikan bersikap dan berperilaku dimana berpikir, berbuat dan kebiasaan tertuntun ke jalan yang benar yang diridhoi Allah Swt. Sedangkan Allah melihat manusia dari sisi akhlak dan martabat manusia.

Manusia yang berakhlak dan bermartabat biasanya dapat berpikir akan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah dan tindakan dalam pemahaman hidup dan mati dala islam.

Dengan pemikiran tersebut maka setiap melangkah harus memasang niat, sehingga ia membayangkan kenikmatan yang hendak dicapai, dalam pandangannya. Oleh karena itu, bila hijrah itu dengan niat untuk kepentingan dunia, ia Cuma memperoleh itu. Jika ia hanya terpikat pada seseorang wanita dalam pikirannya ia Cuma akan mengawinya. Jadi bila hijrah setiap orang adalah menengoh niat yang diucapkannya sewaktu hijrah.

Sejalan dengan pikiran itu, kita harus takut dan mengharapkan kepada Allah Swt, maka dalam keidupan ini bahwa tiap hari adalah hari perbaikan untuk hidup manusia, oleh karena itu belajarlah dari kesalahan, sehingga kita dapat menyadari bahwa yang terpenting adalah belajar menguasai diri sendiri.

Untuk mendalami makna hidup dan mati akan kita bahas dilihat dari setiap unsur huruf menjadi kata yang bermakna, sehingga kita bisa menuju dan membina kesucian hati melalui makna HIDUP (hijrah, insyaf, durhaka, usaha, pahala) dan MATI ( malaikat, ajal, takdir istirahat.

RUH ITU URUSAN TUHAN

Berbeda dengan jasmaniah kasar maupun halus (piranti keras dan lunak) Ruh bukan piranti dia Energi bagi manusia, Ruh adalah Energi Tuhan, yang mewakili Tuhan atas diri manusia, didalamnya terkandung sifat-sifat Tuhan demikian dikatakan bahwa manusia adalah makhluk Ruhaniah

Dalam Kitab Suci Al Qur’an banyak ayat yang menjelaskan duduk perkara soal ruh ini. Di antaranya menyatakan demikian:

1. Surat 15 (AL-HIJR) ayat 29
“Maka apabila Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan padanya Ruh dari Ku, hendaklah kamu tunduk sujud akan dia”
2. Surat 32 (AS-SAJ’DAH) ayat 9
“Lalu Ia sempurnakan kejadiannya, Ia tiupkan pada sebagian dari RuhNya dan Ia jadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan dan hati tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.”

Dari dua bunyi ayat diatas menjelaskan akan diri manusia, jati diri manusia yang sebenarnya, manusia pada saat kondisi bayi (baru lahir kedunia) tidak memahami akan dirinya, ketika beranjak remaja menganggap diri sebatas fisik (jasmaniah) banyak sekali dari manusia sampai usia tua menganggap dirinya fisik (jasmaniah). Kondisi ini terjadi ketika manusia terjebak oleh hawa nafsunya, karena cintanya pada dunia yang demikian besar menyebabkan tertutup kesadarannya akan jati dirinya yang sesungguhnya, dalam kehidupannya didunia akal dan fikirannya hanya tertuju pada gemerlapnya dunia dengan sendirinya akhirat terabaikan. Sejauh mana keyakinan kita sebagai manusia akan ayat tersebut diatas.

Sebagai ayat pembanding untuk analisa ayat tentang Ruh berikut ini adalah :
Surat 15 (AL-HIJR) ayat 27
“Dan jin itu, Kami jadikan dia lebih dahulu, dari api yang beracun ”
Dalam 2 (dua) ayat diatas dikatakan
1. “Aku tiupkan padanya Ruh dari Ku”
2. “Ia tiupkan padanya sebagian dari RuhNya”

Pada surat 15 (Al-Hijr) ayat 27 dikatakan bahwa jin itu dijadikan, sementara Ruh ditiupkan jelas disini bahwa jin itu dicipta (dibuat) oleh Tuhan sementara Ruh itu bukan ciptaan tapi bagian dari Ruh Tuhan, itu sebabnya Ruh itu kekal sebagaimana Tuhan. Begitupun jasad manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan alam semesta semua ciptaan Tuhan, hanya Ruh manusia saja yang bukan ciptaan melainkan bagian dari Ruh Tuhan, itu sebabnya pada diri manusia terkandung sifat keTuhanan. Hawa nafsu yang terkandung didalam Ruh manusia terdiri atas 4 (empat) level (tingkat) yaitu :
1. MULHALAMAH
2. RODHIYAH
3. MARDHIYAH
4. KAMILAH

Demikian sedikit penjelasan metafisis soal ruh yang bagi sebagian kalangan dianggap rahasia ini. Semoga ada manfaatnya. Rahayu…

BELAJAR ILMU SUPRANATURAL BOLEH ASAL WASPADA

Kajian sejarah menyebutkan bahwa sebelum agama-agama (Hindu, Budha, Islam) masuk ke nusantara, masyarakat Jawa sudah sangat mengenal tradisi mistik dan kebatinan yang tinggi. Kedatangan para wali di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut. Melainkan memanfaatkannya sebagi sarana dakwah.

Dalam hasanah ilmu supanatural di tanah air, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas rapalannya berbahasa Arab misalnya hizib/hijib/asma. Sedangkan Aliran Kejawen (sebetulnya sudah tidak murni Kejawen lagi, melainkan bercampur dengan tradisi arab) mantranya murni berbahasa Jawa. Namun sekarang mantra tersebut sudah diawali dengan membaca “Basmalah” kemudian dilanjutkan dengan mantra Jawa dan diakhiri dengan memohon ijin Tuhan (Soko Kersaning Allah)..

Baik Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen itu sudah diketahui oleh para penyebar agama. Awalnya aliran hikmah dan oleh Para Wali kemudian dikoreksi dan direvisi dengan menyusun amalan ilmu-ilmu supranatural dengan tatacara yang sesuai dengan akidah agama, misalnya dilakukan puasa, wirid dan rapal yang biasanya dicampur antara bahasa arab-jawa. Intinya adalah do’a dan permohonan agar diijinkan Tuhan memiliki amalan tertentu. Mungkin itu alasan para wali mengapa mantra kejawen tersebut tidak seluruhnya berbahasa Arab. Yaitu agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran yang baru mereka kenal.

Salah seorang wali yang terkenal dengan kemampuan mengolah amalan ilmu supranatural adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah tokoh yang pandai dan cerdas memanfaatkan berbagai media dan sarana untuk berdakwah. Misalnya melalu suluk, tembang, kidung. Suluk dan kidung yang dikarangnya mengandung ajaran falsafah ketuhanan dan ajaran kebatinan yang sangat berharga.

CADANGAN ENERGI DI ALAM ASTRAL
Setiap perilaku manusia akan menimbulkan sebuah bentuk fisik di alam astral. Apapun perilakunya, suatu ketika akan kembali ke pelakunya dan akan menimbulkan akibat yang bersifat metafisik. Amalan ilmu supranatural yang diniatkan untuk tujuan baik akan membangkitkan energi astral yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Amalan sebuah ilmu adalah olah batin sebagai syarat yang perlu dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu supranatural.

Olah batin adalah mengisi energi batin yang gaib. Pengisian energi cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Jadi syarat mendapatkan ilmu adalah mengamalkan bacaan wirid doa/mantra, menjauhi pantangan, berpuasa. Di Jawa kita mengenal puasa patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang mengamalkan sebuah ilmu.

KHODAM
Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam bukanlah mahluk ghaib sejenis jin, namun khodam itu sebuah energi bentukan batin kita. Khodam adalah “roh” suatu ilmu. Khodam itu berada di alam astral dan akan tetap ada di badan orang yang sudah mengamalkan ilmu.

MACAM ILMU SUPRANATURAL
BeRdasarkan fungsinya ilmu supranatural digolongan menjadi sebagai berikut:

1. Ilmu Kanuragan atau Ilmu Kekebalan
Berfungsi untuk bela diri secara metafisik. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa.

2. Ilmu Kawibaan dan Ilmu Pengasihan
Fungsinya mempengaruhi kejiwaan dan perasaan orang lain. lmu Kawibaan dimanfaatkan untuk menambah daya tarik kepemimpinan dan menguatkan energi komunikasi atau kata-kata yang diucapkan, disegani masyarakat dan perintahnya dituruti. Ilmu Pengasihan atau ilmu pelet adalah ilmu yang membuat simpati dan rasa sayang orang lain. Membuat pujaan hati jatuh cinta. Ilmu ini juga dapat dimanfaatkan untuk membuat lawan yang berhati keras menjadi kawan yang mudah diajak berunding termasuk memulangkan orang yang pergi jauh. Termasuk dalam ilmu pengasihan ini adalah ilmu penglarisan untuk menggaet pembeli agar datang ke toko dan usaha bisnis kita.

3. Ilmu Trawangan & Meraga Sukma
Ilmu trawangan berfungsi untuk menajamkan mata batin hingga dapat menangkap isyarat yang halus, melihat jarak jauh, tembus pandang dan lain-lain. Sedangkan Ilmu Meraga Sukma adalah kelanjutan dari Ilmu Trawagan. Dalam ilmu trawangan hanya mata batin saja yang berkeliaran kemana-mana, sedangkan jika sudah menguasai ilmu Meraga Sukma seseorang bisa melepaskan ruh untuk melakukan perjalanan astral. Baik Ilmu Trawangan maupaun Meraga sukma adalah ilmu yang membutuhkan keteguhan dan kebersihan hati. Biasanya hanya dikuasi oleh orang yang sudah tua.

4. Ilmu untuk Pertunjukan
Hanya bisa digunakan untuk pertunjukan di panggung. Ilmu ini mirip dengan ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, minyak panas dan air keras namun sebenarnya hanya dipakai sebagai pertunjukan saja

5. Ilmu Pengobatan
Ilmu kesehatan tubuh dan dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit baik yang fisik maupun yang metafisik. Misalnya ilmu yang dimiliki mak erot, amalan agar kuat seks, dan ilmu supranatural alternatif yang digunakan untuk mengobati darah tinggi, diabetes dan lainnya.

Olah kanuragan adalah seperti olah raga. Namun biasanya tidak hanya raganya saja yang dilatih untuk menguasai jurus-jurus, kuncian maupun kemahiran untuk menyerang dan bertahan. Namun juga kemampuan membangkitkan tenaga dalam. Tenaga dalam yang diganbung dengan amalan batin khusus (laku) kemudian menjadi ilmu dan ajian yang sangat banyak jenisnya. Ajian ini bersumber dari energi yang tidak nampak oleh mata.

DARI MANA ASAL ILMU SUPRANATURAL?
Setidaknya, seseorang memiliki kemampuan atau mampu menguasai ilmu ajian berasal dari:

1. Warisan
Seseorang bisa mendapatkan warisan ilmu supranatural dari kakek-buyut simbah-canggah, orang tua maupun orang lain yang yang tidak dikenalnya sama sekali. Mereka yang mendapatkan ajian ini secara otomatis tanpa belajar dan tanpa sepengetahuannya sudah memiliki ajian tertentu. Maka orang menyebut sebagai “ilmu tiban” yang artinya datang tanpa disangka-sangka sebelumnya.

2. Menjalankan Laku Tirakat.
Tirakat adalah bentuk olah rohani khas jawa yang tujuannya untuk memperoleh energi supranatural atau tercapainya suatu keinginan. Tirakat tersebut bisa berupa amalan, mantra, pantangan, puasa atau gabungan dari unsur tersebut. Inilah yang disebut belajar ilmu supranatural. Berhasil atau tidaknya menjalankan tirakat hingga menguasai ilmu, tergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri. Dalam hal ini guru hanya memberi bimbingan.

3. Pengisian.
Seseorang yang tidak mau susah payah juga bisa mempunyai kemampuan supranatural, yaitu dengan cara pengisian. Pengisian adalah pemindahan energi supranatural dari Guru kepada Murid. Dengan begitu murid langsung memiliki kemampuan sama seperti gurunya. Pengisian ilmu hanya bisa dilakukan oleh Guru yang sudah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi.

APA EFEK SAMPINGNYA?
Beberapa orang masih menyakini bahwa pemilik Ilmu Gaib akan mengalami kesulitan hidup dan siksaan saat sakaratul maut menjelang kematian dan ini benar JIKA orang yang bersangkutan menanam NIAT BURUK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan buruk. Maka hukum karma/sebab akibat harus ditanggungnya. Namun, apabila dia menanam NIAT BAIK dan MENGAMALKAN AJIAN tersebut untuk tujuan yang baik dan positif, misalnya untuk membela diri, membela kebenaran dan ajaran keyakinan yang dimiliki maka hukum sebab akibat juga akan diterimanya langsung dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ada sebuah mitos bila orang akan miskin bila memiliki ajian tertentu, maka hal ini tidak benar. Rizqi dan nasib kita ada di “tangan-Nya”. Bukan di tangan khodam ajian. Bila kebetulan orang yang memiliki ajian itu miskin, maka itu bukan disebabkan oleh ilmunya, melainkan karena malas bekerja, tidak memiliki kemampuan dan kompetensi tertentu dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan bahwa kebanyakan orang yang memiliki ilmu gaib maka dia biasanya menjadi SOMBONG. Perlu diketahui bahwa KESOMBONGAN inilah sebenarnya yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. RASA MEMILIKI yang berakibat KESOMBONGAN inilah yang tidak diperkenankan dan akan nyrimpeti LAKU kita dalam menjalani SANGKAN PARANING DUMADI nya manusia. Jadi bukan ilmu supranaturalnya yang dilarang namun karena dampak sifat negatif yang ditimbulkannya yang berpengaruh. Apalagi bila pemilik ilmu spuranatural ini malas bekerja dan hanya menunggu uluran tangan orang lain maka dia akan dikutuk oleh Tuhan. Akhirnya bisa disimpulkan bahwa negatif dan positifnya Ilmu Suptanartural tergantung pada NIAT DAN LAKU AMALAN dan PERBUATAN pemiliknya.

JAUHI SIHIR DAN SANTET

Pengetahuan yang baik dan benar apalagi disertai dengan kebijaksanaan akan memancarkan kedamaian dan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, mempraktekkan pengetahuan yang diperoleh secara sepotong-sepotong apalagi dilakukan ceroboh dan tidak disinari dengan cahaya kebijaksanaan pasti akan menjerumuskan diri sendiri, dan bisa jadi melukai orang lain.
DSCN7391
Pernyataan di atas terasa penting karena pada kesempatan kali ini akan dibahas tentang praktek SIHIR atau tenung. Kita akan memaparkan sesuatu yang berbahaya agar pengetahuan kita tidak sepotong-sepotong yang justeru membuat penasaran dan malah mempraktikkannya. Padahal kita tahu, mempraktikkan SIHIR ada resiko yang sangat berat. Selain siksa di neraka, juga siksa di dunia akibat bermain-main dengan makhluk jahat.

Praktek SIHIR sudah dikenal luas oleh masyarakat dan peradaban manapun di dunia. Sejarah praktek SIHIR yang paling terkenal konon telah dikenal sejak era Nabi Musa empat ribu tahun sebelum Masehi, bahkan saat Nabi Sulaiman. Di era Musa A.S., SIHIR menjadi bagian tidak terpisahkan dari kekuasaan. Untuk menguatkan legitimasinya di masyarakat Mesir, Fir’aun yang mengaku Raja di Raja di Bumi ini memiliki komunitas ahli SIHIR.

Konon, sebelumnya ilmu SIHIR juga telah dipraktekkan semasa Nabi Sulaiman. Setidaknya ada dua ayat di kitab suci yang menguas tentang bagaimana kesaktian IFRIT, jin yang mampu untuk memindahkan istana dalam waktu sangat cepat sehingga Ratu Balqis mengakui kehebatan Sulaiman (King Solomon). Sebagaimana yang tertera dalam kitab Suci: “Berkata IFRIT (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu (Sulaiman) dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” (QS An Naml 39).

Namun tawaran IFRIT ini ditandingi oleh seseorang yang lebih tinggi kesaktiannya yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QSAn Naml 40)

IFRIT adalah jenis jin yang memiliki kesaktian tinggi, suka menggoda dan jahil. Bahkan seorang nabi terakhir pun, Muhammad Rasulullah SAW pernah diganggu jin ini. Sebagaimana sabdanya: “Kemarin jin IFRIT menggoda dalam salatku supaya aku lalai. Akan tetapi Allah berkenan membantuku berlindung darinya sehingga aku dapat mencekiknya. Aku ingin mengikatnya di sebuah dinding mesjid hingga kalian dapat melihatnya, kemudian aku ingat doa saudaraku, nabi Sulaiman as.: Tuhanku, ampunilah aku. Berikanlah aku suatu kekuasaan yang tidak layak bagi seorang pun sesudahku. Sehingga Allah mengusirnya dalam keadaan rugi.” (Shahih Muslim No.842)

Bagaimana asal muasal SIHIR dalam peradaban dunia? Marilah kita telusuri dalam Kitab Suci. Dalam Surat Al Baqarah ayat 102, telah tertera di sana: ….”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan SIHIR), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan SIHIR), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan SIHIR).

Mereka mengajarkan SIHIR kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

MAKA MEREKA MEMPELAJARI DARI KEDUA MALAIKAT ITU APA YANG DENGAN SIHIR ITU, MEREKA DAPAT MENCERAIKAN ANTARA SEORANG (SUAMI) DENGAN ISTRINYA. Dan mereka itu (ahli SIHIR) tidak memberi mudarat dengan SIHIRnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan SIHIR itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan SIHIR, kalau mereka mengetahui.

Jelaslah awal muasalnya, bahwa ada sekelompok manusia yang mempelajari SIHIR dari kedua malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT. Padahal, dua malaikat ini memiliki SIHIR untuk tujuan baik yang disertai dengan kebijaksanaan.

Sekarang bagaimana praktek SIHIR dalam peradaban modern? Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang masih banyak kaum yang memiliki, menyimpan dan mempraktekkan SIHIR untuk berbagai keperluan. SIHIR memiliki banyak bentuk variasi dan nama. Jenis yang paling ganas ada tiga yaitu TENUNG, JENGGES dan SANTET.

Untuk melakukan SIHIR tenung, seorang dukun sebelumnya harus melakukan sebuah RITUAL yang merupakan slametan bohong-bohongan. Dukun duduk mengucapkan matra di tengah sajen-sajen yang membentuk setengah lingkaran. Sajen ini untuk makanan makhluk halus yang jahat—disertai permohonan untuk menghancurkan korban.

Sajen terdiri dari sebongkah kemenyan yang utuh dan candu, disertakan cermin (benda kesukaan makluk halus). Kalau orang bermaksud membunuh korban dan tidak sekedar membuatnya sakit, maka kemenyan itu diremukkan menjadi butiran-butiran kecil yang lalu dibungkus dengan kain mori putih, diikat di tiga tempat seolah-olah itu adalah mayat. Dukun membacakan doa-doa ritual yang biasanya dilakukan saat upacara pemakaman mayat.

Dalam JENGGES dan SANTET upacaya seperti itu dilakukan juga. Tetapi dalam upacara harus disertakan juga paku, rambut, pecahan kaca, kawat panjang, potongan-potongan besi, serta jarum di tengah sajen tadi. Dukum mengucapkan mantra dan memusatkan perhatian pada maksud jahatnya. Membujuk makhluk halus agar memasukkan benda-benda berbahaya itu ke perut korban. Korban maupun orang sekeliling korban akan menengar suara letusan mendadak dan kemudian si korban jatuh sakit parah.

Namun, spesifik untuk SANTET dukun itu sendiri yang harus mendatangi korban secara sembunyi-sembunyi dan melakukan praktek dengan meraba biji-bijian di tangannya sambil berkali kali membaca mantra dalam hati tanpa bersuara. Si Korban akan terkena sakit yang tidak bisa diobati.

TENUNG, JENGGES dan SANTET intinya adalah mengubah energi menjadi benda serta benda menjadi energi, energi inilah yang dipakai untuk melukai korban dengan keterlibatan makhluk halus.

Ada berbagai macam proses atau teknik untuk melancarkan tiga jenis SIHIR ini namun semuanya memilki tujuan yang sama yaitu membuat lawan takluk atau sakit. Seorang dukun pernah berceritera saat dia ingin menyantet korban: “Carilah photo, atau pakaian bekas korban, atau pernah dipakainya. Buat upacara slametan untuk makhluk halus dengan meletakkan foto dan pakaian itu. Upacara dilakukan pada malam hari……. tepat di hari weton korban. Janga lupa bakarlah kemenyan agar para mahluk jahat datang membantu, setelah itu bacalah mantra santet dan setelah selesai tulisilah rajah gaib di photo atau pakain korban dengan darah ayam dan bakarlah ke api.

Sambil membakar sampaikan keinginan kepada mahluk halus. Apabila makhluk halus mau membantu maka dalam beberapa hari akan kelihatan hasilnya, korban akan jatuh sakit, atau apabila guna-guna pelet agar di cintai maka sasaran akan takluk dan tergila-gila.

Pada saat itu juga dicurahkan kekuatan batin dengan kekuatan VISUALISASI (pembayangan) yang kuat dari pelaku. Misalnya santet dengan menggunakan media bambu apus yang ketika hendak digunakan terlebih dahulu dibacakan mantera-mantera tertentu, setelah itu PELAKU SANTET MEMUSATKAN KONSENTRASI, VISUALISASI DAN BERNIAT MENYAKITI SI KORBAN.

Ada lagi jenis SANTET yang sangat dikenal di masyarakat sekitar Banyuwangi, Jawa Timur tepatnya di wilayah yang dihuni subkultur Osing. Yaitu santet jenis SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG. Kedua jenis santet ini yang paling disukai dan sering diinternalisasikan masyarakat suku ini dalam aktivitas sehari-hari.

Kedua jenis Santet ini, sama-sama memiliki daya kekuatan untuk mempengaruhi objek yang disantet, tetapi dalam proses dan hasil keduanya berbeda. SABUK MANGIR terkesan halus, pelan dan membutuhkan beberapa hari untuk menuai tujuan penyantet. Dari sifatnya yang lambat nan pasti itu, resiko terdeteksinya penyantet oleh keluarga korban Santet, lebih kecil dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membongkar sindikat intervensi terselubung tersebut.

Berbeda dengan JARAN GOYANG, hasil dan tujuan penyantet terhadap korban santet lebih cepat bereaksi tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Tetapi, jenis ini yang tergolong kasar, sehingga lebih besar kemungkinan penyantet dapat segera terdeteksi. Pasalnya, selain para keluarga korban santet cenderung cepat menaruh kecurigaan terhadap tingkah laku korban yang tiba-tiba berubah dari kebiasaannya sehari-hari, korban penyantetan berkemauan kuat untuk segera mencari dan ingin bersanding selamanya dengan penyantet.

Apabila korban tidak sanggup mencari atau menemukan penyantet dirinya, korban akan selalu terlihat murung dan menyebut-nyebut nama penyantet, bahkan dalam kondisi yang paling parah korban tidak segan-segan mencari dan menanyakan nama penyantet diiringi pernyataan cinta, menyesal dengan suara-suara yang keras dan teriak-teriak.

Dari perbedaan efek yang ditimbulkan kedua jenis mantra SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG tersebut, dipengaruhi oleh potensi kekuatan magi yang berbeda-beda pula. Magi adalah sesuatu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia.

Yang perlu diketahui dalam khasanah SIHIR ini adalah soal MANTRA. Mantra sesungguhnya adalah untaian doa yang ditujukan kepada Tuhan Semesta Alam. Namun dalam praktik dunia hitam, kata ini mengalami penyempitan makna menjadi : “perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya ghaib, atau susunan kata berunsurkan puisi yang dianggap mengandung kekuatan ghaib yang biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang.” Untuk mempraktekkan SIHIR, diperlukan mantra yang tepat sehingga mampu membujuk makhluk halus untuk bergotong royong membunuh atau menyakiti korban.

REFLEKSI
Ada beragam saran untuk mengobati santet, yaitu pergi ke ahlinya (kyai, pendeta, paranormal, dukun, dll) bila kita belum mampu menyembuhkan sendiri. Banyak-banyaklah mengingat Tuhan dalam waktu apapun baik saat posisi duduk, berdiri maupun berbaring. Hanya Tuhan sumber segala sumber kekuatan. Bukankah setiap saat kita memang diwajibkan untuk memohon pertolonganNya dalam segala situasi?

Bagi yang sudah mampu untuk menyembuhkan diri atau menolak santet dengan kekuatan spiritual sendiri diperlukan sifat andap asor dan OJO DUMEH, kita perlu menetapkan kesabaran dan tidak perlu untuk membalas perlakuan yang sama. Sebab membalas dendam adalah LOGIKA SETAN. Ini yang membedakan kita dengan makhluk jahat yaitu memiliki KESADARAN, AKAL BUDI DAN KEBIJAKSANAAN.
 
Niat jahat apalagi bila disertai dengan perilaku jahat hasilnya juga sebuah kejahatan. SIHIR dengan berbagai variannya sudah sejak lama berakar urat dalam peradaban manusia, tidak terkecuali Indonesia. Di satu sisi penggunaan SIHIR jenis santet, tenung, jengges adalah juga salah satu kekayaan tradisi spiritual di nusantara. Namun, apakah membunuh dan menyakiti korban dengan cara dari dunia hitam seperti ini dibenarkan?

Kembali ke HATI NURANI MASING-MASING.

Dunia ini terlalu sempit dan buruk bila diisi dengan NAFSU, KESERAKAHAN, KEDURJANAAN, KEANGKARAMURKAAN. Dunia akan terasa luas indah bila kita semua hidup dengan SALING KASIH SAYANG, TOLONG MENOLONG dan TANPA PAMRIH.

Selain itu, ada pesan khusus bagi umat Muslim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dalam hadits:
Jauhilah TUJUH HAL yang merusak. Yaitu:
MENYEKUTUKAN ALLAH,
SIHIR,
MEMBUNUH MANUSIA,
MAKAN HARTA ANAK YATIM,
MAKAN RIBA,
LARI DARI MEDAN PERTEMPURAN DAN
MENUDUH BERZINA KAUM WANITA.

PULANG KE BATIN

Alas Ketangga terkenal bagi kalangan mistikus untuk mencari sandi-sandi rohani. Bagi kalangan mistikus, Alas Ketangga adalah “Ibu” sementara Alas Purwo di Banyuwangi adalah “ayah”. Konon, bila ingin melengkapi laku spiritual, bergurulah ke “ayah dan ibu” ini, maka sang anak yaitu Anda akan “lengkap” ngelmu-nya.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu ribet untuk percaya dengan kepercayaan mistik yang demikian itu. Untunglah, Tuhan memberikan saya kebodohan untuk memahami bahasa-bahasa sandi yang demikian sehingga tidak terlalu kebingungan untuk menjalani laku yang mereka percaya. Barangkali pula, Tuhan akan menunjukkan cara dan jalan yang lain untuk memahami ngelmu kasunyatan versi saya. Saya yakin, Tuhan Maha Memberi Petunjuk setiap saya mengarahkan rasa dan menggeluti dunia batin-Nya yang Maha Tidak Terjangkau.

Salah satu jalan yang ditunjukkan-Nya adalah jalan pulang ke rumah orang tua. Biasanya saya pergunakan kesempatan yang langka tersebut untuk mengembalikan dan membersihkan diri dari segala macam polusi mental yang keruh akibat terlalu banyak bersinggungan dengan dunia fisik. Semesta fisik, material, benda bila terlalu banyak berada di dalam pikiran memang akan cenderung membuat pikiran dan batin kita keruh. Pikiran dan batin tidak mampu untuk melihat dan merasakan kehadiran hal-hal yang gaib, mistik, supranatual, adikodrati dan transendental. Itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk mengosongkan mental, batin dan pikiran agar mampu mengakses energi Tuhan yang Maha Hebat.

Perjalanan dari Surabaya menuju Ngawi saya simbolkan perjalanan ruhani dari yang dangkal menuju yang tinggi. Surabaya berada di dataran rendah lambat laun meninggi pelan-pelan, berproses setapak demi setapak menggapai kedamaian semedi. Hingga akhirnya menuju lereng Lawu yang berada di sekitar 2000 meter di atas permukaan laut.

Saat melewati kota-kota, saya mengibaratkan sebagai sebuah titik-titik perjalanan ruhani yang harus disinggahi. Terkadang harus istirahat hanya untuk menghela nafas, menunggu tarikan ruhani yang menyedot energi kebenaran yang ada di mana-mana. Lantas kemudian, saya harus bergegas-gegas untuk sebuah pengalaman spiritual baru. Perjalanan baru yang harus saya tempuh, saya berusaha atasi dengan sabar ikhlas, nrimo dan SUMARAH. Terkadang pula, saya harus jatuh tersungkur karena sebuah sebab dimana saya harus menanggung kebodohan akibat pola pikir, mindset dan keliru untuk berolah rasa. Namun kemudian bangkit lagi dengan cara baru memandang kasunyatan ini.

Perjalanan dari yang lahir menuju yang batin adalah sebuah proses yang unik. Bukan harus mengalahkan yang lahir demi kemenangan yang batin, namun perjuangan yangh batin untuk menguasai yang lahir agar tidak ngawur dan membabi buta cakil. Kecenderungan yang lahir ini bergerak sembarangan karena tarikan yang lahir juga luar biasa besar.

Benda-benda di bumi ini memiliki kekuatan magnetik untuk menarik dan menyedot benda-benda lain. Benda akan bersinggungan kemudian lengket dan susah untuk dipisahkan. Bila tubuh jasmani yang benda ini berdekatan dengan benda tubuh jasmani yang lain maka pasti akan terjadi saling tarik menarik yang kuat. Begitu pula bila tubuh jasmani yang hanya benda ini berdekatan dengan benda lain seperti cincin indah, kendaraan mewah dan mahal, atau tubuh jasmani lain yang indah maka dipastikan terjadi ketertarikan dan akhirnya lengket susah terpisah.

Bila ini terjadi dalam waktu sekian lama dan titik orientasi kesadaran kita tidak beranjak dari semesta tarik menarik seperti ini, saya beranggapan hidup kita sia-sia. Sebab harusnya kesadaran kita terangkat semakin tinggi, bahkan harus mentransendensikan yang lahir oleh yang batin. Oleh karenanya, usaha untuk memfokuskan dan lebih menomorsatukan yang batin daripada yang lahir adalah sebuah perjuangan berat yang harus diperjuangkan oleh manusia. Bukankah manusia adalah titik tengah antara yang lahir dan batin? Malaikat, jin, dan beragam variannya, kejujuran, kebijaksanaan, keikhlasan adalah serba batin. Hewan, tumbuhan, batu-batu mulia, mobil, mall, logam mulia, uang, eknonomi, politik, DPR, Presiden, Jabatan, Kekuasaan, Korupsi semuanya serba lahir.

Tuhan adalah Dzat yang awal dan akhir, yang lahir dan yang batin. Sama seperti manusia. Itu sebabnya manusia berderajat tertinggi karena hanya dialah yang mampu “Menyamai Peran Tuhan”, ditunjuk menjadi WAKIL, HAMBA, PELAYAN, KEKASIH-NYA. Luar biasanya manusia tidak terletak pada akalnya-ciptanya (Ilmu Pengetahuan), namun juga rasa (spiritualitas, agama, kepercayaan), juga Karsa (kelakuan untuk menjalani perannya). Karena posisisnya yang sangat strategis itulah manusia harusnya terus memfokuskan diri tanpa sedetikpun melupakan TUHAN. Kita harus mengorientasikan hidup kita untuk selalu NGESTI TUNGGAL.

Banyak orang pintar namun kurang bermoral, banyak orang bermoral namun kurang pintar. Banyak orang pintar, bermoral namun kurang bijaksana. Justeru terkadang kebijaksanaan lahir dari orang yang tidak pintar namun bermoral. Sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari sebuah keutuhan bangunan kemanusiaan yang harusnya terus dicari karena kebijaksanaan tidak pernah mengenal titik henti. Kebijaksanaan akan terus berproses dan terus menjadi (BECOMING) tidak bisa hanya berada di satu titik eksistensi (BEING) saja namun lebih ke memudar (PERISHING) dan menyatu kembali dalam wujud yang berlainan. Untuk menggambarkan apa dan bagaimana luas cakupan Kebijaksanaan ada baiknya saya mengutip sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi hanya ilustrasi yang hanya sekedar cara untuk memahami bahwa kebijaksanaan lebih luas dari ilmu pengetahuan.

Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. “Mari kita berlomba?” “Apa Maksudnya?” “Saya mengajukan pertanyaan, 8 kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab, “24.” “Salah, yang betul 23.” “24 dong.” “Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23.”

Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. “Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas.” Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu.

Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. “Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?” “Yang benar ya 23.” Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.

Sang Guru Kong Cu tersenyum, “Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang.” Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.

Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, “Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu.” 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan.

Kisah di atas bisa diambil hikmah bahwa ilmu pengetahuan memang benar mampu membuka cakrawala kenyataan secara eksak, pasti dan tidak terbantahkan. Semua orang tahu itu. Tetapi, ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menangkap hakikat pergelaran alam semesta yang begitu kompleks ini. Kebenaran kecil adalah kebenaran rasio, akal dan matematis. Kebenaran besar adalah bagaimana kita mampu mengolah akal, rasa, hati nurani, dan budi pekerti kita untuk berperilaku yang baik dan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan untuk menggapai kebenaran dan kebijaksanaan Tuhan.

Akhirnya, sampailah saya di rumah orang tua di lereng Gunung Lawu. Setelah duduk bersimpuh di hadapan orang tua, bercengkrama sambil meminum teh hangat dan menyedot rokok menikmati masa lalu, saya mendaki sebuah perbukitan kecil di dekat rumah. Di atas sebuah gua, batin mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi, bergerak terbang, sayapnya mengepak menuju entah ke mana …