Jumat, 02 April 2010

KI EGENG PENGGING


Ki Ageng Pengging bag 1 .

oleh :Damar Sasangka.

Bagian 1.

Catatan ini saya buat sebagai kelanjutan dari catatan saya MISI PENG-ISLAM-AN NUSANTARA dan SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR. Bagi teman-teman yang belum membaca, mohon tidak membaca catatan ini dulu. Terima kasih. (Damar Shashangka)

Setelah kehancuran Majapahit pada tahun 1478 masehi,maka berakhir pula kejayaan Majapahit. Berakhirnya masa kejayaan Majapahit ini, bukanlah saat diperintah oleh Prabhu Brawijaya VII seperti yang dibanyak diberitakan selama ini, namun saat di bawah pemerintahan Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas. Sebagai bukti, dibawah inilah nama Raja-Raja yang pernah memerintah Majapahit.

1.Raden Wijaya atau Bhree Wijaya I atau Prabhu Brawijaya I atau Shrii Kertarajasa Jayawardhana (1292-1309 M)

2.Raden Kala Gemet atau Prabhu Jayanegara atau Shrii Jayanegara (1309-1328 M).

3.Ratu Ayu Tri Bhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M)

4.Prabhu Hayam Wuruk atau Shrii Rajasawardhana (1350-1389 M).

5.Prabhu Wikramawardhana (1389-1492 M) Pada masa inilah terjadi Perang Paregreg. Dimana Adipati Bhree Wirabhumi atau Adipati Kebo Marcuet mengadakan pemberontakan ke Majapahit dan berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga.

6.Ratu Ayu Suhita atau Dewi Kencana Wungu (1429-1447 M), diperistri oleh Raden Parameshwara atau Raden Damar Wulan atau yang lantas setelah menjadi suami Ratu Ayu Suhita, memegang tampuk pemerintahan dengan gelar Bhree Wijaya II atau Prabhu Brawijaya II setelah berhasil mengalahkan Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga, penguasa Blambangan. Pengambilan gelar ini demi mengukuhkan kedudukannya sebagai keturunan Raden Wijaya.

7.Prabhu Kertawijaya atau Bhree Wijaya III atau Prabhu Brawijaya III (1447-1451 M)

8.Prabhu Rajasawardhana atau Bhree Wijaya IV atau Prabhu Brawijaya IV ( 1451-1453 M)

9.Raden Kertabhumi atau Bhree Wijaya V atau Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas (1453-1478 M). Dalam masa pemerintahan beliau, beliau dibantu oleh saudaranya, yaitu Raden Purwawisesha sebagai mahapatih (1456-1466 M) yang lantas digantikan oleh Raden Pandhan Salas atau Bhree Pandhan Salas (1466-1473 M).

Pada masa pemerintahan Raden Kertabhumi inilah, Majapahit diserang oleh pasukan Demak Bintara. Diperingati dengan Surya Sangkala SIRNA ILANG KERTAning BHUMI.

Semenjak kehancurannya, Majapahit kini harus tunduk kepada Demak Bintara. Majapahit menjadi negara kecil, bagian dari Demak Bintara. Tampuk pemerintahan Majapahit dipegang oleh seseorang yang ditunjuk langsung oleh Sultan Demak atau Raden Patah yang kini bergelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boenningrat I.

Dan anda semua pasti akan terkejut bila saya ungkapkan bahwa, pemegang tampuk pemerintahan Majapahit, setelah Prabhu Brawijaya V, adalah MA-HWAN! Seorang berdarah China yang lantas bergelar Prabhu Brawijaya VI. Dia memerintah dibawah kendali Demak Bintara.

Fenomena politik inilah yang memicu ketidak puasan dikalangan bangsawan Majapahit. Para bangsawan yang sudah terkoyak moyak harga dirinya setelah penyerangan Demak Bintara, kini harus kembali menelan pil pahit dengan dikukuhkannya Prabhu Brawinaya VI yang nyata-nyata bukan keturunan Makapahit, bahkan berdarah China.

Dan ketidak puasan ini meledak juga. Raden Girindrawardhana, bangsawan keturunan Majapahit yang berkedudukan di daerah Keling, Kedhiri, mengadakan pemberontakan. Peperangan kembali berkobar. Darah tertumpah kembali. Dan Majapahit, untuk kedua kalinya, berhasil diluluh lantakkan! Raden Girindrawardhana yang banyak mendapat dukungan dari gerilyawan sisa-sisa lasykar Majapahit lama, berhasil menjebol Majapahit baru boneka Demak Bintara. Prabhu Brawijaya VI atau Ma-Hwan, tewas!

Tahta Majapahit berhasil dikuasai oleh Raden Girindrawardhana. Dia memboyong segala tanda kebesaran Majapahit dari Trowulan ke Keling, Kedhiri. Disana, dia mengukuhkan diri sebagai Prabhu Brawijaya VII dan memaklumatkan bahwa Majapahit yang berkedudukan di Kedhiri sekarang, telah bebas dari dominasi Demak Bintara!

Mendengar kabar tersebut, pemerintahan Demak Bintara tidak tinggal diam. Pasukan dalam jumlah besar dikirim ke Kedhiri. Peperangan kembali pecah! Dan lagi, darah membanjiri bumi pertiwi. Pasukan Demak yang dipimpin langsung oleh Sunan Kudus ini, mendapat perlawanan dahsyat! Kedhiri, sulit ditaklukkan! Begitu sulitnya menjebol Kedhiri, mengingatkan penyerangan Demak ke Trowulan kala itu.

Namun, pelahan, pasukan Kedhiri berhasil ditundukkan. Prabhu Brawijaya VII atau Raden Girindrawardhana gugur dimedan laga!

(Hal inilah yang diekspose besar-besaran oleh kaum Putihan. Sehingga muncul pendapat bahwa Demak bukannya menghancurkan Majapahit, namun menyerang Raden Girindrawardhana yang lebih dahulu menghancurkan Majapahit. Padahal faktanya, baik penyerangan kepada Prabhu Brawijaya V maupun Raden Girindrawardhana, semuanya dilakukan oleh pasukan Demak Bintara : Damar Shashangka).

Majapahit kembali dibawah kendali Demak Bintara. Dan diiangkatlah pejabat baru sebagai Raja bawahan yang memegang tampuk pemerintaan Mahapahit dengan gelar Prabhu Brawijaya VIII.

Majapahit semakin suram. Pamornya semakin redup. Masyarakat Jawa sudah tidak lagi memandang Majapahit boneka ini. Dan pada pemerintahan Prabhu Brawijaya IX, Majapahit benar-benar colaps. Pada akhirnya, Majapahit lantas masuk wilayah kekuasaan Kadipaten Terung, Sidoarjo ( +/- 1500 M).

Pewaris Tahta Sah.

Prabhu Brawijaya V atau Raden Kertabhumi mempunyai seorang permaisuri yang berasal dari negeri Champa ( Kamboja Selatan)., bernama Dewi Anarawati. Permaisuri beliau ini beragama Islam. Dia adalah adik ipar Syeh Ibrahim As-Samarqand yang terkenal di Jawa dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. ( makamnya berada di Tuban sekarang : Damar Shashangka).

Dewi Anarawati ini adalah bibi dari Sunan Ampel atau Raden Ali Rahmad atau Bong Swie Hoo, pendiri Dewan Wali Sangha. Raden Ali Rahmad adalah putra Syeh Ibrohim Smorokondi. Raden Ali Rahmad juga adalah menantu Adipati Tuban, Adipati Wilwatikta.

Adipati Wilwatikta, mempunyai dua orang putra-putri, yang sulung dinikahi oleh Raden Ali Rahmad atau Sunan Ampel dan kelak terkenal dengan sebutan Nyi Ageng Ampel, sedangkan yang bungsu bernama Arya Teja. Arya Teja menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Adipati Tuban dengan gelar, Adipati Arya Teja.

Adipati Arya Teja inilah ayahanda Raden Sahid dan Dewi Rasawulan. Kelak, Raden Sahid terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga tidak berminat menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai seorang Adipati. Tahta Tuban diserahkan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasawulan.

Raden Jaka Supa adalah keturunan Empu keraton Majapahit,yaitu Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu. Raden Jaka Supa adalah arsitek keris Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten yang terkenal itu.

Sesungguhnya, keris Kyai Naga Sasra maupun Kyai Sabuk Inten, adalah sebuah simbol semata. Naga Sasra berasal dari bahasa sanskerta Nagha Sahasrara yang berarti Seribu Naga. Ini melambangkan banyaknya kekuatan-kekuatan laten Majapahit yang masih memiliki kekuatan militer dan masih memiliki pengaruh besar dipelosok Nusantara.

Sedangkan Sabuk Inten berarti Ikat Pinggang Intan yang melambangkan para investor ekonomi lokal maupun mancanegara sebagai sumber keuangan yang sangat menentukan perputaran roda perekonomian negara.

Raden Jaka Supa bukan orang sembarangan. Ayahandanya, Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi, sangat berpengaruh didalam negeri Majapahit dan mancanegara waktu Majapahit masih berdiri. Pekerjaannya sebagai penyedia persenjataan militer negara, menjadikan Ki Pitrang banyak memiliki relasi.

Apabila anda pernah dengar sebuah pedang kuno yang menjadi kebanggaan Dr. Sun Yat Sen, pendiri Taiwan yang bernama Pit-Kang, sesungguhnya pedang tersebut adalah hasil tempaan Ki Pitrang, sehingga namanya pun masih disebut Pitrang walaupun dalam logat China. Pedang ini masih disimpan di Taiwan. Pedang tersebut adalah hadiah Raja Majapahit kepada Kaisar Tiongkok. Dan tidak tahu bagaimana ceritanya, pedang kuno yang berasal dari Majapahit tersebut bisa dibawa lari oleh Dr.Sun Yat Sen ke Taiwan setelah Tiongkok berhasil dikuasai kaum komunis.

Kebesaran nama Ki Pitrang inilah, menjadikan Raden Jaka Supa, sebagai anak laki-laki satu-satunya dari istri yang berasal dari Majapahit ( seorang lagi, istri Ki Pitrang berasal dari Blambangan. Dari istri Blambangan ini, beliau mempunyai seorang putra bernama Jaka Sura, yang meninggal sewaktu berusia belia. Praktis, putra Ki Pitrang tinggal Raden Jaka Supa. : Damar Shashangka.), sangat disegani. Para sisa-sisa bangsawan Majapahit, yang masih memiliki pengaruh dalam bidang ekonomi maupun militer dan masih banyak tersebar di beberapa pelosok Nusantara serta yang disimbolkan dengan Keris Kyai Naga Sasra, ditambah para investor asing yang disimbolkan dengan Keris Kyai Sabuk Inten, sangat-sangat menghormati Raden Jaka Supa.

Sosok Jaka Supa sangat dibutuhkan pihak pemerintahan Demak Bintara. Ditambah kehadiran Sunan Kalijaga, yang juga sangat disegani oleh berbagai kalangan lintas agama di wilayah bekas kerajaan Majapahit, maka seolah-olah, dua orang ini adalah kunci keberlangsungan pemerintahan Demak Bintara!

Sunan Kalijaga, demi mengingatkan Sultan Demak, memerintahkan Raden Jaka Supa membuat dua buah keris, yaitu Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten. Keduanya harus diserahkan kepada Sultan Demak, sebagai benda simbolik untuk mengingatkan Sultan Demak, bahwa tanpa dukungan sisa-sisa bangsawan Majapahit serta tanpa dipermudah masuknya investor mancanegara ke wilayah Demak Bintara, dapat dipastikan Demak tidak akan berumur lama. Dengan bersatunya Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten tersebut, bisa dipastikan Demak akan berdiri tegak sebagai kerajaan besar pengganti Majapahit! (Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, kedua benda simbolik ini di anggap sangat-sangat keramat oleh masyarakat Jawa hinggai sekarang. Dan timbul kepercayaan, pemerintahan akan kuat jika seorang penguasa memiliki Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten sekaligus. : Damar Shashangka.)

Kembali pada Prabhu Brawijaya V yang menikahi Putri Champa, Dewi Anarawati. Dari pernikahan tersebut, lahirlah tiga orang putra-putri. Yang sulung seorang putri ( sampai sekarang saya belum tahu namanya : Damar Shashangka ), dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa wilayah Pengging, daerah sekitar Surakarta sekarang. Yang kedua, Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura. Dan yang ketiga Raden Jaka Gugur.

Kelak Raden Jaka Gugur inilah yang dikenal dengan nama Sunan Lawu, penguasa mistik Gunung Lawu. Keberadaannya di Gunung Lawu, disalah pahami oleh warga sekitar sebagai Prabhu Brawijaya V sendiri. ( Maklum, sosok Raja pada masa itu hanya dikenal nama besarnya semata. Sosok aslinya, bagi masyarakat pedesaan, sama sekali tidak diketahui karena sulit bertemu langsung. Tidak ada media massa pada waktu itu seperti jaman sekarang, sehingga wajah Prabhu Brawijaya V, terbatas hanya kalangan bangsawan saja yang bisa mengenalinya. Oleh karena itu, kehadiran Raden Jaka Gugur di lereng Gunung Lawu, disalah pahami sebagai Prabhu Brawijaya V, bahkan sampai sekarang. : Damar Shashangka ).

Dan Prabhu Brawijaya V, tetap ada di Trowulan hingga beliau wafat. Prabhu Brawijaya V tidak pernah kemana-mana. Semenjak dari Banyuwangi hingga jatuh sakit dan wafat, beliau ada di Trowulan. Sunan Kalijaga lah yang terus mendampingi beliau hingga kewafatan beliau.

Dari pernikahan Adipati Handayaningrat IV dengan putri sulung Prabhu Brawijaya V, lahirlah dua orang putra. Pertama Raden Kebo Kanigara dan yang kedua Raden Kebo Kenanga.

Raden Kebo Kanigara lahir pada tahun 1472 Masehi. Menyusul setahun kemudian, Raden Kebo Kenanga lahir ( tahun 1473 M ). Jadi sewaktu Majapahit dihancurkan oleh Demak Bintara pada tahun 1478 Masehi, Raden Kebo Kanigara masih berusia enam tahun, dan Raden Kebo Kenanga masih berusia lima tahun.

Menginjak usia dua puluh tahun, Raden Kebo Kanigara pergi meninggalkan Pengging. Beliau memutuskan menjadi seorang Vanaprastha atau pertapa dalam usia muda. Beliau melakukan pertapaan di daerah lereng Gunung Merapi. Tempat dimana beliau pernah bertapa, sekarang terkenal dengan sebutan Desa Turgo, yang berasal dari gabungan dua suku kata AnggenTUR RaGA yang artinya MENGGEMBLENG DIRI.

Petilasan bekas beliau bertapa, kini berubah menjadi makam yang banyak diziarahi oleh masyarakat Jawa. Padahal, Raden Kebo Kanigara beragama Shiva Buddha, dan apabila wafat, tidak mungkin dikebumikan, namun di kremasi atau di Aben.

Sejujurnya, jenasah Raden Kebo Kanigara hilang raib karena kekuatan tapa brata-nya yang sangat keras. Dan tempat yang dikenal sebagai makam Raden Kebo Kanigara sekarang, sebenarnya hanyalah salah satu bekas tempat beliau bersemadi.

Putra bungsu Adipati Handayaningrat IV, yaitu Raden Kebo Kenanga, dalam usia dua puluh tahun, setahun semenjak kepergian kakaknya, harus kehilangan ramandanya. Adipati Handayaningrat IV wafat. Dan seharusnya, yang berhak menggantikan kedudukan beliau adalah Raden Kebo Kanigara. Karena sang sulung telah pergi bertapa, maka si bungsu, Raden Keno Kenanga terpaksa menggantikannya. Dan Raden Kebo Kenanga lantas dikenal dengan gelar KI AGENG PENGGING.

Dalam usia relatif muda, Ki Ageng Pengging sangat terkenal kedalaman spiritualitasnya. Dalam garis keturunannya, sebenarnya mengalir darah pewaris sah tahta Majapahit. Karena nenek beliau, yaitu Dewi Anarawati, telah diangkat sebagai permaisuri. Sehingga jelas disini, manakala Prabhu Brawijaya V kelak lengser keprabhon atau wafat, yang berhak menggantikan seharusnya adalah putri sulung beliau yang dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV. Otomatis, apabila putri sulung istri Adipati Handayaningrat IV ini kelak lengser keprabhon atau wafat, maka yang berhak menggantikannya adalah putranya, yaitu Raden Kebo Kanigara. Karena seperti telah diceritakan diatas, Raden Kebo Kanigara tidak berminat kepada tahta, maka Raden Keno Kenanga atau Ki Ageng Pengging yang berhak menggantikannya. Jika ditilik dari sini, sesungguhnya pewaris tahta Majapahit seharusnya Ki Ageng Pengging, bukan Raden Patah!!

Seluruh masyarakat Majapahit tahu akan hal ini. Tahu siapa yang seharusnya berhak memegang tahta. Sehingga diam-diam, pengaruh keturunan Pengging masih terasa sangat besar di wilayah Demak Bintara. Bagi pemerintahan Demak, keturunan Pengging adalah bahaya laten! Praktis pemerintah Demak Bintara secara diam-diam memasang pasukan mata-mata khusus di Pengging. Gerak-gerik Ki Ageng Pengging, tak pernah lepas dari pengamatan Sultan Demak dan Dewan Wali Sangha.

Sesungguhnya jika Ki Ageng Pengging mau, dia bisa melakukan konsolidasi kekuatan sisa-sisa Majapahit. Tapi, seperti sifat kakaknya, Ki Ageng Pengging sama sekali tidak mempunyai ambisi politik seperti itu. Malahan beliau lebih suka mendalami spiritualitas.

Para prajurid Pengging sendiri sangat merasakan akan hal itu. Kegiatan pelatihan militer, dirasa jauh berkurang semenjak Ki Ageng Pengging menggantikan ayahandanya. Malahan, tempat-tempat suci lebih bergairah dan hidup semenjak beliau berkuasa.

Ki Ageng Pengging tenggelam dalam spiritualitas. Setiap waktunya senantiasa beliau manfaatkan untuk peningkatan Kesadaran Atma. Pengging sangat damai. Penuh nuansa religius.

Namun hal itu tak berlangsung lama. Manakala Ki Ageng Pengging berkenalan dengan seorang ulama Islam yang dikenal berseberangan dengan Dewan Wali Sangha yaitu Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, Pengging mulai memanas!

Ki Ageng Pengging Bag 2.

oleh : Damar Sasangka.

BAGIAN : 2

Walaupun masih belia, kedalaman spiritualitas Ki Ageng Pengging tidak bisa diragukan lagi. Pencapaian spiritual-nya, sampai pada kondisi MATI SAJERONING URIP, URIP SAJERONING PATI ( MATI DIDALAM HIDUP, HIDUP DIDALAM KEMATIAN). Beliau mampu dalam beberapa hari, bermeditasi tanpa bernafas. Raga beliau mampu menyerap Praana ( oksigen ) melalui seluruh pori-pori tubuh tanpa menggunakan pergerakan paru-paru.

Bila tidak jeli, mereka yang melihat kondisi Ki Ageng Pengging sewaktu bermeditasi, pasti akan menyangka beliau meninggal. Namun bagi yang benar-benar jeli, mereka akan tahu, jantung beliau masih tetap berdetak, sangat-sangat halus. Dan darah beliau masih tetap mengalir, walau dalam percepatan yang sangat-sangat halus.

…...Ndan yatika sinangguh mamyaken praana sangdhila jati ngarannya, yeku puujaajaati ngarannya, sembahyang alit, yapwan mangkana tiksna deningasamadhi, wyakta hilang ikang waayu ganal, mati lina ri sangkanya, apan tan cinetana dening aatmaa, nahan maarga kunyci rahasya ngarannya. ( Tattwa Jnyaana : 62 )

"...Itulah yang disebut memuja Praana sangdhila jaati, yaitu Sejatinya Puja, sembahyangnya Suksma. Bila sudah demikian samadhi-nya sangat-sangat tajam, benar-benar hilangnya nafas yang kasar, mati lenyap keasalnya. Kesadaran suksma telah melebur ke Kesadaran Atma. Inilah kunci kesempurnaan. ( Tattwa Jnyaana : 62)

Ki Ageng Pengging telah mencapai tahap peleburan ini. Sesuai dengan yang diuraikan dalam Rontal Tattwa Jnyaana. Bila beliau mau, beliau bisa meninggalkan badan kasarnya, mati, sesuai dengan keinginannya sendiri.

Begitu beliau diangkat sebagai penguasa Pengging pengganti ayahandanya, dalam usia belia, beliau menikah. Seorang gadis dari daerah Tingkir, masih adik kandung Ki Ageng Tingkir, beliau persunting.

Pengging benar-benar damai. Jauh dari hiruk pikuk perpolitikan, Jauh dari pertikaian-pertikaian. Sunan Kalijaga-pun, sering berkunjung ke Pengging bersama beberapa santri beliau.

Dari Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pengging senantiasa mendapat petuah-petuah yang sangat berharga. Walaupun Sunan Kalijaga beragama Islam dan Ki Ageng Pengging beragama Shiva Buddha, kedekatan hubungan mereka sudah tidak bisa digambarkan lagi. Secara khusus, Ki Ageng Pengging menyediakan musholla di kompleks Dalem Agung beliau. Ini diperuntukkan bagi sahabat-sahabat beliau yang beragama Islam.

Dari sahabat-sahabat Islam beliau inilah, Ki Ageng Pengging tahu akan sosok Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar. Sosok ulama yang berseberangan dengan Dewan Wali Sangha.

Beberapakali dalam meditasinya, beliau mencoba menghubungi Syeh Lemah Abang. Dan Ki Ageng Pengging tersenyum puas manakala salam beliau senantiasa dijawab oleh Syeh Lemah Abang dengan senyuman yang luar biasa damainya.

Ki Ageng Pengging tahu, Syeh Lemah Abang bukan manusia sembarangan. Beberapakali pula, mereka bertemu didalam alam meditasi. Ki Ageng Pengging mencium kaki Syeh Lemah Abang dengan penuh hormat. Dan Syeh Lemah Abang senantiasa mengusap-usap kepala Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih.

Sunan Kalijaga tahu akan semua itu. Dan beliau tersenyum bangga setiap kali dalam taffakur-nya, melihat Syeh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging senantiasa bertemu, walau dalam alam lain. Walau tidak dialam nyata.

Dan manakala, sosok Syeh Lemah Abang mendadak berkunjung ke Pengging, betapa bahagianya Ki Ageng Pengging. Walau belum pernah bertemu secara fisik, Ki Ageng Pengging dan Syeh Lemah Abang, sudah sedemikian dekatnya. Begitu Syeh Lemah Abang hadir, Ki Ageng Pengging langsung bersujud didepan beliau. Mencium kaki beliau. Penuh hormat dan sangat-sangat bahagia.

Pernah selama tiga hari tiga malam, keduanya meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang intisari spiritualitas. Tidak hanya sekedar berdiskusi, keduanyapun masuk kekedalaman batin masing-masing. Dan disana, Syeh Lemah Abang, bersorak gembira begitu melihat Ki Ageng Pengging, dibawah awan-awan mind yang tenang, tengah ada dibawah beliau, tidak terlampau jauh. Dan disana, Ki Ageng Pengging mencakupkan kedua tangannya didepan dada, menyembah, sembari memandang Syeh Lemah Abang dengan senyum kedamaian.

Karena seringnya berkunjung ke Pengging, Syeh Lemah Abang akhirnya dipertemukan dengan sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging. Beberapa bangsawan muda keturunan Majapahit yang masing-masing juga memiliki wilayah kekuasaan. Mereka antara lain, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Ketiganya bahkan lantas tertarik memeluk Islam tanpa paksaan. Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, kelak terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang.

Namun diam-diam, mata-mata Demak Bintara mengetahui semua itu. Laporan segera masuk ke hadapan Sultan Demak. Dan Sultan Demak meneruskan informasi itu ke Dewan Wali Sangha.

Sebuah informasi yang sangat mengejutkan bagi Dewan Wali Sangha. Dan Dewan Wali memerintahkan Sultan Demak agar semakin menungkatkan kegiatan mata-mata di wilayah Pengging. Sultan Demak merespon perintah tersebut, Jumlah pasukan mata-mata semakin ditambah di wilayah Pengging. Demak semakin waspada. Karena bila Pengging bergerak, dapat dipastikan, dukungan dari berbagai daerah akan mudah diraih. Apalagi ditambah sosok Syeh Lemah Abang dan Sunan Kalijaga disana, Pengging akan berubah menjadi kekuatan yang sangat menakutkan. Dan hal ini, adalah ancaman serius bagi keberlangsungan pemerintahan Demak Bintara.

Padahal, ketakutan Demak Bintara hanyalah ketakutan semu. Karena di Pengging, tidak ada pergerakan apapun. Ki Ageng Pengging tidak mempunyai rencana apapun untuk berbuat makar. Demak Bintara, hanya ketakutan sendiri.

Sunan Kalijaga membaca gelagat tersebut. Beliau memperingatkan Ki Ageng Pengging untuk waspada. Namun, Ki Ageng Pengging bagaimamapun juga masih berusia belia. Beliau kadang masih kurang perhitungan. Beliau sangat mencintai spiritualitas. Dan kecintaannya ini, membuat beliau tanpa perhitungan yang matang, menawarkan wilayah Pengging untuk dipakai sebagai tempat kepindahan Pesantren Krendhasawa milik Syeh Lemah Abang.

Syeh Lemah Abang memang mempunyai rencana untuk memindahkan lokasi pesantrennya yang ada di Cirebon. Hal ini berkaitan dengan situasi politik Cirebon yang semakin memanas akibat terus-terusan menjalankan agresi militer ke Pajajaran. Cirebon sudah tidak kondusif lagi bagi peningkatan Kesadaran. Sudah sangat-sangat berubah. Sudah tidak sama lagi dengan Cirebon dimasa Syeh Dzatul Kahfi masih hidup.

Namun, Sunan Kalijaga melarang Syeh Lemah Abang menerima tawaran itu. Karena bila Syeh Lemah Abang menerimanya, pemerintah Demak Bintara akan menuduh beliau bersekongkol dengan Ki Ageng Pengging hendak mengadakan gerakan subversif. Syeh Lemah Abang memang tidak begitu memahami peta perpolitikan. Dan Sunan Kalijaga yang lebih paham. Oleh karenanya, Syeh Lemah Abang menolak tawaran Ki Ageng Pengging. Beliau memutuskan untuk tetap bertahan di Cirebon.

Dan, kabar bahwasanya Ki Ageng Pengging menawarkan wilayah Pengging sebagai tempat kepindahan pesantren Krendhasawa, diartikan lain oleh Pemerintahan Demak. Sultan Demak yang sudah terlanjur ketakutan, menyimpulkan bahwa memang tengah terjadi gerakan rahasia antara Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang.

Dan Dewan Walu Sangha-pun bertindak. Sunan Giri Kedhaton, mengeluarkan fatwa bahwa Syeh Lemah Abang adalah musuh kekhilafahan Islam di Jawa, dan tugas Sultan Demak dan Sultan Cirebon ( Sunan Gunung Jati ) untuk menangkap Syeh Lemah Abang. ( Cerita selengkapnya, baca catatan saya SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR : Damar Shashangka ).

Terdengarlah kabar, Syeh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati oleh Pemerintah Demak Bintara dengan tuduhan MENGAJARKAN AJARAN SESAT dan HENDAK MENGADAKAN MAKAR! Tak urung, Lontang Asmara, Sunan Panggung dan murid-murid Syeh Lemah Abang yang lain, ikut dijadikan sasaran pemerintah!

Kabar ini sampai juga ke Pengging. Ki Ageng Pengging berkabung. Begitu juga Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh. Untung, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, lepas dari daftar buruan pemerintah Demak. Tidak seperti Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Ki Ageng Pengging benar-benar merasa kehilangan. Dan beliau semakin menyadari, bagaimana posisinya di mata Sultan Demak. Dirinya dipandang sebagai duri dalam daging. Musuh dalam selimut. Tak urung, setelah Syeh Lemah Abang pasti akan tiba giliran beliau menjadi target untuk disingkirkan!

Ki Ageng Pengging telah siap untuk itu. Siap menunggu giliran untuk disingkirkan. Bukan untuk melakukan perlawanan bersenjata, namun siap menerima ajal jika memang Sultan Demak menghendakinya. Ki Ageng Pengging sangat merindui sosok Syeh Lemah Abang. Apabila Syeh Lemah Abang pergi dari dunia maya ini, maka Ki Ageng Pengging berniat untuk mengikutinya. Apalah arti dunia bagi Ki Ageng Pengging. Dunia sama sekali sudah tidak menarik minat beliau.

Beberapa bulan setelah wafatnya Syeh Lemah Abang, Ki Ageng Pengging mengirimkan surat kepada Sultan Demak. Isi surat tersebut sangat mengejutkan. Ki Ageng Pengging befmaksud mengakhiri pemerintahan Pengging. Dan beliau meminta kepada Sultan Demak agar memasukkan wilayah Pengging ke kadipaten terdekat, sesuai kebijaksanaan Sultan Demak. Bahkan, Ki Ageng Pengging meminta agar Sultan Demak melepas segala jabatan politik beliau.

Surat ini menggemparkan Demak Bintara. Begitu menerima surat tersebut, Sultan Demak mengadakan sidang mendadak dengan para petinggi Kesultanan. Sidang berjalan a lot. Dan hasil keputusan sidang, menyetujui permintaan Ki Ageng Pengging, walaupun sikap waspada tetap harus dijaga demi menghadapi maksud tersembunyi dari permintaan tersebut.

Keesokan harinya, Sultan Demak memerintahkan Patih Wanasalam, Patih Agung Kesultanan Demak Bintara, untuk berangkat menuju Pengging, menemui Ki Ageng Pengging. Patih Wanasalam ditugaskan untuk membacakan surat keputusan Sultan Demak dihadapan Ki Ageng Pengging sekaligus memenuhi keinginan Ki Ageng Pengging, mengadakan pelepasan jabatan. Disamping itu pula, Ki Wanasalam mendapat pesan khusus agar terus mencari informasi secara diam-diam tentang maksud sesungguhnya dari keinginan Ki Ageng Pengging.

Rombongan Patih Agung Demak Bintara ini, sampai juga di wilayah Pengging. Kedatangan rombongan pasukan Kesultanan yang serba mendadak ini, menggemparkan Pengging. Para Prajurid Pengging, tanpa di komando, segera mempersiapkan diri untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Pengging mendadak tegang!!

Rombongan dari Demak ini disambut oleh Ki Ageng Pengging. Kedatangannya yang mendadak, tanpa pemberitahuan, memang disengaja agar bisa melihat kondisi Pengging yang sesungguhnya.

Seluruh pasukan Demak diberi tempat istirahat tersendiri. Ki Patih Wanasalam, diberikan tempat khusus. Perjalanan yang agak jauh, membuat Sang Patih kecapaian. Setelah disambut oleh Ki Ageng Pengging, Ki Patih Wanasalam, diberikan waktu untuk beristirahat sejenak.

Manakala dirasa sudah pulih tenaganya, Ki Wanasalam mengutus seorang prajurid agar menghadap Ki Ageng Pengging. Ki Ageng diminta bersiap sedia karena Ki Wanasalam hendak menyampaikan amanat Sultan Demak. Dan prajurid yang diutus, kembali dengan menyampaikan pesan dari Ki Ageng agar Ki Patih berkenan menuju Bale Pisowanan.

Ki Wanasalam, diiringi beberapa pengawal khusus, berangkat terlebih dahulu menuju Bale Pisowanan. Setelah Ki Patih sudah tiba disana, baru Ki Ageng Pengging menyusul. Hal ini adalah etika kerajaan Jawa, dimana seorang pejabat besar, harus terlebih dahulu ada di Bale Pisowanan, baru pejabat dibawahnya datang menghadap.

Setelah keduanya berada di Bale Pisowanan, Ki Ageng Pengging menyatakan kesiapannya mendengarkan amanat Sultan Demak Bintara. Ki Wanasalam segera menjelaskan, bahwa surat Ki Ageng telah diterima oleh Sultan Demak. Dan Sultan Demak telah mengadakan sidang khusus. Hasil keputusan sidang, telah tertulis didalam gulungan Surat Keputusan Sultan yang kini dipegang oleh Ki Wanasalam. Sebelum dibacakan, Ki Wanasalam menanyakan kesungguhan isi surat yang dikirimkan Ki Ageng Pengging. Lantas rencana apa yang hendak dilakukan Ki Ageng apabila keinginannya dikabulkan oleh Sultan Demak ?

Ki Ageng menghaturkan sembah sebelum menjawab, lantas beliau menuturkan bahwasanya apa yang telah beliau tulis dalam surat yang telah dikirimkan ke hadapan Sultan Demak memang benar-benar telah menjadi niatan dan kebulatan tekad beliau. Manakala keinginannya yang tertulis didalam surat tersebut dikabulkan, maka beliau hanya meminta agar pajak wilayah Pengging tidak dinaikkan serta memberikan tanah kepada Ki Ageng Pengging cukup beberapa jung ( hektar ) saja, sekedar sebagai tempat tinggal dan lahan bersawah.

Ki Wanasalam belum puas, dia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang penuh selidik. Tentang hubungannya dengan Sunan Kalijaga, tentang nasib para prajurid Pengging kelak dikemudian hari, tentang jumlah perenjataan Pengging, tentang perekonomian Pengging dan tentang hubungan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang dan para murid-muridnya. Ki Wanasalam sengaja ingin mendengar langsung jawaban dari Ki Ageng Pengging, demi untuk mencari-cari hal-hal yang janggal dari kata-kata beliau.

Namun, tidak satupun jawaban yang diberikan oleh Ki Ageng Pengging nampak ada kejanggalan disana. Ki Wanasalam tetap belum sepenuhnya percaya, dan pada akhirnya, Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan simbolik. Pertanyaan yang sudah dipesankan oleh Sultan Demak. Pertanyaannya adalah sebagai berikut :

"Mana yang dipilih, ATAS atau BAWAH. KOSONG atau ISI?"

Ki Ageng Pengging tersenyum. Sejenak beliau terdiam. Lantas memberikan jawaban :

"Manakah yang hendak saya pilih ? Tidak ada. Sebab baik ATAS, BAWAH, KOSONG maupun ISI. Semuanya adalah milik saya."

Ki Wanasalam terkejut mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Sekali lagi Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan serupa. Dan kembali Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sama, dan beliau tambahi :

"Janganlah salah mengerti. AKU ini adalah segalanya. AKU ada dimana-mana. AKU telah melampaui segalanya. Jadi, manalagi yang bisa AKU pilih ? Karena semuanya adalah AKU."

Ki Wanasalam tersenyum dan berkata :

"Tuluskah jawaban Ki Ageng ? Tidak adakah maksud lain ?"

Ki Ageng Pengging tersenyum. Dia tidak menjawab lagi. Jawaban Ki Ageng Pengging sangatlah tulus. Namun Ki Wanasalam tetap tidak bisa menangkap ketulusan itu. Dia masih curiga. Curiga jikalau jawaban itu bernilai ambigu. Tidak murni spiritual, namun tersirat juga maksud Ki Ageng Pengging mempunyai rencana merebut tahta Demak Bintara. Pikiran Ki Wanasalam yang sudah terpola dengan kecurigaan, tidak bisa melihat ketulusan kata-kata Ki Ageng Pengging.

Melihat orang yang pikirannya seliar ini, maka percuma Ki Ageng Pengging mengulangi kata-katanya. Beliau lantas memilih diam dan tersenyum. Senyum geli seseorang yang melihat keserakahan tampak didepan matanya. Keserakahan manusia yang terobsesi keduniawian. Dan lagi lagi, senyum ini diartikan lain oleh pikiran Ki Wanasalam. Pikiran yang sudah penuh dengan setan-setan liar!

Jika Ki Wanasalam sadar, dia seharusnya malu. Malu kepada sosok pemuda yang umurnya terpaut jauh dengannya, namun batinnya lebih tulus daripada batinnya sendiri.

Dan pada akhirnya, Ki Wanasalam menyampaikan amanat Sultan Demak. Dia mengeluarkan surat keputusan Sultan Demak. Sembari berdiri, dia membacakan surat keputusan tersebut.

Surat tersebut berisi, mulai semenjak hari yang tertanda dalam surat keputusan Sultan Demak, Ki Ageng Pengging dilepas dari jabatannya sebagai Adipati Pengging. Dan, Pengging bukan lagi wilayah tersendiri. Pengging akan dimasukkan ke wilayah terdekat. Untuk sementara, menunggu keputusan lebih lanjut, Ki Ageng Pengging harus tetap memimpin Pengging dan tetap menjaga keamanan Pengging.

Gemparlah seluruh prajurid Pengging mendengar surat keputusan Sultan Demak tersebut. Sedang, Ki Ageng Pengging malah tersenyum puas. Karena dengan lepasnya jabatan sebagai Adipati dari pundaknya, maka setidaknya, rasa ketidak terimaan beliau akan tahta yang direbut Raden Patah, yang masih tersisa sedikit direlung hatinya, bisa dimatikan ! Namun, tidak begitu bagi para prajurid Pengging. Banyak yang menahan amarah ketidak terimaan !

Selesai membacakan surat keputusan Sultan Demak, Ki Patih Wanasalam, menggulung surat tersebut, menyimpannya kembali dan duduk. Lantas Ki Patih berkata :

"Mulai hari ditetapkannya surat keputusan ini, ananda Ki Ageng Pengging sudah bukan lagi seorang Adipati. Dan atas perintah Kangjeng Sultan Demak, ananda harus menghadap ke Demak demi menunjukkan kesetiaan ananda."

Ki Ageng menjawab :

"Ki Patih, apa perlunya hamba menghadap ke Demak ? Toh sekarang saya bukan siapa-siapa lagi. Sudahlah, saya sekarang hanyalah orang Sudra, wong cilik. Kangjeng Sultan Demak seyogyanya jangan lagi mencurigai hamba."

Ki Patih berkata tegas :

"Ini adalah perintah seorang Sultan. Dan beliau memberi waktu bagi ananda tiga tahun kedepan."

Dan, upacara pelepasan jabatan-pun segera dilakukan. Setelah upacara usai, Ki Wanasalam kembali ke tempat istirahatnya. Dan Ki Ageng Pengging, kembali ke Dalem Agung.

Berita dilepasnya jabatan Adipati dari pundak Ki Ageng Pengging, segera menyebar ke seluruh penjuru Pengging. Menyebar dari mulut ke mulut. Ketidak puasan pun terdengar. Banyak yang tidak bisa menerima akan hal tersebut.

Keesokan harinya, kembali Ki Wanasalam bertemu Ki Ageng Pengging untuk berpamitan.

Hari itu, Pengging gempar. Para Lurah Prajurid Pengging memohon menghadap kepada Ki Ageng Pengging demi untuk menanyakan maksud keputusan tersebut. Dan kepada para Lurah Prajurid Pengging, Ki Ageng mengiyakan keputusan beliau tersebut dan seluruh masyarakat Pengging diminta menerima kenyataan ini. Bagaikan menelan pil pahit para Lurah Prajurid mendengarnya. Ki Ageng Pengging lantas memberikan kepada mereka, untuk bergabung menjadi prajurid Kadipaten yang bakal dipasrahi wilayah Pengging kelak atau melepaskan jabatan sebagai prajurid dan bertani.

Para Lurah Prajurid segera mengumpulkan prajurid Pengging. Kepada mereka, para Lurah Prajurid menawarkan pilihan dari Ki Ageng Pengging. Dan sungguh tidak disangka, seluruh prajurid menyatakan hendak meletakkan senjata dan memilih menjadi petani biasa, mengikuti junjungan mereka, Ki Ageng Pengging!

Dan, di Demak, kabar dilepasnya jabatan Ki Ageng Pengging sebagai Adipati pun merebak pula. Ki Wanasalam sudah menyampaikan hasil dia diutus ke Pengging. Sultan Demak sedikit berlega hati. Namun manakala dia mendengar bahwasanya Ki Ageng Pengging tampak enggan untuk menghadap ke Demak, kecurigaannya kembali muncul.

Tinggal menunggu waktu. Jika sampai tiga tahun mendatang Ki Ageng Pengging tetap tidak menghadap ke Demak, maka tidak ada jalan lain, cucu Prabhu Brawijaya V itu, harus disingkirkan seperti halnya Syeh Lemah Abang!


Ki Ageng Pengging Bag 3.

oleh :Damar Sasangka.

Bagian : 3

Keputusan resmi dari pemerintahan Demak Bintara mengenai status wilayah Pengging tidak juga kunjung turun. Ki Ageng Pengging enggan mempertanyakan hal tersebut. Walaupun sesungguhnya, beliau sudah resmi tidak menjabat sebagai seorang Adipati, namun pada kenyataannya, beliaulah yang tetap harus mengelola Pengging dan menjaga kawasan tersebut agar senantiasa kondusif.

Tentu saja, statusnya yang bukan Adipati, mempersulit bagi beliau untuk mengeluarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dalam urusan ketata negaraan. Pengging ibarat wilayah tanpa penguasa. Pengging stagnan dalam segala bidang. Hanya penarikan upeti dan penyaluran ke pemerintah pusat saja yang terus berjalan. Selain itu, Pengging sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Dalam kemiliteran, Pengging sama sekali sudah lumpuh. Pengging adalah wilayah terbuka tanpa perlindungan. Untung, Pengging tetap terkendali.

Kehidupan para penduduk Pengging tetap bersahaja. Para bekas prajurid Pengging yang kini turun ke sawah dan tidak lagi mendapatkan gaji resmi, masih tetap siap sedia mengangkat senjata jika Ki Ageng memerintahkan. Pengging bagai wilayah tak bertuan.

Ki Ageng Tingkir, yang mendengar kabar tersebut, bertandang ke Pengging. Beliau menanyakan maksud keputusan Ki Ageng Pengging, adik iparnya. Dan Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sejujurnya, bahwasanya ia sudah tidak mau lagi terlibat dengan urusan tetek bengek politik. Beliau lilo legowo, menerima, untuk sekedar menjadi wong cilik, asal hidup lebih tenang dan jauh dari keserakahan duniawi.

Namun, Ki Ageng Tingkir mengingatkan. Pada kenyataannya, kondisi yang dialami Ki Ageng Pengging sekarang jauh lebih sulit. Jelas, beliau bukan lagi Adipati. Namun tugas-tugas seorang Adipati masih harus beliau jalankan. Tanpa hak kewenangan mengeluarkan kebijaksanaan. Tanpa hak mempunyai kekuatan perlindungan wilayah. Tanpa hak gaji penuh dari hasil pajak. Sesungguhnya, Ki Ageng Pengging, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk lepas dari kegiatan perpolitikan. Pihak Demak rupa-rupanya sengaja membuat status Pengging menggantung seperti itu. Dan apakah kondisi seperti ini yang diinginkan ?

Ki Ageng Pengging terdiam. Dan Ki Ageng Tingkir menyarankan, apabila memang sudah mantap dengan keputusannya, seyogyanya, segera meminta kepada Sultan Demak untuk memberikan keputusan pasti mengenai Pengging. Dan itu berarti, Ki Ageng harus melayangkan surat ke pemerintah pusat. Atau kalau perlu, menghadap langsung Sultan Demak.

Dan Ki Ageng Pengging tampak enggan. Melihat keengganan di wajah adik iparnya, Ki Ageng Tingkir mengingatkan sekali lagi dengan nada agak keras :

"Jika memang dhimas masih menginginkan tahta, jangan setengah-setengah lagi. Ingat, kakang siap dibelakang dhimas!"

Dan Ki Ageng Tingkir mohon diri.

Dan itulah terakhir kali Ki Ageng Pengging melihat kakak iparnya. Dua bulan kemudian, Ki Ageng Tingkir wafat. Ki Ageng Tingkir sudah memeluk Islam. Manakala jenazah hendak dimandikan, Ki Ageng Pengging berbisik ditelinga kanan jenazah kakak iparnya :

"Kakang Tingkir, antinen sedhela maneh. Ingsun bakal nusul bebarengan nyabrang segara rahmat."

(Kakang Tingkir, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyusulmu untuk bersama-sama mengarungi lautan Kasih.)

Kelahiran Ki Mas Karebet.

Istri Ki Ageng Pengging, yang sudah mengandung beberapa waktu lalu, sudah saatnya melahirkan. Kelahiran putra pertama Ki Ageng Pengging ini disambut gemuruh suka cita rakyat Pengging. Upacara kelahiran-pun digelar sangat meriah. Beberapa Pandhita Shiva Buddha datang tanpa diundang demi untuk memberikan doa-doa keselamatan. Hadir pula Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Mereka yang beragama Shiva Buddha dan Islam, bercampur, bersuka ria menyambut kelahiran putra Ki Ageng.

Pertunjukan Wayang Beber ( wayang yang diceritakan dengan cara membentangkan gambar. Beber artinya Bentang. Wayang Beber artinya Wayang yang dibentangkan : Damar Shashangka. ) digelar hingga tujuh malam.

Ki Ageng Pengging, memberikan nama Ki Mas Karebet kepada putranya. Karebet adalah nama lain dari Wayang Beber. Wayang Karebet sama artinya dengan Wayang Beber. ( Kelak, Ki Mas Karebet terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Setelah berhasil menjadi Sultan Pajang, lantas bergelar Sultan Adiwijaya : Damar Shashangka. )

Pada malam ke tujuh, menjelang dini hari, manakala pertunjukan Wayang hamper usai, para tamu dikejutkan dengan jatuhnya seberkas cahaya dari langit menuju Dalem Agung. Cahaya yang sangat jelas itu meluncur dari atas langit, bergerak cepat, mengarah atap Dalem Agung dimana Ki Mas Karebet ada didalam sana. Dan Cahaya itu lenyap tepat setelah menyetuh atap. Para tamu geger!

Hampir semua para tamu yang masih terjaga, melihat cahaya itu. Yang tertidur cepat-cepat dibangunkan teman-teman mereka. Kejadian yang langka ini segera menyita perhatian semua yang tengah bersuka cita menyambut kelahiran Ki Mas Karebet. Semua tamu-pun sibuk memperkirakan, cahaya apa yang barusan terlihat. Sinarnya terang sedikit kebiru-biruan. Kepercayaan masyarakat Jawa menyebut cahaya itu ANDARU KILAT, atau cukup disebut NDARU. Suatu cahaya yang membawa `Wahyu Keprabhon' atau tanda bahwa dimana kediaman orang yang kejatuhan ANDARU KILAT, sudah bisa dipastikan, kelak akan menjadi Penguasa Agung. Menjadi seorang Raja Besar!

Para Pandhita segera memerintahkan untuk segera merakit sesajen sebagai sarana pelaksanaan sembahyang syukur . Hyang Widdhi Wasa, telah memberikan kepercayaan besar kepada keturunan Ki Ageng Pengging kelak, untuk menjadi Raja Tanah Jawa!

Menjelang pagi hari, begitu pertunjukan Wayang Beber usai, upacara persembahyangan pun digelar! Mantram-mantram Weda terlantun syahdu pagi-pagi buta. Semua tamu yang beragama Shiva Buddha, ikut serta melaksanakan persembahyangan. Dupa mengepul. Merebak mewangi kesegenap penjuru. Suara genta Sang Pandhita berdenting-denting mengiringi ucaran-ucaran mantra.

Duta Demak Bintara.

Tiga tahun sudah berlalu. Dan tiga tahun sudah Ki Ageng Pengging harus mengelola Pengging tanpa status yang jelas. Mas Karebet, tumbuh menjadi bayi yang sehat dan montog. Kulitnya yang putih bersih, tubuhnya yang mungil dan tawanya yang menggemaskan, sangat-sangat menghibur Ki Ageng Pengging beserta istri beliau. Kehidupan Ki Ageng Pengging benar-benar bahagia. Hyang Widdhi melimpahkan kedamaian cinta kasih dalam keluarga beliau.

Namun, lain lagi situasi di Demak Bintara. Tenggang waktu yang diberikan Sultan Demak kepada Ki Ageng Pengging, telah sampai kepada batasnya. Sultan Demak merasa perlu untuk mengambil tindakan tegas. Ki Ageng Pengging, telah dianggap `mbalelo' atau membangkang perintah Sultan!

Setelah menggelar siding dengan para pembesar Kesultanan. Sultan Demak segera mengirim utusan ke Giri Kedhaton, meminta restu Sunan Giri, pemimpin Dewan Wali Sangha, untuk memberi wewenang mengambil keputusan tegas kepada Ki Ageng Pengging. Dan, Dewan Wali merestuinya.

Pada hari yang dipilih, Sultan Demak mengutus Senapati Agung Demak Bintara, Sayyid Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus untuk menemui Ki Ageng Pengging. Perintah yang diberikan sangatlah tegas, yaitu memerintahkan Ki Ageng Pengging untuk menghadap ke Demak Bintara. Apabila tetap bersikukuh dengan keengganannya, maka Senapati Demak diberikan wewenang penuh untuk menyingkirkan Ki Ageng Pengging, yang sudah dianggap sebagai pembangkang!

Diiringi tujuh ratus prajurid pilihan Demak Bintara dengan persenjataan lengkap siap tempur, berangkatlah Sunan Kudus ke Pengging!

Tidak diceritakan dalam perjalanan, Sunan Kudus beserta prajurid pilihan Demak Bintara, akhirnya sampai diwilayah Pengging. Malam telah menjelang. Hal ini memang sudah direncanakan oleh Sunan Kudus, yaitu tiba di Pengging tepat malam hari. Setelah beristirahat sejenak, Sunan Kudus memerintahkan pasukan membagi empat kelompok. Masing-masing ditempatkan di keempat penjuru arah, mengepung Pengging! Seluruh prajurid segera bergerak menempati pos masing-masing. Pengging, dalam sekejap telah terkepung dari semua arah!

Namun, gerakan pasukan Demak ini diam-diam diketahui oleh beberapa masyarakat Pengging mantan prajurid. Secepatnya mereka menghubungi mantan Lurah Prajurid Pengging, melaporkan gerak pasukan tak dikenal yang terlihat telah mengepung wilayah Pengging! Mantan Lurah Pengging segera menghadap ke Dalem Agung.

Malam itu, Ki Ageng Pengging mendapat laporan dari mantan Lurah Prajurid Pengging, bahwasanya, wilayah Pengging, telah dikepung dari empat penjuru oleh sepasukan tak dikenal! Dan mantan Lurah Prajurid memperkirakan, mereka adalah pasukan dari Demak Bintara!

Mantan Lurah Prajurid memohon kepada Ki Ageng untuk memerintahkan sesuatu kepada mereka. Dan Ki Ageng memerintahkan agar tetap tenang. Beliau tidak mau ada pertumpahan darah. Yang diincar pasukan Demak adalah dirinya. Maka, Ki Ageng meyakinkan mereka, beliau akan menyelesaikan permasalahan ini secara damai. Namun, tidak ada salahnya para mantan prajurid Pengging disiagakan malam ini juga!

Mantan Lurah Pengging, mendengar jawaban Ki Ageng Pengging, segera bergegas mohon undur. Dengan menggunakan sandi suara burung malam tiruan, suara sandi prajurid Pengging dulu, mantan Lurah Pengging, memerintahkan beberapa orang yang kebetulan bersamanya untuk memberi peringatan tanda bahaya kepada segenap mantan prajurid yang kini tengah tertidur lelap dikediaman masing-masing!

Dari rumah kerumah, begitu mendengar bunyi sandi suara burung malam tiruan, para bekas prajurid Pengging terjaga! Kalaupun ada yg tidak terjaga saking lelapnya tertidur, istri maupun keluarga yang lain segera membangunkan mereka! Para mantan prajurid ini sudah terbiasa mendengar isyarat suara burung malam tiruan tersebut. Yaitu suara yang dibuat oleh beberapa prajurid untuk memperingatkan agar seluruh prajurid waspada dan siaga!

Disana-sini, diseluruh Pengging, para mantan prajurid seketika terbangunkan. Masing-masing segera mengenakan pakaian tempur dan mengambil senjata masing-masing yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah mereka pergunakan lagi!

Kini, tinggal menunggu suara tersebut terdengar lagi. Jika kembali terdengar, maka pertanda, seluruh prajurid harus menempati pos mereka dahulu. Pos masing-masing. Namun, bunyi yang dinanti-nantikan, tidak juga kunjung terdengar. Para mantan prajurid Pengging, yang sudah siap sedia dirumah masing-masing, terjaga semalaman suntuk!!

(Inilah kejadian sesungguhnya yang terjadi waktu itu. Dalam Babad Tanah Jawa, hanya diceritakan, begitu Sunan Kudus dan bala tentara Demak tiba dipinggiran wilayah Pengging, mereka serta merta membunyikan gong Kyai Sima. Sima berarti Harimau. Dan bunyi gong tersebut menggema kesegenap wilayah Pengging pada malam hari itu juga, sehingga seluruh masyarakat Pengging tidak bisa tidur semalam suntuk karena ketakutan. Padahal yang dimaksud, bahwasanya kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak diwilayah Pengging, bagaikan seekor Harimau yang tengah mengincar mangsanya, yaitu Ki Ageng Pengging. Dan kedatangannya dimalam hari, sudah diketahui oleh para prajurid Pengging. Babad Tanah Jawa sendiri, ternyata juga mencoba merendahkan Pengging dengan cerita bernuansa mistis. : Damar Shashangka)

Dan, Sunan Kudus yang berpengalaman, juga telah menyadari bahwa kehadirannya beserta tentara Demak telah diketahui masyarakat Pengging. Seluruh pasukan Demak, melalui kurir-kurir khusus yang diutus dari pos ke pos lain, diperintahkan untuk siap tempur! Namun, dilarang menyerang dahulu apabila tidak diserang!

Seluruh Lurah Prajurid pemimpin pos, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat, setelah menerima pesan kurir, segera memerintahkan seluruh pasukan untuk siap tempur!! Busur dan anak panah telah terpasang! Senjata telah terhunus! Tinggal menunggu komando selanjutnya!!

Di Pihak Pengging, melihat gelagat pasukan asing yang dicurigai berasal dari Demak Bintara, ternyata juga mengambil sikap serupa!Para Lurah Prajurid Pengging, terus mengamati seluruh pasukan asing yang mengepung wilayah Pengging ini. Mereka memutuskan, tidak akan menyerang apabila mereka tidak diserang! Dan bunyi sandi suara burung malam tiruan, tidak juga segera terdengar lagi!!!

Kedua pihak, siap ditempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak mendahului. Menanti perkembangan selanjutnya! Baik di pihak Demak maupun di pihak Pengging, semalam itu, suasana sangat mencekam!!

Menjelang pagi, Para Lurah Prajurid Pengging menemui Ki Ageng Pengging. Mereka meminta petunjuk selanjutnya. Dan Ki Ageng Pengging, mengutus seorang Lurah Prajurid beserta beberapa prajurid pilihan untuk menemui pemimpin pasukan yang mengepung wilayah beliau semenjak semalaman.

Seorang Lurah Prajurid Pengging, diiringi beberapa prajurid pilih tanding, segera menuju pos pasukan Demak terdekat. Mereka menemui Lurah Prajurid Demak yang kebetulan bertugas memimpin pos utara dan menyatakan ingin bertemu pemimpin pasukan Demak atas permintaan Ki Ageng Pengging. Lurah Pasukan Demak segera mengirim kurir ketempat mana Sunan Kudus berdiam diri. Sunan Kudus mengijinkan, dan Lurah Prajurid Pengging dengan pasukannya, diiringi beberapa pasukan Demak, segera menuju ke tempat Sunan Kudus. Lurah Prajurid Pengging, sekarang semakin yakin, bahwa pasukan yang tengah mengepung wilayah Pengging adalah benar-benar dari Demak Bintara!

Setelah bertemu muka dengan Sunan Kudus, Lurah Prajurid Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus diwilayah Pengging. Dan terang-terangan Sunan Kudus menjawab, dia diperintahkan oleh Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak!

Lurah Prajurid Pengging sedikit mengungkapkan ketidak senangannya dengan cara kedatangan pasukan Demak yang mengepung Pengging seperti itu. Seolah-olah, Pengging adalah wilayah pembangkang, pemberontak dan siap untuk dilumatkan!

Dan Sunan Kudus menjawab :

"Kalian hanya rakyat kecil. Ini urusan orang besar. Sudah jangan ikut campur. Antarkan aku menemui Ki Ageng Pengging!"

Walau dengan hati panas, Lurah Prajurid Pengging segera mengantarkan Sunan Kudus menemui Ki Ageng Pengging.

Pagi itu, Ki Ageng Pengging baru usai sembahyang. Masih tampak bunga segar terselip ditelinga kanannya. Lurah Prajurid Pengging yang diutus menemui pasukan Demak, menghadap. Dia melaporkan bahwa Sunan Kudus, Senapati Agung Demak Bintara, datang untuk bertemu dengan Ki Ageng Pengging pribadi.

Ki Ageng Pengging mempersilakan Senapati Agung Demak Bintara itu menemui beliau di Dalem Agung.

Sunan Kudus, diiringi beberapa prajurid Demak segera menuju Dalem Agung. Lantas, setelah dipersilakan masuk oleh Ki Ageng Pengging, Sunan Kudus-pun masuk ke bilik dalam. Prajurid pengiring dari Demak, menunggu diluar.

Ki Ageng Pengging, memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan hidangan bagi Sunan Kudus dan beberapa prajurid Demak yang tengah berjaga-jaga diluar.

Didalam bilik Dalem Agung, Sunan Kudus kini duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Ki Ageng Pengging. Setelah berbasa-basi sejenak, Ki Ageng Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak.

Sunan Kudus menegaskan, bahwasanya kedatangannya mengemban perintah Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak Bintara sesuai dengan tenggang waktu yang pernah diberikan oleh Sultan Demak melalui Ki Patih Wanasalam, tiga tahun yang lalu. Dan Sunan Kudus, tanpa basa-basi lagi menunjukkan surat perintah Sultan kehadapan Ki Ageng Pengging langsung!

Ki Ageng Pengging tersenyum. Beliau kembali menyatakan bahwa, sudah tidak ada perlunya beliau menghadap ke Demak. Karena semenjak tiga tahun lalu, beliau bukan siapa-siapa lagi. Beliau hanya sekedar orang desa, yang tengah menjalani kehidupan bersahaja, tidak ada kaitan sama sekali dengan perpolitikan Negara. Beliau hanyalah seorang pertapa biasa. Mengapakah Sultan Demak sangat-sangat berkepentingan dengan orang seperti dirinya? Seorang pertapa desa yang tidak ada keistimewaannya apapun.

Sunan Kudus meragukan kata-kata Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus meminta bukti kalau memang Ki Ageng Pengging memang seorang pertapa biasa. Dan Sunan Kudus menantang berdebat tentang Ilmu Sejati dengan Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging menerima tantangan tersebut.

Dan terjadilah Tanya jawab tentang Ilmu Sejati. Sunan Kudus melempar pertanyaan dan Ki Ageng Pengging menjawabnya. Dan jawaban-jawaban Ki Ageng Pengging, beberapakali sempat membuat Sunan Kudus terperangah.

Pada suatu kesempatan, Sunan Kudus melemparkan pertanyaan simbolik sebagai berikut :

Kalamun Ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang,
Dadi Kawula pan mami,
Kalamun Ingsun kapisah kalawan kekasih mami,
Sun dadi Ratu,
Ratu Ratuning sabumi,
Ratu Angratoni Jagad.

(Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja seluruh bumi,
Raja Yang Merajai Jagad Raya. )

Siapakah Ingsun ( Aku ) dan siapakah kekasih-Ku ?

Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :

Ingsun ya Ingsun,
Datan ana roro telu,
Kasebut Hyang Paramashiwah, Hyang Sadashiwah lan Hyang Atma,
Telu-telune jatine Tunggal!

(Ingsun ( Aku ) adalah Ingsun ( Aku ),
Tiada lagi yang kedua maupun ketiga,
Disebut juga Hyang Paramashiva, Hyang Sadashiva dan Hyang Atma,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu!)

Kasebut ugi Allah, Rasul lan Mukhammad,
Telu-telune Tunggal uga!

(Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu juga!)

Kang ingaranan kekasihingwang,
Ya jisim ya suksma,
Yen Ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma,
Ingsun dadya Kawula,
Yen Ingsun kapisah kalawan jisim lan suksma,
Ingsun Pan dadya Ratu,
Ratu Ratuning Jagad,
Ya Brahman Ya Allah,
Tan liyan saking punika!

(Yang disebut kekasih-Ku,
Adalah Jasad dan Suksma,
Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja Semesta,
Ya Brahman Ya Allah,
Tiada lain dari itu!)

Sunan Kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Dan perdebatan semakin panas!

(Bersambung ke bagian 4-habis)


Ki Ageng Pengging 4 – habis


Sunan Kudus bertanya.

"Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?"

(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)

Ki Ageng Pengging menjawab,

"Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!"

(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)

Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.

"Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?"

(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!"

(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )

Kemudian Sunan Kudus bertanya.

"Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?"

(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Dumunung aneng Urip!"

(Berada didalam Hidup!)

Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..

"Ana ing ngendi dununging Urip?"

(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)

Ki Ageng pun menjawab.

"Ana Ing Galihing Kangkung,
Ana Ing Gigiring Punglu,
Ana Ing Susuhing Angin,
Ana Ing Wekasaning Langit.

(Berada di inti tumbuhan Kangkung,
Berada di sudut Pelor,
Berada di Kediaman Angin,
Berada di akhir Langit. )


(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada. : Damar Shashangka )

Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.

"Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha'. Yen lebur Ha' dumunung aneng ngendi?"

(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha'. Jika lebur Ha', berada dimanakah ? )

Ki Ageng menjawab.

"URIP!"

(Hidup!)

Sunan Kudus menyela.

"ALIP Jisimingsun!"

(ALIP Jasad-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

"ANG Raganingsun!"

(ANG Raga-Ku! )

Sunan Kudus menyela lagi.

"LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!"

(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

"UNG Suksmaningsun!"

(UNG Suksma-Ku ! )

Sunan Kudus menimpali lagi.

"HU Ruhingsun !"

(HU Roh-Ku ! )

Ki Ageng menimpali juga.

"MANG Atmaningsun!"

(MANG Atma-Ku ! )

Sunan Kudus.

"ALLAH Asmaningsun!"

(ALLAH Nama-Ku ! )

Ki Ageng Pengging.

"HONG Asmaningwang!"

(HONG Nama-Ku ! )

Sunan Kudus.

"ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU............ALLAH!"

Ki Ageng Pengging.

"ANG, UNG, MANG.............HONG!"




ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)

Sunan Kudus diam. Lantas menantang secara halus.

"Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare!"

(Apabila Tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya!"

(Ungkapan ini adalah ungkapan khas Jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang telah diucapkan : Damar Shashangka )

Ki Ageng tersenyum dan berkata : " Sumangga ing karsa.." ( Silakan..)

Ki Ageng Pengging lantas bersendekap dan meminta Sunan Kudus memperhatikan titik diantara kedua alis mata beliau. Lantas, Ki Ageng memejamkan mata.

Sunan Kudus awas, dia lekat memperhatikan titik diantara kedua alis mata Ki Ageng Pengging. Suasana mendadak berubah, ruangan dimana Sunan Kudus berada, terasa hampa, senyap dan seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian, Sunan Kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging!

Cahaya yang lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan disana, ditengah hempasan cahaya tersebut, Sunan Kudus melihat dirinya berada disana. Sejenak kemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya!

Sunan Kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan Kudus lantas berkata.

"Aku percaya nakmas Pengging...Sudah cukup!"

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik ditengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas.

Sunan Kudus membuka matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata.

"Kabarnya, nakmas Pengging mampu MATI SAJERONING URIP. URIP SAJERONING PATI ?"

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Kangjeng Sunan, saya tahu, Kangjeng Sultan Demak menganggap saya sebagai 'klilip' (Penghalang) beliau. Tidak usah berbasa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tapi, kalau saya melakukannya, sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam, adalah hal yang tercela. Untuk itu, jadilah perantara kematianku!"

Sunan Kudus terdiam.

"Cabutlah keris Kangjeng," lanjut Ki Ageng Pengging, "tusukkan siku kananku ini. Disaat ujung keris Kangjeng menancap disikuku ini, saat itulah, aku akan melepaskan suksma dan Atmaku dari jasadku. Silakan!"

Sunan Kudus segera mencabut kerisnya. Sedangkan Ki Ageng Pengging sejenak bersendekap memejamkan mata. Disusul, beliau angkat siku kanannya kedepan. Sunan Kudus menusukkan kerisnya kesiku Ki Ageng Pengging. Dan disaat itulah, Ki Ageng Penggin melepaskan suksma dan Atmanya!

Tubuh Ki Ageng Pengging rebah ke kanan. Sunan Kudus memeriksa detak jantung Ki Ageng Pengging, dan Sunan Kudus yang sudah berpengalaman yakin, bahwa Ki Ageng Pengging telah wafat. Sejenak beliau membenahi jasad Ki Ageng, lantas Sunan Kudus keluar dari bilik Dalam Agung.

(Silakan membaca cerita ini langsung dari Babad Tanah Jawa untuk perbandingan : Damar Shashangka )

Sesampainya diluar, Sunan Kudus segera memerintahkan prajurid Demak berkemas. Sunan Kudus dan para prajurid Demak, tanpa banyak berkata-kata, segera meninggalkan Dalem Ki Ageng Pengging.

Didalam bilik Dalem Agung, tepat pada saat itu, pelayan yang hendak menyediakan hidangan mohon masuk. Tapi tidak ada jawaban. Bergegas dia lari memanggil Nyi Ageng Pengging. Istri Ki Ageng Pengging berlari tergopoh-gopoh ke Dalem Agung, memancing perhatian beberapa prajurid Pengging. Karena tidak ada jawaban juga saat Nyi Ageng Pengging mohon masuk, maka segera saja beliau menerobos ke dalam. Dan terkejutlah Nyi Ageng Pengging melihat Ki Ageng Pengging telah terbujur kaku menjadi mayat!

Nyi Ageng Pengging jatuh pingsan. Beberapa prajurid Pengging tanpa dikomando segera berhamburan menaiki kuda masing-masing, menyusul rombongan Sunan Kudus.

Para Lurah Prajurid Pengging menyusul kemudian. Bendhe Beri ( Gong kecil yang dibunyikan untuk mengumpulkan para prajurid : Damar Shashangka ), suaranya riuh rendah bercampur dengan pukulan kentongan bertalu-talu. Masyarakat Pengging yang sudah siap sedia sejak semalam, baik yang sudah ada disekitar Dalem Ki Ageng Pengging maupun yang masih ada dirumah masing-masing, segera menaiki kuda masing-masing sembari membawa persenjataan perang lengkap!

Di pihak pasukan Demak, mendapati Bendhe Beri dan Kentongan berbunyi bertalu-talu, segera mempersiapkan diri. Walau belum tahu pasti apa yang terjadi, mereka telah siap sedia jika ptajurid Pengging menyerang!

Rombongan Sunan Kudus tersusul. Rombongan kecil Senopati Demak itu segera di kepung prajurid Pengging! Prajurid Pengging telah siap tempur! Senjata telah terhunus nyalang! Dada para prajurid Pengging bergemuruh mendidih!

Sunan Kudus memerintahkan seorang prajurid Demak mengibarkan bendera merah! Tanda bagi seluruh pasukan Demak yang ada disudut-sudut Pengging untuk siap tempur! Suasana tegang!

Bendera merah berkelebat-kelebat, disusul dari kejauhan, empat orang prajurid Demak mendadak muncul sembari memacu kuda dengan mengibarkan bendera serupa. Keempatnya meneruskan perintah Sunan Kudus yang tengah terkepung kepada para pasukan yang siap sedia disudut-sudut Pengging!

Isyarat itu terlihat oleh para pemimpin pasukan Demak, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat! Serta merta, seluruh pasukan Demak keluar dari tempat persembunyiannya. Bergemuruh suaranya! Diiringi pekikan-pekikan nama Tuhan! Seperti kebiasaan mereka!

Para prajurid Pengging yang mengepung Sunan Kudus, hanya melihat sepasukan dari dua arah, namun mereka mendengar suara pekikan-pekikan pasukan lain yang tak terlihat berada diseberang wilayah mereka. Mereka menyadari, posisi mereka kini terkepung! Wilayah Pengging benar-benar terkepung!!

"Heh kalian rakyat Pengging!! Kaliah hanya rakyat biasa! Ini urusan orang besar! Kembalilah pulang ke rumah masing-masing!!" Teriak Sunan Kudus!

Seorang Lurah Prajurid Pengging maju beberapa langkah dengan kudanya.

"Bagi kami lebih baik mati bersama junjungan kami!"

Sunan Kudus menjawab.

"Ingat posisi kalian! Kalian sudah terkepung! Dan ingat pula akan anak istri kalian! Jika pasukan Demak menyerang, seluruh wilayah ini akan dibakar! Kalian boleh berani menumpahkan darah kalian! Tapi apakah kalian juga akan tega melihat anak istri kalian ikut menjadi korban !?"

Nyali prajurid Pengging menciut begitu mendengar gertakan Sunan Kudus! Seketika mereka teringat akan anak istrinya yang kini juga tengah terkepung dan terancam! Seluruh pasukan Pengging menjadi gamang! Sunan Kudus melihat itu semua, lantas Sunan Kudus berkata lagi.

"Sarungkan senjata kalian! Urusan kami hanya dengan Ki Ageng Pengging! Uruslah jenazah junjungan kalian! Kangjeng Sultan Demak, akan memberikan pengampunan bagi kalian semua!"

Kepanikan melanda prajurid Pengging. Bayangan anak dan istri mereka membuat keberanian mereka menciut! Dan, Lurah Prajurid Pengging yang paling senior segera memerintahkan seluruh prajurid Pengging menyarungkan senjata. Disusul, Lurah Prajurid Pengging memerintahkan memberikan jalan kepada rombongan Sunan Kudus yang terkepung.

Sunan Kudus segera memerintahkan pasukan bergerak kedepan! Bendera putih kini dikibarkan! Disusul beberapa prajurid dari kejauhan kembali meneruskan pesan itu sembari membawa bendera putih juga! Dan pemimpin pasukan Demak yang telah bersiap-siap diposisi masing-masing, begitu melihat bendera merah berganti bendera putih, segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk menyarungkan senjata!

Pekik nama Tuhan berkumandang berkali-kali! Pasukan Demak merasa telah memenangkan pertempuran atas berkat Tuhan!

Dipihak lain, prajurid Pengging masih menyimpan bara amarah! Seandainya mereka berhadap-hadapan digaris depan seperti saat peperangan Majapahit dan Demak dulu, pasti mereka tak segan-segan menumpahkan darah!

Terdengar teriakan Lurah Prajurid Pengging memerintahkan seluruh prajurid kembali ke Pengging.

Duka menyelimuti Pengging. Jenasah Ki Ageng Pengging segera disucikan. Upacara Sraddha tergelar. Para Pandhita Shiwa Buddha berdatangan. Pengging berkabung! Para sisa bangsawan Majapahit, mendengar kabar wafatnya Ki Ageng Pengging, segera menuju Pengging. Upacara pembakaran mayat-pun dilaksanakan.

Sebulan setelah wafatnya Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging yang jatuh sakit, menyusul. Beliau wafat! Kembali Pengging berduka. Mendung menyelimuti Pengging.

Mas Karebet, menjadi yatim piatu. Dan Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir, membawa Mas Karebet kecil ke Tingkir. Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir. Mas Karebet lantas dikenal dengan nama JAKA TINGKIR.

Kelak dikemudian hari, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan menjadi Raja Tanah Jawa. Dan beliau bergelar SULTAN ADIWIJAYA.

Sabtu, 13 Maret 2010

AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M)



Sunda adalah bukan nama suatu etnis, oleh penjajah lalu dikecilkan menjadi nama suatu suku di Jawa Barat. Karena negara kita pada waktu itu adalah Negarakertagama, artimya... Tata Negara berdasarkan suatu nilai ajaran/agama yang pada zaman Prabu Darmasiksa di abad 12. 

Penyebutan gelar Resiguru dalam sejarah Sunda hanya diberikan kepada tiga orang tokoh, yaitu Resiguru Manikmaya (Raja di Kendan -sekarang Nageg Cicalengka-, 536-568M), Resiguru Demunawan (di Saunggalah I/Kuningan, awal abad 8M) dan Resiguru Niskala Wastu Kancana (Raja di Kawali, 1371-1475M). 

Resiguru adalah gelar yang sangat terhormat bagi seorang raja yang telah membuat menurunkan suatu “AJARAN” (philosophy grondslag, the way of live) yang menjadi pedoman hidup bagi keturunannya. Dengan gelaran Resiguru yang disandangnya tentu Resiguru Demunawan pun menurunkan”AJARAN”-nya. 

Adalah seorang keturunannya yang kemudian menjadi Raja di Saunggalah I (Kuningan) dan kemudian pindah menjadi raja di Saunggalah II (Mangunreja/Sukapura sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya) yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, 122 tahun!) yang nantinya kemudian mengaktualisaksikan ajaran-ajaran karuhunnya/leluhurnya.

Setelah Prabuguru Darmasiksa hijrah ke Saunggalah II (sekarang daerah Mangunreja di kaki Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya), kerajaan lalu diserahkan kepada putranya yang bernama Prabu Ragasuci. Adapun Prabuguru Darmasiksa diangkat menjadi Raja di Karajaan Sunda (Pakuan) sampai akhir hayatnya. Prabuguru Darmasiksa adalah tokoh yang kemudian berperan besar dalam mengkompilasi dasar-dasar pandangan Hidup/Ajaran hidup berupa nasehat dan pitutur dalam suatu naskah tertulis. 

Naskah yang dikenal sebagai AMANAT DARI GALUNGGUNG atau disebut juga sebagai NASKAH CIBURUY (nama tempat di Garut Selatan tempat ditemukan naskah Galunggung tsb) diidentifikasi sebagai KROPAK No.632, yang ditulis pada daun nipah sebanyak 6 lembar dimana terdiri atas 13 halaman; menggunakan aksara Sunda Kuna. Naskah ini kemudian lebih dikenal sebagai : 

“AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA”. AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

### HALAMAN 1 ###
Pegangan Hidup: Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya. Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada: anak, cucu, umpi (turunan ke-3), cicip (ke-4), muning (ke-5), anggasantana (ke-6), kulasantana (ke-7), pretisantana (ke-8), wit wekas ( ke-9, hilang jejak), sanak saudara, dan semuanya. Kandungan Nilai: Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus menghormati/mengetahui siapa para leluhur kita. Ini kesadaran akan sejarah diri. Mengisyaratkan pula kesadaran untuk menjaga kualitas keturunannya dan seluruh insan-insan masyarakatnya.

### HALAMAN 2 ###
Pegangan Hidup: Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing. Perilaku Yang Negatif: Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus. Jangan menikah dengan saudara. Jangan membunuh yang tidak berdosa. Jangan merampas hak orang lain. Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan saling mencurigai. Kandungan Nilai: Sebagai suatu bangsa harus tetap waspada, tidak boleh lengah jangan sampai ajaran leluhur dihilangkani oleh ajaran asing. Kebenaran bukan untuk diperdebatkan tapi untuk diaktualisasikan. Pernikahan dengan saudara dekat tidak sehat. Segala sesuatu harus mengandung nilai moral.

### HALAMAN 3 ###
Pegangan Hidup: Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan). Siapa saja yang dapat menduduki tanah yang disakralkan (Galunggung), akan beroleh kesaktian, unggul perang, berjaya, bisa mewariskan kekayaan sampai turun temurun. Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu. Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing. Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya. Perilaku Yang Negatif: Jangan memarahi orang yang tidak bersalah. Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya. Kandungan Nilai: Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dimaknai sebagai tanah air, tetapi yang lebih esensi adalah AJARAN DI DALAM DADA. Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia. Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu (ajaran). Jangan sampai dikuasai orang asing. Hidup harus memilikii etika.

### HALAMAN 4 ###
Pegangan Hidup: Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri. Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”. Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah (ILMU) dan ibu (TANAH AIR), tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk alang-alang yang memenuhi tegal. Kandungan Nilai: Hidup harus tunduk kepada aturan, termasuk mentaati “pantangan” diri sendiri. Ini menyiratkan bahwa manusia harus sadar hukum, bermoral dan tahu batas serta dapat mengendalikan dirinya sendiri. Orang yang moralnya rusak sulit diperbaiki, sebab terserang penyakit batin (kehawatiran & keinginan/ambisi), termasuk orang yang keras kepala (tidak berilmu).

### HALAMAN 5 ###
Pegangan Hidup: Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung. Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh. Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua. Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur. Semua yang dinasihatkan bagi kita semua ini adalah amanat dari Rakeyan Darmasiksa. Kandungan Nilai: Manusia harus rendah hati jangan angkuh. Agama sebagai pegangan hidup harus ditegakkan. Pengetahuan akan nilai-nilai peninggalan para leluhur harus didengar dan dilaksanakan.

### HALAMAN 6 ###
Pegangan Hidup: Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna. Bila ajaran Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:... See More - Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya; - Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan. - Ahli strategi akan unggul perangnya. - Pertanian akan subur. - Panjang umur. SANG RAMA (tokoh masyarakat) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup. SANG RESI (cerdik pandai, berilmu), bertanggung jawab atas kesejahteraan. SANG PRABU (birokrat) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan. Perilaku Yang Negatif: Jangan berebut kedudukan. Jangan berebut penghasilan. Jangan berebut hadiah. Perilaku Yang Positif: Harus bersama- sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana. Kandungan Nilai: Sebuah ajaran leluhur yang luhung harus menjadi kebanggaan bagi keturunannya. Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadil-makmuran. Bila tokoh yang tiga (Rama, Resi dan Prabu), biasa disebut dengan Tri Tangtu di Bumi (Tiga penentu di Dunia), berfungsi dengan baik, maka kehidupan pun akan sejahtera.

### HALAMAN 7 ###
Pegangan Hidup: Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran. Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahmi dengan sesama manusia. Itulah manusia mulia karena menjadi paripurna. Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya. Kita menjadi kaya secara batin dan materi karena kita bekerja, berhasil tapanya. Perilaku Yang Positif: Tekad, ucapan dan tindakan haruslah bijaksana. Harus bersifat hakiki/beresensi dalam keseharian, bersungguh-sungguh, memikat hati, suka mengalah, murah senyum, berseri hati dan mantap bicara. Perilaku Yang Negatif: Jangan berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan jangan berbicara mengada-ada. Kandungan Nilai: Manusia yang mulia itu adalah yang taat melaksanakan agama/ajaran dan mempererat silaturahmi dengan sesama orang. Dalam pemahaman budaya Sunda, yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja/berkarya. Etika dan tatakrama dalam bermasyarakat perlu digunakan. Hidup jangan serakah. Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar.

### HALAMAN 8 ###
Pegangan Hidup: Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri. Tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa. Tidak benar pula bila kita bekerja hanya karena ingin dipuji orang. Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu. Camkan ujaran para orang tua agar merasakan surga di kahiyangan. Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri. Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik. Perilaku Yang Positif: Yang disebut berkemampuan itu adalah: Harus cekatan, terampil, terampil, tulus hati, rajin dan tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, semangat perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan dan berani tampil.

Yang dikatakan semua ini itulah yang disebut orang yang BERHASIL TAPANYA, BENAR-BENAR KAYA, KESEMPURNAAN AMAL YANG MULIA.

Kandungan Nilai:
Manusia perlu melakukan refleksi, introspeksi dan retrospeksi. Jangan menyalahkan orang lain. Berkerja harus ikhlas jangan karena ingin dipuji orang. Orang yang mulia itu adalah orang yang bekerja/beramal/berkarya. Kejujuran dan kebenaran ada di dalam diri pribadi, itu adalah hati nurani. Manusia yang mulia itu adalah mereka yang mempunyai kualitas kemanusiaan prima.

### HALAMAN 9 ###
Pegangan Hidup: Perlu diketahui bahwa neraka itu adalah suatu rasa di tubuh manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain. Perilaku Yang Negatif: Arwah yang merasakan neraka itu ada didalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung/barbarian, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hat, rumit mengesalkan, aib dan nista. Kandungan Nilai: Manusia perlu menyadari keadaan dirinya. Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif. Karater yang negatif membawa turunan yaitu kesengsaraan manusia.

### HALAMAN 10 ###
Pegangan Hidup: Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela. Orang pemalas seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri melihat keutamaan orang lain. Perbuatan yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas. Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu. Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi. Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya. Kandungan Nilai: Minta dikasihani orang itu adalah tercela. Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang merunduk. Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

### HALAMAN 11 ###
Pegangan Hidup: Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama. Sayangilah orang tua, oleh karena itu hati-hatilah dalam memilih pasangan, memilih hamba agar hati orang tua tidak tersakiti. Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang agama hukum para leluhur, agar hidup tidak tersesat. Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu. Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya. Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya. Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya. Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia. Kandungan Nilai: Orang berwatak rendah akan dibenci orang mungkin dibunuh orang, hidupnya tidak akan lama, namanya pun tidak dikenang orang dengan baik. Hormatilah dan senangkanlah hati ibu dan bapa (( ibu tunggul rahayu bapa tangkal darajat yang artinya tanah air harus dijaga diraksa diriksa berdasarkan ilmu dari bapa yang harus dikembangkan sehingga menjadi suatu pohon yang kuat)). Banyak bertanya agar hidup tidak tersesat. Kesadaran akan waktu dan sejarah.

### HALAMAN 12 ###
Pegangan Hidup: Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia- sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak bekerja dengan baik. Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya dengan baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai. Ketidak-pastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia. Bila tidak mempunyai rumah/kekayaan yang banyak ya jangan beristri banyak. Bila tidak mampu berproses menjadi orang suci, ya jangan bertapa. Kandungan Nilai: Pekerjaan yang sia-sia sama saja dengan tidak berkarya. Tanpa berkarya tak akan tercapai cita-cita. Ketidak tenteraman di masyarakat karena para cerdik pandai, birokrat dan orang-orang kaya salah dalam berperilaku dan bertindak. Pandailah mengukur kemampuan diri, agar tidak sia-sia.

### HALAMAN 13 ###
Pegangan Hidup: Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja. Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepada cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan. Teguh semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita. Kandungan nilai: Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju. Senang akan keelokan/keindahan. Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh. Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk. Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

CAG GEURA LEUMPANG SAACAN NGOMONG

Senin, 01 Maret 2010

HASTA BRATA

HASTA BRATA

Marsudi Mardawaning Laku Jantraning Jagad Sakisine

Wong dadi temanten kuwi prasasat kaya rikala winisudha dadi raja sedina ngalami lenggah jejer karo si garwa sigarane nyawa [wong nyawa kok disigar apa ya bisa, gek nyigare ya nganggo apa] nglenggahi dhampar dhenta pinalipit ing retna kinebutan lar badhak [wong badhak kok ana lare, gek lare pundi niku] kanan kering dening patah sakembaran [hemm ...bayi kembar siam ayake, bayine siji sing dadi bapake loro, oleh-oleh saka arisan RT, empluk wadhahe uyah, wetenge njembluk isine bocah].

Sakarone pinaringan sangsangan puspa rinonce kang acarup sangsangan naga karongrong [dilem nganggo nagasari kareben ora ceblok], tumekeng jaja nganti pamidhangan, yen cinandra kaya taksaka ganda laya disekseni para pinisepuh, para wandu-wandawa sarta para tamu kakung putri ing madyaning sasana pawiwahan.

Supaya pangantyan mau bisa lestari ngasta pusaraning bebrayan kudu nduweni gegebengan sarta paugeran kang gumathok, mangkono mungguh jejering bebrayan. Gegebengan mau kang aran HASTA BRATA, kaya katrangan ing ngisor iki:

1. Mulat Laku Jantraning Bantala:
Yen bantal kuwi tegese piranti kanggo turu. Nanging bantala kuwi tegese bumi. Kembang mawar ganda arum angambar-ngambar. Wong kang sabar penggalihe mesti jembar. Wewateke bumi iku sabar, sanadyan dipulasara, dipaculi, didhudhuki, dipestisida, lsp. nanging ora nduweni pangresula, ora sambatan, malah nudhuhake kabecikane kanthi nuwuhake thethukulan, palawija, palapendhem, tetaneman, sarta barang-barang pelikan kang pinangka dadi kas kayane kang padha mulasara.

2. Mulat Laku Jantraning Surya:
Dene wewatekane surya utawa srengenge iku tansah paring papadhang sarta aweh panguripan marang sadhengah tetuwuhan lan sato kewan lan sakabehing barang ing alam donya kang urip lan tansah mbutuhake cahya. Sing dak rembug iki bab mulat laku jantraning surya, iki beda lho karo crita ‘perselingkuhane’ Bathara Surya ing jagading pewayangan. Bathara Surya niku dewa cluthak. Tiyang sajagad empun dha dhamang kalih sekar banjare Adipati Karna. Nalika lair procot dening Kunthi linarung ing lepen, amargi lare niku undhuh-undhuhane gendhak slingkuh kalih Bathara Surya. Hladalah! Gelah-gelahing bumi panuksmaning jajalaknat, mbelegedhes wani nglanangi jagad dhewe si Surya Sasangka kuwi:-)

3. Mulat Laku Jantraning Kartika:
Kartika utawa lintang wewatekane tansah tanggon tangguh, sanadyan katempuh ing angin prahara sindhung riwut nanging ora obah lan ora gangsir, jare wong Jombang ‘menter njoh!’, tegese tangguh lan puguh, ora bakal mundur sajangkah prasasat kaya pasukan berani nekat. wani ning bandhane mung nekat, hopo hora sarap niku jenenge?.

4. Mulat Laku Jantraning Candra:
Candra Darusman kuwi jenenge penyanyi lan pangripta lagu. Lha candra sing iki tegese rembulan, wewatekane uga aweh pepadhang marang sapa bae kang lagi nandhang pepetenge budi, sarta aweh pangaribawa katentreman lan ora kemrungsung binti mbregudul. Witing klapa salugune wong Jawa, dhasar nyata laku kang prasaja.

5. Mulat Laku Jantraning Samodra:
Samodra utawa segara iku bisa madhahi apa bae kang kanjog. Sanadyan ana sampah industri lan rumah tangga, bangke asu apa bangke wong ketembak bubar melu demo [gek wujude ya ora beda banget jan jane mono], kabeh ditampa tanpa nganggo ngersola lan serik. Mila keparenga Mastoni nyuwun sih samodraning pangaksami manawi wonten klenta-klentunipun anggenipun wawan rembag ing riki.

6. Mulat Laku Jantraning Tirta:
Wewatekane tirta utawa banyu tansah andhap asor. Tansah ngupadi panggonan kang endhek, mungguh patrap diarani lembah manah lan andhap asor. Iwan Tirta kuwi perancang busana, yen aku perancang tanpa busana, asyik ‘kan bisa buat cuci mata? Kaya katrangan ing ndhuwur mau, Mas Iwan Tirta priyayine kok ya wewatekane padha karo tirta yakuwi andhap asor [sebabe dedeg piyadege wonge pancen ora dhuwur], apartemene cedhak karo apartemenku ing New York, kapan ya aku ana wektu dak golek lungsuran batike Mas Iwan.

7. Mulat Laku Jantraning Maruta:
Maruta uga diarani angin. Wewatekane tansah nalusup ing ngendi panggonan kaya mata-mata CIA, ing papan kang rumpil sarta angel klebu omah gedhe cet abang branang ing Beijing, nanging kabeh tetep ditlusuri ora ana kang kari. Mungguh tumrap lelabuhan, kepingin nyumurubi papan ngendi bae kang bisa diambah.

8. Mulat Laku Jantraning Agni :
Geni iku wewatekane bakal nglebur apa bae kang katon. Mungguhing tumrap laku bakal mbrastha apa bae kang dadi pepalang, ora nguubris babarpisan bakal anane SI suk awal Agustus. Hayo apa kang ora bakal lebur dening panase geni?

Bekti iku tegese panembah. Werdhine panembah tumanduking patrap kang jumurung marang santosaning jiwa, ati, rasa, lan budi pakerti, ora liya ya lajering rasa manteb lan jejeg netepi kwajibane. Pangerten Hasta Brata iki kang nuwuhake rasa nyawiji, jumbuhake rasa karsa lan cipta kang bakal hanjog marang wujuding karya.

Gumolonging patrap wolung prakara mau bakal nuwuhake sikep madhep manteb lan jejeg netebi dhawuhing Gusti Kang Akarya Jagad sarta ngedohi kabeh pepacuhe, tansah eling lan bisa nglarasake tumindhak karo kedale pangucap, angleluri watak sabar marang sakabehing pacoban kang tumiba, ora kepranan marang sakebehing gugon tuhon utawa anut grubyug, resik ing panyana, sepi ing pangira ala sarta lumuh ngupadi alaning liyan, lega lan narima dhumawahing pandum kanthi ora nglirwakake sengkuting pambudidaya.

Iya sikep mangkono mau kang bisa hambuka olah kridhaning rasa eling bisa lelumban ing tatanan pasrah tanpa sumendhe marang resiking nalar lan pamikir. Kanggo ngawekani laku supaya jumbuh karo gegayuhan sarta nuwuhake katentreman lan karahayon, padha bisoa nindhakake patrap liyane kang banget bisa hambiyantu nuwuhake larase bebrayan agung. Mangkono mau mungguh tuladha Hasta Brata kang pinangka piyandel sarta gegebengane Prabu Rama Wijaya kanggo ngasta pusaraning praja ing nagara Ayodya Pala.

 Terjemahan
HASTA BRATA merupakan tuntunan laku pada seorang yang satria pinilih [pemimpin yang terpilih],

Hasta berarti delapan sedangkan Brata berarti laku, watak atau sifat utama yang diambil dari sifat alam. Dapat diartikan juga bahwa Hasta Brata adalah delapan laku, watak atau sifat utama yang harus dipegang teguh dan dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau siapa saja yang terpilih menjadi pemimpin, seorang pemimpin utama.

Delapan watak utama tersebut diambil dari watak para Dewa bangsa kita yang merupakan manifestasi dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, dan masing-masing mewakili sifat dari alam raya, yaitu: bumi, angin, air, bulan, matahari, angkasa, api, dan bintang.

Ke-delapan Dewa tersebut adalah :
- Batara Wisnu : simbol bumi / tanah [earth]
- Batara Bayu : simbol angin / maruto [wind/hurricane]
- Batara Baruna : simbol air / laut [water/sea]
- Batari Ratih/Chandra : simbol bulan [moon]
- Batara Surya : simbol matahari [sun]
- Batara Indra : simbol langit / angkasa [sky]
- Batara Brama : simbol api / dahana [fire]
- Batara Kartika/Ismaya : simbol bintang [star]Batara Wisnu

Batara Wisnu adalah Dewa Keabadian dan Kesejahteraan,

yang tugasnya adalah memelihara dan membangun peradaban di bumi ini, perlambang dari
Kebijaksanaan.
Sifat Bumi sendiri adalah sentosa, suci, pemurah, memberikan segala kebutuhan yang diperlukan makhluk yang hidup di atasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makhluk hidup.
Sebagaimana Bumi, seorang pemimpin seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.

Batara Bayu adalah Dewa Angin yang merupakan perlambang kekuatan.

Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya. Perwatakannya gagah berani, kuat, teguh santosa, bersahaja, pendiam dan dahsyat.
Sifat Angin adalah, meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata ke seluruh penjuru dan tempat.
Sebagaimana Angin, seorang pemimpin seharusnya bersifat teguh dan bersahaja, selalu dapat mencermati setiap permasalahan dari bangsa yang terjadi, menyuarakan dengan lantang kepentingan rakyat sebagai bagian dari kekuatan berkebangsaan.

Batara Baruna adalah Dewa Laut atau Samudera,

di mana sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya, namun samudera tidak tumpah, dapat menampung apa saja yang jelek ataupun baik, tetap sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.
Sifat Laut adalah Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menerima dan menjadi wadah apa saja.
Sebagaimana Lautan, seorang pemimpin hendaknya luas hati dan kesabarannya.

Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana-pun serta bersifat pemaaf.


Batari Ratih adalah Dewi Bulan,

bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batara Kartika, memberikan sinar kesejukan pada perasaan dan pandangan makhluk di bumi pada malam hari.
Sifat Bulan adalah selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja; sebagai planet pengiring matahari, bulan bersinar di kala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh.
Sebagaimana Bulan, seorang pemimpin hendaknya selalu rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat

Batara Surya adalah Dewa Matahari,

mempunyai tugas menerangi dunia, memberi perkembangan hidup dan kesehatan kepada semua makhluk yang terjadi di siang hari; wataknya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.
Sifat dari Matahari adalah terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti, segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu.
Sebagaimana Matahari, seorang pemimpin harus bisa memberikan pencerahan kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih..

Batara Indra adalah Dewa Langit,

ia menguasaiangkasa, hujan dan petir. Ia menyediakan apa yang diperlukan di dunia, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi. Perwatakannya luhur, pengasih dan cinta kepada seni serta keindahan.
Sifat Langit kadang sangat indah, kadang menakutkan, tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makhluk hidup.

Sebagaimana Langit, seorang pemimpin harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun di samping itu selalu berusaha juga untuk memberikan kesejahteraan.



Batara Brama adalah Dewa Api,

sering diutus untuk memberikan pahala kepada orang yang berjasa dalam kehidupannya. Seorang panglima perang yang ulung yang laksana api dapat membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedang dalam kegelapan.
Sifat Api adalah panas membara, kalau disulut akan ber kobar membakar, menghangus kan dan memusnahkan apa saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan.
Sebagaimana Api, seorang pemimpin harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan .

Batara Kartika adalah Dewa Bintang,

nama lainnya adalah Sanghyang Ismaya, yang artinya adalah kesucian yang bersinar. Bertugas menerangi dunia ini bersama-sama dengan Batari Ratih, memberikan sinar harapan dan pencerahan kepada makhluk di bumi pada malam hari.
Sifat Bintang adalah menyinari, menghiasi langit di malam hari, menjadi kiblat dan sumber ilmu perbintangan.
Sebagaimana Bintang, seorang pemimpin harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya.

Secara global, tuntunan laku dari Hasta Brata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah:

Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu; bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya.

Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita mulai dari dulu, kini sampai ke masa depan,