Senin, 01 Maret 2010

JIWA RAGA SUKMA NYAWA


Sejenak kita akan membahas (lagi) ilmu tentang jiwa, tetapi mungkin para pembaca yang budiman masih bertanya tanya apa perbedaan antara jiwa, jasad, dan sukma. Sebelum saya menjabarkan ketiganya, kiranya perlu saya tampilkan beberapa cuplikan pemahaman orang lain tentang jiwa sebagai upaya mencari komparasi dan menambah khasanah ilmu kejiwaan.

KERANCUAN MEMAKNAI JIWA, SUKMA, NYAWA, PSIKHIS

JIWA, di dalam Oxford Dictionary tertulis soul (roh), mind dan spirit. Sementara dalam bahasa Indonesia cukup dengan padanan yaitu jiwa. Yunani PsychĂȘ yang berarti jiwa dan logos yang berarti nalar, logika atau ilmu. Tubuh adalah bagian yang fenomenal, dapat ditangkap oleh pancaindera dan bersifat fana sedangkan jiwa menurut Plato (500 SM) merupakan bagian yang memiliki substansi tersendiri (terpisah dari jasad) dan bersifat abadi. Plato berargumen, bahwa jiwa menempati tempat yang lebih tinggi daripada tubuh, lebih jauh ia mengatakan bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa karena tubuh menghambat kebebasan jiwa. Bagi seorang murid Plato, yakni Aristoteles (400 SM), semua yang hidup mempunyai jiwa seperti tumbuh-tumbuhan, hewan dan tentu saja manusia. Bagi Plato jika seseorang mati, maka jiwanya akan tetap ada dan kembali kedunia Idea di mana di sana terdapat segala hal yang ideal (sempurna) untuk kemudian jiwa akan mereinkarnasi diri dan menubuh kembali pada saatnya. Di sisi lain Aristoteles muridnya, memiliki pandangan berbeda, ia tidak setuju keduaan ala gurunya. Bagi Aristoteles tubuh dan jiwa itu bukan keduaan melainkan kesatuan. Olehkarenanya jika seseorang mati, maka konsekuensinya jiwapun turut mati bersama tubuh. Mana yang benar, Plato atau Aristoteles ? Saya kira kedua-duanya konsep Plato dan Aristoteles tetap  mengandung kelemahan-kelemahan. Bahkan jika ditelaah lebih dalam, banyak ilmuwan kesulitan memetakan letak di mana jiwa (nafs, hawa, nafas, soul), roh (spirit) dan raga (body). Hal ini bukan berarti para filsuf pendahulu kita gegabah dalam memaknai tentang jiwa. Dapat dimaklumi sebab mempelajari tentang seluk beluk kejiwaan kita, musti menggunakan jiwa kita sendiri. Golek latu adadamar, atau mencari bara api dengan menggunakan obor sebagai penerang jalan. Sangatlah bisa dimaklumi sebab pembahasan jiwa sudah bersinggungan dengan ranah gaib yang tak tampak oleh mata wadag. Hanya saja, untuk melengkapi pembahasan terdahulu dalam posting  MENGENALI JATI DIRI kiranya perlu dilakukan komparasi terhadap khasanah ilmu jiwa yang telah disampaikan oleh para pendahulu kita agar jiwa kita menjadi jiwa yang betul-betul merdeka. Merdeka lahir dan merdeka batin.

JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM

Sejenak para pembaca yang budiman saya ajak mampir ke padepokan seorang filsuf Jawa dan kondang sebagai seorang yang linuwih dan sakti mandraguna. Beliau adalah Ki Ageng Suryo Mentaram (kebetulan dulu tinggalnya di belakang rumah kami). Ki Ageng Suryo Mentaram membahas ilmu jiwa yang dikemukakan seorang filsuf Jawa sekaligus penghayat kejawen yang pada waktu hidupnya beliau terkenal sebagai seseorang yang memiliki ilmu linuwih dan sakti mandraguna.Baca selanjutnya !

Ilmu jiwa sebagaimana diungkapkan Ki Ageng Suryo Mentaram dikenal dengan dua macam jiwa. Yakni jiwa KRAMADANGSA, dan jiwa BUKAN KRAMADANGSA. Apa yang disinyalir sebagai jiwa kramadangsa adalah jiwa yang tidak abadi disebut pula sebagai rasa “Aku Kramadangsa”. Aku kramadangsa termasuk di dalamnya adalah “rasa nama” atau ke-aku-an, misalnya aku bernama Siti Ba’ilah. Aku adalah seorang musafir, aku seorang satrio piningit, aku adalah seorang kaya raya. Ki Ageng Suryo Mentaram mensinyalir adanya “rasa jiwa” yang bersifat abadi. Dimaknai sebagai Aku bukan kramadangsa. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, rasa aku kramadangsa adalah ke-aku-an (naari atau “unsur api”) yakni aku yang masih terlena, terlelap dalam berbagai rasa aku yang terdapat di dalam lautan kramadangsa. Sebaliknya aku bukan kramadangsa adalah aku yang telah otonom yang sudah memiliki KESADARAN memilih mana yang BENAR dan mana yang SALAH sehingga ia dapat dinamai “Aku kang jumeneng pribadi”.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga bagian yakni pancaindera, rasa hati dan pengertian. Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll). Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain. Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati. Pengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir. Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteré sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia.

JIWA YANG MERDEKA (KAREPING RAHSA)

Seperti yang telah saya kemukakan dan jabarkan dalam posting terdahulu tentang MENGENALI JATI DIRI. Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali  artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep Ki Ageng Suryo Mentaram sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai  JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa  kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD.

Barangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku.

JIWA, ROH, JASAD

Tulisan saya di sini mencoba untuk membantu menjabarkan apa sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita.

Sukma-Raga

Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware.  Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.

Sukma-Jiwa

Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.

Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga,   tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.

Jiwa-Raga

Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan”  bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam kisah terdahulu, silahkan para pembaca yang budiman membuka posting berjudul KUNCI MERUBAH KODRAT. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga.

RUMUS-RUMUS KEHIDUPAN WADAG DAN GAIB

Jiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya  harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin. Pribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati.

Sebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.

NYAWA, KEMATIAN, DAN MERAGA SUKMA

Banyak orang, melalui berbagai referensi, menganggap nyawa sama dengan jiwa. Bahkan dipahami secara rancu dengan menyamakannya dengan roh atau sukma. Nyawa, jiwa, roh, sukma, diartikan sama. Tetapi manakala kita menyaksikan peristiwa meraga sukma, perjalanan astral, lantas timbul tanda tanya besar. Bukankah saat terjadi peristiwa kematian, sukma seseorang keluar dari jasadnya ?! Kenapa orang yang meraga sukma tidak mengalami kematian ?! Sejak lama saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri. Apa gerangan yang terjadi dan bagimana duduk persoalannya. Bagaimanakah sebenarnya rumus-rumus tuhan yang berlaku di dalamnya ?

Butuh waktu puluhan tahun hingga saya menemukan jawaban logis, paling tidak nalar saya bisa menerimanya. Nyawa ibarat “lem perekat” yang menghubungkan antara sukma dengan raga manusia. Pada peristiwa kematian seseorang, nyawa sebagai lem perekat tidak lagi berfungsi alias lenyap. Jika lem perekatnya sudah tak berfungsi lagi maka lepaslah sukma dari jasad.  Lain halnya dengan meraga sukma, lem perekat masih berfungsi dengan baik, sehingga kemanapun sukma berkelana, jasadnya yang ditinggalkan tidak akan mati. Hanya saja lem perekat bernama nyawa ini sistem bekerjanya berbeda dengan lem perekat pada umunya yang benar-benar menyambung merekatkan antara dua benda padat. Nyawa merekatkan antara jasad dan sukma  secara fleksibel, bagaikan dua peralatan yang dihubungkan oleh teknologi nir kabel. Namun demikian nyawa tentu saja jauh lebih canggih ketimbang teknologi bluetooth yang bisa menghubungkan dua peralatan dalam jarak dekat maupun jauh. Dalam khasanah spiritual Jawa, para leluhur di zaman dulu menemukan adanya keterkaitan masing-masing unsur gaib dan wadag manusia. Raga supaya hidup harus dihidupkan oleh sukma,  sukma diikat oleh rasa. Ikatan rasa akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila rasa tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh raga. Bila seseorang tak kuat lagi menahan rasa sakit, kesadaran jasadnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran jasadnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian. Di sini peristiwa kematian adalah padamnya  “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara jasad dan sukma. Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun sukma berkelana ia tetap terhubung dengan raga melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama nyawa.

NILAI HAKEKAT MISTIK KEJAWEN


“Urip ing ngalam dunya, ora liya mung pinangka kanggo netepi titahing Gusti”

PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)

33.
Ngelmu iku
Kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani

Setya budaya pangekese dur angkara
Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayatinya dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan.
Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara

34
Angkara gung
Neng angga anggung gumulung
Gegolonganira
Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Nafsu angkara yang besar
ada di dalam diri, kuat menggumpal,
menjangkau hingga tiga zaman,
jika dibiarkan berkembang akan
berubah menjadi gangguan.

35
Beda lamun kang wus sengsem
Reh ngasamun
Semune ngaksama
Sasamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama

Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,
Watak dan perilaku memaafkan pada sesama,
Selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,

36
Taman limut
Durgameng tyas kang weh limput
Karem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing sukma ngrebda saardi pengira

Dalam kegelapan.
Angkara dalam hati yang menghalangi,
Larut dalam kesakralan hidup,
Karena temggelam dalam samodra kasih sayang,
kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung

37
Yeku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhira,
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi diri
Rapal makna

Itulah yang pantas ditiru,
contoh yang patut diikuti
seperti semua nasehatku.
Jangan seperti zaman nanti
Banyak anak muda yang menyombongkan diri
dengan hafalan ayat,

38
Durung becus kesusu selak besus
Amaknani rapal
Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak
Gunaning jalma

Belum mumpuni sudah berlagak pintar.
Menerangkan ayat seperti sayid dari Mesir,
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.

39
Kang kadyeku
Kalebu wong ngaku aku
akale alangka
Elok Jawane denmohi
Paksa langkah ngangkah met
Kawruh ing Mekah

Yang seperti itu,
termasuk orang mengaku-aku.
(padahal) Kemampuan akalnya dangkal,
Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.
Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di mekah,

40
Nora weruh
rosing rasa kang rinuruh
lumeketing angga
anggere padha marsudi
kana kene kaanane nora beda

Tidak memahami hakekat ilmu yang dicari,
sebenarnya ada di dalam diri.
Asal mau berusaha,
sana sini (ilmunya) tidak berbeda,

41
Uger lugu
Den ta mrih pralebdeng kalbu
Yen kabul kabuka
Ing drajat kajating urip
Kaya kang wus winahya sekar srinata

Asal tidak banyak tingkah,
agar supaya merasuk ke dalam sanubari.
Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.
Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).

42
Basa ngelmu
Mupakate lan panemune
Pasahe lan tapa
Yen satriya tanah Jawi
Kuna kuna kang ginilut tripakara

Yang namanya ilmu,
dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.
Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.
Bagi satria tanah Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

43
Lila lamun kelangan nora gegetun
Trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa srah ing Bathara

Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
Sabar jika hati disakiti sesama,
Ketiga ; lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan.

44
Bathara gung
Inguger graning jajantung
Jenek Hyang wisesa
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar angkara Tuhan Maha Agung.

Di letakkan dalam setiap hela nafas.
Menyatu dengan Yang Mahakuasa,
Teguh mensucikan diri,
Tidak seperti yang muda,
Mengumbar nafsu angkara.

45
Nora uwus
Kareme anguwus uwus
Uwose tan ana
Mung janjine muring muring
Kaya buta buteng betah anganiaya

Tidak henti hentinya gemar mencaci maki.
Tanpa ada isinya, kerjaannya marah-marah
seperti raksasa; bodoh,
mudah marah dan menganiaya sesama.

46
Sakeh luput
Ing angga tansah linimput
Linimpet ing sabda
Narka tan ana udani
Lumuh ala ardane ginawa gada

Semua kesalahan dalam diri selalu ditutupi,
Penuh basa-basi mengira tak ada orang yang mengetahui,
Katanya enggan berbuat jahat,
padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.

47
Durung punjul
Ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan hawa
Cupet kapepetan pamrih
tangeh nedya anggambuh
mring Hyang Wisesa

Belum cakap ilmu.
Buru-buru ingin dianggap pandai.
Tercemar nafsu selalu merasa kurang,
dan tertutup oleh pamrih,
sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

——————————————————————-

Gejolak Pengembaraan Sukma
Kesadaran dalam falsafah hidup Jawa dimulai dari kesadaran rasio (akal budi atau cipta) yang ditopang oleh pilar utamanya yakni kesadaran batin meliputi; kesadaran jiwa atau sukma, dan kesadaran rahsa (rasa). Tidak hanya berhenti di situ, kesadaran rahsa masih harus dimanifestasikan dalam perbuatan konkrit untuk menjalani aktivitas hidup sehari-hari (karsa). Parameter keberhasilan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari sebagai makhluk ciptaan Tuhan (titahing Gusti), adalah bilamana berhasil melakukan harmonisasi dan sinergi antara perilaku manusia dengan kearifan alam semesta, antara jagad alit dengan jagad ageng, antara mikrokosmos dengan makrokosmos. Oleh sebab itu manusia Jawa (nusantara) selalu berusaha untuk menciptakan harmonisasi dan sinergisasi antara jagad alit (diri pribadi) atau microcosmos dengan jagad ageng (alam semesta) atau macrocosmos.

Pergaulan Manusia Dengan Alam
Desa mawa cara, negara mawa tata. Setiap desa memiliki tata cara atau tradisi dan kebudayaan yang berbeda-beda. Setiap negara memiliki aturan dan undang-undang yang berbeda-beda pula. Setiap tata cara, tradisi, budaya, undang-undang tentu akan dipengaruhi oleh pola interaksi antara masyarakat dengan alam sekitarnya. Misalnya masyarakat Arab sejak pra Islam terutama wanita sudah mengenakan burqa atau kain penutup wajah dan kepala. Bentuk mode pakaiannya pun seperti jubah panjang menutup seluruh tubuh. Hal itu disebabkan oleh kondisi alam yang teramat panas di siang hari, dingin di waktu malam hari, dan sering terjadi badai gurun. Pakaian model demikian tentunya akan melindungi tubuh dari keganasan alam sekitarnya. Demikian pula masyarakat Afghan, India, Pakistan, walaupun memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda namun mereka masih satu rumpun yang memiliki akar kebudayaan yang sama. Lihat saja model pakaiannya hampir memiliki kesamaan. Semua itu pada intinya, bahwa tradisi dan budaya merupakan proses interaksi manusia dengan alam. Sehingga terjadi penyeimbangan atau harmonisasi antara manusia dengan alam sekitarnya. Bahkan karakter alam akan sangat berpengaruh terhadap karakter masyarakatnya. Misalnya masyarakat Sunda yang ramah, andap asor, terbuka, lunak, namun juga cenderung kurang gigih, semua itu dipengaruhi oleh keadaan alam yang subur, cukup air, mudah bercocok tanam, mudah mencari mata pencaharian. Gunung-gunung dan pemandangan alamnya yang menakjubkan mempengaruhi nilai seni dan budayanya pula. Coba perhatikan tiupan seruling Sunda dengan nada-nadanya yang indah meliuk-liuk, merdu dan syahdu menyayat hati. Seolah mengikuti lekuk-liuk kontur pegunungan nan indah dan syahdu. Perhatikan pula logat bahasanya yang mesra mendayu, seolah mengikuti irama alam sekitarnya. Lain halnya dengan masyarakat Madura di wilayah bangkalan. Kondisi alam yang kering dan tanah yang sulit untuk bercocok tanam, menyebabkan gaya hidup yang serba terbatas. Cara bermukim berkelompok. Dan memiliki karakter yang keras. Seolah mengikuti keadaan alam yang ganas dan mengharuskan pola hidup yang keras. Jika mental atau karakternya tidak keras maka akan sulit bertahan hidup di tanah Bangkalan. Mata pencaharian yang sulit akan membangun sikap hemat namun cenderung melakukan invasi ke wilayah masyarakat lain yang lebih subur lingkungan alamnya. Hal itu hampir senada dengan keadaan masyarakat di negara Arab, yang memiliki karakter alam yang sedemikian ganas. Ganasnya alam membuat segala sesuatu menjadi serba sulit. Karena terbiasa menghadapi kehidupan yang sulit itulah akan menimbulkan karakter masyarakat yang keras, sulit bersikap toleran, dan mudah terjadi konflik horisontal misalnya perebutan property, ata pencaharian, dan wilayah kekuasaan. Maka dapat dipahami bahwa konflik horisontal lebih sering terjadi di wilayah-wilayah yang memiliki karakter alam yang ganas dan keras. Celakanya, kristalisasi nilai kebudayaan yang keras yang berasimilasi ke dalam nilai-nilai agama atau falsafah hidup suatu masyarakat, di kemudian hari akan sangat berbahaya menjadi “doktrin kebenaran” apabila hanya dipahami secara tektual/teksbook. Itulah salah satu alasan mengapa mempelajari agama harus disesuaikan dengan konteks zamannya atau dipahami secara kontekstual. Terlebih lagi apabila nilai-nilai tersebut diekspor ke masyarakat lain yang memiliki karakter berbeda. Akan beresiko terjadi disharmoni dan anti-sinergisme dengan lingkungan alamnya. Masyakarat lokal (origin/pribumi) akan teralienasi oleh “nilai imitasi impor” yang pada gilirannya justru menghilangkan kesadaran tertinggi jati diri, yakni kesadaran rahsa sejati. Ujung dari semua itu, adalah masyarakat yang terombang ambing kehilangan jati diri, tidak mengenali karakter alam sekitarnya, serba salah langkah, dan salah kaprah dalam mengambil kebijaksanaan. Maka kemurkaan alamlah yang terjadi.

Banyak cara dapat ditempuh untuk mewujudkannya misalnya dengan “laku” spiritual biasa disebut sebagai “laku prihatin” (perih dirasa ing batin). Cara-cara lainnya misalnya dengan berbagai ritual tradisi dan kebudayaan. Dalam mistik Kejawen atau falsafah hidup Jawa semua itu dapat dimaknai sebagai “laku kebatinan” (rohaniah). Tujuan dari semua itu tidak lain sebagai upaya menggapai kesadaran tinggi yakni kesadaran rahsa sejati. Kesadaran rahsa sejati menjadi pemandu yang efektif dalam manembah kepada Tuhan YME.

Pencapaian kesadaran tinggi bukanlah bersifat instan, hanya dengan ritual-ritual misalnya puasa, dan dengan rapalan-rapalan atau wirid saja. Lebih utama dari semua itu adalah amalannya atau laku perbuatan konkrit (manifestasi) dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Manusia Jawa memahami bahwa lakutama atau perilaku utama (baik dan mulia) berupa manifestasi perbuatan terhadap sesama makhluk, baik terhadap sesama manusia maupun makhluk lainnya (termasuk alam semesta). Lakutama merupakan jalan utama menuju panembahan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Atau dapat dianalogikan bahwa habluminannas (dimensi horizontal) merupakan jalan utama menggapai habluminallah (dimensi vertikal).

Dasar dari laku spiritual adalah amal perbuatan konkrit kepada sesama manusia dan alam semesta atau dimensi habluminannas yakni perbuatan konkrit dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama makhluk (manusia). Amal perbuatan manusia hendaknya dilakukan secara harmonis dan sinergis sesuai dengan kearifan (bahasa) alam. Manusia Jawa memahami bahwa “bahasa” yang terdapat di dalam jagad gumelar ini merupakan “kitab suci” yang penuh dengan petunjuk bahasa / kehendak Tuhan, atau kodrat Tuhan. Sinergisme dan harmonisasi antara jagad alit dengan jagad ageng dipahami sebagai sikap tunduk dan taat manusia (manembah) kepada Sang Pencipta Gusti Ingkang Akarya Jagad (Tuhan Pencipta Alam). Dalam upaya memahami lebijaksanaan alam/kebijaksanaan Tuhan yang tergelar di jagad raya ini antara lain lahirlah rangkaian nilai, yang menajdi pandangan atau filsafat hidup seperti misalnya Hasta Brata. Hasil dari mencermati bahasa alam, dan kehendak Tuhan yang terangkum dalam gerak-gerik fenomena alam, meretas ke dalam perangkat nilai yang kemudian diistilahkan sebagai filsafat hidup, nilai-nilai kebudayaan, tradisi, dan ritual yang banyak sekali mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang adiluhung. Bila manusia mampu menata perilaku hidupnya seperti halnya perilaku alam yang penuh kebijaksanaan ia akan menemukan rasa sejati dalam pengembaraan sukma. Secara konkrit dapat saya jelaskan bagaimana manusia melakukan sinergisme dan harmonisasi dengan alam semesta (jagad gumelar) misalnya ;

1. Alam tempat kita hidup ini, sungguh tak pernah mengeluh, selalu bersedia memberikan kebutuhan manusia untuk melangsungkan kehidupan. Maka konsep manusia mempercayai bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Hal ini menuntut konsistensi perbuatan kita hendaknya memiliki sikap welas asih, tepa selira, saling asah asih asuh, terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk hidup tanpa pandang bulu atau pilih kasih. Manusia hendaknya memahami, menjaga, melindungi dan melestarikan tidak hanya kepada makhluk hidup namun termasuk benda tidak hidup di bumi ini yang meliputi sungai, lautan, gunung, daratan, dan hutan, dst.

Sebaliknya sikap disharmoni dan a-sinergi, tampak pada sebagian manusia yang dengan dalih apapun ingin mencelakai orang lain, membunuh, memfitnah, menyakiti hati. Atau manusia memanfaatkan sumber daya alam secara liar, tidak terkendali, bahkan melakukan eksploitasi alam hingga menyebabkan kerusakan hutan, pencemaran air sungai dan laut, polusi udara. Semua itu merupakan sikap kontradiktori terhadap kodrat / hukum alam, atau kodrat Tuhan. Artinya perilaku manusia demikian menjadi tidak sinergis dan harmonis dengan alam semesta. Akibatnya adalah bencana alam, musibah kemanusiaan, wabah penyakit (endemi), paceklik, salah musim, siklus cuaca yang kacau, global warming.

2. Jika rasio anda mengetahui bahwa jagad raya ini sangat luas meliputi milyaran bintang, dan jumlah galaksi yang banyak, bahkan manusia belum menemukan sampai di mana batas tepi dari jagad raya ini, maka konsep manusia memahami bahwa Tuhan Mahabesar dan Mahaluas Tiada-batas. Dikiaskan sebagai gigiring punglu, atau samodra tanpa tepi. Maka konsekuensi dalam sikap perbuatan hendaknya kita berjiwa besar, toleran, tidak sempit akal, selalu membuka wawasan pikir yang seluas-luasnya. Sikap kita akan lebih arif dan bijak. Tidak suka melakukan prejudis, penilaian sepihak dan vonis subyektif. Tidak pula menghina dan melecehkan yang bodoh. Menghargai pendapat orang lain, serta tidak gengsi berguru kepada siapapun termasuk kepada orang yang dianggap bodoh sekalipun. Bersedia belajar melalui bahasa alam, mau mengambil hikmah dari perilaku positif seekor binatang, yang hina sekalipun. Semua itu berangkat dari kesadaran bahwa Tuhan telah menggelar bahasa dan tanda-tanda kekuasaanNya di setiap jengkal jagad raya ini tanpa kecuali.

Sebaliknya, sikap perlawanan terhadap hukum alam atau kodrat Tuhan dapat berwujud sikap fanatisme atau anti-toleran, sikap golek menange dewe (cari menangnya sendiri), golek benere dewe (cari benernya sendiri), mbang cinde mbang siladan (pilih kasih), primordialisme agama, rasis, etnosentris. Sikap-sikap tersebut merupakan sikap kontra-sinergi, atau disharmoni antara microcosmos dengan macrocosmos. Hal ini akan mengurung kesadaran diri (self consciousness) stagnan pada kesadaran imitasi yang membuat diri tidak pernah beranjak belenggu kejahiliahan, yang tanpa pernah kita sadari bersemayam dalam otak, hati, dan batin kita. Orang-orang dalam kesadaran palsu akan cenderung merasa diri sebagai manusia paling suci, alim, soleh, solikhah dan memandang orang lain lebih rendah, kafirun, hina dan sesat.

3. Jika kita percaya bahwa Tuhan Mahapemurah, sebab dalam setiap detik kita dapat menyaksikan bahwa anugrah Tuhan sulit dihitung jumlahnya. Kesadaran konsep demikian hendaklah ditindaklanjuti dengan laku spiritual atau laku batin yang dimanifestasikan dalam perbuatan konkrit sehari-hari kepada sesama. Sebagai konsekuensinya kita menjadi orang yang murah hati. Tidak enggan melakukan tapa ngrame, gemar membantu dan menolong orang lain secara ikhlas tanpa pamrih. Kecuali hanya sebagai upaya menghayati konsep-konsep ketuhanan, atau netepi titahing Gusti (insan kamil). Giat bekerja dan giat beramal. Harta yang berlebih bukan untuk berfoya-foya dan tidak untuk mengumbar nafsu ragawi. Sebaliknya jika kita lebih banyak harta maka kita akan lebih leluasa dan memiliki kemampuan membantu pihak-pihak yang kekurangan dan membutuhkan. Jika kita banyak ilmu tidak segan dan pelit untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Perilaku disharmoni dan a-sinergi antara microcosmos dengan macrocosmos, bilamana manusia memiliki mental kere atau etos pengemis. Inginnya selalu diberi, dikasihani, dilindungi, pelit merkedit dst. Kurang memiliki kepekaan sosial, egois (keakuan), oportunis (mencari untungnya sendiri/golek butuhe dewe). Jika tidak ada imbalan mereka enggan menolong dan membantu sesama.

4. Anda yakin Tuhan Maha Adil dan Bijaksana ? Sebagaimana tampak dalam hukum alam yang penuh keadilan dan keseimbangan. Dalam ilmu biologi Anda dapat mencermati “rantai makanan” yang jelas-jelas mengikuti rumus keseimbangan alam. Binatang di awal “mata rantai” jumlahnya semakin sedikit dan proses populasinya berjalan lamban, sedangkan hewan yang berada ujung mata rantai berkembang biak secara cepat dalam jumlah besar. Itulah “bahasa alam”, “bahasa” tentang keadilan dan kebijaksanaan, yang menginformasikan kepada manusia bahwa Tuhan Maha Adil. Konsekuensinya, manusia harus selalu berbuat adil dan bijaksana dalam “laku” atau perbuatan hidup sehari-hari kepada sesama manusia, makhluk hidup, dan alam semesta.

Sikap sebaliknya, manusia lebih sering melawan kodrat alam. Manusia menutup mata dan telinga lalu dengan seenaknya berbuat melawanan hukum alam yang tertata, tertib, rapi, adil dan bijaksana. Manusia melakukan penebangan hutan secara liar hingga mengakibatkan pemanasan global, banjit dan terjadi abrasi pantai. Manusia melakukan ekploitasi kehidupan laut secara membabi buta sehingga terjadi ketidakseimbangan mata rantai hingga berakibat kepunahan berbagai jenis binatang. Manusia juga merombak sungai menjadi perumahan mewah, jalur hijau dan resapan air “ditanami” bangunan rumah hingga mengakibatkan banjir, tanggul jebol, tanah longsor, semua memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Apakah pola pikir anda masih menganggap bahwa semua itu sebagai “cobaan bagi orang-orang yang beriman” ?. Atau sebagai kehendak Ilahi ? Tidak ! Tuhan tidak sekejam itu, manusialah yang teramat lancang berani menganggap Tuhan sebagai obyek penderita. Lebih tepat dikatakan sebagai “ngunduh wohing pakarti”. Manusia mendapat bebendu atau hukuman atas penentangannya terhadap rumus-rumus alam, hukum alam, atau kodrat Tuhan.

5. Kesadaran kita dalam memahami Tuhan Mahakuasa, adalah sikap penguasaan terhadap hawa nafsu negatif yang ada di dalam diri kita pribadi. Sikap mawas diri, mulat sarira, angon wayah, merupakan penjelmaan atas penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap kesadaran bahwa Tuhan Mahakuasa.

Sikap antagonisnya terjadi bilamana manusia selalu bernafsu ingin menguasai dan menindas orang lain secara tidak absah. Menaklukkan, menghancurkan, menundukkan dan menghegemoni pihak lain. Sikap megalomania, narsistis, takabur, golek menange dewe, menganggap orang lain tidak benar dan pantas dilenyapkan, merupakan bentuk negasi dari sikap penguasaan terhadap diri pribadi. Bahkan sikap paling ekstrim dan sangat berbahaya adalah bilamana manusia yang maha lemah mengklaim diri sebagai pembela Tuhan Yang Mahakuasa. Mengaku dirinya adalah UTUSAN TUHAN yang berhak membunuh orang lain yang dianggap secara sepihak menurut persepsi pribadi sebagai musuh Tuhan. Apakah mereka tidak menyadari apabila Tuhan memiliki musuh (yang berasal dari makhluk ciptaanNya sendiri) sangat terdengar aneh bila mengutus manusia berada di jalan jihad dengan membunuh musuh-musuhNya. Apakah Tuhan Mahalemah sehingga mengutus manusia membunuh manusia lainnya ? Bukankah kekuasaan Tuhan mampu membunuh milyaran manusia hanya kurang dari satu detik saja ?! Marilah kita camkan bersama.

Parameter Keihklasan
Berbuat baik dalam hal ini melakukan sinergisme dan harmonisasi dengan alam idealnya dilakukan secara tulus ikhlas tanpa pamrih. Kalimat tulus ikhlas tanpa pamrih sering menjadi rancu dan bias manakala kita ingin memahami apa yang seyogyanya menjadi motifasi dalam beramal atau berbuat baik. Kalimat tersebut memunculkan pertanyaan, “jika keikhlasan diartikan sebagai sikap tanpa pamrih, apakah ideal jika manusia berharap (pamrih) pahala dan syurga ? Bagi saya pribadi, berharap-harap pahala bukanlah tabiat buruk atau salah. Hanya saja, jika dilakukan oleh orang-orang yang mengaku telah berada dalam tataran kesadaran hakekat rasanya menjadi kurang pantas dan pencapaian spiritualnya diragukan. Sebab sebagai manusia dengan kesadaran hakekat akan memiliki perasaan “duwe rasa, ora duwe rasa duwe”. Bukankah Tuhan SUDAH tiap detik selalu memberikan pahala anugrah, rahmat dan kenikmatan yang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Mulai dari bisa bernafas, melihat, merasa, tidak kelaparan, tidak kekurangan air, rasa senang, memiliki properti dst. Bahkan tanpa pandang bulu anugrah dan kenikmatan itu tetap dirasakan oleh seorang koruptor, pencuri, penipu, pembohong, pembunuh. Bahkan dirasakan oleh seluruh umat manusia di bumi tidak tergantung dengan apa agamanya (primordial), apa suku bangsanya (rasis), dan apa kebudayaannya (etnosentris). Begitu banyak rahmat dan berkah Tuhan kita rasakan tiap satu detik saja. Apakah manusia mampu berucap syukur satu kali dalam setiap detiknya ? Tidak ! Lantas tidak malukah kita jika masih saja berharap-arap pahala atau UPAH dari Tuhan atas apa yang kita lakukan ? Kapan kita akan lebih banyak bersyukur ketimbang memohon-mohon. Kapan kita lebih sering “menelungkupkan telapak tangan” daripada “menengadahkan tangan” ?
Keikhlasan sempurna dapat saya analogikan seperti kita sedang buang air besar. Walau kita melakukan sesuatu yang baik, memberikan materi yang banyak, namun kita tidak berharap imbalan dari seseorang maupun imbalan dari Tuhan, bahkan sesegeranya kita guyur dengan air agar tidak tercium bau dan tidak lagi kelihatan bentuk dan rupanya. Di sinilah hakekat tapa mendem (bertapa mengubur diri). Yang dikubur / hapus adalah segala amal kebaikan yang pernah kita lakukan kepada sesama dari ingatan kita. Jika kita berbuat baik kepada orang lain, tulislah di atas tanah agar segera terhapus dari ingatan kita. Jika kita membantu sesama, atau menolong orang lain, maka bertransaksilah kepada Tuhan, bukan bertransaksi kepada orang tersebut. Transaksi kepada Tuhan dalam batas kesadaran kita untuk menghayati konsep ketuhanan atau “netepi titahing Gusti”. Bukan untuk mengkoleksi “upah” pahala.

Bersyukur Yang Egois
Dalam upaya mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan, manusia sering melakukannya secara egoistis. Di mulutnya mengucapkan hamdalah atau puji Tuhan saja, atau kalimat-kalimat lainnya. Namun kalimat itu hanya sebatas mulut saja (lips service). Sedangkan hatinya, pikirannya, dan perbuatannya tidak menunjukkan adanya harmonisasi dan sinergisme dengan kalimat syukur yang keluar dari mulut. Kita musti selalu eling dan waspada, karena beginilah bentuk kemunafikan paling halus yang sering tidak disadari oleh manusia.

Pencapaian kesadaran spiritualitas yang tinggi antara lain ditandai oleh rasa syukur yang tak pernah putus dalam setiap hela nafasnya. Dalam wilayah tasawuf merupakan bentuk zikir tanpa putus, sedangkan dalam tradisi SSJ dikenal sebagai sholat dhaim atau menembah kepada Tuhan dalam setiap hela nafasnya. Namun demikian rasa syukur tidak cukup hanya dilakukan sebatas ucapan mulut atau dalam batin saja. Lebih utama adalah mewujudkannya dalam bentuk perbuatan yang konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, makhluk hidup dan alam semesta. Rasa sukur yang ideal melibatkan empat unsur dalam diri yakni; hati, ucapan, pikiran dan tindakan. Dan dilakukan secara sinkron serta kompak (tidak munafik) melibatkan keempat unsur tersebut.

Ciptakan Medan Magnet
Rasa syukur serta ketulusan-keikhlasan idealnya didasari oleh kesadaran bahwa setiap detik kita telah berhutang ratusan anugrah dan nikmat Tuhan. Berbuat baik hendaknya didasari oleh kesadaran untuk mewujudkan rasa syukur tersebut ke dalam perbuatan konkrit. Perbuatan atau amal baik yang kita lakukan seumpama kita sedang membayar hutang. Bagaimana bisa kita membayar hutang namun mengharapkan imbalan ? Nah, walaupun laku perbuatan kita dilandasi sikap tanpa pamrih, alias tulus ikhlas, bukan berarti apa yang kita lakukan hanyalah sia-sia dan tidak ada efek positifnya. Perbuatan baik kita (ibadah) –yang berupa sembahyang dan amal perbuatan baik– ditujukan semata-mata sebagai “laku netepi titahing Gusti”. Artinya, sudah sewajarnya manusia hidup di bumi berbuat baik. Oleh karena itu tidak ada yang istimewa di dalamnya. Dan tanpa diminta/dimohon pun asalkan manusia mau berbuat baik dengan tulus, ibarat menciptakan pusaran magnet yang secara otomatis akan menebarkan “medan magnet” (kebaikan) kepada orang lain lalu mengundang “senyawa” (kebaikan) yang sama. Itulah rumus Tuhanatau kodrat alam. Secara otomatis rumus Tuhan akan berjalan dengan sendirinya, bahwa perbuatan baik akan memancarkan sekaligus mengundang segala kebaikan datang menghampiri diri kita. Sebaliknya perbuatan jahat akan mendatangkan keburukan pada diri kita. Kebaikan yang menghampiri berupa kemuliaan hidup (surga) di dunia maupun setelah kita “lahir” ke dalam kehidupan yang sejati dan abadi. Sebaliknya keburukan yang menghampiri berupa kehidupan yang hina dan aniaya (neraka). Jika kita mau mencermati “kitab sastra jendra” yang tergelar di jagad gumelar ini, bukankah sudah tampak rumus-rumus dengan jelas. Bahwa tiap-tiap senyawa yang sama memiliki kekuatan untuk saling menyatu. Maka terdapatlah berbagai macam aliran, faham, kepentingan yang bersifat konstruktif maupun destruktif masing-masing menyatu dalam wadah kelompok atau golongan yang sama dan senyawa. Melingkupi yang wadag maupun yang gaib. Maka marilah kita bahu membahu menciptakan “medan magnet” yang mulia.

Pantaskah Kita Memohon ?
Di antara berbagai doa dan permohonan kepada Tuhan Yang mahakuasa, bila kita memohon agar memiliki kesadaran, kemampuan, kekuatan dan kemudahan dalam melakukan sinergisme dan harmonisasi dengan jagad raya seisinya, atau beramal kebaikan kepada seluruh makhluk sebagai upaya menghayati konsep ketuhanan atau “netepi titahing Gusti”, itulah permohonan yang menduduki ranking pertama paling pantas dan ideal dilakukan manusia kepada sang Pencipta. Permohonan-permohonan yang lain, menduduki ranking berikutnya.

Titik Temu Rasio dan Spirit
Untuk itu tugas manusia adalah mampu “nggayuh kawijcaksananing Gusti”. Mampu memahami apayang menjadikehendak alam atau kehendak Tuhan. Dengan berbagai cara yang ditempuh misalnya olah rasa atau olah batin, yakni mengolah kepekaan indera anda yang keenam. Lalu membuka wawasan pikir seluas-luasnya dengan mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan akan menjadi tiang penyangga agama. Sebaliknya kesadaran spiritual akan menuntun ilmu pengetahuan bekerja sinergis dan harmonis dalam koridor hukum alam. Target utamanya adalah terbukanya kesadaran rahsa sejati yang menyempurnakan kesadaran rasio / akal-budi.

Minggu, 28 Februari 2010

LIMA JENIS MODIFIKASI BATHIN DAN TIGA PROSES PENALARAN



Modifikasi-modifikasi batin (vritti) ada lima jenis, ada yang menyedihkan dan ada yang tidak menyedihkan: penalaran (pramana), kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa), tidur (nidra) dan ingatan (smrti).
Praktek langsung (pratyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian metode penalaran yang baik.
[YS I.5 - I.7]
 
Pengetahuan luhur (jñana) yang diperoleh tanpa mengabaikan terlebih dahulu kekeliruan (viparyaya), imajinasi (vikalpa) serta ingatan-ingatan (smrti) yang samar dan terbatas, tidak layak dipercaya sebagai suatu pengetahuan yang sahih (vidya), yang dapat dipertanggung-jawabkan objektivitas dan kebenarannya. Ia tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan samasekali (avidya), apalagi jñana. Sutra-sutra ini menekankan hal ini. Sementara jñana diperoleh lewat tiga rangkaian proses yang masing-masing daripadanya disebut pramana. Sebagai suatu rangkaian proses, yang satu dilanjutkan dan dilengkapi oleh yang berikutnya, demikian seterusnya. Dalam mengamati, mencermati guna memperoleh jñana, tri pramana adalah jalannya.

Mempraktekkan langsung dengan cermat fenomena-fenomena di luar ataupun di dalam, melahirkan pengalaman. Melalui praktek yang sama secara berulang-ulang, banyak pengalaman yang diperoleh. Pengalaman disini bisa berupa pengalaman fisik, non-fisik maupun meta-fisik. Endapan pengalaman-pengalaman inilah yang tersimpan sebagai bagian dari ingatan (smrti), mereka serupa dengan kesan-kesan mental (samskara). Smrti semakin kuat bila pengalaman yang sama dialami secara berulang-ulang. Dari fenomena batiniah inilah terlahir laku Japa, pelafalan sebait mantra pendek secara berulang-ulang. Semua proses empiris inilah yang disebut pratyaksa pramana. Besar kemungkinannya kalau kata ‘praktek’ maupun ‘praktis’ yang kita kenal sekarang ini berasal dari kata pratyaksa ini.
Pengetahuan juga bisa diperoleh dari mendengar penjelasan sumber-sumber yang otentik dan layak dipercaya maupun kitab-kitab yang terpercaya. Pengetahuan yang diperoleh dengan cara inilah yang disebut agama atau sabda pramana —perolehan pengetahuan melalui mendengarkan sabda-sabda suci para Guru-guru suci dan kitab-kitab suci.
Namun, walaupun tak ada Guru suci atau kitab suci yang didengar atau dibaca, melalui pengalaman empiris (pratyaksa), analogi, perumpamaan ataupun “modelling test” (upamana) serta membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman sejenis lainnya serta kemampuan analisa pribadi, dapat pula ditarik suatu kesimpulan yang terpercaya. Proses penyimpulan inilah yang disebut anumana. Kehadiran upamanapramana menjadikannya Catur Pramana, seperti yang diajukan oleh Rshi Gautama dalam Nyaya Darsana-nya. Menurut beliau, ada 4 aspek substantif yang mengkondisikan atau terkandung dalam proses penalaran, yakni: (i) subjek (pramata), (ii) objek (prameya), (iii) kondisi hasil amatan (pramiti) dan (iv) cara mengetahuinya (pramana).
Kekeliruan (viparyaya) merupakan pengetahuan keliru (mithya-jñana), yang tidak tersusun dari realitas.
Pengetahuan yang dimunculkan oleh ‘citra kata-kata’, namun tanpa didukung objektivitas adalah angan-angan atau imajinasi (vikalpa) semata; modifikasi-modifikasi batin yang terjadi tanpa hadirnya keterjagaan penuh (jagra) adalah tidur (nidra); dan kehadiran kembali objek sensasi yang pernah dialami dalam pikiran adalah ingatan (smrti) yang terbatas, merupakan pengetahuan yang keliru itu.
[YS I.8 - I.11]

Disebutkan adanya lima pemicu kekeliruan (panca viparyaya) dalam Wrhaspati Tattwa; masing-masing adalah: (i) Tamah, pikiran yang selalu ingin memperoleh kesenangan duniawi; (ii) Moha, keinginan untuk memperoleh delapan kemampuan adi-kodrati (asta aiswarya); (iii) Mahamoha, keinginan untuk mendapatkan kesenangan niskala disamping asta aiswarya tadi; (iv) Tamisra, berharap untuk memperoleh kesenangan —sebagai buah perbuatan— di kemudian hari; dan (v) Andhatamisra, menangisi milik yang telah hilang. Kelima kekeliruan inilah yang berandil besar dalam kesengsaraan manusia.

Nidra, tanpa hadirnya keterjagaan penuh (jagra) —seperti yang disebutkan dalam sutra I.10—bukanlah tidur pulas tanpa mimpi —yang disebut sushupti. Dalam sushupti, Ibunda Semesta, Rajesvari, membawa jiva kembali kepada-Nya; memeluknya dalam dekapan kasih-Nya, menyusuinya lagi dengan segarnya kedamaian, gairah baru, vitalitas dan kekuatan baru serta menjadikannya cukup prima untuk menghadapi ‘peperangan’ keesokan harinya. Demikian Sri Swami Sivananda menggambarkannya.

Jelas bahwa sushupti bukan suatu keadaan tidak aktif atau reposisi pasif tanpa hadirnya keterjagaan (jagra) sama sekali, seperti halnya Nidra. Ia memiliki signifikansi spiritual-filosofis yang mendalam. Kaum Vedantin mempelajari kondisi ini dengan sangat hati-hati dan mendalam. Sushupti memberi petunjuk yang jelas kepada para filsuf non-dualis untuk menelusuri, meneliti, serta menemukan ‘sang saksi bisu’ yang tersembunyi.

Pengetahuan akan lebih lengkap dan terpercaya, bila diperoleh melalui pratyaksa, sabda atau agama, anumana serta upamana, yang bekerja sedemikian rupa saling menunjang dan menguatkan, sebelum menarik suatu kesimpulan akhir. Disinilah subjektivitas yang terbentuk oleh pengalaman pribadi yang terbatas, berupa: kekeliruan (viparyaya), angan-angan atau imajinasi-imajinasi subjektif (vikalpa), serta kehadiran objek-objek indriawi yang menyesatkan (vishaya) maupun kelemahan dan keterbatasan ingatan (smrti) ditiadakan.

Pertanyaannya kini adalah, bagaimana menyingkirkan modifikasi-modifikasi pikiran yang menyesatkan, yang menjadi biang dari mithya-jñana ini? Inilah yang dipaparkan secara panjang lebar dalam sutra-sutra berikutnya.

oOo

SUKMA SEJATI

 
Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah ( Martabat 7 ) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna ……sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.

Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara ( kembali ).

Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.

Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan ) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ” kembali ke asal “.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg bernama “Jasad” ( raga )dan “Ruh” ( jiwa )……dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum…..
Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya…… bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……harusnya adalah kita harus mematikan dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara :Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds ( ruh suci ), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam ( alam kokret )…..yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya …dari tingkatyang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

Penciptaan badan agar sukma sejati ( ruh ) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.

Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.

Pada setiap peringkat ( dari 4 tingkatan ) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara ;

1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.

2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.

3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.

Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1. Lailaha illallaah : Tiada Ilah kecuali Allah

2. Allah : Nama Dzat

3. Huwa : Dia

4. Al-Haqq : Yang Benar

5. Al-Hayy : Yang Hidup

6. Al- Qayyum : Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung

7. Al-Qahar : Yang Maha Berkuasa dan Perkasa

8. Al-Wahab : Yang Maha Pemberi

9. Al-Fattah : Yang Maha Pembuka

10. Al-Wahid : Yang Satu

11. Al-Ahad : Yang Maha Esa

12. As-Shamad : Sumber, puncak segala sesuatu

Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin.
Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut:

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi, ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa, serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati ( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;

Pertama : kakawah ( air ketuban )

Kedua : bungkus

Ketiga : ari-ari

Keempat : darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;
Pertama : Budi
Kedua : Rahsa
Ketiga : Angan-angan
Keempat : Hidup

Jumat, 26 Februari 2010

HAKIKAT HIDUP


Hidup adalah satu perjalanan dalam pencarian
Sadar maupun tidak sadar setiap jiwa ini dituntun kesana
Ya ya pencarian, pencarian akan hakikat hidup
Kedamaian, Kesadaran dan Kebenaran yang sejati

Salah dan benar hanyalah sebuah perjalanan
Perjalanan mencari sesuatu yang telah lama hilang
Sesuatu yang sangat dirindukan setelah sekian lama
Ya dulu kita berkumpul dan bersatu dalam HaribaanNYA

Alangkah lebih baiknya jika sang diri mulai menyadari akan pencariannya
Meninggalkan batasan dan ukuran yang selama ini dipakai
Ya sadarilah pencarian itu tidaklah akan pernah berakhir
Sampai akhirnya waktu pun sudahlah habis terbuang percuma

Panca indera bukanlah patokan maupun ukuran kita
Ingat panca indera hanya untuk perlengkapan di sini
Ya panca indera hanyalah barang baru yang akan hancur termakan waktu
Tiada sedikitpun kekekalan dan keabadiannya

Apa yang kita lihat, Apa yang kita dengar
Apa yang kita tangkap dari luar diri kita
hanyalah menimbulkan ilusi dan kepalsuan
Akal pikiran, logika, Angan angan itulah dunia kepalsuan

Tetapi ternyata di dalam diri kita ada sesuatu bagian yang lama sekali
Dia kekal dan abadi dan selalu merindukan jalan pulang
Dia sebuah daging yang bernama hati Nurani yang terdalam
Sebagai pancaran dari ruh kita yang kekal abadi

Ya Hati ini ternyata sungguh dahsyat dan luar biasa
Disanalah letaknya kedamaian
Disanalah munculnya cinta dan kasih sayang
Disanalah terbitnya keikhlasan dan ketulusan

Sekali lagi hatii, adalah ladang kita yang harus kita bersihkan
Kita cabuti rumput dan semak belukar yang tumbuh disana
Bersihkan dengan sungguh sungguh pertobatan
Sehingga ketika benih cinta kepada Allah ditanamkan maka benih itu akan tumbuh subur

Benih itu akan tumbuh dan tumbuh menjadi sebuah pohon
Belajar berbunga dan belajar berbuah walaupun buahnya masih masam
Kemudian buah itu semakin mengkal dan akhirnya berbuah lebat dan sangat manis sekali
Berguna bagi semua orang tanpa kecuali ….

Ya hanya dari sebuah hati yang sudah dibangkitkan dari kematiannya
Hati yang sudah hidup dan memancarkan sinar kehidupan
Hati yang terdalam sungguh suatu ukuran yang nyata dalam perjalanan kita
Yaaaa hati yang hiduuup makin hiduup dan tambah hiduuup

NASEHAT DAN ARTI YANG TERKANDUNG DALAM AKSARA JAWA


Oleh : Tejabuwana

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

A. Pembukaan Huruf Jawa

1. Huruf Ha

Berarti ‘hidup’, atau huruf berarti juga ada hidup, sebab memang hidup itu ada, karena ada yang menghidupi atau yang memberi hidup, hidup itu adalah sendirian dalam arti abadi atau langgeng tidak terkena kematian dalam menghadapi segala keadaan. Hidup tersebut terdiri atas 4 unsur yaitu:

a. Api
b. Angin
c. Bumi
d. Air

2. Huruf Na

Berari ‘nur’ atau cahaya, yakni cahaya dari Tuhan YME dan terletak pada sifat manusia.

3. Huruf Ca

Berarti ‘cahaya’, artinya cahaya di sini memang sama dengan cahaya yang telah disebutkan di atas. Yakni salah satu sifat Tuhan yang ada pada manusia. Kita telah mengetahui pula akan sifat Tuhan dan sifat-sifat tersebut ada pada yang dilimpahkan Tuhan kepada manusia karena memang Tuhan pun menghendaki agar manusia itu mempunyai sifat baik.

4. Huruf Ra

Berarti ‘roh’, yaitu roh Tuhan yang ada pada diri manusia.

5. Huruf Ka

Berarti ‘berkumpul’, yakni berkumpulnya Tuhan YMEyang juga terletak pada sifat manusia.

6. Huruf Da

Berarti ‘zat’, ialah zatnya Tuhan YME yang terletak pada sifat manusia.

7. Huruf Ta

Berarti ‘tes’ atau tetes, yaitu tetes Tuhan YME yang berada pada manusia.

8. Huruf Sa

Berarti ‘satu’. Dalam hal ini huruf sa tersebut telah nyata menunjukkan bahwa Tuhan YME yaitu satu, jadi tidak ada yang dapat menyamai Tuhan.

9. Huruf Wa

Berarti ‘wujud’ atau bentuk, dalam arti ini menyatakan bahwa wujud atau bentuk Tuhan itu ada dalam manusia yang setelah bertapa kurang lebih 9 bulan dalam gua garba ibu lalu dilahirkan dalam wujud diri.

10. Huruf La

Berarti ‘langgeng’ atau ‘abadi’, la yang mengandung arti langgeng ini juga nyata menunjukkan bahwa hanya Tuhan YME sendirian yang langgeng di dunia ini, berarti abadi pula untuk selama-lamanya.

11. Huruf Pa

Berarti ‘papan’ atau ‘tempat’, yaitu papan Tuhan YME-lah yang memenuhi alam jagad raya ini, jagad gede juga jagad kecil (manusia).

12. Huruf Dha

Berarti dhawuh, yiatu perintah-perintah Tuhan YME inilah yang terletak dalam diri dan besarnya Adam, manusia yang utama.

13. Huruf Ja

Berarti ‘jasad’ atau ‘badan’. Jasad Tuhan YME itu terletak pada sifat manusia yang utama.

14. Huruf Ya

Berarti ‘dawuh’. Dawuh di sini mempunyai lain arti dengan dhawuh di atas, karena dawuh berarti selalu menyaksikan kehendak manusia baik yang berbuat jelek maupun yang bertindak baik yang selalu menggunakan kata-katanya “Ya”.

15. Huruf Nya

Berarti ‘pasrah’ atau ‘menyerahkan’. Jelasnya Tuhan YME dengan ikhlas menyerahkan semua yang telah tersedia di dunia ini.

16. Huruf Ma

Berarti ‘marga’ atau ‘jalan’. Tuhan YME telah memberikan jalan kepada manusia yang berbuat jelek dan baik.

17. Huruf Ga

Berarti ‘gaib’, gaib dari Tuhan YME inilah yang terletak pada sifat manusia.

18. Huruf Ba

Berarti ‘babar’, yaitu kabarnya manusia dari gaibnya Tuhan YME.

19. Huruf Tha

Berarti ‘thukul’ atau ‘tumbuh’. Tumbuh atau adanya gaib adalah dari kehendak Tuhna YME. Dapat pula dikatakan gaib adalah jalan jauh tanpa batas, dekat tetapi tidak dapat disentuh, seperti halnya cahaya terang tetapi tidak dapat diraba atau pun disentuh, dan harus diakui bahwa besarnya gaib itu adalah seperti debu atau terpandang. Demikianlah gaibnya Tuhan YME itu (micro binubut).

20. Huruf Nga

Berarti ‘ngalam’, ‘yang bersinar terang’, atau terang/gaib Tuhan YME yang mengadakan sinar terang.

Demikianlah huruf Jawa yang 20 itu dan ternyata dapat digunakan sebagai lambang dan dapat diartikan sesuai dengan sifat Tuhan sendiri, karena memang seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa Jawa yang menggunakan huruf Jawa itupun merupakan sabda dari Tuhan YME.

Huruf atau carakan Jawa yakni ha na ca ra ka dan seterusnya merupakan sabda pangandikanipun) dari Tuhan YME di tanah Jawa.

B. Penyatuan Huruf atau Aksara Jawa 20

1. Huruf Ha + Nga

Hanga berarti angan-angan.


Dimaksudkan dengan angan-angan ini ialah panca indra yaitu lima indra, seperti:

1. Angan-angan yang terletak di ubun-ubun (kepala) yang menyimpan otak untuk memikir akan keseluruhan keadaan.

2. Angan-angan mata yang digunakan untuk melihat segala keadaan.

3. Angan-angan telinga yang dipakai untuk mendengar keseluruhan keadaan.

4. Angan-angan hidung untuk mencium/membau seluruh keadaan.

5. Angan-angan mulut yang digunakan untuk merasakan dan mengunyah makanan.

2. Huruf Na + Ta

Noto, berarti ‘nutuk’.

3. Huruf Ca + Ba

Caba, berarti coblong (lobang) dan kata tersebut di atas berarti wadah atau tampat yang dimilki oleh lelaki atau wanita saat menjalin rasa menjadi satu; adanya perkataan kun berarti pernyataan yang dikeluarkan oleh pria dan wanita dalam bentuk kata ya dan ayo dan kedua kata tersebut mempunyai persamaan arti dan kehendak yaitu mau.

4. Huruf Ra + Ga

Raga, berarti ‘badan awak/diri’. Kata raga atau ragangan merupakan juga kerangka dan kehendak pria dan wanita ketika menjalin rasa menjadi satu karena bersama-sama menghendaki untuk menciptakan raga atau diri agar supaya dapat terlaksana untuk mendapatkan anak.

5. Huruf Ka + Ma

Kama, berarti ‘komo’ atau biji, bibit, benih. Setiap manusia baik laki-laki atau wanita pastilah mengandung benih untuk kelangsungan hidup; oleh karena itu di dalam kata raga seperti terurai di atas merupakan kehendak pria dan wanita untuk menjalin rasa menjadi satu. Karena itulah maka kata raga telah menunjukkan adanya kedua benih yang akan disatukan dengan melewati raga, dan dengan penyatuan kama dari kedua belah pihak itu maka kelangsungan hidup akan dapat tercapai.

6. Huruf Da + Nya

Danya atau donya atau dunia.

Persatuan kedua benih atau kama tadi mengakibatkan kelahiran, dan kelahiran ini merupakan calon keturunan di dunia atau (alam) donya; dengan demikian dapat dipahami kalau atas kehendak Tuhan YME maka diturunkanlah ke alam dunia ini benih-benih manusia dari Kahyangan dengan melewati penyatuan rasa kedua jenis manusia.

7. Huruf Ta + Ya

Taya atau toya, yaitu ari atau banyu. Kelahiran manusia (jabang bayi) diawali dengan keluarnya air (kawah) pun pula kelahiran bayi tersebut juga dijemput dengan air (untuk membersihkan, memandikan dsb); karena itulah air tersebut berumur lebih tua dari dirinya sendiri disebut juga mutmainah atau sukma yang sedang mengembara dan mempunyai watak suci dan adil.

8. Huruf Sa + Ja

Saja atau siji atau satu. Pada umumnya kelahiran manusia (bayi) itu hanya satu, andaikata jadi kelahiran kembar maka itulah kehendak Tuhan YME. Dan kelahiran satu tersebut menunjukkan adanya kata saja atau siji atau satu.

9. Huruf Wa + Da

Wada atau wadah atau tempat. Berbicara tentang wadah atau tempat, sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan. Dengan demikian timbul pertanyaan mengenai wadah dan isi, siapakah yang ada terlebih dahulu.
Pada umumnya dikatakan kalau wadah harus diadakan terlebih dahulu, baru kemudian isi, sebenarnya hal ini adalah kurang benar. Yang diciptakan terlebih dahulu adalah isi, dan karena isi tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, maka diciptakan pula wadahnya. Jangan sampai menimbulkan kalimat “Wadah mencari isi” akan tetapi haruslah “Isi mencari wadah” karena memang ‘isi’ diciptakan terlebih dahulu.


Sebagai contoh dapat diambilkan di sini: rumah, sebab rumah merupakan wadah manusia, dan manusia merupakan isi dari rumah. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya isilah yang mencari wadah.
Sebagai bukti dari uraian di atas, dapatlah dijelaskan bahwa: kematian manusia berarti (raga) ditinggalkan isi (hidup). Bagai pendapat yang mengatakan “wadah terlebih dahulu diciptakan” maka mengenai kematian itu seharusnya wadah mengatakan supaya isi jangan meniggalkan terlebih dahulu sebelum wadah mendahului meninggalkan. Hal ini jelas tidak mungkin terjadi, apalagi kalau kematian itu terjadi dalam umur muda dimana kesenangan dan kepuasan hidup tersebut belum dialaminya.


Demikianlah persoalan wadah ini dengan dunia, karena sebelum dunia ini diciptakan (sebagai wadah) maka yang telah ada adalah (isinya) Tuhan YME. Pendapat lain mengatakan kalau sebelum diadakan jalinan rasa maka keadaan masih kosong (awangawung). Tetapi setelah jalinan rasa dilaksanakan oleh pria dan wanita maka meneteslah benih dan apabila benih tadi mendapatkan wadahnya akan terjadi kelahiran. Sebaliknya kalau wadah tersebut belum ada maka kelahiran pun tidak akan terjadi, yang bearti masih suwung atau kosong. Meskipun begitu, “hidup’ itu tetap telah ada demikian pula “isi’, dan dimanakah letak isi tadi ialah pada ayah dan ibu. Maka selama ayah dan ibu masih ada maka hidup masih dapat membenihkan biji atau bibit.

10. Huruf La + Pa

Lapa atau mati atau lampus. Semua keadaan yang hidup selalu dapat bergerak, keadaan hidup tesebut kalau ditinggal oleh hidup maka disebut dengan mati. Sebenarnya pemikiran demikian itu tidak benar, akan tetapi kesalahan tadi telah dibenarkan sehingga menjadi salah kaprah. Sebab yang dikatakan mati tadi sebenarnya bukanlah kematian sebenarnya, akan tetapi hidup hanyalah meninggalkannya saja yaitu untuk mengembalikan semua ke asalnya, hidup kembali kepada yang menciptakan hidup, karena hidup berasal dari suwung sudah tentu kembali ke suwung atau kosong (awangawung) lagi. Akan tetapi sebenarnya dapatlah dikatakan bahwa suwung itu tetap ada sedangkan raga manusia yang berasal pula dari tanah akan kembali ke tanah (kuburan) pula.