Jumat, 02 April 2010

JAKA TINGKIR


Jaka Tingkir Bag 1.

oleh : Damar sasangka.

Ini lanjutan Ki Ageng .
Bagian 1

Catatan ini adalah kelanjutan catatan-catatan saya sebelumnya, yaitu Misi Peng-Islam-an Nusantara, Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging.
-Damar Shashangka-

Demak Bintara, Kesultanan Islam pertama di Jawa, yang berdiri pada tahun 1479 Masehi, setelah berhasil satu persatu menumbangkan penguasa-penguasa keturunan Majapahit, kini mulai menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Jawa. Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat I atau Raden Patah, menjadi penguasa tunggal pewaris dinansti Majapahit.

Raden Patah memiliki beberapa orang putra-putri, dan yang terkenal diantaranya adalah Raden Yunus, sebagai putra sulung, kelak terkenal dengan nama Adipati Yunus ( Dipati Unus) dan juga terkenal dengan gelar Pangeran Sabrang Lor ( Pangeran Yang Pernah Menyeberang Ke Utara ). Putra kedua bernama Raden Suryawiyata, kelak dikenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Lepen ( Bunga Yang Gugur Ditepi Sungai ). Yang ketiga Pangeran Trenggana, kelak terkenal dengan gelar Sultan Trenggana. Yang keempat seorang putri, yang kelak dinikahkan dengan bangsawan Pasai yang tersohor, Fatahillah.

Pada tahun 1511 Masehi, terdengar kabar di Jawa, Kesultanan Malaka berhasil dijebol pertahanannya oleh Kerajaan Portugis. Malaka dibawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1488-1511 Masehi) tidak mampu membendung serangan armada laut Portugis yang datang dari India. Dibawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque, Malaka berhasil dihancurkan! Laksmana handal Malaka, Hang Tuah, gugur!

Malaka jatuh! Penyerangan ini dipicu oleh sikap Kesultanan-Kesultanan Islam yang diskriminatif dalam hubungan perdagangan dengan bangsa Eropa yang mayoritas beragama Nashrani. Faktor lain yang menyebabkan bangsa Eropa berlomba-lomba ingin menguasai wilayah kaya rempah-rempah adalah jatuhnya kota Constantinopel, ibu kota Kerajaan Romawi Timur pada tahun 1453 ketangan Kesultanan Turki Utsmani. Kerajaan Romawi Timur tunduk dibawah kekuasaan kaum Islam. Hal ini mengakibatkan tertutupnya perdagangan di Laut Tengah bagi bangsa Eropa. Kesultanan Turki mempersulit para pedagang Eropa beroperasi diwilayahnya. Padahal bangsa Eropa memerlukan pasokan rempah-rempah.

Hal ini pulalah yang memicu munculnya semangat ekstrim bangsa Eropa yang dikenal dengan semangat RECONQUESTA, yaitu semangat membalas dendam kepada kekuasaan Islam dimanapun berada! Politik konfrontasi dikedepankan oleh bangsa Eropa terhadap Kesultanan-Kesultanan Islam diseluruh dunia. Dan Malaka, kini menjadi sasarannya! Jatuhnya Malaka adalah suatu keberhasilan luar biasa bagi Portugis, karena Malaka adalah pusat perdagangan Islam di Asia Tenggara kala itu!

Kabar kejatuhan Malaka membuat Kesultanan-Kesultanan Islam di Nusantara geger! Raden Patah, penguasa Kesultanan Islam Jawa, Demak Bintara, tak kalah berang!

Malaka adalah jalur utama perdagangan Nusantara. Jika Malaka dikuasai Portugis, maka pedagang-pedagang Islam akan kesulitan melakukan kegiatan perekonomian. Maka, atas fatwa Dewan Wali Sangha, Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat I, penguasa Demak Bintara, mengutus putra sulungnya, Raden Yunus memimpin Armada Laut Demak untuk menyerang Malaka!

Pada tahun 1513, dua tahun setelah kejatuhan Malaka ditangan Portugis, beribu-ribu Armada Laut Demak berlayar menuju Malaka dengan persenjataan lengkap! Peperangan sekali lagi akan terjadi! Malaka, sekali lagi akan dijadikan ajang pertumpahan darah! Pertumpahan darah yang dipicu oleh masalah politik, ekonomi dan agama!

Peperangan-pun pecah! Portugis mati-matian membendung serangan besar-besaran dari Lasykar Jawa! Portugis terpukul mundur!Lasykar Jawa begitu dahsyatnya! Beberapa wilayah Malaka berhasil diduduki Lasykar Jawa! Namun sayang, penyerangan ini tidak disertai dukungan penuh dari pihak Malaka! Malaka diam-diam malah mempersulit gerak laju Lasykar Jawa! Mereka takut, jika Portugis berhasil dipukul mundur, maka sekali lagi, Malaka akan jatuh ketangan orang-orang Jawa seperti saat Majapahit berkuasa! Suatu alasan yang klasik dan ironis!

PEPERANGAN ARMADA DEMAK DENGAN ARMADA PORTUGIS DI MALAKA (1513 Masehi)

Dan pada akhirnya, Portugis berhasil memukul mundur Lasykar Demak Bintara dari Malaka! Kekalahan telak bagi Demak! Sisa-sisa Pasukan Laut Demak akhirnya bertolak kembali ke Jawa.

Untuk mengenang peristiwa ini, maka Raden Yunus, pemimpin Lasykar Demak yang menyerang Portugis di Malaka,mendapat gelar kehormatan, Pangeran Sabrang Lor ( Pangeran Yang Pernah Menyeberang ke Utara)

Lima tahun setelah penyerangan, yaitu pada tahun 1518 Masehi, Raden Patah wafat.Raden Yunus lantas terpilih menggantikan ramandanya dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen-ningrat II.

Begitu Raden Yunus memegang tampuk pemerintahan Demak, politik garis keras Islam semakin ekstrim dia terapkan. Hal ini terpicu oleh masuknya bangsa Eropa ke Nusantara. Namun efek balik dari diterapkannya politik yang radikal ini, membuat para bangsawan Majapahit yang masih berpegang pada keyakinan Shiwa Buddha ikut terkena imbasnya.

Tiga tahun kemudian, tepat pada tahun 1521 Masehi, Raden Yunus terbunuh oleh sisa-sisa lasykar Majapahit yang merasa semakin tersudutkan. ( Dalam berbagai cerita tradisional, dikisahkan Keris Kyai Naga Sasra menggigit punggung Raden Yunus hingga wafat : Damar Shashangka). Raden Yunus belum memiliki seorang putra. Hal ini mengakibatkan Dewan Wali Sangha harus menunjuk adik Raden Yunus untuk memegang tampuk pemerintahan Demak.

Pangeran Trenggana, Sultan Demak ke III

Dewan Wali Sangha terpecah menjadi dua kubu menjelang pemilihan Sultan Demak pengganti Raden Yunus. Sebagian mengusulkan Raden Suryawiyata, putra kedua Raden Patah sebagai pengganti, dan sebagian yang lain mengusulkan Pangeran Trenggana, putra ketiga Raden Patah sebagai penggantinya.

Kala itu, Dewan Wali Sangha dipimpin oleh Sunan Giri Dalem, putra Sunan Giri Kedhaton yang telah wafat pada tahun 1506 Masehi. Parktis, kedudukan Sultan di Giri-pun dugantikan oleh Sunan Giri Dalem. Banyak para wali sepuh yang sudah wafat dan digantikan oleh para wali muda. Namun ada dua orang wali yang masih hidup dan sangat-sangat disegani. Keduanya adalah Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.

Sunan Kudus kini menjabat sebagai Penasehat Agung Kesultanan Demak. Jabatan sebagai Senopati telah dilepaskannya. Sedangkan Sunan Kalijaga tetap bermain dibelakang layer. Beliau diam-diam menggembleng trah Tarub, terutama Raden Getas Pandhawa, putra Raden Bondhan Kejawen. (Baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka). Selain itu, beliau juga tengah menunggu Mas Karebet, putra Ki Ageng Pengging yang kini tinggal di Tingkir untuk beranjak dewasa.

Dan Raden Getas Pandhawa, adalah guru dari Pangeran Trenggana. Praktis, Pangeran Trenggana adalah cucu murid Sunan Kalijaga. Dan oleh karena itulah, Pangeran Trenggana lebih pro ke Islam Abangan.

Dilain pihak, Raden Suryawiyata, berguru dan bahkan dianggap sebagai murid emas oleh Sunan Kudus. Oleh karena itu pula, Raden Suryawiyata lebih pro ke Islam Putihan.

Persaingan antara kubu Putihan dan Abangan ini kembali meruncing setelah beberapa waktu lalu, disaat pemerintahan Raden Patah sempat mereda. Dan persaingan semakin memanas setelah Raden Yunus wafat karena terbunuh!

Atas bantuan Sunan Kalijaga yang berhasil melobi pimpinn Dewan Wali Sangha, Sunan Giri Dalem, suksesi pencalonan Pangeran Trenggana sebagai Sultan ketiga Demak, berhasil gemilang! Pangeran Trenggana berhasil menduduki tahta Demak Bintara menggantikan Raden Yunus dan berhak menyandang gelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boen-ningrat III. Kubu Islam Abangan berhasil memenangkan pertarungan politik. Hal ini terjadi pada tahun 1521 Masehi.

Raden Suryawiyata menolak mengakui adiknya sebagai seorang Sultan Demak. Segera setelah dikukuhkannya Pangeran Trenggana sebagai Sultan, Raden Suryawiyata, yang berkedudukan di Kadipaten Jipang Panolan ( Sekarang sekitar wilayah Blora, Jawa Tengah : Damar Shashangka. ) segera mengadakan gerakan makar! Perlawanan bersenjata-pun terjadi! Peperangan berkobar antara Demak dengan Jipang Panolan. Diam-diam, Sunan Kudus berada dibelakang gerakan ini. Jipang Panolan dan Pesantren Kudus, sebenarnya berhubungan erat. Bahkan beberapa santri Sunan Kudus, diam-diam menyokong gerakan makar ini!

Peperangan berlangsung alot! Jipang Panolan sulit ditaklukkan! Namun, pada akhirnya kemenangan berhasil diraih pihak Pangeran Prawata. Raden Suryawiyata berhasil dipukul mundur dan harus melarikan diri dari Jipang Panolan. Peperangan benar-benar berhenti manakala Raden Suryawiyata berhasil dibunuh ditempat persembunyiannya.

Pangeran Prawata, putra sulung Pangeran Trenggana dan Pangeran Hadiri, menantu Pangeran Trenggana yang dinikahkan dengan Nimas Ratu Kalinyamat, (Pangeran Hadiri berkuasa didaerah Kalinyamat dan bergelar Pangeran Kalinyamat atau Sunan Kalinyamat. Sekarang berada didaerah Jepara, Jawa Tengah : Damar Shashangka ), berhasil menemukan persembunyian Raden Suryawiyata dan berhasil pula membunuh putra kedua Raden Patah tersebut!

Ada kisah menarik sehubungan dengan terbunuhnya Raden Suryawiyata. Manakala pasukan Jipang Panolan terpukul muncur, Raden Suryawiyata berhasil melarikan diri dan bersembunyi disuatu tempat. Konon, Raden Suryawiyata terkenal sangat sakti mandraguna. Tidak satupun senjata yang mampu melukainya, kecuali sebuah senjata pusaka yang dikenal dengan nama Keris Kyai Brongot Setan Kober. Dan keris ini hanya dimiliki oleh Sunan Kudus dan tersimpan di Pesantren Kudus!

Pangeran Trenggana tahu akan rahasia ini. Dia mengatur siasat jitu untuk menumpas habis lasykar Jipang Panolan. Pada suatu saat, Sunan Kudus, tanpa ada kepentingan yang jelas, dipanggil menghadap ke Demak Bintara. Sebagai seorang Penasehat Agung, mau tidak mau Sunan Kudus harus memenuhi panggilan Sultan Demak yang baru tersebut. Dengan diiringi beberapa santri pilihan dan di kawal pasukan Demak yang menjemputnya, Sunan Kudus berangkat dari Pesantren Kudus menuju Demak Bintara.

Selang beberapa waktu keberangkatan Sunan Kudus, menjelang tengah hari, Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri yang masih muda-muda, datang ke Pesantren Kudus dengan dikawal beberapa prajurid Demak. Mereka berdua mohon ijin menemui istri Sunan Kudus, konon mereka mendapat pesan dari Sunan Kudus yang kini tengah berada di Keraton Demak.

Istri Sunan Kudus mempersilakan mereka menghadap. Dihadapan istri Sunan Kudus, Pangeran Prawata mengatakan bahwa Sunan Kudus menyuruh mereka untuk mengambil Keris Kyai Brongot Setan Kober. Sunan Kudus tengah memerlukannya sekarang!

Karuan saja, istri Sunan Kudus mempercayainya. Dan tanpa menaruh rasa curiga sedikit-pun, istri Sunan Kudus memberikan Keris pusaka tersebut kepada Pangeran Prawata. Begitu Keris Kyai Brongot Setan Kober sudah ditangan, Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri mohon pamit!

Manakala Sunan Kudus pulang dari Keraton, betapa terkejutnya dia setelah mengetahui bahwa Kyai Brongot Setan Kober berhasil dibawa lari oleh Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri. Sunan Kudus marah besar! Seketika itu juga, Sunan Kudus mengirimkan kurir untuk menyampaikan kabar tersebut sekaligus mempertanyakan keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri kepada Sultan Demak. Namun, Sultan Demak memberikan jawaban melalui kurir pula bahwasanya, dia tidak tahu menahu akan urusan tersebut!

Sunan Kudus dalam dilema. Dua orang Pangeran yang telah menipu istrinya adalah putra dan putra menantu Sultan Demak. Sunan Kudus tidak berani terang-terangan dan ceroboh mengambil tindakan. Walau dia telah sadar, dia telah ditipu mentah-mentah dan Sultan Demak pasti berada dibelakang semua kejadian ini. Secara diam-diam, Sunan Kudus memerintahkan murid-murid pilihannya untuk melacak keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri. Dan dipihak Sultan Demak, keberadaan kedua Pangeran ini sengaja disembunyikan, walaupun secara diam-diam pula!

Pelacakan oleh murid-murid Sunan Kudus tidak membawa hasil. Keberadaan Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri bak raib ditelan bumi. Baru beberapa bulan kemudian terdengar kabar, Raden Suryawiyata telah terbunuh di suatu tempat, dipinggir sebuah sungai dengan Keris Kyai Brongot Setan Kober masih menancap dibelikatnya! Raden Suryawiyata lantas dikenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Lepen ( Pangeran Bunga Yang Meninggal Disungai ).

Sunan Kudus benar-benar merasa kecolongan. Tapi posisinya saat ini benar-benar terjepit semenjak Pangeran Trenggana menduduki tahta. Dia tidak bias berbuat apa-apa secara terang-terangan!

Yang berhasil membunuh Raden Suryawiyata, tak lain memang Pangeran Prawata. Setelah berhasil membawa lari Kyai Brongot Setan Kober, Pangeran Prawata diutus memimpin pasukan khusus yang melacak tempat persembunyian Raden Suryawiyata. Beberapa bulan kemudian, tempat persembunyian Pangeran Demak itu diketemukan!

Raden Suryawiyata hanya diikuti oleh beberapa pasukan Jipang yang tak seberapa. Dan beberapa pasukan ini bias dilumpuhkan dengan mudah oleh pasukan khusus Demak! Praktis, Raden Suryawiyata kini benar-benar tanpa pengawal. Dan kehadiran pasukan khusus Demak ini juga benar-benar tidak disadari oleh Raden Suryawiyata. Kala itu, dia tengah melakukan sembahyang Dzuhur, tepat dipinggiran sungai berbatu.

Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri mengendap-endap mendekati Raden Suryawiyata yang tengah bersembahyang. Suara derasnya aliran sungai benar-benar membantu menyamarkan gerakan kedua Pangeran sehingga tidak didengar oleh Raden Suryawiyata. Dan begitu sudah sedemikian dekat, Pangeran Prawata menghunus keris Kyai Brongot Setan Kober dan segera menikam belikat Raden Suryawiyata dari belakang! Tepat waktu itu, Raden Suryawiyata tengah dalam posisi duduk!

Raden Suryawiyata menjerit kesakitan! Tubuhnya roboh kesamping! Darah menyemburat dari belikatnya dan sebuah keris tertancap disana! Mata Raden Suryawiyata nyalang mencari siapa yang telah berani menikamnya! Dan mata Raden Suryawiyata tertambat pada Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri! Dengan menggeram marah, Raden Suryawiyata berkata :

"Prawata!!! Apa sira bidhog!! Ana wong sembahyang sinuduk wangkingan!!!"

(Prawata!!! Apa kamu buta!! Ada orang sembahyang ditusuk senjata!!!)

Namun, sesaat kemudian, Raden Suryawiyata tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir dengan darah menggenangi batu tempat dia bersembahyang. Dan bersaman dengan itu, anehnya, mendadak pandangan mata Pangeran Prawata menjadi kabur…dan lama-lama, dunia berubah menjadi gelap gulita! Pangeran Prawata benar-benar menjadi buta mendadak!

Pangeran Prawata panik! Dengan dibantu Pangeran Hadiri, Pangeran Prawata dituntun kembali ketempat pasukan Demak berada dan segera memerintahkan secepatnya meninggalkan tempat tersebut. Pangeran Prawata dan Pangeran Hadiri lupa, bahwasanya Kyai Brongot Setan Kober masih menancap dibelikat mayat Raden Suryawiyata! Karena kepanikan akibat kebutaan yang mendadak, kedua Pangeran ini telah berbuat ceroboh!

Ada beberapa pasukan Jipang Panolan yang ternyata masih hidup dan bersembunyi. Mereka melihat langsung kejadian tersebut. Secepatnya mereka membagi tugas, sebagian menuju Pesantren Kudus untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Sunan Kudus dan sebagian merawat jenazah Raden Suryawiyata.

Beberapa hari kemudian, Sunan Kudus diiringi beberapa santrinya dating ketempat tersebut. Didapatinya, Raden Suryawiyata telah dikebumikan disana. ( Sampai sekarang saya belum mendapat informasi, dimana lokasi ini berada : Damar Shashangka.)

Keris Kyai Brongot Setan Kober, diserahkan kepada Sunan Kudus oleh salah seorang pasukan Jipang yang menjadi saksi kejadian itu. Diam-diam, Sunan Kudus menyimpan dendam tersendiri!

Raden Suryawiyata meninggalkan seorang anak laki-laki yang masih kecil di Kadipaten Jipang Panolan. Anak laki-laki putra satu-satunya Raden Suryawiyata ini, diambil anak angkat oleh Sunan Kudus. Kelak anak ini dikenal dengan nama ARYA PENANGSANG!.

Jaka Tingkir Bag 2.

oleh : Damar Sasangka.

Bagian 2

Pangeran Trenggana setelah menduduki tampuk pemerintahan Demak Bintara lantas dikenal dengan gelar Sultan Trenggana. Dia memiliki beberapa orang putra-putri pula. Yang sulung bernama Pangeran Prawata, kelak terkenal dengan nama Sunan Prawata. Yang kedua seorang wanita, sangat masyhur keberaniannya. Mahir olah kanuragan, bernama Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat lantas dinikahkan dengan seorang Pangeran pelarian dari Pasai, bernama Raden Thoyyib. Raden Thoyyib adalah salah seorang putra Mughayat Syah, yang kelak mendirikan Kesultanan Aceh (1530 Masehi) dan menjabat sebagai Sultan Aceh pertama. Karena perselisihan dengan ayahnya, Raden Thoyyib meninggalkan Pasai menuju Champa. Di Champa, dia mengabdi di Kerajaan Champa dan berkenalan dengan Patih Kerajaan Champa Cwie-Wie-Hwan.

Karena perselisihan dengan Raja Champa pula, Raden Thoyyib meninggalkan Champa dan berlayar ke Jawa. Cwie-Wie-Hwan ikut serta. Di Jawa, Raden Thoyyib diterima mengabdi di Demak Bintara. Bahkan Raden Thoyyib akhirnya dinikahkan dengan Ratu Kalinyamat. Raden Thoyyib lantas mendapat nama baru, Pangeran Hadiri ( Kata 'HADIRI' berasal dari bahasa Arab yang berarti 'DATANG'. Pangeran Hadiri berarti Seorang Pangeran Yang Datang Dari Seberang : Damar Shashangka). Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiri terkenal dengan nama Sunan Kalinyamat. Cwie-Wie-Hwan lantas dikenal dengan nama Patih Sungging Bandhardhuwung. ( Makamnya masih ada didaerah Mantingan, Jepara, Jawa Tengah. Satu lokasi dengan makam Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat : Damar Shashangka )

Ratu Kalinyamat sebelum menikah dengan Pangeran Hadiri atau Sunan Kalinyamat, dulu pernah ikut pula dalam armada Demak yang menyerang Malaka pada tahun 1513 Masehi. Walau seorang wanita, Ratu Kalinyamat tidak bisa dianggap remeh. Konon, Ratu Kalinyamat adalah inkarnasi dari Ratu Sima, Ratu wanita penguasa Kerajaan Kalingga pada rentang waktu 400 Masehi yang memang dulu berkedudukan di Jepara.

Putra ketiga Sultan Trenggana adalah seorang putri, yang kelak dinikahkan dengan Mas Karebet atau Jaka Tingkir!

Fatahillah

Pada masa Sultan Trenggana ini pula, sebelum kedatangan Raden Thoyyib, seorang bangsawan dari Pasai, ikut mengabdi ke Demak. Dia adalah Fatahillah. Karena dulu, saat penyerangan Malaka Fatahillah turut serta membantu lasykar Jawa bahkan terkenal dengan keberaniannya, maka Sultan Trenggana mengangkat Fatahillah sebagai Senopati Agung Demak Bintara. Sebuah jabatan yang tidak main-main. Fatahillah menggantikan kedudukan Sunan Kudus. Bahkan, sesungguhnya Sunan Kudus pulalah yang melobi dan menyokong pemngangkatan Fatahillah sebagai pengganti dirinya. Sebaliknya, karena sokongan Fatahillah pula, Raden Thoyyib berhasil mendapat kepercayaan dari Sultan Trenggana dan akhirnya menjadi menantu Sultan. Bahkan Fatahillah-pun menjadi adik ipar Sultan Trenggana. Fatahillahh dinikahkan dengan adik perempuan Sultan Trenggana!

Dari Kesultanan Cirebon, Sultan Cirebon Sunan Gunung Jati memberikan kabar kepada Sultan Demak dan Dewan Wali Sangha bahwasanya Raja Pajajaran Ratu Samian (1521-1535) telah mengijinkan armada Portugis di Malaka untuk mempergunakan pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pangkalan bangsa Eropa tersebut! Kesultanan Cirebon kalang kabut! Musuh Islam telah mendapat angin segar untuk bercokol di Jawa.

Ratu Samian dari Pajajaran sengaja mengundang armada Portugis ke Sunda Kelapa karena kedudukan Pajajaran terus-tyerusan digoyang oleh Kesultanan Cirebon dan Kadipaten Banten. Dengan bantuan armada Portugis, setidaknya pelabuhan Sunda Kelapa sebagai jalur utama perekonomian Pajajaran, bisa aman dari gangguan lasykar-lasykar Islam. Pajajaran dan Portugis telah bersekutu! Portugis menerima permintaan Raja Pajajaran tersebut, karena memang, Portugis-pun juga merasa terus-terusan diganggu oleh armada-arnada Islam dalam aktifitas perdagangannya!

Kabar dari Kesultanan Cirebon membuat Dewan Wali Sangha ikut cemas. Serta merta, Sultan Demak, atas persetujuan Dewan Wali, memerintahkan Senopati Agung Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran! Pasukan Demak, dibantu pasukan Kesultanan Cirebon dan pasukan dari Kadipaten Banten menyerbu Sunda Kelapa! Peperangan dengan prajurid Pajajaran tak dapat dielakkan! Pertempuran yang dahsyat itu memakan banyak korban jiwa dikedua belah pihak. Pajajaran dikeroyok tiga kekuatan gabungan, dari Demak, Cirebon dan Banten! Armada Portugis belum tiba di Jawa, sehgingga Pajajaran terpaksa menghadapi pasukan Islam ini sendirian!

Pajajaran memang tangguh! Beberapakali pasukan gabungan ini terpukul mundur! Namun pada akhirnya, Sunda Kelapa berhasil dikuasai oleh pasukan gabungan pada tahun 1527 Masehi! Kedatangan armada Portugis terlambat! Sunda Kelapa telah jatuh ketangan orang-orang Islam. Armada Portugis, yang tidak tahu menahu situasi tersebut, harus terpukul mundur kembali ke Malaka! Kemenangan ini membuat orang-orang Isdlam bersuka cita! Sunda Kelapa lantas diakui sebagai wilayah Demak Bintara. Atas perintah Sultan Trenggana, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta ( Jaya : Kemenangan, Karta : Kota. Jayakarta : Kota Kemenangan : Damar Shashangka). Lama-lama, nama Jayakarta berubah menjadi Jakarta hingga sekarang.

Fatahillah dikukuhkan sebagai Adipati Jayakarta. Melihat kegagahan Fatahillah, Sunan Gunung Jati meminta ijin kepada Sultan Demak untuk meminjam tenaga Fatahillah guna menundukkan Pajajaran! Sultan Demak memberikan ijin. Maka berturut-turut, pasukan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah dan bantuan pasukan Demak serta Banten, berhasil menjebol pertahanan Kadipaten-Kadipaten wilayah Pajajaran. Kadipaten Talaga yang dipimpin oleh Prabhu Pacukuman pun jatuh!

Namun, Fatahillah harus mengakui kehebatan Kadipaten Galuh. Prabhu Cakraningrat, penguasa Galuh yang didampingi Patih Arya Kiban, terkenal kuat! Berkali-kali pasukan gabungan yang dipimpin Fatahillah terpukul mundur! Korban dari pihak Islam tidak terbilang lagi! Yang sangat aneh, setiap kali keraton Galuh hendak diserang, seluruh keraton tiba-tiba lenyap dan terlihat menjadi samudera luas! Seluruh pasukan Islam kebingungan dan linglung!

Atas siasat jitu Sunan Gunung Jati yang menyusupkan putri angkatnya, Ni Mas Gandasari, yang terkenal cantik luar biasa itu, maka rahasia taksu niskala atau tumbal gaib Kadipaten Galuh, yang berupa batu berbentu Lingga Yoni, berhasil dicuri!

Prabhu Cakraningrat tidak menyadari bahwa Ni Mas Gandasari berasal dari Kesultanan Cirebon! Kecantikan Ni Mas Gandasari memikat hati Prabhu Cakraningrat! Setelah beberapa lama Ni Mas Gandasari mengabdi sebagai istri selir Raja Galuh, pada akhirnya dia berhasil mengorek keterangan dimana ditempatkan taksu niskala sebagai tumbal Kadipaten Galuh berada. Begitu berhasil mengorek keterangan dari bibir Raja Galuh sendiri, Ni Mas Gandasari diam-diam mengambil taksu niskala tersebut dan membawa lari!

Galuh kecolongan! Begitu taksu niskala telah hilang dari Keraton Galuh, pasukan Islam dibawah pimpinan Fatahillah lantas menyerbu Galuh! Prabhu Cakraningrat memimpin pasukan Galuh sendiri. Bersama Patih Arya Kiban, beliau maju ke garis depan! Raja dan Patih Galuh ini mengamuk hebat di palagan! Prabhu Cakraningrat dan Patih Arya Kiban memang sudah berniat Perang Puputan! Perang habis-habisan! Dan pada akhirnya, keduanya gugur mengukuhi bhumi pertiwi Pajajaran! Dan Galuh berhasil dijebol pasukan Fatahillah!

Maka berturut-turut kemudian, wilayah Pajajaran berhasil dijebol pasukan Fatahillah satu persatu! Hingga akhirnya, pada tahun 1543, pada saat Pajajaran diperintah oleh Prabhu Ratu Dewata (1535-1543 Masehi), Pajajaran benar-benar dikuasai tentara Islam!

Keberhasilan Fatahillah membuat Sunan Gunung Jati menyukai bangsawan Pasai tersebut. Fatahillah akhirnya dinikahkan dengan putri Sunan Gunung Jati yang bernama Ratu Wulung Ayu. Begitu Fatahillah meletakkan jabatan sebagai Adipati Jayakarta, Fatahillah-pun meminta berhenti dari jabatan sebagai Senopati Demak Bintara. Jayakarta diserahkan kepada Tubagus Angke, sedangkan Fatahillah memilih tinggal di Cirebon. Fatahillah lantas dikenal dengan gelar Tubagus Pasai.

Namun setelah Sunan Gunung Jati menyerahkan tampuk pemerintahan Kesultanan Cirebon kepada putranya, Pangeran Muhammad Arifin pada tahun 1547 Masehi, Fatahillah atau Tubagus Pasai, diminta menjabat sebagai Penasehat Agung Kesultanan Cirebon mendampingi Pangeran Muhammad Arifin.

Namun lima tahun kemudian, yaitu pada tahun 1552 Masehi, Sultan Muhammad Arifin wafat. Sunan Gunung Jati ;lantas menyerahkan tampuk pemerintahan Cirebon kepada Pangeran Seba Kingkin, salah seorang putra Sunan Gunung Jati dari istri yang lain dan yang selama ini menjabat sebagai Adipati Banten. Maka, pusat pemerintahan Cirebon beralih ke Banten. Pangeran Seba Kingkin lantas dikenal dengan gelar Sultan Hasannuddin (1552-1570 Masehi). Di Cirebon sendiri tampuk pemerintahan oleh Arya Kemuning, menantu Fatahillah. Arya Kemuning hanya berkedudukan sebagai Adipati. Maka dia dikenal dengan gelar Adipati Carbon I.

Pada tahun 1568, tepat berusia 120 tahun, Sunan Gunung Jati wafat.

Mas Karebet menuju Demak Bintara

Putra tunggal Ki Ageng Pengging yang diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir, telah tumbuh dewasa. Begitu menginjak dewasa, Nyi Ageng Tingkir selalu dibuat was-was dengan tingkah laku keponakannya ini.

Menginjak usia lima belas tahunan, Mas Karebet gemar pergi ke tengah hutan belantara. Hal ini dilakukannya berhari-hari tanpa pulang. Pulang-pulang cuma sebentar, lantas pergi lagi. Wilayah Tingkir yang masih dikelilingi hutan rimba, kini dipegang oleh pejabat baru yang ditunjuk oleh Sultan Demak. Nyi Ageng Tingkir, sebagai seorang janda bekas Adipati, hidup berkecukupan dari hasil bersawah. Nyi Ageng Tingkir tidak memiliki putra. Praktis, Mas Karebet, keponakannya itu, sangat-sangat beliau sayangi.

Namun, kegemaran Mas Karebet yang sangat suka bepergian dari rumah dan sering memasuki hutan belantara, sangat-sangat mencemaskan Nyi Ageng Tingkir. Manakala Mas Karebet pulang, berkali-kali Nyi Ageng Tingkir mengutarakan kecemasannya. Namun setiap kali pula Mas Karebet menjawab :

"Ibu, jangan khawatir. Di hutan saya banyak memiliki teman pertapa Shiwa Buddha. Saya ke hutan tidak hanya sekedar bermain-main, tapi ngangsu kawruh (menimba ilmu) dari beliau-beliau."

Walau begitu, Nyi Ageng tetap saja mencemaskan keselamatan putra keponakannya yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri. Hingga pada suatu ketyika, Nyi Ageng memanggil seorang ulama Islam ke kediaman beliau, khusus didatangkan dan diupah untuk mengajar Mas Karebet. Tapi Mas Karebet sama sekali tidak tertarik. Dia tetap meneruskan kegemarannya mengunjungi para pertapa didalam hutan.

Kebiasaan ini terus berlanjut hingga usia Mas Karebet menginjak dua puluh lima tahun. ( Mas Karebet lahir pada tahun 1499 Masehi : Damar Shashangka) Dan pada akhirnya, kesabaran Nyi Ageng Tingkir benar-benar habis. Dia melarang Mas Karebet pergi dari rumah. Nyi Ageng mengutus dua orang pembantu untuk terus mengawasi Mas Karebet. Mas Karebet diperintahkan Nyi Ageng untuk ikut bekerja bersama pembantu-pembantu yang lain disawah!

Mas Karebet mengalah. Setiap hari, kini Mas Karebet bekerja disawah bersama pembantu-pembantu yang lain.

Pada suatu ketika, manakala Mas Karebet tengah melepas lelah disebuah gubug diareal pesawahan, tanpa sengaja Mas Karebet melihat seseorang berpakaian hitam-hitam dengan membawa tongkat tengah berjalan ditengah pematang pesawahan. Orang itu kelihatan sudah sangat sepuh. Namun masih terlihat tegap saat melangkah. Dia sendirian. Berjalan pelahan ditengah sengatan terik mentari. Pematang yang membujur membelah areal mpesawahan dan pada ujungnya akan melewati gubug dimana Mas Karebet melepas lelah itu dititinya pelahan.

Mata Mas Karebet tak lepas-lepas memperhatikan orang tersebut. Mas Karebet-pun tengah sendirian. Para pembantu yang lain, masih tampak sibuk bekerja. Dan anehnya, mereka semua seolah tidak melihat adanya orang tua berpakaian hitam-hitam yang tengah berjalan dipematang sawah ini.

Dan, begitu sosok tua ini sedemikian dekatnya dengan Mas Karebet, mendadak dia menghentikan langkahnya. Dia menatap Mas Karebat sambil tersenyum. Wajahnya luar biasa cerah. Mas Karebet tertegun...

"Ngger, Aneng kene dede pakaryanira. Ananging sejatine, pakaryanira aneng Keraton Demak. Wis, ngger, pamita marang ibunira, mangkata suwita marang Kangjeng Sultan Demak. Weruha, ngger. Sira iku bebakale Ratu Tanah Jawa!"

(Anakku, disini bukanlah tempatmu bekerja. Akan tetapi sesungguhnya, pekerjaanmu ada di Keraton Demak. Sudahlah anakku, mohon ijinlah kepada ibumu, berangkatlah mengabdi kepada Kangjeng Sultan Demak. Ketahuilah anakku, kamu adalah calon Raja Tanah Jawa!)

Mas Karebet tersentak. Namun dia tidak bisa berkata apa-apa. Dan orang tua itu segera berlalu. Mata Mas Karebet tak lekang-lekang mengikuti kepergian sosok misterius tersebut. Otraknya berputar, mencerna kata-kata yang barusan didengarnya.

Dan hanya sekejap Mas Karebet melepaskan pandangan matanya pada sosok misterius tersebut, dia sejenak menunduk, mengingat kata-kata orang tua tadi, sedetik kemudian dia menoleh mencoba kembali mengamati sosok aneh yang barus saja berlalu. Tapi aneh! Sosok itu sudah tidak ada! Padahal pematang sawah itu masih panjang jaraknya dari jalan desa! Mas Karebet tercengang! Sontak dia bangkit mencari-cari kemana orang tadi berjalan! Tidak ada! Orang berpakaian hitam-hitam itu benar-benar raib! Hilang begitu saja!

Mas Karebet kelimpungan! Masih terngiang kata-kata orang misterius barusan! Segera Mas Karebet memutuskan untuk pulang kerumah, melaporkan kejadian tersebut kepada ibunya, Nyi Ageng Tingkir!

Mendapati cerita Mas Karebet, Nyi Ageng Tingkir mengernyitkan kening dan bertanya :

"Ngger, bagaimana ciri-ciri orang tersebut?"

Mas Karebet menjawab :

"Angagem sarwa wulung. Busana wulung, iket wulung."

(Mengenakan pakaian serba hitam. Berjubah hitam dan berikat kepala hitam)

Nyi Ageng Tingkir memekik kaget :

"Itu Kangjeng Sunan Kalijaga! Sudah, ngger, berangkatlah ke Demak. Aku mempunyai seorang kakak kandung yang menjabat sebagai Lurah Kaum ( Kepala pengurus masjid Istana : Damar Shashangka)), namanya Ki Ganjur. Sudahlah, aku kirim kamu kesana. Ikutlah pamanmu di Demak Bintara!"

Nyi Ageng Tingkir begitu gembira. Secepatnya dia mempersiapkan keberangkatan Mas Karebet ke Demak Bintara. Dua orang pembantu diutus mengiringi keberangkatan putra kesayangannya tersebut.

Keesokan harinya, Mas Karebet diantar dua orang pembantu berangkat ke ibu kota Demak.

Di Demak, ketiganya langsung menuju kediaman Ki Ganjur, Lurah Kaum. Setelah menitipkan Mas Karebet, dua orang pembantu tersebut mohon ijin pulang kembali ke Tingkir. Mas Karebet mulai tinggal diibu kota Demak tepat pada tahun 1524 Masehi.

Ki Ganjur tahu siapa Mas Karebet. Sosok pemuda trah Pengging satu-satunya. Trah pewaris tahta Majapahit yang sesungguhnya. Ki Ganjur-pun tahu, Mas Karebet pemeluk Shiwa Buddha. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Ki Ganjur, karena dia melihat masa depan Mas Karebet sangat cerah dikemudian hari.

Mas Karebet, lantas dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir oleh orang-orang dilingkungan Kaum. Jaka Tingkir berarti seorang perjaka dari Tingkir. Tugas Mas Karebet atau Jaka Tingkir setiap hari hanyalah membersihkan areal masjid Demak. Jaka Tingkir melakukan tugas tersebut dengan sepenuh hati. Walau dia tidak ikut menggunakan tempat ibadah itu bagi dirinya, namun bagi Jaka Tingkir, tak ada bedanya membersihkan sebuah tempat ibadah suci umat lain maupun tempat ibadah suci bagi pemeluk Shiwa Buddha.

Tak ada yang berani protes atas kehadiran Jaka Tingkir ditempat itu. Karena Jaka Tingkir adalah keponakan Ki Ganjur sendiri. Berbulan-bulan Jaka Tingkir tinggal ditempat Ki Ganjur. Hingga pada suatu ketika, Ki Ganjur mendapat ide jitu untuk menarik perhatian Sultan Demak.

Ki Ganjur menyarankan Jaka Tingkir untuk menyengaja terlambat saat membersihkan masjid Demak tepat pada hari Jun'at mendatang. Tujuannya, apabila nanti Sultan Trenggana hadir hendak melaksanakan shalat Jum'at seperti biasanya, Sultan Trenggana biar melihat Jaka Tingkir yang masih sibuk membersihkan areal masjid. Dengan cara itu, Sultan Trenggana pasti akan kurang berkenan. Manakala Sultan Demak marah, biar Ki Ganjurr yang akan memohonkan ampunan, sekaligus Ki Ganjur akan membuka jati diri Jaka Tingkir dihadapan Sultan Demak.

Ki Ganjur akan meyakinkan Sultan Demak bahwasanya sosok Jaka Tingkir sangat-sangat dibutuhkan oleh Kesultanan. Jaka Tingkir masih putra Ki Ageng Pengging. Sosok yang sangat disegani sisa-sisa bangsawan Majapahit. Dengan memanfaatkan Jaka Tingkir, Sultan Demak bisa menaklukkan kekuatan-kekuatan Shiwa Buddha yang dibeberapa daerah masih juga terus mengadakan perlawanan, baik yang terang-terangan maupun gerilya.

Ki Ganjur dan Jaka Tingkir sepakat.

Pada hari Jum'at yang sudah ditetapkan, pagi-pagi sekali masjid Demak sudah ramai-ramai dibersihkan oleh para Kaum. Sultan Trenggana menjelang siang hari pasti akan hadir untuk melaksanakan shalat Jum'at di sana. Beliau akan hadir beserta para pejabat yang lain. Namun Jakatingkir, tidak terlihat.

Menjelang siang hari, baru Jaka Tingkir muncul. Dia menyibukkan diri membersihkan ruangan dalam masjid. Padahal, waktu dilaksanakannya shalat Jum'at sudah sedemikian dekat. Para Kaum keheranan melihat ulah Jaka Tingkir. Dia diperingatkan bahwasanya rombongan Sultan akan segera hadir. Namun Jaka Tingkir seolah tidak peduli.

Dan benar, sesaat kemudian dihalaman masjid terlihat ramai. Rombongan Sultan Trenggana beserta para pejabat Demak telah hadir! Para Kaum kalang kabut, mereka cepat berlarian keluar menyambut kedatangan rombongan Sultan.

Begitu Sultan Trenggana hendak memasuki ruang dalam masjid, dia melihat didalam masih ada seorang pemuda yang tengah sibuk membenahi ruangan. Sultan Demak keheranan. Siapakah orang yang kurang ajar tidak mau menyambut kehadirannya. Kehadiran seorang Sultan Demak Bintara?

Para Kaum geger!

Sultan Trenggana segera memerintahkan prajurid Demak memanggil Jaka Tingkir! Jaka Tingkir pura-pura kaget dan segera berlari menghampiri Sultan Demak begitu beberapa prajurid dengan kasar menghardik dia. Jaka Tingkir menghaturkan sembah seraya memohon ampunan. Dengan posisi bersila dan kedua tangan tercakup didepan wajah.

Sesaat Sultan Trenggana mengamati sosok pemuda yang bersila didepannya. Tampan dan gagah. Bukan keturunan rakyat biasa. Sultan Trenggana lekat-lekat mengamati sosok pemuda itu, lantas dia bertanya :

" Kamu siapa? Tidak tahukah sopan santun seorang kawula apabila Gusti-nya datang?"

Jaka Tingkir menjawab :

"Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Saya Jaka Tingkir, putra keponakan Ki Ganjur. Mohon ampun atas ketidak sopanan hamba..."

Sultan Trenggana heran. Kata-kata Jaka Tingkir sangat tertata dan halus. Siapakah gerangan pemuda ini? Dalam hati Sultan Trenggana bertanya-tanya.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, begitu Sultan Trenggana hadir, Jaka Tingkir melompati kolam masjid Demak dalam posisi membelakangi Sultan. Hal ini membuat Sultan kaget sekaligus tersinggung. Melompati kolam masjid sambil membelakangi Sultan sesungguhnya melambangkan bahwa Jaka Tingkir telah 'melompati tata aturan tempat suci seorang Sultan' : Damar Shashangka)

Mendadak seseorang tergopoh-gopoh menghampiri Sultan Demak sambil menyembah dan bersila disamping Jaka Tingkir. Dia adalah Ki Ganjur.

"Kasinggihan dhawuh, Kangjeng. Ini adalah putra keponakan saya yang baru datang dari desa. Mohon ampun atas kelancangannya. Tolong dimaklumi, karena dia masih bodoh dan belum menahami tata krama Keraton."

Karena waktu shalat Jum'at sudah harus dimulai, Sultan Trenggana-pun lantas berkata :

"Seusai shalat Jum'at, kamu harus menghadap ke Istana!"

Ki Ganjur dan Jaka tingkir menunduk. Umpan mereka telah dimakan. Dan rombongan Sultan Demak-pun memasuki masjid Agung untuk menunaikan shalat Jum'at.

Jaka Tingkir Bag 3.

oleh : Damar Sasangka.

Bagian : 3

Ki Ganjur sowan ke istana Demak. Seorang kawula yang dipanggil menghadap ke Keraton, biasanya kalau tidak mendapatkan anugerah atau tugas khusus, kemungkinan besar pasti akan mendapatkan murka. Dan Ki Ganjur sudah dapat memperkirakan, dirinya akan mendapatkan murka dari Sultan Demak.
Ki Ganjur menunggu untuk dipanggil menghadap ke Siti hinggil ditempat khusus. Setelah sekian lama menunggu, seorang abdi dalem datang dan menyuruh Ki Ganjur menghadap ke Siti Hinggil.

Setelah bertatap muka dengan Sultan Demak, Ki Ganjur-pun meminta pengampunan kepada Sultan atas kecerobohan yang vtelah dilakukan oleh Jaka Tingkir. Ternyata, Sultan tidak murka, malahan Sultan menanyakan siapakah pemuda yang kini tinggal di rumah Ki Ganjur. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Ki Ganjur. Serta merta Ki Ganjur menyampaikan siapa sesungguhnya Jaka Tingkir. Sultan Trenggana terkejut. Namun, demikian pintarnya Ki Ganjur meyakinkan Sultan, pada akhirnya, Sultan Demak-pun berkata :

"Paman Ganjur, jika memang benar apa yang kamu katakan barusan, beranikah Jaka Tingkir aku uji kesaktiannya?"

Ki Ganjur diam. Tapi tak ada jalan lain.

"Jika memang Kangjeng Sultan berkehendak seperti itu, kami hanya bisa pasrah saja. Tapi beribu ampun, Kangjeng. Kalau boleh hamba tahu, Kangjeng hendak menguji anak saya Tingkir dengan cara bagaimana ?"

Kangjeng Sultan tersenyum :

"Seperti halnya menguji calon pasukan pengawal Sultan. Yaitu diadu dengan seekor banteng. Beranikah?"

Ki Ganjur menyutujui.

Dan pada hari yang telah ditentukan, di lapangan tempat pengujian para prajurid, dengan disaksikan oleh Sultan Demak sendiri, beserta beberapa pejabat dan para pasukan pengawal Sultan, Jaka Tingkir, siap diuji kesaktiannya!

Jaka Tingkir yang telah banyak belajar ilmu bela diri, termasuk cara menggunakan berbagai senjata, cara berkuda dan ilmu-ilmu kanoragan dari para pertapa Shiwa Buddha, kini semua yang telah dipelajarinya tersebut harus ditunjukkan semaksimal mungkin. Hari ini adalah hari penentuan bagi masa depan Jaka Tingkir dikemudian hari!

Jaka Tingkir dengan gagahnya menaiki seekor kuda sembari membawa busur panah. Tegang dia menunggu bunyi gong tanda dilepaskannya banteng liar sebagai lawan tandingnya. Manakala dari atas panggung, Kangjeng Sultan Trenggana mengangkat tangan kanannya, maka, gong-pun dipukul nyalang oleh seorang prajurid khusus! Menyusul…seekor banteng liar tiba-tiba masuk ke dalam areal lapangan!

Sorak-sorai terdengar. Jaka Tingkir menggebrak kudanya. Gemuruh suara para prajurid menambah semangat Jaka Tingkir. Untuk beberapa saat, Jaka Tingkir memacu kuda mengelilingi tubuh banteng tersebut. Banteng mendengus. Sesaat belum terpancing. Namun sesaat kemudian, banteng berubah semakin liar!

Banteng menyerang Jaka Tingkir . Jaka Tingkir sigap, kuda berputar indah menghindari serudukan banteng! Gemuruh suara prajurid terdengar melihat gerakan indah cara menghindar yang dipertunjukkan oleh Jaka Tingkir. Sultan Trenggana tersenyum .

Serudukan awal itu luput, banteng memutar badannya, mendengus kencang, lantas kembali mengejar Jaka Tingkir. Aksi kejar-kejaran terjadi. Jaka Tingkir dengan lihai mampu menjaga jarak yang tetap antara kudanya dan banteng yang terus mengejar. Dan….dengan gagahnya, Jaka Tingkir melepaskan tali kekang kuda sembari mengangkat tubuhnya dari pelana. Dengan posisi miring ke arah belakang, Jaka Tingkir melepaskan beberapa anak panah! Tidak terlihat kapan Jaka Tingkir mengambil anak panah dari pundaknya! Anak panah meluncur deras dan tepat mengenai tubuh banteng! Banteng terluka! Serudukannya agak goyah! Gemuruh prajurid membahana melihat ketangkasan Jaka Tingkir yang mampu mengendarai kuda tanpa memegang tali kekang dan sekaligus melepaskan anak panah dengan fokus yang terarah!

Banteng mendengus!!!

Tapi tiba-tiba, dari arah pinggir, muncul due ekor banteng lain! Langsung menyerang Jaka Tingkir! Dengan sangat lincah Jaka Tingkir memacu kuda dan mengambil sebatang tombak yang tersedia dipinggir arena. Sekali lagi, Jaka btingkir bangkit dari pelana kuda, tombak terarah pada salah satu banteng! Sesaat Jaka Tingkir mengarahkan tombaknya! Sesaat kemudian dia melemparkan tombak ditangannya kearah tubuh salah satu banteng! Tepat! Seekor banteng perutnya jebol terkena tombak!
Jaka Tingkir berputar lagi menuju pinggiran arena, dia menyambar sebatang tombak lagi, seperti yang tadi, Jaka Tingkir melemparkan tombak kearah salah satu banteng yang lain. Sekali lagi, seekor banteng terkena bidikan tombaknya!

Jaka Tingkir tidak membuang waktu, dengan tetap memacu kudanya, beberapa kali dilepaskannya anak panah. Bidikan anak panah tak ada yang meleset, mengarah satu persatu ke tubuh ketiga banteng yang kebingungan hendak menyeruduk!

Kondisi ketiga banteng sudah lemah. Jaka Tingkir mendekati seekor banteng. Dengan indahnya, dia melompat dari punggung kuda yang dinaikinya, berpindah ke punggung seekor banteng. Banteng melonjak-lonjak! Nampak Jaka Tingkir ikut terayun-ayun. Namun dengan kecepatan yang luar biasa Jaka Tingkir menancapkan sebilah keris dileher banteng yang dinaikinya!

Banteng roboh! Meregang nyawa! Seekor banteng yang lain mendekat! Jaka Tingkir lari menghindar. Tapi, cepat keris mengarah ke leher banteng yang menyeruduknya…Banteng lari kepinggir…dan roboh meregang nyawa!

Gemuruh sorak sorai prajurid terdengar!

Tinggal seekor lagi……

Sultan Trenggana nampak bangkit dari duduknya. Dia nampak terpikat dengan ketangkasan Jaka Tingkir!
Ditengah arena, Jaka Tingkir berlari menghampiri kudanya. Kembali dia menaiki kuda.Tombak kembali dia raih. Dan tombak meluncur mengarah tubuh banteng! Telak! Banteng mendengus…dan roboh akibat telah banyak luka-luka ditubuhnya! Sorak sorai lebih hebat membahana mengiringi kemenangan Jaka Tingkir.

Dan Sultan Demak puas!

Jaka Tingkir diangkat sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak.

Berhasil dengan gemilang melewati uji keprajuridan pasukan pengawal Sultan, nama Jaka Tingkir seketika dikenal dan merebak dikalangan istana. Identitas Jaka Tingkir sebagai putra Ki Ageng Pengging-pun sudah banyak yang tahu. Banyak para pejabat Demak yang kagum pada ketangkasan Jaka Tingkir, namun disebagian pihak, bergulir pula sebua kecemasan.

Sunan Kudus, mengutarakan kecemasannya atas masuknya putra Ki Ageng Pengging dilingkungan istana Demak. Namun, Sultan Trenggana saudah terlanjur menyukai Jaka Tingkir. Kecemasan Sunan Kudus tidak begitu ditanggapi Sultan Demak.

Dan, manakala Sultan Trenggana melantik Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurid pengawal Sultan Demak, maka gegerlah seluruh pejabat. Ada yang diam-diam menolak dan tidak puas atas keputusan tersebut, namun banyak pula yang bergembira menerioma keputusan Sultan.

Masa depan Jaka Tingkir sudah nampak didepan mata.

Kemampuan Jaka Tngkir kerap kali teruji. Sebagai Lurah prajurid pengawal Sultan, Jaka Tingkir mampu memberikan rasa aman bagi Sultan Trenggana. Pernah suatu ketika, manakala Sultan Trenggana tengah melakukan suatu perburuan dihutan, Jaka Tingkir berhasil menyelamatkan Sultan Trenggana dari serangan gerombolan geriryawan Majapahit.

Jaka Tingkir berhasil mengusir gerombolan gerilyawan tersebut tanpa pertempuran sama sekali. Pemimpin gerombolan mematuhi perintah Jaka Tingkir, sang putra Ki Ageng Pengging untuk tidak meneruskan penyerangannya.

Begitu juga suatu ketika, saat Jaka Tingkir mengawal Sultan Trenggana yang berkunjung ke wilayah bagian Demak melalui rute menyeberangi sebuah sungai, Jaka Tingkir mampu mengundurkan gerombolan gerilyawan Majapahit pula yang tengah menyerang secara tiba-tiba rombongan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir mengundurkan mereka tanpa pertempuran sama sekali! Sultan Trenggana merasa sangat terlindungi dan aman dengan Jaka Tingkir yang berada disampingnya.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, manakala Sultan Trenggana tengah berburu, Jaka Tingkir berhasil menangkap seekor harimau yang hendak mengganggu Sultan. Harimau tersebut ditaklukkan dan dipanggul oleh Jaka Tingkir. Ditunjukkan kepada Sultan Demak, lantas dilepaskannya. Dan dilain waktu, manakala Sultan Demak tengah mengadakan kunjungan ke wilayah bagian dengan melewati rute menyeberangi sebuah sungai, tiba-tiba muncul buaya yang besar! Jaka Tingkir terjun ke sungai, dia bergulat dengan buaya. Buaya berhasil ditangkap, diperlihatkan kepada Sultan Trenggana dan lantas dilepaskan : Damar Shashangka)

Jaka Tingkir sangat dekat dengan Sultan Trenggana. Lebih dekat daripada pejabat-pejabat yang lain, seperti Sunan Kudus maupun Fatahillah, Sang Senopati Demak Bintara. Keselamatan Sultan benar-benar terjaga apabila Jaka Tingkir yang melakukan pengawalan. Seluruh lasykar Majapahit yang masih bergerilya, menghormati dan menyegani putra Ki Agengt Pengging tersebut. Apa yang disampaikan oleh Ki Ganjur, terbukti sudah. Dan Sultan Trenggana semakin menyayangi Jaka Tingkir.
Pada suatu ketika, Sultan Trenggana mengeluarkan maklumat khusus, membuka kesempatan kepada pemuda-pemuda Demak untuk mengabdi sebagai Paukan pengawal Sultan. Sultan Demak menghendaki jumlah personil pasukan pengawal ditambah dengan mengambil personil bartu diluar personil angkatan perang yang sudah ada.

Maklumat istimewa tersebut disambut antusias oleh seluruh pemuda-pemuda Demak. Banyak yang berdatangan ke ibu kota Demak. Mereka mengajukan diri untuk bersedia mengabdi sebagai anggota pasukan pengawal Sultan.

Setiap pemuda harus melewati ujian-ujian yang tidak mudah. Banyak yang berhasil, tapi lebih banyak pula yang gagal. Jaka Tingkir mendapat tugas melakukan penyeleksian dan pengujian. Konon, seluruh pemuda yang berasal dari padepokan-padepokan di Tanah Jawa, banyak yang berdatangan. Dengan mengandalkan kesaktian yang telah mereka peroleh dari guru masing-masing, para pemuda ini mencoba peruntungannya di Demak Bintara.

Pemberontakan Ki Ageng Sela

Ada kejadian menarik. Putra Ki Getas Pandhawa, guru Sultan Trenggana, yang bernama Ki Ageng Sela, ikut mendaftar. Padahal Ki Ageng Sela sudah memegang jabatan sebagai kepala pasukan bersenjata Demak yang ditugaskan didaerah Sela ( Sekarang tetap bernama Sela, sebuah daerah disekitar lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah : Damar Shashangka)

Sultan Trenggana jelas-jelas tidak mau mengambil personil calon pasukan pengawal dari personil angkatan bersenjata yang sudah ada. Namun mengingat Ki Ageng Sela masih merupakan putra gurunya, Sultan Trenggana terpaksa menyuruh Jaka Tingkir untuk mencatatnya dalam daftar calon-calon anggota pasukan pengawal yang hendak diuji. Namun, saat pengujian Ki Ageng Sela, Sultan sendiri yang akan memutuskan hasilnya, bukan Jaka Tingkir.

(Ki Ageng Sela adalah putra Ki Getas Pandhawa. Ki Getas Pandhawa adalah putra Raden Bondhan Kejawen atau Ki Ageng Tarub II. Raden Bondhan Kejawen adalah putra Prabhu Brawijaya V dengan Dewi Wabdhan Kuning yang berasal dari Sulawesi. Baca catatan saya Misi Peng-Islam-an Nusantara : Damar Shashangka)

Saat hari pengujian Ki Ageng Sela, Sultan Trenggana hadir menyaksikannya. Seperti saat menguji Jaka Tingkir, Ki Ageng Sela-pun diadu dengan tiga ekor banteng liar sekaligus. Dua ekor banteng bisa ditaklukkan dengan mudah oleh Ki Ageng Sela, dan manakala tinggal seekor banteng lagi, saat keris Ki Ageng Sela menghunjam ke leher banteng, darah banteng tersebut muncrat ke wajah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela memalingkan wajahnya jijik!

Sultan Trenggana tersenyum. Saat itu juga beliau memutuskan bahwa Ki Ageng Sela telah gagal dalam menempuh ujian. Sultan berkata :

"Sela…sira ora katarima, amarga sira jirih bing getih!"
(Sela…kamu tidak diterima, sebab kamu masih jijik dengan darah!)

Ki Ageng Sela marah mendenga keputusan Sultan. Dia kembali ke Sela dan mengumpulkan seluruh pasukan yang berada dibawah komandonya. Beberapa minggu kemudian, ibu kota Demak dikagetkan dengan mengamuknya pasukan Demak sendiri diareal keraton. Fatahillah, sebagai Senopati Agung Demak mendapat laporan, bahwa pasukan Demak yang ditugaskan didaerah Sela dan dipimpin langsung oleh Ki Ageng Sela tengah mengamuk di istana. Fatahillah segera menghadap Sultan Trenggana dan memohon ijin untuk menggempur Ki Ageng Sela beserta pasukan Demak yang bersamanya. Namun Sultan Trenggana melarang Fatahillah untuk menggempur pasukan yang membelot tersebut secara sungguh-sungguh. Jika memang memungkinkan, hindari korban seminimal mungkin. Dan pesan Sultan kepada Fatahillah, agar Senopati Demak tersebut memberikan ruang kepada Ki Ageng Sela agar bisa leluasa masuk areal keraton. Sultan Trenggana berkehendak untuk menghadapi Ki Ageng Sela sendiri jika memang dia berani masuk ke istana. Fatahillah segera melaksanakan perintah.

Di areal istana, Sultan Trenggana menunggu kemungkinan Ki Ageng Sela memang berani memasuki areal istana yang memang sengaja dibuka untuknya. Hanya pasukan Ki Ageng Sela yang akan ditahan. Ki Ageng Sela sendiri disengaja diberikan keleluasaan memasuki istana. Sultan Trenggana menaiki seekor kuda dengan dikawal para pasukan pengawal Sultan yang dipimpin oleh Jaka Tingkir.
Dan benar! Manakala diluar istyana tengah terjadi pertempuran, nampak seorang penunggang kuda memacu kudanya memasuki areal keraton dengan beraninya!

Jaka Tingkir waspada! Dia memberikan isyarat agar seluruh pasukan pengawal siaga. Pasukan pengawal bergerak mengitari Sultan Trenggana. Posisi Sultan kini berada ditengah-tengah seluruh pasukan.
Ki Ageng Sela dengan beraninya memacu kuda sembari megang senjata terhunus! Sultan Trenggana tanggap. Dari atas punggung kuda, Sultan merentangkan busur panah dan melepaskan beberapa anak panah! Sasarannya bukan tubuh Ki Ageng Sela, namun kuda tunggangannya!

Begitu anak panah yang dilontarkan Sultan Trenggana mengenai sasaran di kaki kuda Ki Ageng Sela, sontak kuda meringkik nyaring dan tersungkur ruboh! Otomatis, Ki Ageng Sela ikut jatuh terjerembab!
Dalam pisisi seperti itu, Jaka Tingkir memerintahkan pasukannya mengepung Ki Ageng Sela! Ki Ageng Sela tidak berdaya! Tombak-tombak tajam prajurid pengawal Sultan terarah ketubuhnya yang masih jatuh terduduk didekat kudanya yang roboh meringkik-ringkik!

Sultan memacu kuda mendekat kearah Ki Ageng Sela. Dari atas kuda, Sultan berkata :

"Sela, jelas sudah terlihat kamu sangat semberono dalam melakukan penyerangan. Seorang pemimpin pasukan tidak seharusnya meninggalkan pasukannya sendirian saat pertempuran tengah berlangsung. Apalagi, berani menyerang pusat kekuatan musuh sendirian pula!"

Dan Ki Ageng Sela harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ki Ageng Sela ditahan di Demak Bintara.

Sesungguhnya, ada pemicu lain yang membuat Ki Ageng Sela berani coba-coba melakukan n'pemberontakan kecil' tersebut. Ki Ageng Sela meyakini bahwa dari keturunan Tarub, yaitu keturunan Raden Bondhan Kejawen, sesuai ramalan Prabhu Brawijaya V, eyang buyut Ki Ageng Sela, bahwasanya kelak dari keturunan Tarub akan tampil menjadi Raja Tanah Jawa. Wahyu keprabon tersebut belum saatnya turun kekeluarga Tarub pada masa itu. Wahyu itu akan jatuh kepada cicit Ki Ageng Sela, yaitu Panembahan Senopati, yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram pada tahun 1575 Masehi.
Dan atas kebijaksanaan Sultan Demak, kesalahan Ki Ageng Sela diampuni. Dia tetap dipercaya memimpin pasukan didaerah Sela, walau terbatas hanya dengan duaratus limapuluh personil semata.

Jaka Tingkir terusir dari Demak

Proses pendaftaran calon pasukan pengawal Sultan berlanjut setelah peristiwa Ki Ageng Sela.
Suatu ketika, datang seorang pemuda berperawakan tinggi besar dengan janggut ditumbuhi bulu lebat. Dia mengaku bernama Dhadhung Awuk. Dhadhung Awuk adalah pemuda yang terkenal sakti mandraguna. Beberapa anggota pasukan pengawal mmberikan informasi kepada Jaka Tingkir bahwa Dhadhung Awuk pernah dicurigai terlibat pemberontakan Raden Suryawiyata.

Saat mendaftar, dhadhung Awuk sesumbar bahwa dirinya gatal ingin menghancurkan lasykar-lasykar Majapahit yang masih banyak melakukan perang gerilya. Dia ingin mengadu kesaktian dengan mereka. Kalau sehari tidak memukuli orang-orang Majapahit, tangannya terasa gatal!

Mendapat laporan seperti itu, diam-diam Jaka Tingkir marah. Sontak dia datang sendiri ketempat pendaftaran. Melihat kehadiran Jaka Tingkir, beberapa pasukan memberikan tempat.
Jaka Tingkir lantas duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Dhadhung Awuk.

Jaka Tingkir sendiri yang lntyas menyatakan keberatan dengan pengajuan diri Dhadhung Awuk untuk mendaftar sebagai calon pasukan pengawal Sultan. Demak membutuhkan orang-orang yang mampu menghargai semua lapisan. Demak sudah kebanyakan orang-orang kolot.

Dan Dhadhung Awuk tersinggung. Dia kemudian berkata :

"Apakah karena Raden Jaka Tingkir masih pewaris sah tahta Majapahit sehingga Raden tidak menyukai saya? Ingat Raden, ini Demak, bukan Majapahit! Dan Majapahit sudah tidak ada apa-apanya lagi!"

Jaka Tingkir diam. Lalu dia mempersilakan Dhadhung Awuk untuk meninggalkan tempat tersebut.

Dhadhung Awuk semakin lancang :

"Jika Raden tidak terima, boleh kita mengadu kesaktian. Atas nama pribadi, antara Dhadhung Awuk dan Jaka Tingkir, bukan antara Dhadhung Awuk dengan seorang Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak!"

Gegerlah seluruh yang hadir mendengar perkataan Dhadhung Awuk. Baik para prajurid pengawal Sultan maupun para pemuda yang sedang mengantri menunggu giliran mendaftarkan diri.

Jaka Tingkir tidak menggubris. Dan Dhadhung Awuk-pun tidak juga segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dan bangkitlah amarah Jaka Tingkir manakala Dhadhung Awuk sesumbar :

"Ketahuilah Raden, badan saya ini terasa gatal semua jikalau sehari saja tidak dihunjami senjata oleh orang Majapahit!"

Jaka Tingkir memberi isyarat kepada seorang anak buahnya untuk bmendekat. Jaka Tingkir membisikkan sesuatu, lantas, prajurid tersebut memerintahkan seluruh byang hadir menepi untuk memberi ruang lebar…

Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi…

Dan semua orang jadi tahu apa yang bakalan terjadi ketika Jaka Tingkir berkata kepada Dhadhung Awuk :

"Jika memang itu maumu, mari kita buktikan bersama siapa yang lebih sakti! Aku akan mencoba kesaktianmu dengan sadak ini."

Saat itu Jaka Tingkir tengah memegang `sadak'. ( Sadak adalah alat penumbuk buah gambir, dimana hasil tumbukan tersebut dipakai sebagai bahan campuran untuk mengunyah sirih. Panjangnya sekitar 15 cm dan besarnya Cuma sebesar jempol tangan, berbentuk silindris. : Damar Shashangka)

Dhadhung Awuk mendengus melihat bebgrapa prajurid telah membuat `kalangan' atau tempat yang cukup luas untuk adu kesaktian. Dhadhung Awuk segera beranjak dari bersila, lantas bergerak ke arah tengah-tengah `kalangan' yang telah disediakan. Disana dia berdiri gagah dan membuka dadanya lebar-lebar!

Sejenak dia mencabut keris. Kemudian menghunjamkan keris itu berkali-kali kedada dan perutnya. Tidak ada luka sedikitpun ditempat mana dia menghunjamkan senjata tersebut.

Jaka Tingkir beranjak. Dia menuju `kalangan' dengan disaksikan oleh para prajurid dan para pemuda dengan dada berdebar!

Kini, Jaka Tingkir dan Dhadhung Awuk berdiri berhadap-hadapan. Ditangan Jaka Tingkir tergenggam sadak. Melihat apa yang dipegang Jaka Tingkir, Dhadhung Awuk sedikit mendengus. Keris saja tidak mampu melukai tubuhnya, apalagi sebuah sadak. Begitu Dhadhung Awuk bergumam dalam hati.
Sesaat keduanya masih diam ditempat masing-masing. Dan sedetik kemudian, Jaka Tingkir bergerak cepat menusukkan sadak ke dada Dhadhung Awuk! Dhadhung Awuk membuka dada lebar-lebar.
Dan Dhadhung Awuk menjerit keras manakala sadak ditangan Jaka Tingkir menancap dalam tepat dijantungnya! Darah muncrat dari sana! Dhadhung Awuk menggeram! Tikaman Jaka Tingkir tepat mengenai organ vital! Tubuh Dhadhung Awuk bergetar hebat! Sedetik kemudian jatuh terduduk, lantas roboh menelungkup! Dhadhung Awuk tewas seketika!

Gegerlah seluruh yang hadir! Kejadian tersebut dilihat oleh beberapa pejabat yang kebetulan hadir ditempat tersebut. Mereka lantas menghadap Sultan Trenggana, melaporkan kejadian terbunuhnya seorang calon pasukan pengawal Sultan ditangan Jaka Tingkir. Sultan Trenggana murka! Beliau seketika itu juga memerintahkan Jaka Tingkir untuk menghadap!

Pada hari itu, Sultan Demak melepas jabatan Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan. Bahkan, Jaka Tingkir diusir dari lingkungan istana Demak.

Jaka Tingkir yang memang merasa bersalah, menerima keputusan tersebut. Namun diam-diam, dengan diusirnya Jaka Tingkir dari istana, Nimas Sekar Kedhaton, adik Ratu Kalinyamat, menangis dan merasa kehilangan.


Jaka Tingkir Bag 4

oleh : Damar Sasangka.

Bagian : 4

Setelah berpamitan kepada Ki Ganjur, Jaka Tingkir-pun meninggalkan ibu kota Demak Bintara. Panjang lebar Ki Ganjur memberikan nasehat kepada keponakannya yang terlihat sangat terpukul tersebut. Dan, Ki Ganjur-pun akhirnya dengan berat hati melepaskan Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir tidak pulang ke Tingkir. Dia merasa malu kepada ibunya, Nyi Ageng Tingkir. Dia tidak mau pulang sembari membawa kegagalan dan aib. Bukannya pulang membawa kebanggaan bagi ibunya.

Jaka Tingkir memutuskan menuju ke Pengging.

Tidak banyak orang Pengging yang tahu kehadiran Jaka Tingkir. Diam-diam dengan menyamar sebagai seorang pengembara, Jaka Tingkir menuju ke Pura Dalem Agung Pengging. Pura yang dulu dibangun oleh ayahandanya, Ki Ageng Pengging.

Dengan meminta ijin kepada Pemangku Pura, Jaka Tingkir berniat berdiam diri untuk beberapa hari. Sang Pemangku tidak mengenal Jaka Tingkir sebagai putra Ki Ageng Pengging. Dia memberi ijin kepada Jaka Tingkir untuk tinggal di Pura karena menyangka Jaka Tingkir adalah seorang pertapa pengembara yang tengah menjalankan laku spiritual.

Jaka Tingkir sudah berniat, sebelum mendapatkan petunjuk niskala, dia tidak akan beranjak pergi dari Pura tersebut. Tapa, Brata, Yoga dan Samadhi dilaksanakannya. Dengan hati pedih, Jaka Tingkir memohon kemurahan Hyang Widdhi untuk berkenan memberikan petunjuk-Nya. Siang dan malam Jaka Tingkir tak lepas-lepas mengucarkan Japa dari mulutnya. Jika lelah ber-Japa, Jaka Tingkir bermeditasi. Jika lelah bermeditasi, Jaka Tingkir berbaring diam, hingga kadang-kadang tertidur.

Dengan uang yang dimilikinya, Jaka Tingkir setiap pagi turun ke desa mencari makan. Hanya sehari semalam sekali. Selepas itu dia berpuasa. Jaka Tingkir mencoba menghindari kecurigaan warga Pengging dengan selalu berpindah-pindah saat membeli makanan.

Tujuh hari telah berlalu, Jaka Tingkir tetap teguh menjalankan Tapa-nya. Dan pada malam yang ke tujuh, Jaka Tingkir merasa kelelahan. Tak sengaja dia tertidur dikala meditasinya.

Saat tertidur, Jaka Tingkir merasa melihat seberkas cahaya meluncur deras dan berhenti tepat didepannya. Cahaya itu pelahan berubah menjadi sosok manusia. Sesosok lelaki yang gagah dan tampan dengan tubuh yang memendarkan sinar luar biasa lembut dan terang!

Antara sadar dan tidak, Jaka Tingkir melihat sosok lelaki itu tersenyum kepadanya dan berkata :

"Ngger Karebet putraningsun, aja kedlarung-dlarung anggenira kasusahan ing pikir. Wis angger, sesuk esuk ambarengi pletheking bagaskara ing bang wetan, sira mangkata, anjujuga padukuhan Banyu Biru. Suwitaa marang Ki Ageng Banyu Biru. Ing kono wahanane sira bakal nemoni kamulyan lan pepadhanging lakunira."

(Anakku Karebat, janganlah berlarut-larut kamu bersusah hati. Sudah, anakku. Besok pagi bersamaan dengan terbitnya matahari dari ufuk timur, berangkatlah dari sini, pergilah ke dukuh Banyu Biru, mengabdilah kepada Ki Ageng Banyu Biru. Disana tempat kamu akan mendapatkan kemuliaan dan terang dalam hidupmu.)

Jaka Tingkir menyembah dalam dan bertanya :

"Siapakah yang hadir didepan saya ini ?"

Sosok itu menjawab dengan senyum penuh kedamaian:

"Weruha angger, ya ingsun iki Ki Ageng Kebo Kenanga ya Ki Ageng Pengging. Ramanira kang satuhune."

(Ketahuilah anakku, aku ini adalah Ki Ageng Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging, ayahandamu yang sesungguhnya.)

Jaka Tingkir kaget. Serta merta dia langsung menghambur dan menubruk sosok tersebut sembari menangis! Tangis kerinduan Jaka Tingkir yang tertahankan selama ini pecah sudah! Diciuminya kaki sosok Ki Ageng Pengging tersebut dengan berurai air mata.

Dan Jaka Tingkir lebih terperanjat lagi manakala dirasakannya ada sosok lain yang hadir dan tengah mengelus-elus kepalanya. Jaka Tingkir mencoba beringsut untuk melihat siapakah itu. Dan Jaka Tingkir melihat sesosok wanita cantik sembari tersenyum, bersimpuh didekatnya dan membelai kepalanya.

"Kangjeng Ibu?", suara Jaka Tingkir tercekat haru.

Sosok wanita itu mengangguk pelan dan menjawab :

"Iya anakku, aku ibumu. Nyi Ageng Tingkir.."

Tangis Jaka Tingkir kembali memecah tak terbendungkan! Diciumnya kaki ibunya...

Terdengar suara Ki Ageng Pengging lembut :

"Karebet, wis ngger, elinga welingingsun, JALMA UTAMA TANSAH NETEPI ANGGERING DHARMA. Aja pegat rina lan wengi tansah memuji Hyang Widdhi. Ing kono bagya mulya bakal sira tampa. Kariya basuki putraningsun Karebet.."

(Karebet, sudahlah anakku, ingat-ingatlah pesanku, MANUSIA UTAMA SENANTIASA MEMEGANG TEGUH KETENTUAN DHARMA. Jangan pernah putus memuji Hyang Widdhi siang dan malam. Disana kedamaian dan kemuliaan akan engkau dapatkan. Selamat tinggal putraku Karebet.)

Dan sosok Ki Ageng Pengging beserta Nyi Ageng Pengging-pun lenyap seketika dari hadapan Jaka Tingkir.

Bersamaan dengan itu, Jaka Tingkir tersadar dari meditasinya. Air mata masih membasahi kelopak matanya...

Dan seketika itu juga, Jaka Tingkir bersujud syukur kepada Hyang Widdhi. Semalaman penuh Jaka Tingkir tak dapat memincingkan mata sedikitpun.

Keesokan harinya, tepat ketika matahari menyembul di ufuk timur, Jaka Tingkir berpamitan kepada Pemangku Pura.

Ki Ageng Banyu Biru.

Ki Ageng Banyu Biru adalah pemimpin sebuah padepokan Shiwa Buddha ( Sampai sekarang saya tidak mengetahui pasti dimana letak Padepokan Banyu Biru : Damar Shashangka). Banyak para siswa yang berguru kepada beliau. Kebanyakan adalah mereka-mereka yang masih tetap teguh memegang ajaran Shiwa Buddha.

Ki Ageng Banyu Biru memiliki dua orang adik laki-laki. Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil. Disana, sudah beberapa waktu yang lama, telah menetap dan berguru seorang pemuda keturunan Prabhu Brawijaya V, Ki Mas Manca.

Ki Mas Manca adalah keturunan Arya Jambuleka II. Sedangkan Arya Jambuleka II adalah putra Arya Jambuleka I. Dan Arya Jambuleka I adalah putra selir Prabhu Brawijaya V.

Ki Ageng Banyu Biru yang waskita batinnya, pagi itu memerintahkan para siswa membersihkan Padepokan. Tak ada yang mengetahui apa maksud beliau. Hanya Ki Mas Manca yang diberitahu bahwasanya sore hari nanti, akan datang seorang tamu keturunan Prabhu Brawijaya V yang hendak berguru ke padepokan tersebut.

Dan benar, menjelang selesai sandhya sore atau sembahyang sore, seorang pemuda nampak memasuki Padepokan serta meminta ijin kepada seorang cantrik (siswa) untuk bertemu dengan Ki Ageng Banyu Biru.

Cantrik tersebut segera menghadap Ki Ageng. Dan Ki Ageng serta merta memerintahkan Ki Mas Manca untuk menyambut kedatangan pemuda tersebut yang tak lain adalah Jaka Tingkir!

Jaka Tingkir terkejut juga mendapati kedatangannya disambut sedemikian rupa oleh Ki Ageng. Rupanya beliau sudah tahu pasti bahwa pada sore hari itu, dia akan datang kesana. Didepan Ki Ageng Banyu Biru, Jaka Tingkir menceritakan apa sebabnya hingga dirinya sampai ke Padepokan Banyu Biru. Berhari-hari Jaka Tingkir berusaha mencari letak padepokan tersebut, dan pada akhirnya berkat Hyang Widdhi, dia sampai juga dan bisa bertemu langsung dengan Ki Ageng Banyu Biru.

Ki Ageng Banyu Biru memperkenalkan Ki Mas Manca kepada Jaka Tingkir. Kedua pemuda keturunan Majapahit itu saling berpelukan bahagia. Bahkan, Ki Mas Manca sedemikian bahagianya sampai-sampai menitikkan air mata.

Ki Ageng Banyu Biru memerintahkan Jaka Tingkir berdiam di Padepokan untuk sementara waktu. Dengan ditemani Ki Mas Manca, Jaka Tingkir mempelajari berbagai macam ilmu dari Ki Ageng Banyu Biru. Kini, Jaka Tingkir lebih mendalami Ilmu Kesempurnaan yang berasal dari butir-butir Upanishad Weda. Jaka Tingkir benar-benar mendalami Ilmu tinggi tersebut.

Berbulan-bulan Jaka Tingkir digembleng dengan Tapa, Brata, Yoga dan Samadhi. Kecerdasaan dan kesungguhan Jaka Tingkir membuat Ki Ageng sangat menyayanginya. Berbagai lontar-lontar rahasia Shiwa Buddha dengan mudah dikuasai Jaka Tingkir. Hanya dalam beberapa bulan, kemajuan spiritual Jaka Tingkir sudah sedemikian pesatnya. Jaka Tingkir yang dulu lebih mumpuni dalam Olah Kanuragan, kini, Kesadaran spiritual-nya benar-benar terasah tajam berkat Ki Ageng Banyu Biru.

Ki Ageng Banyu Biru bangga melihat perkembangan Jaka Tingkir.

Dan manakala sudah dirasa cukup, Ki Ageng Banyu Biru-pun memerintahkan Jaka Tingkir untuk turun dari Padepokan. Konon, dari Ki Ageng Banyu Biru, Jaka Tingkir mendapatkan Aji Lembu Sekilan, yaitu sebuah ilmu kesaktian yang langka, yang berguna untuk melindungi tubuh dari berbagai serangan dalam batas satu jengkal jari ( satu jengkal jari dalam bahasa Jawa adalah sekilan ; Damar Shashangka). Konon pula, ilmu ini menyerap energi Lembu Andini, seorang Atma Suci yang berwujud seekor Lembu dan menjadi tunggangan Shiwa Mahadewa.

Ki Ageng Banyu Biru-pun memerintahkan Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil untuk menemani Jaka Tingkir. Sebelum meninggalkan padepokan, Ki Ageng memberikan sebuah taktik jitu kepada Jaka Tingkir agar dapat kembali diterima oleh Sultan Trenggana.

SULTAN TRENGGANA

Pada setiap musim penghujan, Sultan Trenggana pasti meninggalkan ibu kota Demak dan berdiam diri di Pegunungan Prawata. Banjir seringkali melanda ibu kota Demak. Dan tidak banyak yang tahu bahwasanya Sultan kerapkali berdiam diri di Pegunungan Prawata tiap kali musim banjir tiba. Hanya para Pasukan Pengawal Sultan saja yang mengetahuinya.

Untuk kembali mendapatkan kepercayaan Sultan Trenggana, Ki Ageng Banyu Biru menyarankan kepada Jaka Tingkir membuat sebuah keonaran dengan meminta bantuan beberapa gerilyawan Majapahit. Keonaran tersebut harus mampu mengancam keselamatan Sultan Trenggana yang tengah bermukin di Pegunungan Prawata. Dapat dipastikan, tidak bakalan banyak prajurid angkatan bersenjata Demak yang berada disana.

Sebelum pasukan bantuan Demak datang dari Demak menuju Pegunungan Prawata, Jaka Tingkir harus secepatnya tampil menjadi sosok penyelamat. Dengan demikian, Sultan pasti akan kembali menaruh kepercayaan kepada Jaka Tingkir.

Pada hari yang ditentukan, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil-pun berangkat. Tujuan mereka adalah Pegunungan Prawata.

Arya Bahureksa.

Untuk mempersingkat perjalanan dari Banyu Biru ke Pegunungan Prawata, keempat pemuda ini memilih menghindari jalur darat. Mereka memilih menggunakan jalur suingai.

Rakit-pun dibuat. Setelah rampung membuat rakit yg kokoh, keempatnya segera menaiki rakit.

Disuatu tempat, karena waktu telah menjelang sore hari, keempatnya memutuskan untuk menepi dan mencari tempat bermalam dipinggir sungai. Kebetulan, tak jauh dari tepi sungai, waktu itu banyak para gadis tengah mencuci pakaian. Melihat kehadiran keempat orang asing yang tak dikenal, para gadis seketika menyingkir ketakutan.

Dasar Jaka Tingkir dan Ki Mas Manca yang memang masih belia, salah seorang gadis tercantik diantara sekawanan gadis lain, sempat digoda oleh keduanya. Gadis tersebut marah dan pulang dengan hati mendongkol.

Tak ada yang menyangka jika menjelang malam menanjak, tempat dimana keempat pemuda ini bermalam seadanya tiba-tiba dikepung oleh orang-orang tak dikenal dengan senjata lengkap! Perselisihan terjadi. Apa daya empat orang melawan sebegitu banyak manusia, pada akhirnya keempatnya menuruti keinginan segerombolan orang-orang tak dikenal tersebut.

Akhirnya, Jaka Tingkir dan ketiga temannya tahu duduk permasalahan sebenarnya setelah mereka dibawa ke tempat hunian ditengah hutan, sarang para gerombolan.

Tempat dimana mereka bermalam ternyata adalah wilayah hunian para gerombolan gerilyawan Majapahit. Dan salah seorang gadis cantik yang sore tadi mereka goda adalah anak perempuan sang pemimpin gerombolan.

Untung, begitu Jaka Tingkir memperkenalkan siapa dirinya, para gerombolan gerilyawan langsung berbalik menghormatinya. Tiga hari tiga malam keempat pemuda dari Banyu Bitu ini dijamu disana. Arya Bahureksa, sang pemimpin, sangat-sangat bersuka cita bisa bertemu dengan putra Ki Ageng Pengging.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, manakala rakit yang dinaiki Jaka Tingkir hendak menepi, mereka melihat seorang gadis cantik dipinggiran sungai. Jaka Tingkir dan Ki Mas Manca menggodanya. Gadis marah dan serta merta menghilang. Disusul rakit berputar sendiri dan hujan seketika turun rintik-rintik. Lebih mengagetkan lagi, mendadak banyak buaya bermunculan ditempat itu! Keempat orang pemuda terpaksa bertempur dengan gerombolan buaya dan akhirnya berhasil menaklukkan mereka. Arya Bahureksa, pemimpin para buaya menjamu mereka di Istana Buaya selama tiga hari tiga malam : Damar Shashangka)

Dari Arya Bahureksa, Jaka Tingkir mendapatkan bantuan pasukan gerilyawan. Arya Bahureksa juga menyarankan kepada Jaka Tingkir untuk menemui Kebo Andanu, seorang pemimpin gerilyawan yang bermukim disekitar Pegunungan Prawata.

Jaka Tingkir sangat-sangat berterima kasih atas semua bantuan Arya Bahureksa.

Setelah tiga hari tiga malam tinggal dipusat pemukiman para gerilyawan, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil-pun melanjutkan perjalanannya ke Pegunungan Prawata.

Kini perjalanan mereka diiringi oleh sebagian gerombolan gerilyawan yang hendak membantu. Dalam Babad Tanah Jawa, iring-iringan rakit rombongan Jaka Tingkir ini digambarkan dalam tembang Megatruh sebagai berikut :

Sigra milir, Sang Gethek sinangga bajul,
Kawan dasa kang njageni,
Ing ngarsa miwah ing pungkur,
Tanampi ing kanan kering,
Sang Gethek lampahnya alon.

(Segeralah berjalan, Sang Rakit dengan disangga para buaya,
Empat puluh buaya pilihan yang menjaga,
Berada didepan dan dibelakang,
Begitu juga berada di kanan dan kiri,
Sang Rakit-pun berjalan pelan.)

(Megatruh adalah tembang yang menyiratkan situasi genting. Megat berarti : Pegat, Ruh berarti Nyawa/Atma. Megatruh berarti situasi yang mampu memisahkan Ruh dan Jasad. Perjalanan Jaka Tingkir ke Pegunungan Prawata dituangkan dalam tembang Megatruh menyiratkan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan menujui situasi genting yang bisa memisahkan Ruh dan Jasad : Damar Shashangka)

Empat puluh prajurid pilihan, ditambah para prajurid yang lain, mengiringi Jaka Tingkir.

Perjalanan mereka-pun akhirnya terhenti manakala senja telah menjelang. Jaka Tingkir beserta para lasykar gerilyawan Majapahit ini akhirnya menepi untuk mencari tempat bermalam.

Wahyu Keprabhon berpindah.

Tepat waktu itu, mereka berhenti di wilayah pedukuhan Butuh, dimana Ki Ageng Butuh adalah pemimpin padukuhan dengan pangkat Bekel.

(Ingatkah anda dengan Ki Ageng Butuh? Ki Ageng Butuh adalah sahabat karib Ki Ageng Pengging. Beliau bersama Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Tingkir sempat berguru kepada Syeh Lemah Abang. Baca catatan saya KI AGENG PENGGING : Damar Shashangka ).

Malam itu Ki Ageng Butuh tidak dapat tidur. Beliau duduk di Pendhopo rumah. Tepat menjelang tengah malam, diatas langit nampak seberkas cahaya kebiru-biruan meluncur dari arah utara. Cahaya itu melintasi langit Butuh!

Ki Ageng Butuh terkesiap. Cahaya ini adalah Wahyu Keprabhon. Yaitu Wahyu seorang Raja. Berasal dari utara, tak lain dari Demak Bintara. Dan wahyu ini tengah berpindah tempat! Dimana wahyu ini jatuh, maka disanalah orang pilihan tersebut dapat dipastikan akan tampil menjadi seorang Raja!

Sontak Ki Ageng Butuh menghambur menuju Gedhogan ( Kandang Kuda ) dan menyambar seekor kuda. Ditengah malam buta, Ki Ageng Butuh memacu kudanya mengikuti gerak cahaya kebiru-biruan yang nampak melintas di atas langit menuju ke pinggir pedukuhan, jauh ke pinggir sungai!

Ki Ageng Butuh terus mengikuti pergerakan cahaya tersebut.

Dan tepat dipinggiran sungai, cahaya itu meluncur ke bawah dan raib! Ki Ageng terus memacu kudanya.

Dan kudanya terhenti nyalang manakala beberapa orang bersenjata tengah menghadangnya tiba-tiba!

Ki Ageng memincingkan matanya melihat ada sekitar lima orang bersenjata terhunus tengah menghalangi laju kudanya. Sejenak Ki Ageng ditanya siapakah beliau. Ki Ageng-pun memperkenalkan dirinya sebagai penguasa wilayah tersebut. Dan giliran Ki Ageng yang balik bertanya siapakah mereka.

Para penghadang Ki Ageng Butuh tak lain adalah para gerilyawan yang mengiringi Jaka Tingkir. Mereka tengah mendapat giliran jaga malam. Mendengar nama Jaka Tingkir disebut-sebut, Ki Ageng Butuh terkejut. Cepat dia meminta kepada kelima orang tersebut untuk menunjukkan dimana Jaka Tingkir kini tengah berada. Kelima orang itu nampak enggan dan curiga. Namun manakala mendengar penuturan Ki Ageng bahwa beliau melihat wahyu keprabhon jatuh ditempat itu, sontak mereka segera mengantarkan Ki Ageng Butuh ketempat dimana Jaka Tingkir tengah beristirahat.

Disaksikan kelima orang gerilyawan berikut Ki Ageng Butuh, disana sebuah kejadian yang memukau mata tengah terjadi!

Diatas kepala seorang pemuda yang tengah tertidur, nampak seberkas cahaya tengah mengambang, berwarna biru cerah. Keenam orang yang menyaksikan hal itu tercengang. Wajah sang pemuda nampak jelas terlihat tersinari cahaya tersebut.

Ki Ageng Butuh tidak sangsi lagi dengan Mas Karebet, putra sahabatnya Ki Ageng Pengging! Pemuda yang kini tengah tertidur dengan cahaya mengambang diatas kepalanya itu adalah Mas Karebet, karena wajahnya mirip dengan Ki Ageng Pengging!

Dan Jaka Tingkir mendadak terjaga dari tidurnya! Bersamaan dengan itu, cahaya kebiru-biruan yang terang diatas kepalanya lenyap!

Jaka Tingkir terjaga karena dalam tidurnya dia mendengar suara-suara aneh tengah memanggil-manggil namanya berulang-ulang!

Begitu dia sadar, dia nampak kebingungan manakala tak jauh dari tempatnya tidur, ada enam orang tengah memperhatikannya dengan tatapan takjub!

Jaka Tingkir Bag 5.

oleh : Damar Sasangka.

Bagian : 5

Belum reda keheranan Jaka Tingkir, salah seorang dari enam orang yg tengah tercengang melihatnya menghambur dan memeluknya. Keheranan Jaka Tingkir semakin bertambah-tambah. Namun begitu sosok itu memperkenalkan didinya sebagai Ki Ageng Butuh, sahabat karib ayahandanya Ki Ageng Pengging, Jaka Tingkir sedikit banyak memahami situasi yg serba mengherankan tersebut.

Ki Ageng Butuh menjelaskan bahwasanya Jaka Tingkir kini telah terpilih sebagai Raja Tanah Jawa. Sesaat lalu, kala Jaka Tingkir tertidur, cahaya wahyu keprabhon telah jatuh diatas kepalanya. Jaka Tingkir kembali dicekam rasa heran. Antara percaya tidak percaya. Namun melihat keseriusan Ki Ageng Butuh, keraguan Jaka Tingkir luruh juga.

Malam itu, Ki Ageng Butuh banyak memberikan wejangan-wejangan yang sangat berguna bagi Jaka Tingkir. Satu hal yg beliau tekankan, agar Jaka Tingkir mentauladani ayahandanya Ki Ageng Pengging yang terkenal sabar dan legowo. Jika kelak Jaka Tingkir benar-benar berhasil menduduki tahta dan menjadi penguasa Tanah Jawa, sikap ini harus dikedepankan.

Menjelang pagi, Ki Ageng Butuh-pun melepas kepergian Jaka Tingkir dan rombongan dengan doa-doa keselamatan.

Rombongan Jaka Tingkir, kini melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.

Pegunungan Prawata

Dan perjalanan rombongan Jaka Tingkir-pun sampai juga di pegunungan Prawata. Walau agak lambat dikarenakan mereka memilih jalur-jalur sepi dengan menerobos hutan belukar demi meghindari kecurigaan orang banyak, pada akhirnya mereka tiba juga.

Dengan bantuan gerilyawan anak buah Arya Bahu Reksa, Jaka Tingkir bisa bertemu dengan Kebo Andanu, pemimpin gerilyawan yang bermukim disekitar Pegunungan Prawata.

Jumlah personil anak buah Kebo Andanu ternyata cukup banyak juga. Dengan bantuan mereka yang sudah cukup hafal medan Pegunungan Prawata, apa yang akan direncanakan Jaka Tingkir akan bisa dijalankan dengan mudah.

Jaka Tingkir dan Kebo Andanu segera merndingkan rencana secara matang.

Setelah bkesepakatan dicapai, Jaka Tingkir menjanjikan, kelak apabila dia berhasil menduduki tahta Demak dan berhasil mendirikan Kerajaan baru, Kebo Andanu akan diberikan wilayah otonomi khusus didaerah Pegunungan Prawata dan sekitarnya. Kebo Andanu dijanjikan akan diangkat sebagai penguasa setingkat Adipati atau Raja Bawahan.

Untuk sementara waktu, Jaka Tingkir berserta rombongan beristirahat beberapa hari dipusat hunian para gerilyawan pimpinan Kebo Andanu. Jaka Tingkir menanti hari yang tepat untuk menjalankan rencananya.

Dan pada hari yang ditentukan, gerilyawan gabungan ini bergerak menduduki tempat-tempat yang sudah direncanakan. Tempat-tempat yang mendekati posisi Pesanggrahan dimana Sultan Trenggana berada.

Dengan ditemani Ki Mas Manca, Jaka Tingkir menyamar sebagai seorang tukang rumput. Mereka berdua lebih mendekat ke pusat Pesanggrahan. Jaka Tingkir ingin lebih memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Sultan Trenggana memang benar-benar berdiam disana. Selain itu, Jaka Tingkir juga tengah mencari target beberapa orang Prajurid Pengawal Sultan yang sama-sama saling kenal dengan dirinya.

Dari hasil pengamatan Jaka Tingkir, dia bisa memastikan bahwa Sultan Trenggana memang berdiam disana. Jaka Tingkir yakin setelah mengamati seharian kondisi dan situasi Pesanggrahan. Sebagai mantan Lurah Prajurid Pengawal Sultan, Jaka Tingkir tahu bahwa memang Raja Demak itu sedang berada di Pesanggrahan Pegunungan Prawata.

Pada malam harinya, kembali Jaka Tingkir, ditemani Ki Mas Manca dan beberapa gerilyawan pilihan mendekati lokasi Pesanggrahan. Jaka Tingkir tengah mengincar beberapa orang prajurid jaga. Yaitu Prajurid Pengawal Sultan yang dikenalinya.

Setelah mendapatkan sasaran yang tepat, ditambah situasi yang dirasa cukup memadai, Ki Mas Manca dan Jaka Tingkir menyergap dua orang prajurid yang sudah diincar semenjak sore. Dibantu beberapa gerilyawan yang lain, dua orang prajurid ini berhasil dilumpuhkan dan dibawa menjauhi areal Pesanggrahan menuju ke tempat persembunyian para gerilyawan.

Sesampainya ditempat persembunyian para gerilyawan, kedua prajurid pengawal tersebut langsung ditemui sendiri oleh Jaka Tingkir. Betapa terkejut mereka mengetahui siapa yang tengah menemui mereka berdua. Keduanya tidak bakalan lupa dengan Jaka Tingkir, mantan Lurah Prajurid Pengawal mereka.

Oleh Jaka Tingkir, kedua prajurid ini ditawari jabatan tinggi jika mereka mau membantu gerakan yang direncanakan Jaka Tingkir. Dan keduanya tergiur. Mereka akhirnya menerima tawaran tersebut. Tugas mereka hanyalah mengabarkan kepada Sultan Trengana bahwa mereka melihat sosok Jaka Tingkir tegah bertapa disekitar Pegunungan Prawata.

Kabar tersebut harus disampaikan kepada Sultan Demak keesokan hari manakala Pesanggrahan sudah diserang oleh pere gerilyawan. Ditengah situasi genting dan sangat mengancam keselamatyan Sultan, disaat itulah kedua prajurid ini harus menghadap Sultan dan menyampaikan berita tersebut.

Selanjutnya mereka harus bisa memberi masukan agar Sultan meminta bantuan Jaka Tingkir untuk mengusir gerombolan liar yang mengancam beliau.

Jika Sultan setuju, secepatnya mereka harus kembali menemui Jaka Tingkir. Jika Sultan tidak setuju, mereka tidak usah kembali lagi.

Menjelang pagti hari, seluruh gerilyawan telah siap pada pos masing-masing. Dan bersamaan dengan bunyi burung hutan buatan yang disuarakan oleh Ki Mas Manca, serentak mereka keluar dari persembunyian dan menyerang Pesanggrahan dimana Sultan Trenggana berada!

Pagi baru menjelangt. Embun masih juga belum mengering. Matahari masih menyembul malu-malu. Seluruh Prajurid Pengawal Sultan Demak dikejutkan dengan serangan mendadak dari gerombolan gerilyawan Majapahit!

Bende (Gong kecil) seketka nyalang dipukul! Dari satu tempat, menyusul suara bende terdengar ditempat lain! Berkumadnatg memekakkan telinga! Bunyi pukulan bertylu-talu tersebut berbaur dengan suara teriakan-teriakan beringas dari para gerilyawan dan suara kepanikan para prajurid Demak!

Dipagi buta itu, dimana mata mereka juga belum sepenuhnya jernih, para Prajurid Pengawal Sultan segera menyambar senjata dan tameng masing-masing! Riuh rendak suaranya! Bentakan-bentakan komando terdengar disana-sini!!

Dan pertempuran pecah sudah! Senjata-senjata berkilat-kilat ditimpa cahaya mentari yang baru saja mengintip mayapada! Disana-sini, suara denting senjata terdengar memekakkan telinga dibarengi teriakan-teriakan marah dari mereka yang tengah mengadu nyawa!!

Belum reda kekacauan yang tengah terjadi, para prajurid Demak dikejutkan pekikan keras dari sisi lain. Pekikan yang berbunyi : JAYA MAJAPAHIT!! berulang-ulang dan disusul suara gemuruh sahutan : JAYA!!. Disana, dari sisi lain, sepasukan gerilyawan datang menyerang dan meleburkan diri dalam pertempuran yang sudah terjadi!!!

Kepanikan melanda para Prajurid Pengawal Sultan! Mereka tidak menyangka-nyangka, hari ini para gerilyawan berani menyerang Pesanggrahan Pegunungan Prawata!! Kepanikan semakin bertambah-tambah manakala disela-sela pertempuran terdengar teriakan berulang-ulang : PATENI WONG DEMAK!!! (BUNUH ORANG DEMAK!!). Teriakan ini bersahut-sahutan. Para prajurid Demak sedikit menciut nyalinya.

Dan satu demi satu, mayat-pun bergelimpangan bermandikan darah!!!

Kebo Andanu terlihat memacu kuda ditengah-tengah pertempuran sembari terus berteriak-teriak : JAYA MAJAPAHIT!! Dia membawa bendera bergambar Surya Majapahit, simbol kebesaran Majapahit ditangan kirinya ,sedangkan tangan kanannya terus mengayunkan senjata dengan lincahnya!! Satu dua prajurid Demak terpapas ayunan senjatanya! Jerit kesakitan terdengar diiringi tumbangnya tubuh itu dengan bermandikan darah segar!

Para Prajurid Pengawal Sultan terdesak! Tubuh-tubuh prajurid Demak tumbang satu persatu. Gerilyawan liar ini sangat terlihat sangat ganas! Gerakan peyerangan mereka yang tidak kenal takut terlihat sarat dengan penumpahan dendam dan kebencian!!

Dan beberapa pasukan gerilyawan telah naik memasuki Pesangrahan dimana Sultan Trenggana tengah berada! Jerit ketakutan dari para dayang wanita dan beberapa selir yang kebetulan ikut ditempat tersebut terdengar! Mereka ketakutan melihat gerombolan gerilyawan Majapahit memasuki Pesanggrahan tanpa ada satupun pasukan Demak yang bisa menahannya! Kegaduhan, kepanikan, ketakutan terlihat disana-sini!

Pergerakan pasukan gerilyawa sudah tidak dapat dikontrol lagi. Penyeragan mereka semakin liar dan ganas!!!

Melihat situasi seperti itu, Jaka Tingkir segera memerintahkan dua orang prajurid Demak yang semalam diculiknya untuk segera menjalankan tugas! Kedua prajurid ini langsung bergerak menyusup, mencari jalan aman menuju Pesanggrahan. Sebuah tanda khusus yang mereka kenakan dileher membuat para gerilyawan yang kebetulan melihat mereka segera memberikan jalan!!

Dua orang prajurid ini sampai di Pesanggrahan! Situasi sangat kacau balau!! Mereka telah hapal jalan menuju ruang dalam Pesanggrahan. Dan mereka bergerak ke ruang rahasia dimana mereka pastikan Sultan pasti tengah mengamankan dirinya disana!!

Kedatangan mereka yang tergopoh-gopoh membuat beberapa prajurid pengawal yang masih menjaga Sultan terkejut!! Ditengah kepanikan dan ketakutan, ditengah kebingungan mereka mencari celah membawa lari Sultan keluar dari medan tempur, kedatangan dua orang prajurid ini hampir saja menimbulkan pertikaian!!

Namun melihat yang datang adalah sesama anggota prajurid pengawal, mereka-pun segera menanyakan ada berita penting apakah yang hendak disampaikan? Dua orang prajurid ini meminta ijin untuk bertemu Sultan Trenggana langsung!

Dalam suasana mencekam, para prajurid yabg menjaga Sultan mengantarkan dua orang suruhan menemui Sultan Trenggana! Didalam bilik, nampak Sultan tengah berdiri tegang sembari menggenggam keris. Melihat kedatangan dua orang prajurid tersebut, Sultan langsung menyambut dan menanyakan apa yang hendak mereka sampaikan.

Tanpa menungu waktu lama, dua orang prajurid ini langsung mengabarkan bahwa mereka melihat Jaka Tingkir. Jaka Tingkir tengah berada disekitar Pegunungan Prawata. Dia tengah menjalankan Tapa Brata. Jika Sultan berkenan, Jaka Tingkir mau turun tangan saat ini juga!!

Dalam kondisi panik, Sultan Treggana tidak bisa berfikir panjang lagi. Beliau langsung memerintahkan dua prajurid ini untuk menemui Jaka Tingkir. Sultan Trenggana memerintahkan Jaka Tingkir mengatasi kekacauan dan Sultan akan mengampuni segala kesalahannya!

Kedua prajurid ini bergegas mohon undur. Keduanya segera keluar dari Pesangrahan, kembali menemui Jaka Tingkir!

Mendengar Sultan Trenggana tengah panik dan meminta bantuannya, Jaka Tingkir, Ki Mas Manca, Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil segera bergerak!

Ki Mas Manca segera memperdengarkan suara burung hutan tiruan bersahut-sahutan! Disusul kemudian suara serupa terdengar! Suara yang dibuat oleh para gerilyawan yang lain begitu mendengar suara burung hutan tiruan yang diperdengarkan oleh Ki Mas Manca!

Jika suara ini terdengar, maka menandakan bahwasanya Jaka Tingkir sudah waktunya tampil ke medan laga

Namun seharusnya, begitu mendengar isyarat suara yang dibunykan beberapa gerilyawan dari garis belakang, Kebo Andanu harus memberikan isyarat penghentian setengah penyerangan dengan menurunkn bendera Surya Majapahit! Hanya pemimpin gerilyawan anak buah Arya Bahureksa saja yang melakukannya. Gerakn penyerangan setengah terhenti dari sisi lain. Beberaga gerilyawan dibaris depan berbalik arah mundur pelahan bergelombang!

Namun tidak dengan pasukan yang dipimpi Kebo Andanu! Mereka terus merangsak maju. Mereka tidak melihat bendera Surya Majapahit ditangan Kebo Andanu diturunkan!

Situasi yang tak terduga ini membuat beberapa gerilyawan kebingungan. Dan Jaka Tingkir-pun melihat itu! Kebo Andanu tidak menuruti perintahnya! Kebo Andanu tidak menjalankan rencana yang telah disepakati! Dan gerakan pasukan Kebo Andanu telah merambah Pesanggrahan. Beberapa bangunan Pesanggrahan telah dibakar!

Jaka Tingkir cepat bertindak! Dia mengambil sekor kuda dan cepat naik keatas pelana. Kuda langsung digebrak nyalang, langsung melaju ke garis depan! Ki Mas Manca, Ki Wila dan Ki Wuragil tidak tinggal diam! Mereka segera meggebrak kuda masing-masing menyusul Jaka Tingkir!

Melihat kedatangan empat penunggang kuda yang menerobos medan pertempuran, dan yang paling depan terlihat adalah Jaka Tingkir, Kebo Andanu tidak menggubris! Bendera Surya Majapahit kini semakin dia angkat tinggi-tinggi!

Jaka Tingkir bertindak cepat, dia memacu kuda mendekati Kebo Andanu. Manakala jarak mereka sudah teramat dekat, Jaka Tingkir langsung melompat dari atas kudanya, menubruk tubuh Kebo Andanu! Karuan saja, Kebo Andany jatuh terguling ditimpa tubuh Jaka Tingkir. Bendera Surya Majapahit terlempar dari genggamannya!

Cepat bendera itu diraih Jaka Tingkir dan dilemparkan kearah Ki Mas Manca yang tengah memacu kuda kearahnya! Ki Mas Manca sigap menerima lemparan tersebut! Dengan terus memacu kuda ke garis paling depan, diiringi Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil, Ki Mas Manca mengangkat tinggi-tinggi bendera Surya Majapahit, lantas digerakkannya turun sambil berteriak :

"Munduuuuuuuuur!!!!"

Mendengar teriakan komando dari Ki Mas Manca dan melihat bendera Surya Majapahit ditangannya bergerak turun, beberapa pemimpin gerilyawan yang membawa bendera serupa segera melakukan hal yang sama dan berteriak :

"Munduuuuuuur!! Munduuuuuuuuur!!"

Gerakan merangsak maju dari anak buah Kebo Andanu segera tertahan. Kini pelahan mereka mundur ke belakang bergelombang!

Beberapa prajurid Demak yang hampir kehilangan nyawa bersyukur manakala para gerilyawan itu seketika mundur kebelakang!

Di lain tempat, Kebo Andanu tengah berhadapan dengan Jaka Tingkir!

"Paman, mengapa tidak mengikuti rencana semula?!"

Suara Jaka Tingkir tertahan. Jarak mereka teramat dekat, cukup untuk didengar oleh Kebo Andanu. Kebo Andanu mendengus! Matanya berkilat-kilat!

"Kehormatan bagiku membunuh keturunan Patah itu dengan tanganku, Raden!"

Suara Kebo Andanu terdengar bergetar meahan amarah!

Jaka Tingkir mendesis :

"Pasukan Demak dalam jumlah besar sebentar lagi datang! Percuma hanya membunuh Sultan-nya! Sultan baru akan segera diangkat menggantikan! Ikuti rencana semula, paman! Tahta Demak bisa kita rebut dari dalam!!"

Namun Kebo Andanu tidak mau mendengar. Kini dia malah menaiki kudanya, menghunus keris dan berkata :

"Bunuhlah aku, Raden! Hanya dengan cara itu Raden bisa menghentikan aku memenggal kepala Trenggana!!"

Kuda digebrak! Sesaat meringkik! Lantas berlari ke arah Pesanggrahan! Jaka Tingkir tidak tinggal diam! Dia berlari menghampiri kudanya dan segera meyusul Kebo Andanu!

Aksi kejar-kejaran terlihat jelas karena pertempuran pelahan mulai mereda. Seluruh yang hadir menyaksikan itu semua. Para gerilyawan menduga-duga apa yang tengah terjadi! Dan pada akhirnya mereka masing-masing bisa menyimpulkan bahwa Kebo Andanu tengah melanggar rencana semula!

Di pihak pasukan Demak, beberapa prajurid senior bisa melihat dengan jelas dan mengenali bahwa sosok penunggang kuda yang tengah mengejar pemimpin gerilyawan itu tak lain adalah Jaka Tingkir, mantan Lurah Prajurid Pengawal Sultan! Berbagai dugaan merebak dibenak mereka! Namun, aksi kejar-kejaran yang tengah berlangsung lebih menyita perhatian mereka!!

Dan kembali Jaka Tingkir lebih tangkas memapas laju kuda Kebo Andanu!! Kuda Jaka Tingkir mendahului laju kuda Kebo Andanu dan dengan berani bergerak melintang didepannya! Karuan Kuda Kebo Andanu terkejut dan sigap berlari memutar!!!

Kedua kuda berlari berputar arah, lantas bertemu berhadap-hadapan! Koua melonjak-lonjak sesaat! Mendengus-dengus!! Jaka Tingkir dan Kebo Andanu kini kembali berhadapan!!

"Hentikan, paman!!"

Kebo Andanu tersenyum anyir!! Dia menggeleng!!

"Membunuh Trenggana atau mati ditangan pewaris tahta Majapahit adalah kehormatan bagiku!"

Nyaring suara Kebo Andanu! Hampir semua orang mendengar suaranya! Kini, baik pasukan Demak maupun para gerilyawan mendadak terkesiap diam!! Hanya ringkikan-ringkikan kuda sesekali terdengar disana-sini! Mereka yang hadir menantikan dengan tegang apa yang bakal terjadi!

Dan, kembali Kebo Andanu memutar kudanya! Jaka Tingkir sigap! Dia menubruk tubuh Kebo Andanu sekali lagi! Keduanya terguling-guling ditanah! Dan keduanyapun cepat bangkit berdiri!! Kebo Andanu beringas! Ia tusukkan keris ke tubuh Jaka Tingkir!!

Jaka Tingkir menghindar! Jaka Tingkir tetap bersikeras mengingatkkan Kebo Andanu! Namun serangan Kebo Andanu semakin ganas!! Pertempuran terjadi! Disaksikan oleh para prajurid Demak dan para gerilyawan, dua sosok harimau Majapahit itu kini tengah bertempur satu lawan satu!

Belum lama pertempuran terjadi, suasana tegang tiba-tiba dipecahkan oleh suara hentakan kendang dan alunan gamelan!! Suara irama pertempuran!! Bunyi itu berasal dari arah Pendhopo Pesanggrahan. Seluruh yang hadir melihat, disana, Sultan Trenggana nampak tengah berdiri menyaksikan duel maut dua harimau Majapahit!! Sultan-lah yang memerintahkan beberapa Pangrawit Keraton ( Pemusik Istana ) yang juga ikut serta dalam rombongan Sultan di Pegunungan Prawata, untuk membunyikan gamelan bernada perang!! Bunyi gamelan mengiringi adu kesaktian Jaka Tingkir dan Kebo Andanu!!

Kendang menghentak-hentak nyalang! Indah didengar!! Seiring gerakan dua orang yang tengah mengadu nyawa! Hentakan kendang, dibarengi teriakan dari para prajurid Demak!!!

Para gerilyawan diam ditempat masing-masing! Mereka tidak mengira situasi berubah secepat itu! Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa! Semua hanya bisa mengamati dengan dada berdebar! Kedua orang yang tengah bertempur adalah para pemimpi mereka!

Namun tidak demikian dipihak pasukan Demak! Setiap kali Jaka Tingkir menyarangkan serangan, kendang dipukul keras!! Dan teriakan para prajurid mengiringinya!!! Disuatu saat, manakala posisi keduaya merapat, Jaka Tingkir menggeram :

"Hentikan!!"

Kebo Andanu mendengus :

"Bunuh aku, Raden! Atau aku akan memenggal kepala Trenggana!"

Dan pertempuran berjalan a lot! Masing-masing sangat tangguh dan terampil bermain keris! Namun disuatu ketika, keris Jaka Tingkir berhasil melukai lambung Kebo Andanu! Kendang menghentak!!! Gemuruh suara prajurid membahana!!

Kebo Andanu semakin nekad!! Dan disuatu saat, ketika Jaka Tingkir berhasil membalikkan serangan keris Kebo Andanu, ujung keris meluncur tak terarah lagi mengarah dada sang pemimpin gerilyawan!! Jaka Tingkir kaget tapi terlambat!! Keris menancap dalam!! Tepat didada Kebo Andanu!!

Kebo Andanu menggeram!! Darah memancar dari dadanya!! Sesaat dia hendak bergerak kedepan, namun tubuhnya luruh, dia jatuh terduduk.....!!!

Tangan kirinya mendekap dada yang telah basah oleh darah segar!! Tangan kanannya yang tenngah memegang keris diangkat tinggi-tinggi. Kebo Andanu berteriak :

"Jaya Majapahittt!!!"

Jaka Tingkir terkesima! Tubuhnya bagai terpancang kuat kedasar bumi!! Sesaat sebelum Kebo Andanu tersungkur, dia melihat ksatria Majapahit itu terseyum kepadanya!!!

Bunyi gamelan kemenangan kini terdengar!! Sorak sorai para prajurid Demak bergema! Ditempat lain para gerilyawan geger!!

Namun Ki Mas Manca berhasil menenangkan mereka!!

Ki Mas Manca memerintahkan dua orang gerilyawan maju kedepan. Jaka Tingkir tanggap, dia membiarkan dua orang gerilyawan itu membawa jenazah Kebo Andanu! Jaka Tingkir sempat berkata lirih, cukup didengar dua orang gerilyawan :

"Lakukan upacara kematian yang layak!"

Dan, Ki Mas Manca memerintahkan seluruh gerilyawan meninggalkan pesangrahan Pegunungan Prawata saat itu juga!

(Peristiwa memilukan ini diceritakan secara simbolis dalam Babad Tanah Jawa. Konon, sesampainya di Pegunungan Prawata, Jaka Tingkir menemukan seekor kerbau liar yang bernama Kebo Andanu. Kerbau tersebut ditangkap oleh Jaka Tingkir, lantas disalah satu telinganya dimasukkannya segenggam tanah yang dibawa dari Banyu Biru. Kerbau liar tersebut berubah semakin liar, lalu dilepaskan ke arah Pesanggrahan Sultan Trenggana! Kerbau mengamuk! Para prajurid pengawal tidak ada yang mampu menaklukkan amukan Kebo Andanu. Bahkan banyak para prajurid yangtewas terkena amukannya! Pesanggrahan Pegunungan Prawata porak poranda oleh olah Kebo Andanu! Sultan Trenggana panik! Lantas, dua orang prajurid menghadap Sultan dan mengabarkan bahwa mereka melihat Jaka Tingkir. Seyogyanya Sultan meminta pertolongan Jaka Tingkir untuk menaklukkan Kebo Andanu. Sultan menyetujui. Jaka Tingkir akhirnya turun tangan. Jaka Tingkir bertempur dengan Kebo Andanu! Kerbau dipegang, namun tidak menurut dan semakin liar! Terpaksa Jaka Tingkir mengeluarkan tanah yang dia masukkan ke telinga kerbau, lalu Jaka Tingkir memukul kepala kerbau! Kepala Kerbau pecah! Kebo Andanu tewas seketika! Sultan Trenggana selamat dari amukan Kebo Andanu. Tanah yang disimbolkan dalam Babad Tanah Jawa tal lain adalah daerah kekuasaan yang sempat dijanjikan kepada Kebo Andanu. Namun daerah kekuasaan tersebut tidak jadi dimiliki Kebo Andanu karena dia telah membangkang perintah Jaka Tingkir : Damar Shashangka.)

Adipati Pajang

Banyak spekulasi merebak dikalangan istana Demak akibat peristiwa tersebut. Namun bagaimanapun juga, Jaka Tingkir terbukti berhasil menyelamatkan nyawa Sultan Trenggana.

Sunan Kudus memberi masukan kepada Sultan bahwasanya Jaka Tingkir adalah sosok berbahaya bagi Demak Bintara. Demikian juga beberapa pejabat yang lain. Namun keberhasilan Jaka Tingkir menyelamatkan nyawa Sultan bukan berarti tidak harus dihargai.

Disisi lain, Nimas Sekaring Kedhaton, putri Sultan Trenggana, memohon kepada ayahandanya agar Jaka Tingkir diperbolehkan memasuki istana kembali. Nimas Sekaring Kedhaton diam-diam jatuh hati kepada Jaka Tingkir.

Melalui serangakaian musyawarah yang rumit, pada akhirnya Jaka Tingkir diberi penghargaan menjabat sebagai seorang Raja Bawahan, seorang Adipati. Hal ini dimaksudkan, agar Jaka Tingkir tidak mempunyai akses langsung dilingkungan Istana Demak. Jaka Tingkir sengaja dijauhkan dari pusat. Jaka Tingkir dikukuhkan sebagai Adipati yang menguasai wilayah Pajang, wilayah yang tak jauh dari Pengging, tanah kelahirannya. Bahkan Pengging-pun kini masuk wilayah Pajang. Dia dikukuhkan dengan gelar ADIPATI ADIWIJAYA yang berarti KEMENANGAN UTAMA. Mass Karebet atau Jaka Tingkir kini bergelar Adipati Adiwijaya!

Ki Mas Manca diangkat sebagai pendampingnya dengan jabatan Patih Njaba. Dia lantas bergelar Patih Mancanegara. Sedangkan Ki Mas Wila dan Ki Mas Wuragil, mereka diangkat sebagai Patih Njero, Jabatan Patih Njero dibebankan kepada mereka berdua.

(Patih Njaba adalah jabatan wakil Raja yang bertugas mengurus urusan ekstern keraton dengan dibantu beberapa mantri, membawahi beberapa pejabat diluar lingkungan ibu kota. Sedangkan Patih Njero adalah jabatan wakil Raja yang bertugas mengurusi urusan intern keraton dengan dibantu pula oleh beberapa mantri dan Ngabehi : Damak Shashangka)

Akses masuk secara langsung ke Istana Demak agak tertutup bagi Adipati Adiwijaya. Namun diam-diam, Adipati Adiwijaya-pun mencintai Nimas Sekaring Kedhaton. Hubungan diam-diam diantara mereka ini memang sudah jauh-jauh hari terjalin. Atas saran Ki Mas Manca atau Patih Mancanegara, Adipati Adiwijaya eminang Nimas Sekaring Kedhaton. Selain atas dasar cinta, Nimas Sekaring Kedhaton bisa dijadikan akses masuk kedalam istana Demak.

Pinangan-pun dilayangkan Adipati Adiwijaya kehadapan Sultan Trenggana. Sultan Trenggana sedikit keberatan. Namun Nimas Sekaring Kedhaton mengancam akan bunuh diri jika pinangan Jaka Tingkir ditolak. Maka Sultran Trenggana terpaksa menerima pinangan tersebut.

Akhirnya, Adipati Adiwijaya berhasil memperistri Nimas Sekaring Kedhaton. Hubungan ini sangat ditentang oleh Sunan Kudus. Sunan Kudus menyarankan kepada Sultan Trenggana agar menutup akses masuk ke Istana bagi Nimas Sekaring Kedhaton. Nimas Sekaring Kedhaton dicap telah murtad karena memilih suami beragama kafir!

Jaka Tingkir berkuasa di Kadipaten Pajang. Beberapa gerilyawan Majapahit dia masukkan kedalam angkatn bersenjata Pajang. Bahkan keturuan Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pamanahan-pun diterima mengabdi sebagai anggota pasukan Pajang!

Kekuatan Shiwa Buddha dan Islam Abangan diam-diam menyatu dibawah panji Pajang.

Diam-diam pula, Sunan Kudus membaca situasi tersebut. Pajang tidak boleh dibiarkan. Sunan Kudus kembali menggalang kekuatan militer khusus yang sepenuhnya berda dibawah kendalinya. Pusat kekuatan militer gemblengan Sunan Kudus ini berada vdi Kadipaten Jipang Panolan.

Putra Pangeran Suryawiyata, Arya Penangsang yang masih muda digemblengnya luar dalam. Arya Penangsang dikaderkan kelak untuk merebut tahta Demak lebih dahulu sebelum pihak Pajang berhasil menguasainya.

Dua kekuatan militrer saling berseberangan berkembang dikalangan angkatan bersenjata Demak! Dan dua kekuatan ini kelak akan berhadapan dalan peranng mengerikan yang berdarah-darah!

(TAMAT)

Sahnti , selamat menikmati , semoga dapat berguna sebagai penambah ...

KI EGENG PENGGING


Ki Ageng Pengging bag 1 .

oleh :Damar Sasangka.

Bagian 1.

Catatan ini saya buat sebagai kelanjutan dari catatan saya MISI PENG-ISLAM-AN NUSANTARA dan SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR. Bagi teman-teman yang belum membaca, mohon tidak membaca catatan ini dulu. Terima kasih. (Damar Shashangka)

Setelah kehancuran Majapahit pada tahun 1478 masehi,maka berakhir pula kejayaan Majapahit. Berakhirnya masa kejayaan Majapahit ini, bukanlah saat diperintah oleh Prabhu Brawijaya VII seperti yang dibanyak diberitakan selama ini, namun saat di bawah pemerintahan Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas. Sebagai bukti, dibawah inilah nama Raja-Raja yang pernah memerintah Majapahit.

1.Raden Wijaya atau Bhree Wijaya I atau Prabhu Brawijaya I atau Shrii Kertarajasa Jayawardhana (1292-1309 M)

2.Raden Kala Gemet atau Prabhu Jayanegara atau Shrii Jayanegara (1309-1328 M).

3.Ratu Ayu Tri Bhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M)

4.Prabhu Hayam Wuruk atau Shrii Rajasawardhana (1350-1389 M).

5.Prabhu Wikramawardhana (1389-1492 M) Pada masa inilah terjadi Perang Paregreg. Dimana Adipati Bhree Wirabhumi atau Adipati Kebo Marcuet mengadakan pemberontakan ke Majapahit dan berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga.

6.Ratu Ayu Suhita atau Dewi Kencana Wungu (1429-1447 M), diperistri oleh Raden Parameshwara atau Raden Damar Wulan atau yang lantas setelah menjadi suami Ratu Ayu Suhita, memegang tampuk pemerintahan dengan gelar Bhree Wijaya II atau Prabhu Brawijaya II setelah berhasil mengalahkan Jaka Umbaran atau Raden Gajah atau Minak Jingga, penguasa Blambangan. Pengambilan gelar ini demi mengukuhkan kedudukannya sebagai keturunan Raden Wijaya.

7.Prabhu Kertawijaya atau Bhree Wijaya III atau Prabhu Brawijaya III (1447-1451 M)

8.Prabhu Rajasawardhana atau Bhree Wijaya IV atau Prabhu Brawijaya IV ( 1451-1453 M)

9.Raden Kertabhumi atau Bhree Wijaya V atau Prabhu Brawijaya V atau Prabhu Brawijaya Pamungkas (1453-1478 M). Dalam masa pemerintahan beliau, beliau dibantu oleh saudaranya, yaitu Raden Purwawisesha sebagai mahapatih (1456-1466 M) yang lantas digantikan oleh Raden Pandhan Salas atau Bhree Pandhan Salas (1466-1473 M).

Pada masa pemerintahan Raden Kertabhumi inilah, Majapahit diserang oleh pasukan Demak Bintara. Diperingati dengan Surya Sangkala SIRNA ILANG KERTAning BHUMI.

Semenjak kehancurannya, Majapahit kini harus tunduk kepada Demak Bintara. Majapahit menjadi negara kecil, bagian dari Demak Bintara. Tampuk pemerintahan Majapahit dipegang oleh seseorang yang ditunjuk langsung oleh Sultan Demak atau Raden Patah yang kini bergelar Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boenningrat I.

Dan anda semua pasti akan terkejut bila saya ungkapkan bahwa, pemegang tampuk pemerintahan Majapahit, setelah Prabhu Brawijaya V, adalah MA-HWAN! Seorang berdarah China yang lantas bergelar Prabhu Brawijaya VI. Dia memerintah dibawah kendali Demak Bintara.

Fenomena politik inilah yang memicu ketidak puasan dikalangan bangsawan Majapahit. Para bangsawan yang sudah terkoyak moyak harga dirinya setelah penyerangan Demak Bintara, kini harus kembali menelan pil pahit dengan dikukuhkannya Prabhu Brawinaya VI yang nyata-nyata bukan keturunan Makapahit, bahkan berdarah China.

Dan ketidak puasan ini meledak juga. Raden Girindrawardhana, bangsawan keturunan Majapahit yang berkedudukan di daerah Keling, Kedhiri, mengadakan pemberontakan. Peperangan kembali berkobar. Darah tertumpah kembali. Dan Majapahit, untuk kedua kalinya, berhasil diluluh lantakkan! Raden Girindrawardhana yang banyak mendapat dukungan dari gerilyawan sisa-sisa lasykar Majapahit lama, berhasil menjebol Majapahit baru boneka Demak Bintara. Prabhu Brawijaya VI atau Ma-Hwan, tewas!

Tahta Majapahit berhasil dikuasai oleh Raden Girindrawardhana. Dia memboyong segala tanda kebesaran Majapahit dari Trowulan ke Keling, Kedhiri. Disana, dia mengukuhkan diri sebagai Prabhu Brawijaya VII dan memaklumatkan bahwa Majapahit yang berkedudukan di Kedhiri sekarang, telah bebas dari dominasi Demak Bintara!

Mendengar kabar tersebut, pemerintahan Demak Bintara tidak tinggal diam. Pasukan dalam jumlah besar dikirim ke Kedhiri. Peperangan kembali pecah! Dan lagi, darah membanjiri bumi pertiwi. Pasukan Demak yang dipimpin langsung oleh Sunan Kudus ini, mendapat perlawanan dahsyat! Kedhiri, sulit ditaklukkan! Begitu sulitnya menjebol Kedhiri, mengingatkan penyerangan Demak ke Trowulan kala itu.

Namun, pelahan, pasukan Kedhiri berhasil ditundukkan. Prabhu Brawijaya VII atau Raden Girindrawardhana gugur dimedan laga!

(Hal inilah yang diekspose besar-besaran oleh kaum Putihan. Sehingga muncul pendapat bahwa Demak bukannya menghancurkan Majapahit, namun menyerang Raden Girindrawardhana yang lebih dahulu menghancurkan Majapahit. Padahal faktanya, baik penyerangan kepada Prabhu Brawijaya V maupun Raden Girindrawardhana, semuanya dilakukan oleh pasukan Demak Bintara : Damar Shashangka).

Majapahit kembali dibawah kendali Demak Bintara. Dan diiangkatlah pejabat baru sebagai Raja bawahan yang memegang tampuk pemerintaan Mahapahit dengan gelar Prabhu Brawijaya VIII.

Majapahit semakin suram. Pamornya semakin redup. Masyarakat Jawa sudah tidak lagi memandang Majapahit boneka ini. Dan pada pemerintahan Prabhu Brawijaya IX, Majapahit benar-benar colaps. Pada akhirnya, Majapahit lantas masuk wilayah kekuasaan Kadipaten Terung, Sidoarjo ( +/- 1500 M).

Pewaris Tahta Sah.

Prabhu Brawijaya V atau Raden Kertabhumi mempunyai seorang permaisuri yang berasal dari negeri Champa ( Kamboja Selatan)., bernama Dewi Anarawati. Permaisuri beliau ini beragama Islam. Dia adalah adik ipar Syeh Ibrahim As-Samarqand yang terkenal di Jawa dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. ( makamnya berada di Tuban sekarang : Damar Shashangka).

Dewi Anarawati ini adalah bibi dari Sunan Ampel atau Raden Ali Rahmad atau Bong Swie Hoo, pendiri Dewan Wali Sangha. Raden Ali Rahmad adalah putra Syeh Ibrohim Smorokondi. Raden Ali Rahmad juga adalah menantu Adipati Tuban, Adipati Wilwatikta.

Adipati Wilwatikta, mempunyai dua orang putra-putri, yang sulung dinikahi oleh Raden Ali Rahmad atau Sunan Ampel dan kelak terkenal dengan sebutan Nyi Ageng Ampel, sedangkan yang bungsu bernama Arya Teja. Arya Teja menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Adipati Tuban dengan gelar, Adipati Arya Teja.

Adipati Arya Teja inilah ayahanda Raden Sahid dan Dewi Rasawulan. Kelak, Raden Sahid terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga tidak berminat menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai seorang Adipati. Tahta Tuban diserahkan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasawulan.

Raden Jaka Supa adalah keturunan Empu keraton Majapahit,yaitu Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu. Raden Jaka Supa adalah arsitek keris Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten yang terkenal itu.

Sesungguhnya, keris Kyai Naga Sasra maupun Kyai Sabuk Inten, adalah sebuah simbol semata. Naga Sasra berasal dari bahasa sanskerta Nagha Sahasrara yang berarti Seribu Naga. Ini melambangkan banyaknya kekuatan-kekuatan laten Majapahit yang masih memiliki kekuatan militer dan masih memiliki pengaruh besar dipelosok Nusantara.

Sedangkan Sabuk Inten berarti Ikat Pinggang Intan yang melambangkan para investor ekonomi lokal maupun mancanegara sebagai sumber keuangan yang sangat menentukan perputaran roda perekonomian negara.

Raden Jaka Supa bukan orang sembarangan. Ayahandanya, Ki Pitrang atau Ki Supa Mandrangi, sangat berpengaruh didalam negeri Majapahit dan mancanegara waktu Majapahit masih berdiri. Pekerjaannya sebagai penyedia persenjataan militer negara, menjadikan Ki Pitrang banyak memiliki relasi.

Apabila anda pernah dengar sebuah pedang kuno yang menjadi kebanggaan Dr. Sun Yat Sen, pendiri Taiwan yang bernama Pit-Kang, sesungguhnya pedang tersebut adalah hasil tempaan Ki Pitrang, sehingga namanya pun masih disebut Pitrang walaupun dalam logat China. Pedang ini masih disimpan di Taiwan. Pedang tersebut adalah hadiah Raja Majapahit kepada Kaisar Tiongkok. Dan tidak tahu bagaimana ceritanya, pedang kuno yang berasal dari Majapahit tersebut bisa dibawa lari oleh Dr.Sun Yat Sen ke Taiwan setelah Tiongkok berhasil dikuasai kaum komunis.

Kebesaran nama Ki Pitrang inilah, menjadikan Raden Jaka Supa, sebagai anak laki-laki satu-satunya dari istri yang berasal dari Majapahit ( seorang lagi, istri Ki Pitrang berasal dari Blambangan. Dari istri Blambangan ini, beliau mempunyai seorang putra bernama Jaka Sura, yang meninggal sewaktu berusia belia. Praktis, putra Ki Pitrang tinggal Raden Jaka Supa. : Damar Shashangka.), sangat disegani. Para sisa-sisa bangsawan Majapahit, yang masih memiliki pengaruh dalam bidang ekonomi maupun militer dan masih banyak tersebar di beberapa pelosok Nusantara serta yang disimbolkan dengan Keris Kyai Naga Sasra, ditambah para investor asing yang disimbolkan dengan Keris Kyai Sabuk Inten, sangat-sangat menghormati Raden Jaka Supa.

Sosok Jaka Supa sangat dibutuhkan pihak pemerintahan Demak Bintara. Ditambah kehadiran Sunan Kalijaga, yang juga sangat disegani oleh berbagai kalangan lintas agama di wilayah bekas kerajaan Majapahit, maka seolah-olah, dua orang ini adalah kunci keberlangsungan pemerintahan Demak Bintara!

Sunan Kalijaga, demi mengingatkan Sultan Demak, memerintahkan Raden Jaka Supa membuat dua buah keris, yaitu Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten. Keduanya harus diserahkan kepada Sultan Demak, sebagai benda simbolik untuk mengingatkan Sultan Demak, bahwa tanpa dukungan sisa-sisa bangsawan Majapahit serta tanpa dipermudah masuknya investor mancanegara ke wilayah Demak Bintara, dapat dipastikan Demak tidak akan berumur lama. Dengan bersatunya Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten tersebut, bisa dipastikan Demak akan berdiri tegak sebagai kerajaan besar pengganti Majapahit! (Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, kedua benda simbolik ini di anggap sangat-sangat keramat oleh masyarakat Jawa hinggai sekarang. Dan timbul kepercayaan, pemerintahan akan kuat jika seorang penguasa memiliki Kyai Naga Sasra dan Kyai Sabuk Inten sekaligus. : Damar Shashangka.)

Kembali pada Prabhu Brawijaya V yang menikahi Putri Champa, Dewi Anarawati. Dari pernikahan tersebut, lahirlah tiga orang putra-putri. Yang sulung seorang putri ( sampai sekarang saya belum tahu namanya : Damar Shashangka ), dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa wilayah Pengging, daerah sekitar Surakarta sekarang. Yang kedua, Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura. Dan yang ketiga Raden Jaka Gugur.

Kelak Raden Jaka Gugur inilah yang dikenal dengan nama Sunan Lawu, penguasa mistik Gunung Lawu. Keberadaannya di Gunung Lawu, disalah pahami oleh warga sekitar sebagai Prabhu Brawijaya V sendiri. ( Maklum, sosok Raja pada masa itu hanya dikenal nama besarnya semata. Sosok aslinya, bagi masyarakat pedesaan, sama sekali tidak diketahui karena sulit bertemu langsung. Tidak ada media massa pada waktu itu seperti jaman sekarang, sehingga wajah Prabhu Brawijaya V, terbatas hanya kalangan bangsawan saja yang bisa mengenalinya. Oleh karena itu, kehadiran Raden Jaka Gugur di lereng Gunung Lawu, disalah pahami sebagai Prabhu Brawijaya V, bahkan sampai sekarang. : Damar Shashangka ).

Dan Prabhu Brawijaya V, tetap ada di Trowulan hingga beliau wafat. Prabhu Brawijaya V tidak pernah kemana-mana. Semenjak dari Banyuwangi hingga jatuh sakit dan wafat, beliau ada di Trowulan. Sunan Kalijaga lah yang terus mendampingi beliau hingga kewafatan beliau.

Dari pernikahan Adipati Handayaningrat IV dengan putri sulung Prabhu Brawijaya V, lahirlah dua orang putra. Pertama Raden Kebo Kanigara dan yang kedua Raden Kebo Kenanga.

Raden Kebo Kanigara lahir pada tahun 1472 Masehi. Menyusul setahun kemudian, Raden Kebo Kenanga lahir ( tahun 1473 M ). Jadi sewaktu Majapahit dihancurkan oleh Demak Bintara pada tahun 1478 Masehi, Raden Kebo Kanigara masih berusia enam tahun, dan Raden Kebo Kenanga masih berusia lima tahun.

Menginjak usia dua puluh tahun, Raden Kebo Kanigara pergi meninggalkan Pengging. Beliau memutuskan menjadi seorang Vanaprastha atau pertapa dalam usia muda. Beliau melakukan pertapaan di daerah lereng Gunung Merapi. Tempat dimana beliau pernah bertapa, sekarang terkenal dengan sebutan Desa Turgo, yang berasal dari gabungan dua suku kata AnggenTUR RaGA yang artinya MENGGEMBLENG DIRI.

Petilasan bekas beliau bertapa, kini berubah menjadi makam yang banyak diziarahi oleh masyarakat Jawa. Padahal, Raden Kebo Kanigara beragama Shiva Buddha, dan apabila wafat, tidak mungkin dikebumikan, namun di kremasi atau di Aben.

Sejujurnya, jenasah Raden Kebo Kanigara hilang raib karena kekuatan tapa brata-nya yang sangat keras. Dan tempat yang dikenal sebagai makam Raden Kebo Kanigara sekarang, sebenarnya hanyalah salah satu bekas tempat beliau bersemadi.

Putra bungsu Adipati Handayaningrat IV, yaitu Raden Kebo Kenanga, dalam usia dua puluh tahun, setahun semenjak kepergian kakaknya, harus kehilangan ramandanya. Adipati Handayaningrat IV wafat. Dan seharusnya, yang berhak menggantikan kedudukan beliau adalah Raden Kebo Kanigara. Karena sang sulung telah pergi bertapa, maka si bungsu, Raden Keno Kenanga terpaksa menggantikannya. Dan Raden Kebo Kenanga lantas dikenal dengan gelar KI AGENG PENGGING.

Dalam usia relatif muda, Ki Ageng Pengging sangat terkenal kedalaman spiritualitasnya. Dalam garis keturunannya, sebenarnya mengalir darah pewaris sah tahta Majapahit. Karena nenek beliau, yaitu Dewi Anarawati, telah diangkat sebagai permaisuri. Sehingga jelas disini, manakala Prabhu Brawijaya V kelak lengser keprabhon atau wafat, yang berhak menggantikan seharusnya adalah putri sulung beliau yang dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV. Otomatis, apabila putri sulung istri Adipati Handayaningrat IV ini kelak lengser keprabhon atau wafat, maka yang berhak menggantikannya adalah putranya, yaitu Raden Kebo Kanigara. Karena seperti telah diceritakan diatas, Raden Kebo Kanigara tidak berminat kepada tahta, maka Raden Keno Kenanga atau Ki Ageng Pengging yang berhak menggantikannya. Jika ditilik dari sini, sesungguhnya pewaris tahta Majapahit seharusnya Ki Ageng Pengging, bukan Raden Patah!!

Seluruh masyarakat Majapahit tahu akan hal ini. Tahu siapa yang seharusnya berhak memegang tahta. Sehingga diam-diam, pengaruh keturunan Pengging masih terasa sangat besar di wilayah Demak Bintara. Bagi pemerintahan Demak, keturunan Pengging adalah bahaya laten! Praktis pemerintah Demak Bintara secara diam-diam memasang pasukan mata-mata khusus di Pengging. Gerak-gerik Ki Ageng Pengging, tak pernah lepas dari pengamatan Sultan Demak dan Dewan Wali Sangha.

Sesungguhnya jika Ki Ageng Pengging mau, dia bisa melakukan konsolidasi kekuatan sisa-sisa Majapahit. Tapi, seperti sifat kakaknya, Ki Ageng Pengging sama sekali tidak mempunyai ambisi politik seperti itu. Malahan beliau lebih suka mendalami spiritualitas.

Para prajurid Pengging sendiri sangat merasakan akan hal itu. Kegiatan pelatihan militer, dirasa jauh berkurang semenjak Ki Ageng Pengging menggantikan ayahandanya. Malahan, tempat-tempat suci lebih bergairah dan hidup semenjak beliau berkuasa.

Ki Ageng Pengging tenggelam dalam spiritualitas. Setiap waktunya senantiasa beliau manfaatkan untuk peningkatan Kesadaran Atma. Pengging sangat damai. Penuh nuansa religius.

Namun hal itu tak berlangsung lama. Manakala Ki Ageng Pengging berkenalan dengan seorang ulama Islam yang dikenal berseberangan dengan Dewan Wali Sangha yaitu Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar, Pengging mulai memanas!

Ki Ageng Pengging Bag 2.

oleh : Damar Sasangka.

BAGIAN : 2

Walaupun masih belia, kedalaman spiritualitas Ki Ageng Pengging tidak bisa diragukan lagi. Pencapaian spiritual-nya, sampai pada kondisi MATI SAJERONING URIP, URIP SAJERONING PATI ( MATI DIDALAM HIDUP, HIDUP DIDALAM KEMATIAN). Beliau mampu dalam beberapa hari, bermeditasi tanpa bernafas. Raga beliau mampu menyerap Praana ( oksigen ) melalui seluruh pori-pori tubuh tanpa menggunakan pergerakan paru-paru.

Bila tidak jeli, mereka yang melihat kondisi Ki Ageng Pengging sewaktu bermeditasi, pasti akan menyangka beliau meninggal. Namun bagi yang benar-benar jeli, mereka akan tahu, jantung beliau masih tetap berdetak, sangat-sangat halus. Dan darah beliau masih tetap mengalir, walau dalam percepatan yang sangat-sangat halus.

…...Ndan yatika sinangguh mamyaken praana sangdhila jati ngarannya, yeku puujaajaati ngarannya, sembahyang alit, yapwan mangkana tiksna deningasamadhi, wyakta hilang ikang waayu ganal, mati lina ri sangkanya, apan tan cinetana dening aatmaa, nahan maarga kunyci rahasya ngarannya. ( Tattwa Jnyaana : 62 )

"...Itulah yang disebut memuja Praana sangdhila jaati, yaitu Sejatinya Puja, sembahyangnya Suksma. Bila sudah demikian samadhi-nya sangat-sangat tajam, benar-benar hilangnya nafas yang kasar, mati lenyap keasalnya. Kesadaran suksma telah melebur ke Kesadaran Atma. Inilah kunci kesempurnaan. ( Tattwa Jnyaana : 62)

Ki Ageng Pengging telah mencapai tahap peleburan ini. Sesuai dengan yang diuraikan dalam Rontal Tattwa Jnyaana. Bila beliau mau, beliau bisa meninggalkan badan kasarnya, mati, sesuai dengan keinginannya sendiri.

Begitu beliau diangkat sebagai penguasa Pengging pengganti ayahandanya, dalam usia belia, beliau menikah. Seorang gadis dari daerah Tingkir, masih adik kandung Ki Ageng Tingkir, beliau persunting.

Pengging benar-benar damai. Jauh dari hiruk pikuk perpolitikan, Jauh dari pertikaian-pertikaian. Sunan Kalijaga-pun, sering berkunjung ke Pengging bersama beberapa santri beliau.

Dari Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pengging senantiasa mendapat petuah-petuah yang sangat berharga. Walaupun Sunan Kalijaga beragama Islam dan Ki Ageng Pengging beragama Shiva Buddha, kedekatan hubungan mereka sudah tidak bisa digambarkan lagi. Secara khusus, Ki Ageng Pengging menyediakan musholla di kompleks Dalem Agung beliau. Ini diperuntukkan bagi sahabat-sahabat beliau yang beragama Islam.

Dari sahabat-sahabat Islam beliau inilah, Ki Ageng Pengging tahu akan sosok Syeh Lemah Abang atau Syeh Siti Jenar. Sosok ulama yang berseberangan dengan Dewan Wali Sangha.

Beberapakali dalam meditasinya, beliau mencoba menghubungi Syeh Lemah Abang. Dan Ki Ageng Pengging tersenyum puas manakala salam beliau senantiasa dijawab oleh Syeh Lemah Abang dengan senyuman yang luar biasa damainya.

Ki Ageng Pengging tahu, Syeh Lemah Abang bukan manusia sembarangan. Beberapakali pula, mereka bertemu didalam alam meditasi. Ki Ageng Pengging mencium kaki Syeh Lemah Abang dengan penuh hormat. Dan Syeh Lemah Abang senantiasa mengusap-usap kepala Ki Ageng Pengging dengan penuh kasih.

Sunan Kalijaga tahu akan semua itu. Dan beliau tersenyum bangga setiap kali dalam taffakur-nya, melihat Syeh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging senantiasa bertemu, walau dalam alam lain. Walau tidak dialam nyata.

Dan manakala, sosok Syeh Lemah Abang mendadak berkunjung ke Pengging, betapa bahagianya Ki Ageng Pengging. Walau belum pernah bertemu secara fisik, Ki Ageng Pengging dan Syeh Lemah Abang, sudah sedemikian dekatnya. Begitu Syeh Lemah Abang hadir, Ki Ageng Pengging langsung bersujud didepan beliau. Mencium kaki beliau. Penuh hormat dan sangat-sangat bahagia.

Pernah selama tiga hari tiga malam, keduanya meluangkan waktu untuk berdiskusi tentang intisari spiritualitas. Tidak hanya sekedar berdiskusi, keduanyapun masuk kekedalaman batin masing-masing. Dan disana, Syeh Lemah Abang, bersorak gembira begitu melihat Ki Ageng Pengging, dibawah awan-awan mind yang tenang, tengah ada dibawah beliau, tidak terlampau jauh. Dan disana, Ki Ageng Pengging mencakupkan kedua tangannya didepan dada, menyembah, sembari memandang Syeh Lemah Abang dengan senyum kedamaian.

Karena seringnya berkunjung ke Pengging, Syeh Lemah Abang akhirnya dipertemukan dengan sahabat-sahabat Ki Ageng Pengging. Beberapa bangsawan muda keturunan Majapahit yang masing-masing juga memiliki wilayah kekuasaan. Mereka antara lain, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Ketiganya bahkan lantas tertarik memeluk Islam tanpa paksaan. Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, kelak terkenal dengan gelar Sunan Butuh dan Sunan Ngerang.

Namun diam-diam, mata-mata Demak Bintara mengetahui semua itu. Laporan segera masuk ke hadapan Sultan Demak. Dan Sultan Demak meneruskan informasi itu ke Dewan Wali Sangha.

Sebuah informasi yang sangat mengejutkan bagi Dewan Wali Sangha. Dan Dewan Wali memerintahkan Sultan Demak agar semakin menungkatkan kegiatan mata-mata di wilayah Pengging. Sultan Demak merespon perintah tersebut, Jumlah pasukan mata-mata semakin ditambah di wilayah Pengging. Demak semakin waspada. Karena bila Pengging bergerak, dapat dipastikan, dukungan dari berbagai daerah akan mudah diraih. Apalagi ditambah sosok Syeh Lemah Abang dan Sunan Kalijaga disana, Pengging akan berubah menjadi kekuatan yang sangat menakutkan. Dan hal ini, adalah ancaman serius bagi keberlangsungan pemerintahan Demak Bintara.

Padahal, ketakutan Demak Bintara hanyalah ketakutan semu. Karena di Pengging, tidak ada pergerakan apapun. Ki Ageng Pengging tidak mempunyai rencana apapun untuk berbuat makar. Demak Bintara, hanya ketakutan sendiri.

Sunan Kalijaga membaca gelagat tersebut. Beliau memperingatkan Ki Ageng Pengging untuk waspada. Namun, Ki Ageng Pengging bagaimamapun juga masih berusia belia. Beliau kadang masih kurang perhitungan. Beliau sangat mencintai spiritualitas. Dan kecintaannya ini, membuat beliau tanpa perhitungan yang matang, menawarkan wilayah Pengging untuk dipakai sebagai tempat kepindahan Pesantren Krendhasawa milik Syeh Lemah Abang.

Syeh Lemah Abang memang mempunyai rencana untuk memindahkan lokasi pesantrennya yang ada di Cirebon. Hal ini berkaitan dengan situasi politik Cirebon yang semakin memanas akibat terus-terusan menjalankan agresi militer ke Pajajaran. Cirebon sudah tidak kondusif lagi bagi peningkatan Kesadaran. Sudah sangat-sangat berubah. Sudah tidak sama lagi dengan Cirebon dimasa Syeh Dzatul Kahfi masih hidup.

Namun, Sunan Kalijaga melarang Syeh Lemah Abang menerima tawaran itu. Karena bila Syeh Lemah Abang menerimanya, pemerintah Demak Bintara akan menuduh beliau bersekongkol dengan Ki Ageng Pengging hendak mengadakan gerakan subversif. Syeh Lemah Abang memang tidak begitu memahami peta perpolitikan. Dan Sunan Kalijaga yang lebih paham. Oleh karenanya, Syeh Lemah Abang menolak tawaran Ki Ageng Pengging. Beliau memutuskan untuk tetap bertahan di Cirebon.

Dan, kabar bahwasanya Ki Ageng Pengging menawarkan wilayah Pengging sebagai tempat kepindahan pesantren Krendhasawa, diartikan lain oleh Pemerintahan Demak. Sultan Demak yang sudah terlanjur ketakutan, menyimpulkan bahwa memang tengah terjadi gerakan rahasia antara Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang.

Dan Dewan Walu Sangha-pun bertindak. Sunan Giri Kedhaton, mengeluarkan fatwa bahwa Syeh Lemah Abang adalah musuh kekhilafahan Islam di Jawa, dan tugas Sultan Demak dan Sultan Cirebon ( Sunan Gunung Jati ) untuk menangkap Syeh Lemah Abang. ( Cerita selengkapnya, baca catatan saya SEKELUMIT KISAH SUNAN KAJENAR ATAU SYEH SITI JENAR : Damar Shashangka ).

Terdengarlah kabar, Syeh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati oleh Pemerintah Demak Bintara dengan tuduhan MENGAJARKAN AJARAN SESAT dan HENDAK MENGADAKAN MAKAR! Tak urung, Lontang Asmara, Sunan Panggung dan murid-murid Syeh Lemah Abang yang lain, ikut dijadikan sasaran pemerintah!

Kabar ini sampai juga ke Pengging. Ki Ageng Pengging berkabung. Begitu juga Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh. Untung, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Butuh, lepas dari daftar buruan pemerintah Demak. Tidak seperti Lontang Asmara dan Sunan Panggung.

Ki Ageng Pengging benar-benar merasa kehilangan. Dan beliau semakin menyadari, bagaimana posisinya di mata Sultan Demak. Dirinya dipandang sebagai duri dalam daging. Musuh dalam selimut. Tak urung, setelah Syeh Lemah Abang pasti akan tiba giliran beliau menjadi target untuk disingkirkan!

Ki Ageng Pengging telah siap untuk itu. Siap menunggu giliran untuk disingkirkan. Bukan untuk melakukan perlawanan bersenjata, namun siap menerima ajal jika memang Sultan Demak menghendakinya. Ki Ageng Pengging sangat merindui sosok Syeh Lemah Abang. Apabila Syeh Lemah Abang pergi dari dunia maya ini, maka Ki Ageng Pengging berniat untuk mengikutinya. Apalah arti dunia bagi Ki Ageng Pengging. Dunia sama sekali sudah tidak menarik minat beliau.

Beberapa bulan setelah wafatnya Syeh Lemah Abang, Ki Ageng Pengging mengirimkan surat kepada Sultan Demak. Isi surat tersebut sangat mengejutkan. Ki Ageng Pengging befmaksud mengakhiri pemerintahan Pengging. Dan beliau meminta kepada Sultan Demak agar memasukkan wilayah Pengging ke kadipaten terdekat, sesuai kebijaksanaan Sultan Demak. Bahkan, Ki Ageng Pengging meminta agar Sultan Demak melepas segala jabatan politik beliau.

Surat ini menggemparkan Demak Bintara. Begitu menerima surat tersebut, Sultan Demak mengadakan sidang mendadak dengan para petinggi Kesultanan. Sidang berjalan a lot. Dan hasil keputusan sidang, menyetujui permintaan Ki Ageng Pengging, walaupun sikap waspada tetap harus dijaga demi menghadapi maksud tersembunyi dari permintaan tersebut.

Keesokan harinya, Sultan Demak memerintahkan Patih Wanasalam, Patih Agung Kesultanan Demak Bintara, untuk berangkat menuju Pengging, menemui Ki Ageng Pengging. Patih Wanasalam ditugaskan untuk membacakan surat keputusan Sultan Demak dihadapan Ki Ageng Pengging sekaligus memenuhi keinginan Ki Ageng Pengging, mengadakan pelepasan jabatan. Disamping itu pula, Ki Wanasalam mendapat pesan khusus agar terus mencari informasi secara diam-diam tentang maksud sesungguhnya dari keinginan Ki Ageng Pengging.

Rombongan Patih Agung Demak Bintara ini, sampai juga di wilayah Pengging. Kedatangan rombongan pasukan Kesultanan yang serba mendadak ini, menggemparkan Pengging. Para Prajurid Pengging, tanpa di komando, segera mempersiapkan diri untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Pengging mendadak tegang!!

Rombongan dari Demak ini disambut oleh Ki Ageng Pengging. Kedatangannya yang mendadak, tanpa pemberitahuan, memang disengaja agar bisa melihat kondisi Pengging yang sesungguhnya.

Seluruh pasukan Demak diberi tempat istirahat tersendiri. Ki Patih Wanasalam, diberikan tempat khusus. Perjalanan yang agak jauh, membuat Sang Patih kecapaian. Setelah disambut oleh Ki Ageng Pengging, Ki Patih Wanasalam, diberikan waktu untuk beristirahat sejenak.

Manakala dirasa sudah pulih tenaganya, Ki Wanasalam mengutus seorang prajurid agar menghadap Ki Ageng Pengging. Ki Ageng diminta bersiap sedia karena Ki Wanasalam hendak menyampaikan amanat Sultan Demak. Dan prajurid yang diutus, kembali dengan menyampaikan pesan dari Ki Ageng agar Ki Patih berkenan menuju Bale Pisowanan.

Ki Wanasalam, diiringi beberapa pengawal khusus, berangkat terlebih dahulu menuju Bale Pisowanan. Setelah Ki Patih sudah tiba disana, baru Ki Ageng Pengging menyusul. Hal ini adalah etika kerajaan Jawa, dimana seorang pejabat besar, harus terlebih dahulu ada di Bale Pisowanan, baru pejabat dibawahnya datang menghadap.

Setelah keduanya berada di Bale Pisowanan, Ki Ageng Pengging menyatakan kesiapannya mendengarkan amanat Sultan Demak Bintara. Ki Wanasalam segera menjelaskan, bahwa surat Ki Ageng telah diterima oleh Sultan Demak. Dan Sultan Demak telah mengadakan sidang khusus. Hasil keputusan sidang, telah tertulis didalam gulungan Surat Keputusan Sultan yang kini dipegang oleh Ki Wanasalam. Sebelum dibacakan, Ki Wanasalam menanyakan kesungguhan isi surat yang dikirimkan Ki Ageng Pengging. Lantas rencana apa yang hendak dilakukan Ki Ageng apabila keinginannya dikabulkan oleh Sultan Demak ?

Ki Ageng menghaturkan sembah sebelum menjawab, lantas beliau menuturkan bahwasanya apa yang telah beliau tulis dalam surat yang telah dikirimkan ke hadapan Sultan Demak memang benar-benar telah menjadi niatan dan kebulatan tekad beliau. Manakala keinginannya yang tertulis didalam surat tersebut dikabulkan, maka beliau hanya meminta agar pajak wilayah Pengging tidak dinaikkan serta memberikan tanah kepada Ki Ageng Pengging cukup beberapa jung ( hektar ) saja, sekedar sebagai tempat tinggal dan lahan bersawah.

Ki Wanasalam belum puas, dia terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang penuh selidik. Tentang hubungannya dengan Sunan Kalijaga, tentang nasib para prajurid Pengging kelak dikemudian hari, tentang jumlah perenjataan Pengging, tentang perekonomian Pengging dan tentang hubungan Ki Ageng Pengging dengan Syeh Lemah Abang dan para murid-muridnya. Ki Wanasalam sengaja ingin mendengar langsung jawaban dari Ki Ageng Pengging, demi untuk mencari-cari hal-hal yang janggal dari kata-kata beliau.

Namun, tidak satupun jawaban yang diberikan oleh Ki Ageng Pengging nampak ada kejanggalan disana. Ki Wanasalam tetap belum sepenuhnya percaya, dan pada akhirnya, Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan simbolik. Pertanyaan yang sudah dipesankan oleh Sultan Demak. Pertanyaannya adalah sebagai berikut :

"Mana yang dipilih, ATAS atau BAWAH. KOSONG atau ISI?"

Ki Ageng Pengging tersenyum. Sejenak beliau terdiam. Lantas memberikan jawaban :

"Manakah yang hendak saya pilih ? Tidak ada. Sebab baik ATAS, BAWAH, KOSONG maupun ISI. Semuanya adalah milik saya."

Ki Wanasalam terkejut mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Sekali lagi Ki Wanasalam mengajukan pertanyaan serupa. Dan kembali Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sama, dan beliau tambahi :

"Janganlah salah mengerti. AKU ini adalah segalanya. AKU ada dimana-mana. AKU telah melampaui segalanya. Jadi, manalagi yang bisa AKU pilih ? Karena semuanya adalah AKU."

Ki Wanasalam tersenyum dan berkata :

"Tuluskah jawaban Ki Ageng ? Tidak adakah maksud lain ?"

Ki Ageng Pengging tersenyum. Dia tidak menjawab lagi. Jawaban Ki Ageng Pengging sangatlah tulus. Namun Ki Wanasalam tetap tidak bisa menangkap ketulusan itu. Dia masih curiga. Curiga jikalau jawaban itu bernilai ambigu. Tidak murni spiritual, namun tersirat juga maksud Ki Ageng Pengging mempunyai rencana merebut tahta Demak Bintara. Pikiran Ki Wanasalam yang sudah terpola dengan kecurigaan, tidak bisa melihat ketulusan kata-kata Ki Ageng Pengging.

Melihat orang yang pikirannya seliar ini, maka percuma Ki Ageng Pengging mengulangi kata-katanya. Beliau lantas memilih diam dan tersenyum. Senyum geli seseorang yang melihat keserakahan tampak didepan matanya. Keserakahan manusia yang terobsesi keduniawian. Dan lagi lagi, senyum ini diartikan lain oleh pikiran Ki Wanasalam. Pikiran yang sudah penuh dengan setan-setan liar!

Jika Ki Wanasalam sadar, dia seharusnya malu. Malu kepada sosok pemuda yang umurnya terpaut jauh dengannya, namun batinnya lebih tulus daripada batinnya sendiri.

Dan pada akhirnya, Ki Wanasalam menyampaikan amanat Sultan Demak. Dia mengeluarkan surat keputusan Sultan Demak. Sembari berdiri, dia membacakan surat keputusan tersebut.

Surat tersebut berisi, mulai semenjak hari yang tertanda dalam surat keputusan Sultan Demak, Ki Ageng Pengging dilepas dari jabatannya sebagai Adipati Pengging. Dan, Pengging bukan lagi wilayah tersendiri. Pengging akan dimasukkan ke wilayah terdekat. Untuk sementara, menunggu keputusan lebih lanjut, Ki Ageng Pengging harus tetap memimpin Pengging dan tetap menjaga keamanan Pengging.

Gemparlah seluruh prajurid Pengging mendengar surat keputusan Sultan Demak tersebut. Sedang, Ki Ageng Pengging malah tersenyum puas. Karena dengan lepasnya jabatan sebagai Adipati dari pundaknya, maka setidaknya, rasa ketidak terimaan beliau akan tahta yang direbut Raden Patah, yang masih tersisa sedikit direlung hatinya, bisa dimatikan ! Namun, tidak begitu bagi para prajurid Pengging. Banyak yang menahan amarah ketidak terimaan !

Selesai membacakan surat keputusan Sultan Demak, Ki Patih Wanasalam, menggulung surat tersebut, menyimpannya kembali dan duduk. Lantas Ki Patih berkata :

"Mulai hari ditetapkannya surat keputusan ini, ananda Ki Ageng Pengging sudah bukan lagi seorang Adipati. Dan atas perintah Kangjeng Sultan Demak, ananda harus menghadap ke Demak demi menunjukkan kesetiaan ananda."

Ki Ageng menjawab :

"Ki Patih, apa perlunya hamba menghadap ke Demak ? Toh sekarang saya bukan siapa-siapa lagi. Sudahlah, saya sekarang hanyalah orang Sudra, wong cilik. Kangjeng Sultan Demak seyogyanya jangan lagi mencurigai hamba."

Ki Patih berkata tegas :

"Ini adalah perintah seorang Sultan. Dan beliau memberi waktu bagi ananda tiga tahun kedepan."

Dan, upacara pelepasan jabatan-pun segera dilakukan. Setelah upacara usai, Ki Wanasalam kembali ke tempat istirahatnya. Dan Ki Ageng Pengging, kembali ke Dalem Agung.

Berita dilepasnya jabatan Adipati dari pundak Ki Ageng Pengging, segera menyebar ke seluruh penjuru Pengging. Menyebar dari mulut ke mulut. Ketidak puasan pun terdengar. Banyak yang tidak bisa menerima akan hal tersebut.

Keesokan harinya, kembali Ki Wanasalam bertemu Ki Ageng Pengging untuk berpamitan.

Hari itu, Pengging gempar. Para Lurah Prajurid Pengging memohon menghadap kepada Ki Ageng Pengging demi untuk menanyakan maksud keputusan tersebut. Dan kepada para Lurah Prajurid Pengging, Ki Ageng mengiyakan keputusan beliau tersebut dan seluruh masyarakat Pengging diminta menerima kenyataan ini. Bagaikan menelan pil pahit para Lurah Prajurid mendengarnya. Ki Ageng Pengging lantas memberikan kepada mereka, untuk bergabung menjadi prajurid Kadipaten yang bakal dipasrahi wilayah Pengging kelak atau melepaskan jabatan sebagai prajurid dan bertani.

Para Lurah Prajurid segera mengumpulkan prajurid Pengging. Kepada mereka, para Lurah Prajurid menawarkan pilihan dari Ki Ageng Pengging. Dan sungguh tidak disangka, seluruh prajurid menyatakan hendak meletakkan senjata dan memilih menjadi petani biasa, mengikuti junjungan mereka, Ki Ageng Pengging!

Dan, di Demak, kabar dilepasnya jabatan Ki Ageng Pengging sebagai Adipati pun merebak pula. Ki Wanasalam sudah menyampaikan hasil dia diutus ke Pengging. Sultan Demak sedikit berlega hati. Namun manakala dia mendengar bahwasanya Ki Ageng Pengging tampak enggan untuk menghadap ke Demak, kecurigaannya kembali muncul.

Tinggal menunggu waktu. Jika sampai tiga tahun mendatang Ki Ageng Pengging tetap tidak menghadap ke Demak, maka tidak ada jalan lain, cucu Prabhu Brawijaya V itu, harus disingkirkan seperti halnya Syeh Lemah Abang!


Ki Ageng Pengging Bag 3.

oleh :Damar Sasangka.

Bagian : 3

Keputusan resmi dari pemerintahan Demak Bintara mengenai status wilayah Pengging tidak juga kunjung turun. Ki Ageng Pengging enggan mempertanyakan hal tersebut. Walaupun sesungguhnya, beliau sudah resmi tidak menjabat sebagai seorang Adipati, namun pada kenyataannya, beliaulah yang tetap harus mengelola Pengging dan menjaga kawasan tersebut agar senantiasa kondusif.

Tentu saja, statusnya yang bukan Adipati, mempersulit bagi beliau untuk mengeluarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru dalam urusan ketata negaraan. Pengging ibarat wilayah tanpa penguasa. Pengging stagnan dalam segala bidang. Hanya penarikan upeti dan penyaluran ke pemerintah pusat saja yang terus berjalan. Selain itu, Pengging sudah tidak berarti apa-apa lagi.

Dalam kemiliteran, Pengging sama sekali sudah lumpuh. Pengging adalah wilayah terbuka tanpa perlindungan. Untung, Pengging tetap terkendali.

Kehidupan para penduduk Pengging tetap bersahaja. Para bekas prajurid Pengging yang kini turun ke sawah dan tidak lagi mendapatkan gaji resmi, masih tetap siap sedia mengangkat senjata jika Ki Ageng memerintahkan. Pengging bagai wilayah tak bertuan.

Ki Ageng Tingkir, yang mendengar kabar tersebut, bertandang ke Pengging. Beliau menanyakan maksud keputusan Ki Ageng Pengging, adik iparnya. Dan Ki Ageng Pengging memberikan jawaban yang sejujurnya, bahwasanya ia sudah tidak mau lagi terlibat dengan urusan tetek bengek politik. Beliau lilo legowo, menerima, untuk sekedar menjadi wong cilik, asal hidup lebih tenang dan jauh dari keserakahan duniawi.

Namun, Ki Ageng Tingkir mengingatkan. Pada kenyataannya, kondisi yang dialami Ki Ageng Pengging sekarang jauh lebih sulit. Jelas, beliau bukan lagi Adipati. Namun tugas-tugas seorang Adipati masih harus beliau jalankan. Tanpa hak kewenangan mengeluarkan kebijaksanaan. Tanpa hak mempunyai kekuatan perlindungan wilayah. Tanpa hak gaji penuh dari hasil pajak. Sesungguhnya, Ki Ageng Pengging, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk lepas dari kegiatan perpolitikan. Pihak Demak rupa-rupanya sengaja membuat status Pengging menggantung seperti itu. Dan apakah kondisi seperti ini yang diinginkan ?

Ki Ageng Pengging terdiam. Dan Ki Ageng Tingkir menyarankan, apabila memang sudah mantap dengan keputusannya, seyogyanya, segera meminta kepada Sultan Demak untuk memberikan keputusan pasti mengenai Pengging. Dan itu berarti, Ki Ageng harus melayangkan surat ke pemerintah pusat. Atau kalau perlu, menghadap langsung Sultan Demak.

Dan Ki Ageng Pengging tampak enggan. Melihat keengganan di wajah adik iparnya, Ki Ageng Tingkir mengingatkan sekali lagi dengan nada agak keras :

"Jika memang dhimas masih menginginkan tahta, jangan setengah-setengah lagi. Ingat, kakang siap dibelakang dhimas!"

Dan Ki Ageng Tingkir mohon diri.

Dan itulah terakhir kali Ki Ageng Pengging melihat kakak iparnya. Dua bulan kemudian, Ki Ageng Tingkir wafat. Ki Ageng Tingkir sudah memeluk Islam. Manakala jenazah hendak dimandikan, Ki Ageng Pengging berbisik ditelinga kanan jenazah kakak iparnya :

"Kakang Tingkir, antinen sedhela maneh. Ingsun bakal nusul bebarengan nyabrang segara rahmat."

(Kakang Tingkir, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyusulmu untuk bersama-sama mengarungi lautan Kasih.)

Kelahiran Ki Mas Karebet.

Istri Ki Ageng Pengging, yang sudah mengandung beberapa waktu lalu, sudah saatnya melahirkan. Kelahiran putra pertama Ki Ageng Pengging ini disambut gemuruh suka cita rakyat Pengging. Upacara kelahiran-pun digelar sangat meriah. Beberapa Pandhita Shiva Buddha datang tanpa diundang demi untuk memberikan doa-doa keselamatan. Hadir pula Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang. Mereka yang beragama Shiva Buddha dan Islam, bercampur, bersuka ria menyambut kelahiran putra Ki Ageng.

Pertunjukan Wayang Beber ( wayang yang diceritakan dengan cara membentangkan gambar. Beber artinya Bentang. Wayang Beber artinya Wayang yang dibentangkan : Damar Shashangka. ) digelar hingga tujuh malam.

Ki Ageng Pengging, memberikan nama Ki Mas Karebet kepada putranya. Karebet adalah nama lain dari Wayang Beber. Wayang Karebet sama artinya dengan Wayang Beber. ( Kelak, Ki Mas Karebet terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Setelah berhasil menjadi Sultan Pajang, lantas bergelar Sultan Adiwijaya : Damar Shashangka. )

Pada malam ke tujuh, menjelang dini hari, manakala pertunjukan Wayang hamper usai, para tamu dikejutkan dengan jatuhnya seberkas cahaya dari langit menuju Dalem Agung. Cahaya yang sangat jelas itu meluncur dari atas langit, bergerak cepat, mengarah atap Dalem Agung dimana Ki Mas Karebet ada didalam sana. Dan Cahaya itu lenyap tepat setelah menyetuh atap. Para tamu geger!

Hampir semua para tamu yang masih terjaga, melihat cahaya itu. Yang tertidur cepat-cepat dibangunkan teman-teman mereka. Kejadian yang langka ini segera menyita perhatian semua yang tengah bersuka cita menyambut kelahiran Ki Mas Karebet. Semua tamu-pun sibuk memperkirakan, cahaya apa yang barusan terlihat. Sinarnya terang sedikit kebiru-biruan. Kepercayaan masyarakat Jawa menyebut cahaya itu ANDARU KILAT, atau cukup disebut NDARU. Suatu cahaya yang membawa `Wahyu Keprabhon' atau tanda bahwa dimana kediaman orang yang kejatuhan ANDARU KILAT, sudah bisa dipastikan, kelak akan menjadi Penguasa Agung. Menjadi seorang Raja Besar!

Para Pandhita segera memerintahkan untuk segera merakit sesajen sebagai sarana pelaksanaan sembahyang syukur . Hyang Widdhi Wasa, telah memberikan kepercayaan besar kepada keturunan Ki Ageng Pengging kelak, untuk menjadi Raja Tanah Jawa!

Menjelang pagi hari, begitu pertunjukan Wayang Beber usai, upacara persembahyangan pun digelar! Mantram-mantram Weda terlantun syahdu pagi-pagi buta. Semua tamu yang beragama Shiva Buddha, ikut serta melaksanakan persembahyangan. Dupa mengepul. Merebak mewangi kesegenap penjuru. Suara genta Sang Pandhita berdenting-denting mengiringi ucaran-ucaran mantra.

Duta Demak Bintara.

Tiga tahun sudah berlalu. Dan tiga tahun sudah Ki Ageng Pengging harus mengelola Pengging tanpa status yang jelas. Mas Karebet, tumbuh menjadi bayi yang sehat dan montog. Kulitnya yang putih bersih, tubuhnya yang mungil dan tawanya yang menggemaskan, sangat-sangat menghibur Ki Ageng Pengging beserta istri beliau. Kehidupan Ki Ageng Pengging benar-benar bahagia. Hyang Widdhi melimpahkan kedamaian cinta kasih dalam keluarga beliau.

Namun, lain lagi situasi di Demak Bintara. Tenggang waktu yang diberikan Sultan Demak kepada Ki Ageng Pengging, telah sampai kepada batasnya. Sultan Demak merasa perlu untuk mengambil tindakan tegas. Ki Ageng Pengging, telah dianggap `mbalelo' atau membangkang perintah Sultan!

Setelah menggelar siding dengan para pembesar Kesultanan. Sultan Demak segera mengirim utusan ke Giri Kedhaton, meminta restu Sunan Giri, pemimpin Dewan Wali Sangha, untuk memberi wewenang mengambil keputusan tegas kepada Ki Ageng Pengging. Dan, Dewan Wali merestuinya.

Pada hari yang dipilih, Sultan Demak mengutus Senapati Agung Demak Bintara, Sayyid Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus untuk menemui Ki Ageng Pengging. Perintah yang diberikan sangatlah tegas, yaitu memerintahkan Ki Ageng Pengging untuk menghadap ke Demak Bintara. Apabila tetap bersikukuh dengan keengganannya, maka Senapati Demak diberikan wewenang penuh untuk menyingkirkan Ki Ageng Pengging, yang sudah dianggap sebagai pembangkang!

Diiringi tujuh ratus prajurid pilihan Demak Bintara dengan persenjataan lengkap siap tempur, berangkatlah Sunan Kudus ke Pengging!

Tidak diceritakan dalam perjalanan, Sunan Kudus beserta prajurid pilihan Demak Bintara, akhirnya sampai diwilayah Pengging. Malam telah menjelang. Hal ini memang sudah direncanakan oleh Sunan Kudus, yaitu tiba di Pengging tepat malam hari. Setelah beristirahat sejenak, Sunan Kudus memerintahkan pasukan membagi empat kelompok. Masing-masing ditempatkan di keempat penjuru arah, mengepung Pengging! Seluruh prajurid segera bergerak menempati pos masing-masing. Pengging, dalam sekejap telah terkepung dari semua arah!

Namun, gerakan pasukan Demak ini diam-diam diketahui oleh beberapa masyarakat Pengging mantan prajurid. Secepatnya mereka menghubungi mantan Lurah Prajurid Pengging, melaporkan gerak pasukan tak dikenal yang terlihat telah mengepung wilayah Pengging! Mantan Lurah Pengging segera menghadap ke Dalem Agung.

Malam itu, Ki Ageng Pengging mendapat laporan dari mantan Lurah Prajurid Pengging, bahwasanya, wilayah Pengging, telah dikepung dari empat penjuru oleh sepasukan tak dikenal! Dan mantan Lurah Prajurid memperkirakan, mereka adalah pasukan dari Demak Bintara!

Mantan Lurah Prajurid memohon kepada Ki Ageng untuk memerintahkan sesuatu kepada mereka. Dan Ki Ageng memerintahkan agar tetap tenang. Beliau tidak mau ada pertumpahan darah. Yang diincar pasukan Demak adalah dirinya. Maka, Ki Ageng meyakinkan mereka, beliau akan menyelesaikan permasalahan ini secara damai. Namun, tidak ada salahnya para mantan prajurid Pengging disiagakan malam ini juga!

Mantan Lurah Pengging, mendengar jawaban Ki Ageng Pengging, segera bergegas mohon undur. Dengan menggunakan sandi suara burung malam tiruan, suara sandi prajurid Pengging dulu, mantan Lurah Pengging, memerintahkan beberapa orang yang kebetulan bersamanya untuk memberi peringatan tanda bahaya kepada segenap mantan prajurid yang kini tengah tertidur lelap dikediaman masing-masing!

Dari rumah kerumah, begitu mendengar bunyi sandi suara burung malam tiruan, para bekas prajurid Pengging terjaga! Kalaupun ada yg tidak terjaga saking lelapnya tertidur, istri maupun keluarga yang lain segera membangunkan mereka! Para mantan prajurid ini sudah terbiasa mendengar isyarat suara burung malam tiruan tersebut. Yaitu suara yang dibuat oleh beberapa prajurid untuk memperingatkan agar seluruh prajurid waspada dan siaga!

Disana-sini, diseluruh Pengging, para mantan prajurid seketika terbangunkan. Masing-masing segera mengenakan pakaian tempur dan mengambil senjata masing-masing yang sudah hampir tiga tahun tidak pernah mereka pergunakan lagi!

Kini, tinggal menunggu suara tersebut terdengar lagi. Jika kembali terdengar, maka pertanda, seluruh prajurid harus menempati pos mereka dahulu. Pos masing-masing. Namun, bunyi yang dinanti-nantikan, tidak juga kunjung terdengar. Para mantan prajurid Pengging, yang sudah siap sedia dirumah masing-masing, terjaga semalaman suntuk!!

(Inilah kejadian sesungguhnya yang terjadi waktu itu. Dalam Babad Tanah Jawa, hanya diceritakan, begitu Sunan Kudus dan bala tentara Demak tiba dipinggiran wilayah Pengging, mereka serta merta membunyikan gong Kyai Sima. Sima berarti Harimau. Dan bunyi gong tersebut menggema kesegenap wilayah Pengging pada malam hari itu juga, sehingga seluruh masyarakat Pengging tidak bisa tidur semalam suntuk karena ketakutan. Padahal yang dimaksud, bahwasanya kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak diwilayah Pengging, bagaikan seekor Harimau yang tengah mengincar mangsanya, yaitu Ki Ageng Pengging. Dan kedatangannya dimalam hari, sudah diketahui oleh para prajurid Pengging. Babad Tanah Jawa sendiri, ternyata juga mencoba merendahkan Pengging dengan cerita bernuansa mistis. : Damar Shashangka)

Dan, Sunan Kudus yang berpengalaman, juga telah menyadari bahwa kehadirannya beserta tentara Demak telah diketahui masyarakat Pengging. Seluruh pasukan Demak, melalui kurir-kurir khusus yang diutus dari pos ke pos lain, diperintahkan untuk siap tempur! Namun, dilarang menyerang dahulu apabila tidak diserang!

Seluruh Lurah Prajurid pemimpin pos, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat, setelah menerima pesan kurir, segera memerintahkan seluruh pasukan untuk siap tempur!! Busur dan anak panah telah terpasang! Senjata telah terhunus! Tinggal menunggu komando selanjutnya!!

Di Pihak Pengging, melihat gelagat pasukan asing yang dicurigai berasal dari Demak Bintara, ternyata juga mengambil sikap serupa!Para Lurah Prajurid Pengging, terus mengamati seluruh pasukan asing yang mengepung wilayah Pengging ini. Mereka memutuskan, tidak akan menyerang apabila mereka tidak diserang! Dan bunyi sandi suara burung malam tiruan, tidak juga segera terdengar lagi!!!

Kedua pihak, siap ditempat masing-masing. Tidak ada yang bergerak mendahului. Menanti perkembangan selanjutnya! Baik di pihak Demak maupun di pihak Pengging, semalam itu, suasana sangat mencekam!!

Menjelang pagi, Para Lurah Prajurid Pengging menemui Ki Ageng Pengging. Mereka meminta petunjuk selanjutnya. Dan Ki Ageng Pengging, mengutus seorang Lurah Prajurid beserta beberapa prajurid pilihan untuk menemui pemimpin pasukan yang mengepung wilayah beliau semenjak semalaman.

Seorang Lurah Prajurid Pengging, diiringi beberapa prajurid pilih tanding, segera menuju pos pasukan Demak terdekat. Mereka menemui Lurah Prajurid Demak yang kebetulan bertugas memimpin pos utara dan menyatakan ingin bertemu pemimpin pasukan Demak atas permintaan Ki Ageng Pengging. Lurah Pasukan Demak segera mengirim kurir ketempat mana Sunan Kudus berdiam diri. Sunan Kudus mengijinkan, dan Lurah Prajurid Pengging dengan pasukannya, diiringi beberapa pasukan Demak, segera menuju ke tempat Sunan Kudus. Lurah Prajurid Pengging, sekarang semakin yakin, bahwa pasukan yang tengah mengepung wilayah Pengging adalah benar-benar dari Demak Bintara!

Setelah bertemu muka dengan Sunan Kudus, Lurah Prajurid Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus diwilayah Pengging. Dan terang-terangan Sunan Kudus menjawab, dia diperintahkan oleh Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak!

Lurah Prajurid Pengging sedikit mengungkapkan ketidak senangannya dengan cara kedatangan pasukan Demak yang mengepung Pengging seperti itu. Seolah-olah, Pengging adalah wilayah pembangkang, pemberontak dan siap untuk dilumatkan!

Dan Sunan Kudus menjawab :

"Kalian hanya rakyat kecil. Ini urusan orang besar. Sudah jangan ikut campur. Antarkan aku menemui Ki Ageng Pengging!"

Walau dengan hati panas, Lurah Prajurid Pengging segera mengantarkan Sunan Kudus menemui Ki Ageng Pengging.

Pagi itu, Ki Ageng Pengging baru usai sembahyang. Masih tampak bunga segar terselip ditelinga kanannya. Lurah Prajurid Pengging yang diutus menemui pasukan Demak, menghadap. Dia melaporkan bahwa Sunan Kudus, Senapati Agung Demak Bintara, datang untuk bertemu dengan Ki Ageng Pengging pribadi.

Ki Ageng Pengging mempersilakan Senapati Agung Demak Bintara itu menemui beliau di Dalem Agung.

Sunan Kudus, diiringi beberapa prajurid Demak segera menuju Dalem Agung. Lantas, setelah dipersilakan masuk oleh Ki Ageng Pengging, Sunan Kudus-pun masuk ke bilik dalam. Prajurid pengiring dari Demak, menunggu diluar.

Ki Ageng Pengging, memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan hidangan bagi Sunan Kudus dan beberapa prajurid Demak yang tengah berjaga-jaga diluar.

Didalam bilik Dalem Agung, Sunan Kudus kini duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Ki Ageng Pengging. Setelah berbasa-basi sejenak, Ki Ageng Pengging segera menanyakan maksud kedatangan Sunan Kudus beserta pasukan Demak.

Sunan Kudus menegaskan, bahwasanya kedatangannya mengemban perintah Sultan Demak untuk membawa Ki Ageng Pengging menghadap ke Demak Bintara sesuai dengan tenggang waktu yang pernah diberikan oleh Sultan Demak melalui Ki Patih Wanasalam, tiga tahun yang lalu. Dan Sunan Kudus, tanpa basa-basi lagi menunjukkan surat perintah Sultan kehadapan Ki Ageng Pengging langsung!

Ki Ageng Pengging tersenyum. Beliau kembali menyatakan bahwa, sudah tidak ada perlunya beliau menghadap ke Demak. Karena semenjak tiga tahun lalu, beliau bukan siapa-siapa lagi. Beliau hanya sekedar orang desa, yang tengah menjalani kehidupan bersahaja, tidak ada kaitan sama sekali dengan perpolitikan Negara. Beliau hanyalah seorang pertapa biasa. Mengapakah Sultan Demak sangat-sangat berkepentingan dengan orang seperti dirinya? Seorang pertapa desa yang tidak ada keistimewaannya apapun.

Sunan Kudus meragukan kata-kata Ki Ageng Pengging. Sunan Kudus meminta bukti kalau memang Ki Ageng Pengging memang seorang pertapa biasa. Dan Sunan Kudus menantang berdebat tentang Ilmu Sejati dengan Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging menerima tantangan tersebut.

Dan terjadilah Tanya jawab tentang Ilmu Sejati. Sunan Kudus melempar pertanyaan dan Ki Ageng Pengging menjawabnya. Dan jawaban-jawaban Ki Ageng Pengging, beberapakali sempat membuat Sunan Kudus terperangah.

Pada suatu kesempatan, Sunan Kudus melemparkan pertanyaan simbolik sebagai berikut :

Kalamun Ingsun kapanggih kalawan kekasihingwang,
Dadi Kawula pan mami,
Kalamun Ingsun kapisah kalawan kekasih mami,
Sun dadi Ratu,
Ratu Ratuning sabumi,
Ratu Angratoni Jagad.

(Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan kekasih-Ku,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja seluruh bumi,
Raja Yang Merajai Jagad Raya. )

Siapakah Ingsun ( Aku ) dan siapakah kekasih-Ku ?

Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :

Ingsun ya Ingsun,
Datan ana roro telu,
Kasebut Hyang Paramashiwah, Hyang Sadashiwah lan Hyang Atma,
Telu-telune jatine Tunggal!

(Ingsun ( Aku ) adalah Ingsun ( Aku ),
Tiada lagi yang kedua maupun ketiga,
Disebut juga Hyang Paramashiva, Hyang Sadashiva dan Hyang Atma,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu!)

Kasebut ugi Allah, Rasul lan Mukhammad,
Telu-telune Tunggal uga!

(Disebut juga Allah, Rasul dan Mukhammad,
Ketiga-tiganya sesungguhnya adalah Satu juga!)

Kang ingaranan kekasihingwang,
Ya jisim ya suksma,
Yen Ingsun kapanggih kalawan jisim lan suksma,
Ingsun dadya Kawula,
Yen Ingsun kapisah kalawan jisim lan suksma,
Ingsun Pan dadya Ratu,
Ratu Ratuning Jagad,
Ya Brahman Ya Allah,
Tan liyan saking punika!

(Yang disebut kekasih-Ku,
Adalah Jasad dan Suksma,
Manakala Ingsun ( Aku ) bertemu dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Kawula ( Hamba ),
Manakala Ingsun ( Aku ) terpisah dengan Jasad dan Suksma,
Ingsun ( Aku ) menjadi Raja,
Raja Diraja Semesta,
Ya Brahman Ya Allah,
Tiada lain dari itu!)

Sunan Kudus tersenyum mendengar jawaban Ki Ageng Pengging. Dan perdebatan semakin panas!

(Bersambung ke bagian 4-habis)


Ki Ageng Pengging 4 – habis


Sunan Kudus bertanya.

"Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?"

(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)

Ki Ageng Pengging menjawab,

"Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!"

(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)

Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.

"Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?"

(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!"

(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )

Kemudian Sunan Kudus bertanya.

"Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?"

(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Dumunung aneng Urip!"

(Berada didalam Hidup!)

Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..

"Ana ing ngendi dununging Urip?"

(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)

Ki Ageng pun menjawab.

"Ana Ing Galihing Kangkung,
Ana Ing Gigiring Punglu,
Ana Ing Susuhing Angin,
Ana Ing Wekasaning Langit.

(Berada di inti tumbuhan Kangkung,
Berada di sudut Pelor,
Berada di Kediaman Angin,
Berada di akhir Langit. )


(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada. : Damar Shashangka )

Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.

"Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha'. Yen lebur Ha' dumunung aneng ngendi?"

(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha'. Jika lebur Ha', berada dimanakah ? )

Ki Ageng menjawab.

"URIP!"

(Hidup!)

Sunan Kudus menyela.

"ALIP Jisimingsun!"

(ALIP Jasad-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

"ANG Raganingsun!"

(ANG Raga-Ku! )

Sunan Kudus menyela lagi.

"LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!"

(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

"UNG Suksmaningsun!"

(UNG Suksma-Ku ! )

Sunan Kudus menimpali lagi.

"HU Ruhingsun !"

(HU Roh-Ku ! )

Ki Ageng menimpali juga.

"MANG Atmaningsun!"

(MANG Atma-Ku ! )

Sunan Kudus.

"ALLAH Asmaningsun!"

(ALLAH Nama-Ku ! )

Ki Ageng Pengging.

"HONG Asmaningwang!"

(HONG Nama-Ku ! )

Sunan Kudus.

"ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU............ALLAH!"

Ki Ageng Pengging.

"ANG, UNG, MANG.............HONG!"




ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)

Sunan Kudus diam. Lantas menantang secara halus.

"Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare!"

(Apabila Tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya!"

(Ungkapan ini adalah ungkapan khas Jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang telah diucapkan : Damar Shashangka )

Ki Ageng tersenyum dan berkata : " Sumangga ing karsa.." ( Silakan..)

Ki Ageng Pengging lantas bersendekap dan meminta Sunan Kudus memperhatikan titik diantara kedua alis mata beliau. Lantas, Ki Ageng memejamkan mata.

Sunan Kudus awas, dia lekat memperhatikan titik diantara kedua alis mata Ki Ageng Pengging. Suasana mendadak berubah, ruangan dimana Sunan Kudus berada, terasa hampa, senyap dan seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian, Sunan Kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging!

Cahaya yang lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan disana, ditengah hempasan cahaya tersebut, Sunan Kudus melihat dirinya berada disana. Sejenak kemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya!

Sunan Kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan Kudus lantas berkata.

"Aku percaya nakmas Pengging...Sudah cukup!"

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik ditengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas.

Sunan Kudus membuka matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata.

"Kabarnya, nakmas Pengging mampu MATI SAJERONING URIP. URIP SAJERONING PATI ?"

Ki Ageng Pengging menjawab.

"Kangjeng Sunan, saya tahu, Kangjeng Sultan Demak menganggap saya sebagai 'klilip' (Penghalang) beliau. Tidak usah berbasa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tapi, kalau saya melakukannya, sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam, adalah hal yang tercela. Untuk itu, jadilah perantara kematianku!"

Sunan Kudus terdiam.

"Cabutlah keris Kangjeng," lanjut Ki Ageng Pengging, "tusukkan siku kananku ini. Disaat ujung keris Kangjeng menancap disikuku ini, saat itulah, aku akan melepaskan suksma dan Atmaku dari jasadku. Silakan!"

Sunan Kudus segera mencabut kerisnya. Sedangkan Ki Ageng Pengging sejenak bersendekap memejamkan mata. Disusul, beliau angkat siku kanannya kedepan. Sunan Kudus menusukkan kerisnya kesiku Ki Ageng Pengging. Dan disaat itulah, Ki Ageng Penggin melepaskan suksma dan Atmanya!

Tubuh Ki Ageng Pengging rebah ke kanan. Sunan Kudus memeriksa detak jantung Ki Ageng Pengging, dan Sunan Kudus yang sudah berpengalaman yakin, bahwa Ki Ageng Pengging telah wafat. Sejenak beliau membenahi jasad Ki Ageng, lantas Sunan Kudus keluar dari bilik Dalam Agung.

(Silakan membaca cerita ini langsung dari Babad Tanah Jawa untuk perbandingan : Damar Shashangka )

Sesampainya diluar, Sunan Kudus segera memerintahkan prajurid Demak berkemas. Sunan Kudus dan para prajurid Demak, tanpa banyak berkata-kata, segera meninggalkan Dalem Ki Ageng Pengging.

Didalam bilik Dalem Agung, tepat pada saat itu, pelayan yang hendak menyediakan hidangan mohon masuk. Tapi tidak ada jawaban. Bergegas dia lari memanggil Nyi Ageng Pengging. Istri Ki Ageng Pengging berlari tergopoh-gopoh ke Dalem Agung, memancing perhatian beberapa prajurid Pengging. Karena tidak ada jawaban juga saat Nyi Ageng Pengging mohon masuk, maka segera saja beliau menerobos ke dalam. Dan terkejutlah Nyi Ageng Pengging melihat Ki Ageng Pengging telah terbujur kaku menjadi mayat!

Nyi Ageng Pengging jatuh pingsan. Beberapa prajurid Pengging tanpa dikomando segera berhamburan menaiki kuda masing-masing, menyusul rombongan Sunan Kudus.

Para Lurah Prajurid Pengging menyusul kemudian. Bendhe Beri ( Gong kecil yang dibunyikan untuk mengumpulkan para prajurid : Damar Shashangka ), suaranya riuh rendah bercampur dengan pukulan kentongan bertalu-talu. Masyarakat Pengging yang sudah siap sedia sejak semalam, baik yang sudah ada disekitar Dalem Ki Ageng Pengging maupun yang masih ada dirumah masing-masing, segera menaiki kuda masing-masing sembari membawa persenjataan perang lengkap!

Di pihak pasukan Demak, mendapati Bendhe Beri dan Kentongan berbunyi bertalu-talu, segera mempersiapkan diri. Walau belum tahu pasti apa yang terjadi, mereka telah siap sedia jika ptajurid Pengging menyerang!

Rombongan Sunan Kudus tersusul. Rombongan kecil Senopati Demak itu segera di kepung prajurid Pengging! Prajurid Pengging telah siap tempur! Senjata telah terhunus nyalang! Dada para prajurid Pengging bergemuruh mendidih!

Sunan Kudus memerintahkan seorang prajurid Demak mengibarkan bendera merah! Tanda bagi seluruh pasukan Demak yang ada disudut-sudut Pengging untuk siap tempur! Suasana tegang!

Bendera merah berkelebat-kelebat, disusul dari kejauhan, empat orang prajurid Demak mendadak muncul sembari memacu kuda dengan mengibarkan bendera serupa. Keempatnya meneruskan perintah Sunan Kudus yang tengah terkepung kepada para pasukan yang siap sedia disudut-sudut Pengging!

Isyarat itu terlihat oleh para pemimpin pasukan Demak, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat! Serta merta, seluruh pasukan Demak keluar dari tempat persembunyiannya. Bergemuruh suaranya! Diiringi pekikan-pekikan nama Tuhan! Seperti kebiasaan mereka!

Para prajurid Pengging yang mengepung Sunan Kudus, hanya melihat sepasukan dari dua arah, namun mereka mendengar suara pekikan-pekikan pasukan lain yang tak terlihat berada diseberang wilayah mereka. Mereka menyadari, posisi mereka kini terkepung! Wilayah Pengging benar-benar terkepung!!

"Heh kalian rakyat Pengging!! Kaliah hanya rakyat biasa! Ini urusan orang besar! Kembalilah pulang ke rumah masing-masing!!" Teriak Sunan Kudus!

Seorang Lurah Prajurid Pengging maju beberapa langkah dengan kudanya.

"Bagi kami lebih baik mati bersama junjungan kami!"

Sunan Kudus menjawab.

"Ingat posisi kalian! Kalian sudah terkepung! Dan ingat pula akan anak istri kalian! Jika pasukan Demak menyerang, seluruh wilayah ini akan dibakar! Kalian boleh berani menumpahkan darah kalian! Tapi apakah kalian juga akan tega melihat anak istri kalian ikut menjadi korban !?"

Nyali prajurid Pengging menciut begitu mendengar gertakan Sunan Kudus! Seketika mereka teringat akan anak istrinya yang kini juga tengah terkepung dan terancam! Seluruh pasukan Pengging menjadi gamang! Sunan Kudus melihat itu semua, lantas Sunan Kudus berkata lagi.

"Sarungkan senjata kalian! Urusan kami hanya dengan Ki Ageng Pengging! Uruslah jenazah junjungan kalian! Kangjeng Sultan Demak, akan memberikan pengampunan bagi kalian semua!"

Kepanikan melanda prajurid Pengging. Bayangan anak dan istri mereka membuat keberanian mereka menciut! Dan, Lurah Prajurid Pengging yang paling senior segera memerintahkan seluruh prajurid Pengging menyarungkan senjata. Disusul, Lurah Prajurid Pengging memerintahkan memberikan jalan kepada rombongan Sunan Kudus yang terkepung.

Sunan Kudus segera memerintahkan pasukan bergerak kedepan! Bendera putih kini dikibarkan! Disusul beberapa prajurid dari kejauhan kembali meneruskan pesan itu sembari membawa bendera putih juga! Dan pemimpin pasukan Demak yang telah bersiap-siap diposisi masing-masing, begitu melihat bendera merah berganti bendera putih, segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk menyarungkan senjata!

Pekik nama Tuhan berkumandang berkali-kali! Pasukan Demak merasa telah memenangkan pertempuran atas berkat Tuhan!

Dipihak lain, prajurid Pengging masih menyimpan bara amarah! Seandainya mereka berhadap-hadapan digaris depan seperti saat peperangan Majapahit dan Demak dulu, pasti mereka tak segan-segan menumpahkan darah!

Terdengar teriakan Lurah Prajurid Pengging memerintahkan seluruh prajurid kembali ke Pengging.

Duka menyelimuti Pengging. Jenasah Ki Ageng Pengging segera disucikan. Upacara Sraddha tergelar. Para Pandhita Shiwa Buddha berdatangan. Pengging berkabung! Para sisa bangsawan Majapahit, mendengar kabar wafatnya Ki Ageng Pengging, segera menuju Pengging. Upacara pembakaran mayat-pun dilaksanakan.

Sebulan setelah wafatnya Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging yang jatuh sakit, menyusul. Beliau wafat! Kembali Pengging berduka. Mendung menyelimuti Pengging.

Mas Karebet, menjadi yatim piatu. Dan Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir, membawa Mas Karebet kecil ke Tingkir. Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir. Mas Karebet lantas dikenal dengan nama JAKA TINGKIR.

Kelak dikemudian hari, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan menjadi Raja Tanah Jawa. Dan beliau bergelar SULTAN ADIWIJAYA.