Minggu, 16 Januari 2011

Keris dan Budaya Spiritual Kejawen

Oleh : Toni Junus1)
Foto 1: Empu KRT. Subandi Suponingrat – sedang menyelipkan iron meteorit.
Foto 1: Empu KRT. Subandi Suponingrat – sedang menyelipkan iron meteorit.
Abstrak
Budaya keris tak lepas dari dua aspek pemahaman yaitu bendawi dan non-bendawi; Eksoteri dan esoteri.
Awalnya, fungsi keris adalah sebagai senjata tikam, dalam perjalanannya bergeser sebagai status sosial bermuatan spiritual, sebagai ”ageman” atau pusaka turun-temurun. Prosesi pembuatan keris, merupakan narasi ritual yang dilatari perlakuan esoteristik Kejawen. Karena itu keris adalah ekspresi kultural sang empu dalam ibadahnya.
Gerbang
Kejawen dari kata Jawa (Java): Javanism, adalah kegiatan orang Jawa dalam pencarian pengetahuan tentang hidup yang benar, menjadi ketauladanan kerohanian masyarakatnya turun-temurun, serta dipraktekkan dalam tatacara kehidupan lahiriahnya. Salah satu prinsipnya adalah mencari urip sejati (urip = hidup; sejati = true) mencapai hubungan yang harmonis antara hamba dan Tuhan, Jumbuhing Kawulo Gusti (jumbuh = a good relation, menyatunya, kawulo = hamba, gusti = Tuhan, Allah).

Kejawen merupakan ajaran spiritual asli leluhur tanah Jawa, yang dahulunya belum terkena pengaruh budaya luar. Artinya sebelum budaya Hindu dan Budha masuk ke tanah Jawa, para leluhur tanah Jawa sudah mempunyai budaya spiritual sendiri. Seperti terbukti adanya beberapa cara pandang spiritual Kejawen yang tidak ada pada budaya Hindu maupun Budha. Namun demikian, sekarang kita mewarisi Kejawen yang telah melalui proses sinkretisme budaya lain bahkan sinkretik dengan agama-agama.2)

Kejawen memiliki arti yang luas meliputi sopan santun, keyakinan, filosofi, kesenian, tradisi, kekaryaan, kesatryaan, kepemimpinan, dlsb. Dalam catatan kuno dikenal adanya istilah Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (Sastra = tulisan; Jendra = Harjendra, Dewa Indra, Tuhan sebagai manifestasi alam semesta dan kehidupan; Hayu = tenteram dan baik; Ing Rat = di dunia dan di dalam diri pribadi; Pangruwat = merubah; Diyu = Raksasa, angkara, watak buruk, kebiadaban). Tulisan atau buku Ketuhanan untuk menuju ketentraman dengan merubah watak biadab menuju peradaban (to civiliziation).

Sastra Jendra dalam sisi pandang universal bisa dipahami sebagai ”Sastra Ketuhanan”3) yang tumbuh dari keimanan manusia melalui penghayatan maguru alam dan kehidupan (jagad gede), merupakan software yang terprogram dalam diri manusia (jagad cilik) serta menyelia di segala aspek kehidupan manusia.
Sastra Jendra dalam buku Betaljemur Adam Makna disebut : Mustikaning kawruh ingkang kuwasa amartani ing karahayon, karaharjan, katentreman lan sak panunggilipun, memayu hayuning bawana. Artinya “mustikanya ilmu Ketuhanan sebagai pedoman hidup menuju keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman dalam kehidupan diri sendiri maupun untuk kebaikan dunia”.
Pemahaman Sastra Jendra Hayuningrat melahirkan konsepsi Memayu Hayuning Bawono - menjaga keseimbangan dunia dalam arti yang luas; melestarikan alam semesta untuk kesejahteraan kehidupannya; dimulai dari antara manusia dengan manusia; dan antara manusia dengan alam semesta didasari oleh hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan.
Kemudian dari kepercayaan Kejawen itu, muncul suatu perenungan tentang hal keutamaan manusia yang dimaknai oleh ”budi-pekerti”.
Prosesi Pembuatan Keris Pusaka
Pada catatan anonim yang didapat dari salah satu buku tanpa judul di perpustakaan Radhya Pustaka - Surakarta yang bertulis Jawa carik (huruf Jawa), disulih secara bebas dalam bahasa latin4), antara lain disebutkan secara runtut :
1. Kyahi empu nyamektakaken ubarampening wilah tuwin tosan waja, sinambi nindakaken samadi supados pikantuk wisik ngingingi wujud punapa ingkang gegayutan kaliyan dhuwung ingkang badhe kadamel, kalarasaken kaliyan pakaryaning tiyang ingkang nyuwun kadamelaken dhuwung punika, kadosta: supados kathah rejekinipun utawi kangge kapangkatan. Inggih ing wekdal punika mujudaken wekdal panyrantos ingkang panjang, amargi kyahi empu boten miwiti pakaryanipun saderengipun angsal tumuruning pitedah.

(1. Kyahi empu menyiapkan dan memantrai bahan besi-besi baja, sambil melakukan samadi untuk mendapatkan inspirasi tentang hal bentuk keris yang akan dibuat, selaras dengan profesi pemesannya; seperti agar banyak rejekinya atau berfaedah untuk suatu kepangkatan. Pada tahap inilah merupakan penantian panjang karena kyahi empu tidak akan memulai sebelum mendapatkan petunjuk Tuhan YME).

Pembahasan ad. 1 : Kalimat agar banyak rejeki atau berfaedah untuk suatu kepangkatan; memberi pengertian bahwa keris memang diciptakan agar mempunyai daya (tuah) untuk sesuatu tujuan dan kemanfaatan bagi seseorang melalui petunjuk Tuhan YME.

2. Manawi tataran ngajeng kala wau sampun dipun lampahi, mila kyahi empu miwiti benjing punapa anggenipun badhe miwiti pandameling dhuwung punika, kyahi empu ugi ngetang dhawahing dinten ingkang anggenipun kedah kendel nyambut damel, amargi mujudaken dinten awon. Kyahi empu kedah lebda dhateng ngelmi Candrasengkala saha ngelmi petangan dinten.

(2. Setelah tahap pertama selesai, kemudian kyahi empu memulai dengan perhitungan kapan hari baik dimulainya pembuatan keris itu, dan kapan harus berhenti istirahat dahulu untuk melewati hari jelek. Kyahi empu dalam hal ini memang menguasai ilmu Candrasengkala dan perhitungan hari).

Pembahasan ad. 2 : Dalam perilaku sehari-hari, bangsa kita (Nusantara) memiliki kepercayaan untuk terhindar dari malapetaka, yaitu kepercayaan pada hitungan hari baik.

3. Sasampunipun katamtokaken dinten wiwitanipun, mila kyahi empu nyamektakaken sajen kangge nindakaken tatacara ingkang ancasipun nyuwun idin tuwin berkah miwah nyenyapa dhateng kekiyatan-kekiyatan ngalam ingkang mujudaken titahing Hyang Tunggal. Sajen punika wonten kalih warni: Sajen baku inggih punika sajen ingkang dipun tindakaken turun-tumurun antawisipun: tumpeng, sekar setaman, sekar telon, pisang raja, jenang abrit, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekaka ayam, sambel goreng ati, kinangan sata, sedhah, apu, teh pait saha kopi pait, sentir, wewangen mliginipun kutukan menyan saha dupa. Wonten sajen wewahan sinebat sajen barikan inggih punika manawi kyahi empu angsal wisik mligi kadosta mewahi tigan ceplok, sok ugi kawewahan rah ayam pethak mulus lan sapanunggilanipun. Kyahi empu pancen lebda dhateng ngelmi sarana, utawi ngelmi sajen. Amargi sajen ingkang kagelar punika anggadhahi pralambang ingkang boten sok tiyanga mangretos.

(3. Sesudah menentukan hari baik untuk memulai, maka kyahi empu melengkapi sesaji untuk upacara memohon ijin kepada kekuatan-kekuatan alam yang juga merupakan ciptaan sang Hyang Tunggal. Sesajinya ada 2 (dua) macam yaitu sesaji baku yang dilakukan turun temurun sesuai pakem, seperti tumpeng, bunga setaman, bunga tiga rupa, pisang raja, jenang merah, jenang baro-baro, jenang rajah, jenang bolong, bekakak ayam, sambel goreng ati, kinangan tembakau, daun sirih, kapur sirih, teh pahit, kopi pahit dan lampu minyak, diseling dengan membakar kemenyan. Sesaji yang kedua disebut sesaji barikan, merupakan sesaji tambahan karena kyahi empu mendapat petunjuk atau inspirasi misalnya harus menambahkan telur mata sapi, ayam putih mulus atau yang lainnya, kemudian disantap bersama-sama. Kyahi empu memang menguasai ilmu Sarono atau ilmu sesaji, satu persatu dari sesaji itu memiliki perlambangan yang tidak semua orang tahu artinya.

Pembahasan ad. 3 : Sesuai kepercayaan maguru alam sebagai interaksi manusia dengan alam, muncul kesadaran keikhlasan untuk melakukan ‘persembahan’ kepada Tuhan perwujudan alam yang menghidupinya (alam semestawi). ‘Persembahan’ manusia kepada alam dengan perlambangannya menjadi pengharapan dan atau kebalikannya seolah alam ‘meminta’ untuk dilakukannya. Kata ‘meminta’ dalam konteks sebagai inspirasi manusia mendapat gambaran mengetahui situasi ketimpangan alam yang membutuhkan keharmonisannya. ‘Persembahan’ itu disebut sesaji (menyajikan .….), maka dalam prosesi penciptaan keris dilakukan sesaji pokok (sesuai aturan turun-temurun) serta ada sesaji barikan.
Sesaji Barikan adalah sebagai pelengkap tambahan yang dapat mengharmoniskan tujuan penciptaan keris tersebut. Merupakan inspirasi yang terbersit oleh sang empu, dimana tidaklah setiap keris harus memakai sesaji barikan. Sebagai contoh : karena situasi wabah penyakit pada masa itu, sang Raja menitahkan membuat keris penangkal, maka dalam hal ini dipastikan ada sesaji barikannya. Pada waktu Suran (1 Suro tahun 1997?) di Kraton Surakarta Hadiningrat pernah mengumumkan sajen barikan “madu mongso” (ketan hitam yang diberi gula), agar setiap keluarga-keluarga juga mengadakan sesaji tersebut atau dimakan bersama-sama. Sebagai upaya untuk menolak suatu bencana yang diperkirakan (diramalkan) terjadi, sesaji barikan diharapkan agar alam dapat harmonis kembali.

4. Pangucaping japamantra, nalika jaman rumiyin padatanipun taksih angginakaken basa Jawi Kina, nanging ing pungkasaning jaman Majapait ewah sacara Islam. Tuladhanipun: jaman rumiyin kawiwitan kanthi ngucap Hong wilaheng, utawi niyat ingsun, nalika jaman para wali kawiwitan kanthi ngucap Bismillaah hirrahma nirrahiim.... lan salajengipun.

(4. Pengucapan mantra, pada jaman dahulunya mantra masih berbahasa Jawa kuno atau bahasa Kawi, tetapi setelah Majapahit runtuh mulai berubah secara do’a Islam. Antara lain jaman dahulu dimulai dengan mengucap Hong Wilaheng, atau niat ingsun, maka jaman para wali dimulai dengan Bismillah hirrahmanirahim .... dan seterusnya).

Pembahasan ad. 4 : Mantra dapat didefinisikan sebagai suara, bunyi, kata, atau kelompok kata yang dianggap mampu menciptakan transformasi. Mantra bervariasi sesuai dengan filosofi yang berhubungan dengan tujuan mantra. Dilakukan antara lain, termasuk dalam upacara-upacara permohonan hujan, keberkahan, menghindari bahaya, atau menghapuskan musuh. Setiap kelompok manusia atau suku bangsa memiliki mantra tersendiri, termasuk orang Jawa sejak jaman dahulu kala. Istilah ’mantra’ pertama ditulis tercatat pada adanya tradisi berasal dari Vedic (tradisi India, di masyarakat Jawa kuno sudah ada tetapi tidak ditemukan catatannya), kemudian menjadi bagian penting dalam tradisi dan praktek masyarakatnya. Begitu pula, akhirnya menjadi dasar spiritual pada Hinduisme, Buddhisme, Sikhisme dan Jainisme. Penggunaan mantra kini meluas diberbagai gerakan spiritual yang sebelumnya ada pada tradisi-tradisi di Timur. Suatu “mantra” diucapkan dan digetarkan melalui sanubari manusia secara berulang-ulang, bahkan dari abad ke abad telah dilakukan, sehingga seolah terjadi sebuah konvensi (perjanjian) dengan alam semesta sehingga mantra itu memiliki kekuatannya. Mantra lahir dari olah “rasa” yang tinggi dalam proses spiritualisasi manusia dengan menyembah kepada Tuhan sebagai manifestasi alam dan kehidupan. Sehingga “mantra” menjadi wujud kekuatan itu sendiri, siapapun mengucapkan mantra akan merasakan hasilnya.
5. Sasampunipun bakalan saton dados dipun tindakaken tuguran kaliyan bakalanipun dipun selehaken wonten ing pelataran supados manunggal kaliyan rembulan tuwin lintang ingkang wonten ing akasa. Ndungkap enjing asring wonten kadadosan gaib ingkang salajengipun dening kyahi empu dipun dadosaken gelaripun utawi namanipun sasampunipun kaaturaken dhumateng raja utawi ingkang andhawuhi damel. Tatacara punika kanamakaken 'sirepan', kyahi empu sareng kaliyan panjak utawi tangga-tepalih malah sok ugi kanca sesamining empu nindakaken tuguran ngantos subuh, sinambi linadosan nyamikan miwah unjukan. Nyamikan ingkang mligi padatanipun wajik.

(5. Setelah kodokan jadi, lalu dilakukan tuguran/begadang, sambil kodokan itu diletakkan di alam terbuka agar ada penyatuan kekuatan dengan rembulan atau bintang di angkasa. Menjelang pagi sering terjadi peristiwa gaib yang nantinya disimpulkan oleh kyahi empu, untuk nama gelar keris yang dihaturkan kepada Raja atau pemesannya. Tata cara tahap ini disebut ‘sirepan’, kyahi empu bersama panjak dan tetangga bahkan teman sesama empu ikut begadang hingga subuh, sambil ditemani makanan kecil dan minuman. Makanan khas yang disajikan adalah wajik atau ketan yang dimasak dengan santan).

Pembahasan ad. 5 : Perilaku prihatin atau ”nglakoni” merupakan tradisi dalam Kejawen. Maka dalam proses penciptaan keris juga ada tahap-tahap dimana dilakukan ritual yang sederhana tetapi bermakna dalam. Bakalan keris (kodokan) dipersembahkan dan dipersatukan kembali dengan alam, agar saling doyo-dinoyo (saling mendayai), didasari sebuah pemaknaan bahwa ”aku bukanlah siapa-siapa”; artinya sang empu melakukan observasi diluar obyeknya, seolah dia hanya tangan-tangan yang ’dipakai’ untuk menciptakannya. Tahap ’sirepan’ merupakan ekspresi kultural memaknai kerukunan, kegotong-royongan, toleransi, kerjasama, saling mengapresiasi, kumpul-kumpul tetangga...... dan hal ini adalah bagian kecil dari peradaban bangsa Nusantara yang masih tetap dipelihara.

6. Sasampunipun punika keris ingkang sampun dipun garap mawujud, lajeng ngancik tataran nyepuh, kyahi empu nyamektakaken bumbung ingkang dipun isi lisah klapa dipun jangkepi mawi lampah srengat tuwin sajen, padatanipun namung sekar telon, tumpeng alit, recehan kangge lelembut tumbas jajan peken saha wangen-wangen kukusing menyan. Dhuwung dipun mantrani kanthi kalarasaken kaliyan ingkang andhawuhing damel. Dhuwung dipun besmi ngantos marong lajeng dipun celupaken wonten ing salebeting bumbung ingkang dipun iseni lisah klapa. Wonten ingkang pucukipun dipun obong malih lajeng katindakaken sepuh dilat punika latu ingkang marong mawi dipun dilat dening kyahi empu ingkang sekti, padatanipun wewahan donganipun inggih punika waosan sastro pinodati, sastro gigir lan rajah kalacakra.

(6. Setelah keris yang digarap sudah berwujud/selesai, masuklah tahap nyepuh/mengeraskan besi. Kyahi empu menyiapkan tabung dari bambu yang diisi minyak kelapa, dengan dilakukan ritual dan sesaji, biasanya hanya tumpeng kecil, bunga tiga rupa dan uang recehan untuk jajan pasar para lelembut, sambil dibakari kemenyan. Keris dimantrai berulang-ulang sesuai dengan tuah yang diinginkan. Keris kemudian dibakar membara dicelupkan ke dalam bumbung yang berisi minyak itu. Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat5) yaitu ujung keris yang membara dijilat oleh kyahi empu sakti, sebelumnya dibacakan mantra sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra).

Pembahasan ad. 6 : Secara umum keris diagungkan oleh kawula perkerisan; antara lain pada keunikan teknologinya. Namun kurangnya informasi dalam hal pengerasan baja atau ‘proses sepuh’ keris pada waktu itu tidak diketahui tujuan yang sebenar-benarnya. Dalam tinjauan spiritual, prosesi penciptaan keris pada tahap sepuh ternyata aksentuasinya justru pada diadakannya ritual dan sesaji sebagai penyembahan kepada Hyang Gusti serta untuk ‘kulo nuwun’ kepada baureksa disekitarnya. Bahkan ‘Uang receh’ yang disebutkan adalah untuk jajan pasar para lelembut (makhluk halus); merupakan suatu kompensasi jika ada kelalaian atau kekurangan dalam sesajinya. Uang recehan itu bisa dibelanjakannya sendiri (makhluk halus) ke pasar. Kemudian pada kalimat : “Ada diantaranya yang pucuknya dibakar ulang kemudian dilakukan sepuh dilat yaitu ujung yang dibakar membara dijilat oleh kyahi empu sakti ….....dibacakan sastra pinodati, sastra gigir dan rajah kalacakra”.

Sepuh dilat adalah ritual berupa prosesi dengan menjilat sebilah besi membara biasanya pisau membara yang kemudian pisau itu dihentakkan (dicelup) pada air bunga, sebagai perlambangan bersatunya dua kekuatan (antitesis). Ketika api dan air bersatu, disertai mantra sang empu terucap, maka tertanamlah kekuatan pada sebilah keris yang disepuh dilat. Sepuh dilat dapat diartikan sebagai “ngenjingaken doyo” (memantek Yoni). Dalam ajaran Sastro Jendro Hayuningrat (khusus pada paguyuban Sastro Jendro pimpinan KPH. Darudriyo Sumodiningrat yang pusatnya di Jakarta), sepuh dilat adalah bagian dari ritual manembah; yang dapat dijelaskan sebagai pembersihan diri. Tentunya bagi para pengikutnya yang telah melalui inisiasi (wejangan) terlebih dahulu. Pembersihan diri yang disebut ‘asesuci’ itu ada empat macam yaitu asesuci dengan media bumi, angin, tirta dan api. Asesuci bumi dan angin tidak dilakukan (secara komunal) karena ritual ini sangat pribadi dan merupakan tahapan yang tinggi. Maka asesuci biasanya dilakukan dengan media ‘air/tirta’ dan ‘api’. Dalam ritual asesuci ’api’ dilakukan 7 (tujuh) kali jilatan; sesuai diagram chandra manusia yang menyatakan bahwa manusia memiliki 7 konstruksi jasmani dimana di dalam kejawen Sastra Jendra disebut ’sapta arga’ (bulu, kulit, daging, urat, darah, tulang, sungsum). Maka 7 (tujuh) konstruksi itu dibersihkan (disucikan) satu per satu. Sedangkan ’asesuci air’ adalah mandi keramas dengan bunga-bungaan, hal ini sangat lazim dilakukan.

Sepuh dilat biasanya dilakukan pada Upacara Sinidhikara Pusaka yaitu pada ritual agar keris terpelihara kekuatannya; dan selain itu merupakan ritual manembah rutin malam Jumat Kliwon-an. Dalam komunitas penghayat Sastro Jendro Hayuningrat; ‘sepuh dilat’ disebut dengan istilah “jamasan”.

7. Dhuwung dipun kum ing salebeting toya klapa wayu supados rereged obongan gogrog, padatanipun dipun rendhem ngantos setunggil dalu supados guwayanipun saged boten burem, saengga pamor dhuwung anggadhahi prabawa ingkang endah. Sasampunipun makaten, dhuwung dipun pulihaken mawi jeram pecel ngantos resik, saha lajeng dipun kum warangan. Dhuwung ingkang sampun dipun kum warangan dipun oser-oseri lisah tumunten dipun ‘sanggaraken’ kaseleh ing papan padupan dangunipun ngantos sawatawis dalu, kedah nglangkungi malem Jumuwah Kliwon utawi Selasa Kliwon. Bab punika katindakaken supados mantra manjing sayektos saha dhuwung ampuh saestu. Sasampunipun rampung saestu, dhuwung kadamelaken warangka jumbuh kaliyan wujuding dhuwung tuwin pun saged netepaken, awit mranggi ingkang sae adamel warangka saged kinunci.

(7. Kemudian keris direndam ke dalam air kelapa yang sudah basi, agar kerak-kerak besi pembakaran terlepas, biasanya direndam semalam sehingga keris cemerlang guwayanya, serta muncul pamornya yang indah. Setelah itu keris dibersihkan dengan air jeruk nipis hingga putih, lalu diwarangi. Keris yang selesai diwarangi diolesi minyak kemudian disanggarkan dengan cara ditaruh ditempat pedupaan beberapa hari sampai melewati Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon. Hal ini dilakukan agar mantranya betul-betul manjing dan keris betul-betul ampuh. Setelah selesai semua, keris dibuat warangkanya yang cocok oleh mranggi/tukang warangka yang mahir dan biasanya warangka bisa terkunci).

Pembahasan ad. 7 : Kalimat yang menarik pada point 7 ini adalah dalam ada kata disanggarkan. Kata ”sanggar” artinya ruang atau rumah pemujaan. Disanggarkan artinya keris diletakkan dalam ruang pemujaan itu. Maksudnya adalah agar semua yang telah dilakukan secara bendawi dan non-bendawi dapat mengendap. Sesuai kepercayaan Kejawen ditentukan meliwati hari tertentu, seperti Jumat Kliwon yang dianggap sebagai hari besar yang membawa berkah atau Selasa Kliwon yang dipercaya sebagai penyatuan kasih Angkasa dan Bumi yang juga disebut Anggoro Kasih (Anggoro = Selasa; Kasih = Kliwon).
Foto 2. Komunitas Sastra Jendra berlatih kesatryaan.
Foto 2. Komunitas Sastra Jendra berlatih kesatryaan.
Foto 3: Keris karya empu Brojoguno I - Pamor Tumpuk, Koleksi KRA. Sani Gondoadiningrat.
Foto 3: Keris karya empu Brojoguno I - Pamor Tumpuk, Koleksi KRA. Sani Gondoadiningrat.
Pemahaman Esoterik
Esoteris keris adalah hal-hal non-bendawi pada keris meliputi segala aspeknya; seperti telah diuraikan prosesi pembuatan keris dengan ritual yang menyimpulkan adanya perlakuan esoteristik spiritual dari awal penciptaannya. Keris, secara wujud fisik atau disebut eksoteris memuat pula ’senirupa simbolik’, sesuai karakter dan tuah yang diinginkan, tertuang dalam bentuk keris (disebut dhapur) dan motif pamornya.

Dhapur atau bentuk keris secara senirupa merupakan simbolisasi dari tujuan diciptakannya. Antara lain adanya bentuk keris lurus (dhapur bener) menyimpulkan ke’takwa’an kepada Hyang Maha Kuasa. Dhapur Jangkung (luk 3) melambangkan terjangkaunya cita-cita. Dhapur Pandawa (luk 5) agar pemiliknya dapat berdiplomasi dan memiliki watak agung seperti Pandawa lima. Begitu seterusnya hingga dapur yang lekuknya banyak seperti dhapur Ngamper Bantolo (luk 15) yang melambangkan si pemilik bisa menguasai tanah dan wilayah yang luas.

Selain dhapur, ternyata ’keris’ juga diciptakan dengan grand design yang sempurna dan agung; divisualkan pada motif pamor berkaitan dengan tujuan esoteriknya (tuah). Simbol-simbol senirupa ”pamor” itu digolongkan dalam 5 kelompok; yang diekspresikan dalam media sebidang bilah keris, sesuai ’chandra manusia' dengan pemahaman unsur (anasir) tubuh manusia dan semesta (pandangan Kejawen); antara lain:
1. Jika pemantraan keris ditujukan untuk kerejekian, pergaulan, dikasihi, kejayaan, kemakmuran, keduniawian atau kehidupan lahiriah lainnya maka motif pamornya ditata berbentuk meliuk-liuk dan berpusar-pusar dilambangkan sesuai karakter ”tirta” (unsur air). Contohnya : wos wutah, udanmas, segoro muncar dlsb.
2. Konfigurasi pamor bergaris-garis seperti lidi berjajar dianggap sebagai simbolisasi penyapu bencana, penolak bala, penolak segala kelicikan, santet dan perlakuan jahat baik secara fisik maupun maya. Serta merupakan simbol kebijaksanaan. Konfigurasi garis-garis tergolong dalam sebutan pamor singkir dan pamor hadeg. Karakter yang tegar ini dilambangkan kekuatan 'bayu' (unsur angin) yang sanggup menyapu segalanya, menerbangkan debu, dedaunan, bahkan atap dengan tidak tampak namun tetap dapat dirasakan keberadaannya.
3. Pamor rekayasa (dirancang atau pamor rekan) berbentuk motif daun palem, daun genduru, sekar-sekaran, lebih spesifik untuk tuah kejayaan, martabat, kekuasaan, kederajatan pemiliknya. Konfigurasi ini coraknya berjuntai keatas seperti karakter dari kobaran 'agni' (unsur api). Tetap dalam lingkup sebagai representasi alam, contohnya pamor Ron Genduru, Blarak Sinéréd, Sekar Lampés, Sekar Pålå, Sekar Kopi, Mayang Mekar, Pari Sa’uli, dlsb.
4. Kesentosaan juga disimbolkan dengan adanya keris polos tanpa pamor (disebut: keleng) mengibaratkan dalam diri manusia memiliki jiwa pengabdian yang tulus. Keris keleng biasanya dibuat oleh sang empu untuk kebutuhan ketentraman, orang-orang spiritual, pembela kejujuran dan sifat-sifat kesentosaan lainnya. Karakter unsur 'bantolo' atau 'bumi' disimbolisasikan dengan keris keleng tanpa pamor itu.
5. Bahwa kemanunggalan ’aku’ atau pancer-nya ditengah saudara empat atau sedulur papat yang dalam proses spiritual adalah tahap transcendental, tercapainya kemanunggalan dalam ruang bapa angkasa dan ibu bumi ditengah kiblat timur-selatan-barat-utara dalam ’aku jagad’6), sanggup melahirkan kekuatan dahsyat dalam perwujudan goresan ’rajah’. Pamor rajah diciptakan oleh empu yang sakti dengan tujuan tertentu. Hingga saat ini, hanya beberapa bentuk pamor rajah pada keris yang bisa dimengerti seperti rajah ‘batu lapak’ memiliki tuah si pemilik dapat menghilang, lolos dari tembakan, kebal peluru, tidak tampak walaupun di depan mata musuh, dlsb; serta rajah 'pilulut' untuk kasengseman, pèlèt, kebahagiaan seksual, dlsb, ada pula rajah Alif, kalacakra dlsb, masih banyak bentuk rajah yang lain seperti ekspresi abstrak dari sang empu yang sulit diselami maknanya.
Gambar diagram jenis pamor dianalogikan dengan unsur-unsur semesta dan keperuntukannya.
Gambar diagram jenis pamor dianalogikan dengan unsur-unsur semesta dan keperuntukannya.
Cakrawala
Melalui kajian tentang ’keberadaan’ keris pusaka dalam kaitannya dengan budaya spiritual Kejawen; pada pembahasan ’prosesi pembuatan keris’ di jaman dahulu; menyimpulkan adanya fakta bahwa keris dari awal penciptaannya dimuati kepercayaan Kejawen; kita tidak perlu tabu membahasakannya. Tidak mendalihkan pula ke hal-hal teknis (modern) dengan membuang fakta-fakta spiritual yang ada pada keris.
Pembuatan keris dimasa sekarang, mengalami kemajuan pesat seperti di Solo, Jogya, Muntilan, Malang, Gresik, Madura dan Bali. Dalam hal meningkatnya ketrampilan para seniman keris sekarang, memberikan angin segar karena ‘keris baru’ (keris Kamardikan) secara eksoteristik (fisik) semakin bagus dan menyamai kualitas keris tua, tentu sangat perlu diapresiasi sebagai sebuah kebangkitan kebudayaan di bumi Nusantara dalam rangka menebalkan ‘jati diri bangsa’ melalui budaya keris.
Semoga! (TJ)
Catatan kaki :
(1). Penulis adalah alumni STSRI ‘ASRI’ Jogyakarta, pegiat pelestarian Keris sebagai SekJen Panji Nusantara dan Pimpinan Redaksi majalah semi jurnal tosanaji PAMOR. Mantan pengurus DPP. Paguyuban Sastro Jendro – berdomisili di Jakarta.
(2). Wikiepedia; Kejawen.
(3). Tentang ”Sastra Ketuhanan" dibaca dari tulisan Prof. Dr. Budya Pradipta - SASTRO JENDRO HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU; Jurnal Kertagama edisi I No. 1; hal 1 – Februari-April 2009; kutipan:
Adalah buku tulisan Jawa berjudul serat Arjuna-sasrabau (1870), karya pujangga Sindu Sastra, yang memuat ungkapan terkenal: Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu. Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia adalah Sastra Ketuhanan Penyelamat Dunia Pelepas Sifat Raksasa. Sastro Jendro Hayuningrat adalah ilmu (ajaran) dan lakunya bangsa Jawa yang menggayuh kesempurnaan hidup. Dengan kata lain Sastro Jendro berisi teori dan praktek hidup sempurna. Istilah Sastro Jendro atau Sastra Ketuhanan mengandung makna yang sangat luas, berisi Ilmu Ketuhanan tentang ilmu dan laku Ketuhanan yang membahas bagaimana mengolah hidup mulai dari lahir sampai tiba waktunya dipanggil Tuhan. Luas sekali. Pendek kata berisi tentang pengetahuan mikro-kosmos berikut hukum-hukumnya. Menurut penelusuran sistem nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, sebenarnya tiap-tiap bangsa di anugerahi Sastra Ketuhanan, yang nama dan strukturnya tergantung pada sistem dan konvensi budaya masing-masing yang khas. Kepada bangsa Jawa, Tuhan menganugerahkan Sastra Ketuhanan di dunia yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada jenis manusia sesuai dengan alam dan lingkungan masing-masing. Sepanjang sejarah hidup manusia, Tuhan menurunkan Sastro Jendro yang oleh manusia dipersepsikan sebagai ajaran Ketuhanan yang beraneka ragam. Kalau Adam dipercaya sebagai manusia pertama, maka seharusnya Adam pun dahulu telah menerima Sastro Jendro. Sayangnya tidak ada petunjuk tentang nama dan struktur Sastra Ketuhanan yang diterima oleh Adam itu. Mungkinkah itu berupa kitab Adam Makna? Di dunia dikenal ada dua wilayah yang melahirkan Sastra Ketuhanan, yaitu : pertama, Sastra Ketuhanan yang berasal dari India. Ini yang paling tua, seperti Kitab Wedha (diperkirakan ditulis 5100 tahun yang lalu oleh Resi Wiyasa) bagi umat Hindu dan kitab Tripitaka (diperkirakan ditulis 2600 tahun yang lalu oleh Budha) bagi umat Budha. Kedua, Sastra Ketuhanan yang dari Timur-Tengah ini lebih muda dari pada yang berasal dari India, seperti: Sastra Ketuhanan yang tertuang di dalam Kitab Zaratustra untuk umat Zind-Avesta, Kitab Taurat untuk Nabi Musa, Kitab Zabur untuk umat Nabi Daud, Kitab Injil untuk umat Nabi Isa, dan Kitab Al-Qur’an untuk umat Nabi Muhammad. Ini belum kitab-kitab suci lain yang diterima oleh bangsa-bangsa di luar bangsa-bangsa India dan Timur-Tengah.
Tanpa ‘keutamaan manusia’ itu, akan mengakibatkan perilaku manusia bergeser melenceng dari ’keharmonisan memayu hayuning bawana’. Antara lain terjadinya: kerusuhan yang disebabkan oleh konflik antar agama, penindasan hak-azasi manusia, hilangnya moral dan etika, dan terutama hilangnya esensi berketuhanan itu sendiri.
”Budi-pekerti” dalam lingkup ’keharmonisan memayu hayuning bawana’, terbaca pada realitas adanya tradisi-tradisi ritual yang alam semestawi. Berinteraksi pada kehidupan sehari-hari manusia, dan merupakan kompleksitas ‘keimanan’ yang horizontal - vertikal. Seperti ritual "bersih desa", ruwatan, upacara selametan termasuk “prosesi pembuatan keris pusaka” dalam upacara sidikaranya (sinidhikara = pemantraan; Bhs. Kw.).
(4). Diterjemahkan bebas ke dalam bahasa Jawa oleh Adie Deswijaya, Sarjana Sastra Jawa yang bermukim di Sukohardjo-Solo.
(5). Kata ’sepuh dilat’ pernah ditulis dalam ritual yang diadakan oleh Sinuhun Paku Buwana X dihadapan tamu raja Siam yaitu Rama ke IV (Chulalonkorn) di Alon-alon Utara; artikel S. Lumintu (kliping Buana Minggu) dan buku stensil ”Sri Susuhunan Pakoe Boewono X - Kenanganku Sepanjang Masa” oleh KPH. Djojohadinegoro S.H. (Juli 1990). Dalam buku ”Keris Jawa; antar Mistik dan Nalar” ditulis oleh Haryono Guritno, empu terakhir yang tercatat mampu melakukan ’sepuh dilat’ adalah Wirasukadgo di jaman Paku Buwana X.
(6). Kondisi terjadinya ”aku jagad” harus dipahami dahulu bahwa manusia memiliki abstraksi empat saudara yang analog dengan pasaran; mata angin; unsur tubuh; aura; dan Caraka, sbb, adalah :
1. Puser : Legi – Timur – Unsur Angin – Aura Putih – HO NO CO RO KO
2. Getih/darah : Paing – Selatan – Unsur Api – Aura Merah – DO TO SO WO LO
3. Kakang Kawah/ketuban : Pon – Barat – Unsur Air – Aura Kuning – PO DHO JO YO NYO
4. Adi Ari-ari : Wage – Utara – Unsur Bumi – Hitam – MO GO BO THO NGO
Aku jagad adalah bersatunya jagad kecil dan jagad gede, dimana AKU jadi ratu ing jagad yang duduk ditengah-tengahnya kiblat dinaungi bapa angkasa dan ibu bumi. Kondisi kemanunggalan inilah melahirkan kekuatan yang dapat divisualisasikan dalam sebuah goresan rajah.
Kepustakaan :
1. Anonim. tahun - . Kagungan dalem Serat Saranduning Dhuwung. Koleksi Radhya Pustaka.
2. Haryono Haryoguritno. 2005. Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar. Jakarta. Indonesia Kebanggaanku.
3. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Balai Pustaka.
4. KPH. Djojohadinegoro S.H. Juli 1990.”Sri Susuhunan Pakoe Boewono X - Kenanganku Sepanjang Masa”. Stensil.
5. Mulder, Niels. 1984. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil. Jakarta. Gramedia.
6. Situs Wikiepedia. Kejawen.
7. S. Prawiro Atmojo. 1980. Bausastra Jawa-Indonesia. Jakarta. Gunung Agung.
8. S. Harjanto. 1978. Sastra Jendra. Jakarta. Jambatan.
9. T. Sianipar, Alwisol, Munawir Yusuf. 1989. Dukun, mantra, dan kepercayaan masyarakat. Pustakakarya Grafistama.
10. Tan Khoen Swie. 1929. Serat Sastrahardjendra – Anjarijosaken pupuntoning kawruh kasampurnan, sarta tjunduk kalijan pikajenganipun ngelmi ma’rifat. Kediri. Penerbit Tan Khoen Swie.
11. Tan Moh Goan. 1912. Riwajat Modjopahit. Petak Baroe – Batavia Stad. Penerbit Eng Hoat.

KAMARDHIKAN PROGRESIF

Abstrak

I-E-O adalah sebuah konsep senirupa yang lekat dengan sebuah proses penciptaan menuju kelengkapan sebagai karya “berbobot”. I-E-O pada keris bisa diartikan sebagai pemenuhan ekspresi Intelektual, Estetika dan Orisinalitas ide pada sebuah karya keris.
Intelektual menyangkut latar belakang kultural, komunikasi, kritikal maupun penalaran. Dikemas dalam estetika perkerisan, sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
Intelektual
Seorang intelektual (dari kata sifat yang berarti "yang melibatkan pemikiran dan alasan") adalah orang yang menggunakan kecerdasan dan analisis berpikir (Samuel Coleridge), dalam profesinya.

"Intelektual" dapat digunakan untuk arti luas, termasuk dalam tiga klasifikasi kegiatan manusia:
  1. Individu yang terlibat secara mendalam dalam abstraksi ide dan teori.
  2. Profesi yang hanya melibatkan sosialisasi dalam bentuk produksi ide, yang berbeda dengan pelaksana atau pelayanan dalam sebuah pekerjaan.
  3. Setiap keahlian yang melatari kegiatan budaya dan seni, keahlian seseorang yang memungkinkan melahirkan otoritas budaya, yang kemudian mereka publikasikan di depan umum tentang hal-hal berbeda dari biasanya.
Istilah "intelektual" sering untuk menyampaikan gagasan umum yang sifatnya edukatif dan kreatif. Pendapat dalam buku The Evolution of an Intelektual (1920) tulisan John Middleton Murry, mengatakan adanya konotasi umum bahwa perilaku 'intelek' selalu diterapkan pada cabang-cabang kesenian seperti dalam kegiatan sastra.

Keris Kamardikan yang tidak mengikuti pakem (pedoman pokok), karya Toni Junus
Keris Kamardikan yang tidak mengikuti pakem (pedoman pokok), karya Toni Junus

KERIS BUDHA PURWOCARITO

Kajian ini adalah untuk menambah wawasan para penggemar tosan aji terhadap keris-keris tua yang ditemukan dari penggalian.

Sebelum membicarakan keris Budha-purwocaritro, kita sepakati dahulu bahwa yang dimaksud keris Budha-purwocaritro dalam konteks ini adalah bukan keris keropos yang berasal dari keris larungan (keris yang dibuang ke sungai). Namun merupakan keris penemuan dalam tanah yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khusus. Keris Budha-purwocaritro ini keris yang terpendam dijaman dahulu, kemudian ditemukan oleh pencari pasir, pembuat bata atau petani dengan secara tidak sengaja, yang kemudian dikoleksi oleh para pecinta keris melalui pengumpul dari daerah-daerah.

Keris budha-purwocaritro bentuknya bermacam-macam. Namun sudah menjadi stereotip bahwa keris yang memiliki bentuk yang khas ini oleh penggemar keris untuk yang pendek disebut Bethok budha dan Jalak budha, dan untuk yang berbentuk ramping panjang disebut keris Singasari. Karena belum diketemukan catatan yang mendukung fakta, maka tangguh keris-keris ini disebut tangguh jaman “purwocaritro” (jaman antah-berantah). Dalam kamus Bausastra Jawa-Indonesia, S. Prawiroatmodjo; Purwo artinya permulaan dan Carito artinya cerita. Tangguh purwocaritro adalah jaman dimana telah dimulainya suatu kegiatan pembuatan senjata keris, tetapi kepastian tahunnya tidak diketahui.
Bentuk pedang sering disebut dapur Larbango
Bentuk pedang sering disebut dapur Larbango (gambar atas). Dibawa oleh bangsa Mongolia terpendam dan ditemukan di Malang.
Tombak Pataka - Pamor Sanak (Koleksi Peter Nawilis). Jika diperhatikan tombak Pataka ini ada pengaruh dari Romawi. Kemungkinan pada masa itu sudah ada barter dengan Eropa, namun jika diamati bentuk panah pada sisi ujung-ujungnya seperti menggambarkan ujung-ujung Cakra.
Bentuk Jalak Budha tegak dan miring (doyong ke depan)

PROSES CIPTA KERIS KAMARDHIKAN BERTUAH

Pendahuluan

Sedang Memahat Keris
Sedang Memahat Keris
Sampai saat ini keris masih dibuat di Indonesia oleh para seniman keris antara lain di Jawa, Bali maupun di Madura, para seniman meniru gaya dan bentuk keris peninggalan jaman lampau. Seperti keris-keris yang berciri khas buatan jaman Majapahit, Mataram, Pajang hingga jaman keraton Paku Buwana dan Hamengku Buwana. Patron keris pada setiap jaman kerajaan selalu seragam, karena keris masih memiliki fungsi sosial yang kuat dalam hirarki kerajaan. Gaya keris Majapahit berbeda dengan keris Mataram, begitu pula berbeda satu kerajaan dengan yang lainnya. Patron keris ini ditentukan oleh adanya hegemoni pada masa itu, karena raja ikut memprakarsai pembuatan keris pada saat itu.

Para seniman masa kini yang membuat keris bergaya keris jaman dahulu karyanya disebut ”keris putran”. Kata ’putran’ dari bahasa Jawa : ’putra’ atau anak, ’diputrani’ artinya dibuat anaknya atau dibuat duplikatnya.

Selain keris yang ”putran”, berkembang pula design baru yang bebas dari patron lama. Karya itu tergolong ”kontemporer”, keris menjadi media ekspresi yang bebas dan modern dalam lingkup karya seni traditional.

Kini, sebutan Keris Kamardikan menjadi lebih mapan digunakan untuk memisahkan sebutan keris tua yang sering dipalsukan.

KerisKamardikan.com ditampilkan untuk mewakili komunitas pelestari keris dan para hobi keris.


Sejarah

KGPH Hadiwidjojo
KGPH Hadiwidjojo

Panembahan Hardjonegoro (Go Tik Swan)
Panembahan Hardjonegoro
(Go Tik Swan)
Menurut buku ”Jawa Sejati” tulisan Prof. Rustopo disebutkan pada masa tahun 1960-an, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, komunitas penggemar keris menyadari bahwa keris harus disosialisasikan kepada khalayak umum dan tidak terkubur menjadi pengetahuan ekslusive dalam keraton. Hal ini disusul dengan dibentuknya perkumpulan Boworoso Tosanaji pada tahun 1959 yang didirikan oleh alm. KGPH. Hadiwidjojo (cucu raja Paku Buwana X) bersama alm. Go Tik Swan (terakhir mendapat gelar kraton Kanjeng Panembahan Harjonegoro).

Dari sumber lain, pada tahun 1960 tercatat pernah dilakukan pameran dan seminar pertama bersama para pemerhati keris oleh Boworoso Tosanaji di Museum Radhyapustaka dikota Surakarta, Jawa Tengah - Indonesia. Selanjutnya komunitas ini melakukan diskusi berpindah-pindah antara lain di Jl. Ngadijayan dan terkadang di Jl. Suryohamijayan.

Tahun 1972, seminar dan diskusi dipusatkan di kantor PKJT (Pusat Kesenian Jawa Tengah) yaitu di Sasono Mulyo keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut catatan lain, pada tahun 1975, Go Tik Swan (Kanjeng Panembahan Harjonegoro) bersama teman-teman komunitas keris se Jawa Tengah antara lain KRT. Gunandar Sumodipuro, R. Ng. Atmotjurigo, R. Yudosutrisno, R. Yudo Prawiro, R. Sukatno, Slamet, Suparman, Hadi Kasman, Fauzan dan beberapa yang lainnya, mendapat fasilitas peralatan dan ruang kerja di area PKJT untuk memulai membuat keris. Kegiatan di Sasono Mulyo itu ternyata semakin menarik perhatian generasi muda. Mulailah bergabung Suprapto Suryodarmo, Drs. Murtijono, dr. Tunjung Suharso Sulaksono, dr. Herman Sukarman, Sujarwo, Joko Prasetyo, Joko Subagyo, Agus Susanto dan Hasan, mereka bergabung dengan nama Paguyuban Paniti Kadgo dengan kegiatan yang lebih khusus pada penelitian dan praktek membuat keris.

Paguyuban Paniti Kadgo menjadi sebuah acuan untuk melestarikan keris yang kemudian mendapat tempat di kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia, Sasono Mulyo, Keraton Surakarta. (Karawitan = sastra dan lagu Jawa yang berkaitan dengan gamelan Jawa).

Akademi Seni Karawitan Indonesia ini, kemudian ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan hingga sekarang menjadi Institut Seni Indonesia – Surakarta.

Dari catatan yang ada ternyata secara autodidak, keris juga dikerjakan oleh beberapa seniman (empu) antara lain Sumodadi (alm.) di Wlingi – Blitar, Jawa Timur, Ki Pakurodji di Magetan – Madiun, Jawa Timur, Djeno Harumbrodjo (alm) - Jogyakarta, yang awalnya diprakarsai oleh Dietrich Dressert dari Jerman, yang mendorong agar Djeno Harumbrojo menekuni kembali profesi pande besi dengan membuat keris. Djeno Harumbrodjo bersama Yosopangarso (alm) pernah aktif melakukan pengkajian dan praktek di Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta dengan supervisor antara lain Ir. Haryono Haryoguritno.

Kemudian muncul seniman keris (empu) seperti KRT. Pauzan Pusposukadgo; KRT. Subandi Suponingrat, R. Ng. Suyanto, Yohanes Yantono, Sukamdi, KRT. Rudi Hartono Diningrat, M. Jamil, Fanani, H. Duraphi, H. Ahmad dan masih banyak lagi. Karena selain di Jawa Tengah, kini tersebar seniman keris antara lain di Malang – Jawa Timur, di Sumenep – Madura, di Denpasar – Bali yang terus aktif mengembangkan keris baru atau lebih dikenal dengan keris Kamardikan.




Keris dhapur Naga Tapa – karya Toni Junus (bahan pamor - alloy titanium)

Keris dhapur Naga Tapa – karya Toni Junus (bahan pamor - alloy titanium)
Proses cipta, Keris Kamardikan Bertuah

Sudah merupakan hal yang biasa jika keris dianggap sebagai sebuah benda yang memiliki kekuatan mistik. Anggapan ini bahkan menjadi keyakinan oleh masyarakatnya, mereka percaya adanya kekuatan itu oleh karena empu menanamkan daya dari mantera atau doa-doanya. Banyak diantara mereka menyimpan keris sebagai jimat dan diyakini membawa keberuntungan. Aspek mistik dalam dunia keris sangat menarik dibicarakan, walaupun bersifat subyektif, namun ada kalanya kekuatan itu bisa dirasa atau dilihat oleh banyak orang.

Penciptaan keris dijaman dahulu selalu melalui prosesi yang berkaitan dengan ritual dan spiritual. Pada keris Kamardikan hal ini belum dijamah. Namun keris Kamardikan belum tentu ‘tidak memiliki’ kekuatan gaib. Marilah kita coba menganalisa proses cipta keris kamardikan secara ilmiah, menyangkut ilmu jiwa dan metafisika.

Esoteri Keris Kamardikan
Kata ‘esoteri’ sangat lazim didalam dunia perkerisan, adalah untuk menyebutkan sesuatu yang ada di dalam keris. Esoteri atau adanya kekuatan mistik keris menjadi ketertarikan penggemar keris, karena harapan akan dapat membantu penyelesaian persoalan hidupnya. Hal itu adalah wajar, karena fenomena kegaiban keris sudah tertanam sejak dahulu.

Namun, dikaji lebih dalam lagi apa yang disebut esoteri keris atau mistik keris, dalam sisi pandang penalaran (analisis kejiwaan);
  1. Keris dapat dihayati sebagai jalinan persoalan yang kompleks dan sebagai pengetahuan yang amat sinengker (bhs Kawi; sinengker = penuh kerahasiaan). Tetapi bagaimana kompleks dan sinengkernya keris, suatu hal yang tak dapat diabaikan dalam 'penikmatan' kedalaman makna keris adalah, bahwa ‘sesuatu’ itu awalnya mengemuka sebagai gejala yang dapat ditangkap melalui penginderaan (visual). Lalu dicerna dalam pikiran dan terjadi ‘kesan’ (interpretasi) dari pengaruh adanya pengalaman si penikmatnya (adanya chemistry). Jika seorang mengenal keris sebagai sesuatu yang menakutkan maka kesan itu akan mempengaruhi. Daya keris secara subyektif adalah interpretation yang muncul oleh adanya perception – experience dan intellectual.
  2. 'Dhapur' (bentuk keris) dan 'pamor' (motif layer) keris sebagai gejala “Visual-estetis” adalah yang pertama-tama merangsang indera penglihatan dalam proses penikmatan keris. Aspek visual-estetis atau aspek kesenirupaan itu, merupakan hal yang amat penting dan tak bisa diabaikan dalam penikmatan keris. Kemungkinan pengolahan estetika bagian-bagian keris adalah yang justru menyebabkan timbulnya daya gaib keris. Dugaan ini dapat dijadikan dasar bagi penelaahan keris dari sudut pandang senirupa. Esoteri atau kekuatan tuah keris secara kontekstual; akan dapat dijelaskan dengan adanya relasi kesenirupaan yang terjadi dalam proses penciptaan dan proses penikmatan keris. (disarikan dari “Isi keris ditinjau dari sudut pandang senirupa”; Drs. Budhiardjo Wirjodirdjo.M.Sn., Makalah; 1989).
Karena seni budaya keris ‘kontemporer’ berkembang tidak sentralistis pada keraton lagi, apalagi kekuasaan keraton sudah beralih pada bentuk negara Republik, maka keraton tidak lagi mengangkat empu (tidak yoso empu), maka keris Kamardikan akan menuju suatu persepsi, yaitu sebagai ekspresi seorang seniman dalam mengutarakan maksudnya baik bermuatan filosofis, simbolis bahkan esoteric. Istilah keterpukauan dalam visual-estetis jika dicermati akan melahirkan interpretasi atau daya tersendiri (esoteric) yang merupakan ekspresi si pencipta.

Begitu pula keangkeran ‘pemberian gelar’ atau nama pada sebilah keris (a.l. Kyahi; Kanjeng Kyahi; Kanjeng Kyahi Ageng) yang dahulu resmi secara seremonial dalam tradisi keraton, misalnya untuk pengenang jasa keris (karena si pemilik berhasil menyelesaikan tugas raja), adanya tujuan dibuatnya keris karena suatu kebutuhan spiritual dalam mengatasi situasi (seperti untuk mengusir wabah penyakit), serta adanya peristiwa-peristiwa gaib yang muncul dan berinteraksi dengan pemilik keris.

Pada masa yang akan datang, gelar keris pada keris Kamardikan akan bergeser pemahaman sebagai penanda sebuah karya (judul) untuk membedakan karya yang satu dengan yang lainnya. Kemudian nama atau gelar keris dimaksudkan sebagai titian (jembatan) untuk mengungkapkan makna simbolis-esoteric dari apa yang menjadi konsep si pembuat keris itu.

Kritik dan pengkerdilan pasti muncul terhadap keris-keris Kamardikan yang keluar ‘pakem’ atau tidak menuruti pedoman pokok (eksentris). Namun dibalik kritik tersebut, sebaliknya keris Kamardikan kontemporer yang keluar dari ‘pakem’ akan menjadi kekuatan budaya konseptual yang lebih unggul untuk menembus pasar modern.

Kualitas Keris Kamardikan

Pada beberapa pameran keris, telah sering ditampilkan keris tangguh Kamardikan dalam variant klasik. (Disebut klasik karena keris yang ditampilkan masih merupakan duplikasi/mutrani bentuk keris tua seperti dapur Pasopati gaya PB X, Sardulo Mangsah - PB IX, Megantoro - Majapahit, dlsb).

Dimasa mendatang keris Kamardikan selain bentuknya yang mungkin mulai bergeser dari keris tua, juga akan unggul pula terhadap kualitas bahan, teknik dan konsepnya.


Iron Meteorite Campo del Cielo (Slice) – Argentina, Tolluca - Mexico, dan Iron Meteorite Nantan – Guang Ji, China.
Iron Meteorite Campo del Cielo (Slice) – Argentina, Tolluca - Mexico, dan Iron Meteorite Nantan – Guang Ji, China.
Ditinjau kualitas dan tekniknya bisa dinilai, pada:
  1. Batasan tradisional, yo-mor-jo-si-ngun yang sudah mengendap (dianggap baku), akan tereksplorasi dalam karya keris Kamardikan kontemporer yang canggih. Empu yang terlatih menduplikat keris tua dan mampu menangkap nilai estetikanya secara tradisional akan "melahirkan keris yang unggul" dengan gaya khas karyanya.
  2. Material/bahan, kemungkinan kembali pada teknik mendaur pasir pantai seperti proses pembuatan keris kuno, masih dapat dilakukan (eksperimen dari KRT. Subandi Suponingrat dan Dietrich Dresscher) atau mengimport besi atau baja dengan spesifikasi dan standar yang teruji dari luar negeri. Seperti bahan baja DAKS dari Daido Steel, seri Ns. 1045 dari Nippon Steel atau St. 60 dari Bohler serta beberapa jenis bahan nikel heterogen (9% Ni) untuk bahan pamornya yang setara dengan bahan dari meteor. Pada akhir-akhir ini eksperimentasi dengan mendatangkan bahan iron meteorite juga dilakukan, seperti iron meteorit dari Namibia – Afrika bernama Gibeon meteorit, Campo del Cielo dari Argentina, Nantan dari Guang Ji - China, Mundrabilla – West Australia, Baby Uruacu – Brazilia dan juga Muonionalusta dlsb. Standarisasi bahan tersebut akan dapat menuju suatu kepastian data spesifikasi sebagai jaminan standart kualitas (internasional).
  3. Ekspresi, demi sistematika kerja yang tertata, bisa dilakukan ritual-ritual pada setiap tahapannya. Karena problemnya bukan tata cara ritual yang baku seperti tradisi kuno dengan mantera-mantera, akan tetapi lebih utama adalah sikap batin sang seniman. Empu Sukamdi lebih menyukai pelaksanaan tidak menggunakan sarana sesaji, akan tetapi dengan meditasi mengheningkan cipta untuk nembung (permisi kepada alam), njawab (menyapa lingkungan makhluk halus), panyuwunan (permohonan kepada Tuhan YME); Sementara empu Daliman lebih mantap dengan cara Katholik. Arca Bunda Maria sengaja dipajang di besalennya. Sementara beberapa seniman melakukan finishing touchnya masih dengan ritual kejawen seperti sepuh jilat (quenching dengan dijilat). Dari sikap batin itu, muncul greget atau keterpukauan yang tertanam pada keris sebagai perwujudan (imaji) bersatunya penghayatan, experience dan intelligency (Leo Tollstoy). "Mekanisme instingtif, inspiratif/ilham dan intuitif adalah yang sering terpakai dalam proses penciptaan karya seni dibandingkan dengan proses "formal" nya. Karena bagi seniman atau kreatornya, pengenalan obyektif atas dunia luar dengan segala azasnya, justru menjadi muatan esotericnya; sehingga karya yang diciptakan merupakan tangkapan atas sesuatu yang di luar dirinya yang dapat diesensikan sebagai memiliki persesuaian yang berada di dalam dirinya sendiri". (Drs. Budihardjo Wirjodirdjo M.Sn.)
Tidak berbeda dengan yang diutarakan pada tata cara tradisional yang sering dipenuhi prosesi panjang. Prinsip-prinsip dasar tata cara itu telah menjadi singkat tatkala dipraktekkan oleh para seniman (empu keris) Kamardikan. Mengacu prinsip: ada "subyek" (manusia) dan "obyek" (keris) yang diciptakan melalui sebuah proses penciptaan yang melibatkan imajinasi dan penjiwaannya. Bahwa perkerisan masa kini telah mampu menjamah fenomena esoteris, sebagai hal yang selalu dipertanyakan sebenarnya sudah terjawab.

Jika bercermin pada kepercayaan Jawa (kejawen), imajinasi yang menjamah sebuah benda akan tertanam oleh sebab induksi dari konsentrasi sang seniman (empu keris) sebagai kehendak, maka energi yang tertanam akan tertangkap oleh penikmatnya. Bisa berupa getaran/daya atau suatu gambaran/persepsi sesuai pengalaman dan inteligensi masing-masing penikmatnya. Gambaran atau kesan itu kita mengerti sebagai 'esoteric'.

Interpretasi esoteric, bisa digolongkan dalam 5 (lima) aliran, antara lain:
  1. Daya atau energi dari imajinasi yang tertanam pada keris dideteksi secara elektromagnetis (pendulum, aura dll). Dengan perabaan energi/daya akan menyentuh cakra-cakra manusia sebagai getaran dan atau penangkapan dengan foto aura. (Reiki; foto Kirlian dll).
  2. Daya yang di"personifikasi"kan melalui gambaran figur-figur makhluk halus atas dasar kekuatan visualisasi onderbewustnya (bawah sadar), hal ini terjadi karena ingatan dan wawasan. Maka ada “kawruh tayuh keris” (pengetahuan menebak kekuatan keris) seperti telah dikenal sebagai tradisi sampai kini dengan cara pokok yaitu mencari isyarat/impian.
  3. Penginderaan visual-estetis, munculnya suatu greget atau keterpukauan oleh hasil ekspresi dari wujud yang tertanam melalui proses intuitif, kreatif dan reka ulang ingatan/penghayatan dalam sentuhan pada karya.
  4. Pemahaman semiotik, antara lain simbol (tanda) yang dipahami sebagai maksud yang melahirkan harapan. Seperti lingkaran-lingkaran motif pamor udan-mas sebagai harapan kerejekian, garis lurus bertumpuk sebagai singkir dan metafora pamor rondoru (motif seperti gambar daun palm), blarak sinered, junjung drajat dll, sebagai symbol kemuliaan, derajat dan kemakmuran. (Drs. Budihardjo Wirjodirdjo M.Sn. Tentang semiotika Keris.; Jurnal "SENI”, ISI - Yogyakarta).
  5. Pesan filosofis sebagai esoteric yang dapat memberi keyakinan (pesan psikhis) pada pemiliknya. Dapur jangkung (bentuk keris luk 3) sebagai kekuatan yang dapat menumpu terjangkaunya cita-cita, dapur sengkelat (luk 13) untuk memantapkan keyakinannya dalam meraih kepangkatan, Kalamisani (keris lurus) sebagai ‘pameling’ (mengingatkan) agar selalu hidup dalam ketakwaan untuk mendapat ketentraman lahir dan batin, dll. (R. Ng. Atmotjurigo).
Sedang menempa bahan untuk pamor berasal dari bahan iron meteorite Sikhote Alin dari Rusia
Sedang menempa bahan untuk pamor berasal dari bahan iron meteorite Sikhote Alin dari Rusia


KRT. Subandi Suponingrat; the kris-master
KRT. Subandi Suponingrat; the kris-master
Upacara Sidikara
Upacara Sidikara, yaitu membaca mantra-mantra empu agar keris-keris para pejabat yang diupacarai di depan panggung kembali bertuah ampuh seolah seperti disetroom dilaksanakan oleh Paguyuban Sastra Jendra, di Taman Mini IndonesiaIndah – 14 Februari 2006.




Kesimpulan

Melalui pengetahuan tentang simbolisme keris itu, maka senirupa keris dapat merupakan tanggapan terhadap nilai yang kompleks dari perkerisan itu sendiri, terkecuali fungsi keris dalam tradisi busana. Keris Kamardikan yang kontemporer mungkin saja tidak terikat lagi pada warangka standar, karena akan lebih mengutamakan kebebasan dalam ekspresinya dari sekedar berfungsi sebagai pelengkap busana.

Budaya perkerisan yang hiruk-pikuk dengan sejarah dan tradisi yang bersumber dari kekuasan/keraton tetap menjadi target konservasi. Sementara keris Kamardikan kontemporer akan semakin affluent karena diikuti pengembangan asesorinya secara kreatif, sehingga akan mudah dinikmati oleh para awam keris.

Seniman atau empu keris masa kini sudah cukup menguasai kaidah ‘pakem’ karena sering mutrani (menduplikasi), tidak diragukan ketika dihadapkan dengan keris-keris tua, karena pada hakekatnya penguasaan terhadap ‘pakem’ dan pemahaman terhadap nilai-nilai tradisi keris tetap menjiwai para empu dalam berkarya (essensi).

Keris akan menjadi kaya aliran sebagai "variant klasik" dan sebagai "karya kontemporer", bukan mati salah satunya, melainkan akan tumbuh dimasa mendatang sebagai sebuah bentuk pelestarian.

"Tingkat intelektual seniman keris Kamardikan, sikap batin dan keinginannya mengutarakan suatu maksud (seperti filosofis, simbolis, reka inspirasi dan hal-hal esoteric lainnya) dalam 'penciptaan' karya, merupakan proses yang sama seperti pada 'proses penciptaan' keris tua oleh para empu keris jaman dahulu". (sequencetial - essensinya sama tetapi beda kurun waktu penciptaannya).

Pergeseran budaya sentralistik keraton (pengagungan) mungkin akan terjadi menuju budaya progresif dengan pemaknaan yang bebas, seperti munculnya muatan kritik sosial pada post¬modern (happening art, environmental art, dll.) dalam senirupa Barat. Perkembangan keris Kamardikan kontemporer tidak akan lepas dari tuntutan pemenuhan sisi ketertarikan (interesting demand), untuk beradaptasi dengan modernisasi, dan akan menjadi sebuah senirupa yang baru lahir dari Nusantara.

Ditulis ulang dari PAMOR Vol. 1, No. 3, Maret 2006. (JPK).



Referensi :

  • DR. Dharsono, M.Sn; Keris Nusantara, Revitalisasi melalui upaya konservasi:
    Makalah, 2005;
  • DR. Dharsono M. Sn; sebagai Ketua Bidang Lit.Bang SNKI - Dosen STSI - Solo.
  • Drs. Budihardjo Wirjodirdjo, M.Sn.; Isi keris ditinjau dari sudut pandang seni rupa;
    Makalah 1989; Sarasehan Kraton Yogyakarta.
  • KPH. Poerwohadikusumo; Sukamdi empu; dialog opini dan pemikiran; wawancara via telpon.
  •  
Esoteri Keris Kamardikan
Kata ‘esoteri’ sangat lazim didalam dunia perkerisan, adalah untuk menyebutkan sesuatu yang ada di dalam keris. Esoteri atau adanya kekuatan mistik keris menjadi ketertarikan penggemar keris, karena harapan akan dapat membantu penyelesaian persoalan hidupnya. Hal itu adalah wajar, karena fenomena kegaiban keris sudah tertanam sejak dahulu.

Namun, dikaji lebih dalam lagi apa yang disebut esoteri keris atau mistik keris, dalam sisi pandang penalaran (analisis kejiwaan);
  1. Keris dapat dihayati sebagai jalinan persoalan yang kompleks dan sebagai pengetahuan yang amat sinengker (bhs Kawi; sinengker = penuh kerahasiaan). Tetapi bagaimana kompleks dan sinengkernya keris, suatu hal yang tak dapat diabaikan dalam 'penikmatan' kedalaman makna keris adalah, bahwa ‘sesuatu’ itu awalnya mengemuka sebagai gejala yang dapat ditangkap melalui penginderaan (visual). Lalu dicerna dalam pikiran dan terjadi ‘kesan’ (interpretasi) dari pengaruh adanya pengalaman si penikmatnya (adanya chemistry). Jika seorang mengenal keris sebagai sesuatu yang menakutkan maka kesan itu akan mempengaruhi. Daya keris secara subyektif adalah interpretation yang muncul oleh adanya perception – experience dan intellectual.
  2. 'Dhapur' (bentuk keris) dan 'pamor' (motif layer) keris sebagai gejala “Visual-estetis” adalah yang pertama-tama merangsang indera penglihatan dalam proses penikmatan keris. Aspek visual-estetis atau aspek kesenirupaan itu, merupakan hal yang amat penting dan tak bisa diabaikan dalam penikmatan keris. Kemungkinan pengolahan estetika bagian-bagian keris adalah yang justru menyebabkan timbulnya daya gaib keris. Dugaan ini dapat dijadikan dasar bagi penelaahan keris dari sudut pandang senirupa. Esoteri atau kekuatan tuah keris secara kontekstual; akan dapat dijelaskan dengan adanya relasi kesenirupaan yang terjadi dalam proses penciptaan dan proses penikmatan keris. (disarikan dari “Isi keris ditinjau dari sudut pandang senirupa”; Drs. Budhiardjo Wirjodirdjo.M.Sn., Makalah; 1989).
Karena seni budaya keris ‘kontemporer’ berkembang tidak sentralistis pada keraton lagi, apalagi kekuasaan keraton sudah beralih pada bentuk negara Republik, maka keraton tidak lagi mengangkat empu (tidak yoso empu), maka keris Kamardikan akan menuju suatu persepsi, yaitu sebagai ekspresi seorang seniman dalam mengutarakan maksudnya baik bermuatan filosofis, simbolis bahkan esoteric. Istilah keterpukauan dalam visual-estetis jika dicermati akan melahirkan interpretasi atau daya tersendiri (esoteric) yang merupakan ekspresi si pencipta.

Begitu pula keangkeran ‘pemberian gelar’ atau nama pada sebilah keris (a.l. Kyahi; Kanjeng Kyahi; Kanjeng Kyahi Ageng) yang dahulu resmi secara seremonial dalam tradisi keraton, misalnya untuk pengenang jasa keris (karena si pemilik berhasil menyelesaikan tugas raja), adanya tujuan dibuatnya keris karena suatu kebutuhan spiritual dalam mengatasi situasi (seperti untuk mengusir wabah penyakit), serta adanya peristiwa-peristiwa gaib yang muncul dan berinteraksi dengan pemilik keris.

Pada masa yang akan datang, gelar keris pada keris Kamardikan akan bergeser pemahaman sebagai penanda sebuah karya (judul) untuk membedakan karya yang satu dengan yang lainnya. Kemudian nama atau gelar keris dimaksudkan sebagai titian (jembatan) untuk mengungkapkan makna simbolis-esoteric dari apa yang menjadi konsep si pembuat keris itu.

Kritik dan pengkerdilan pasti muncul terhadap keris-keris Kamardikan yang keluar ‘pakem’ atau tidak menuruti pedoman pokok (eksentris). Namun dibalik kritik tersebut, sebaliknya keris Kamardikan kontemporer yang keluar dari ‘pakem’ akan menjadi kekuatan budaya konseptual yang lebih unggul untuk menembus pasar modern.

Kualitas Keris Kamardikan

Pada beberapa pameran keris, telah sering ditampilkan keris tangguh Kamardikan dalam variant klasik. (Disebut klasik karena keris yang ditampilkan masih merupakan duplikasi/mutrani bentuk keris tua seperti dapur Pasopati gaya PB X, Sardulo Mangsah - PB IX, Megantoro - Majapahit, dlsb).

Dimasa mendatang keris Kamardikan selain bentuknya yang mungkin mulai bergeser dari keris tua, juga akan unggul pula terhadap kualitas bahan, teknik dan konsepnya.


Iron Meteorite Campo del Cielo (Slice) – Argentina, Tolluca - Mexico, dan Iron Meteorite Nantan – Guang Ji, China.
Iron Meteorite Campo del Cielo (Slice) – Argentina, Tolluca - Mexico, dan Iron Meteorite Nantan – Guang Ji, China.
Ditinjau kualitas dan tekniknya bisa dinilai, pada:
  1. Batasan tradisional, yo-mor-jo-si-ngun yang sudah mengendap (dianggap baku), akan tereksplorasi dalam karya keris Kamardikan kontemporer yang canggih. Empu yang terlatih menduplikat keris tua dan mampu menangkap nilai estetikanya secara tradisional akan "melahirkan keris yang unggul" dengan gaya khas karyanya.
  2. Material/bahan, kemungkinan kembali pada teknik mendaur pasir pantai seperti proses pembuatan keris kuno, masih dapat dilakukan (eksperimen dari KRT. Subandi Suponingrat dan Dietrich Dresscher) atau mengimport besi atau baja dengan spesifikasi dan standar yang teruji dari luar negeri. Seperti bahan baja DAKS dari Daido Steel, seri Ns. 1045 dari Nippon Steel atau St. 60 dari Bohler serta beberapa jenis bahan nikel heterogen (9% Ni) untuk bahan pamornya yang setara dengan bahan dari meteor. Pada akhir-akhir ini eksperimentasi dengan mendatangkan bahan iron meteorite juga dilakukan, seperti iron meteorit dari Namibia – Afrika bernama Gibeon meteorit, Campo del Cielo dari Argentina, Nantan dari Guang Ji - China, Mundrabilla – West Australia, Baby Uruacu – Brazilia dan juga Muonionalusta dlsb. Standarisasi bahan tersebut akan dapat menuju suatu kepastian data spesifikasi sebagai jaminan standart kualitas (internasional).
  3. Ekspresi, demi sistematika kerja yang tertata, bisa dilakukan ritual-ritual pada setiap tahapannya. Karena problemnya bukan tata cara ritual yang baku seperti tradisi kuno dengan mantera-mantera, akan tetapi lebih utama adalah sikap batin sang seniman. Empu Sukamdi lebih menyukai pelaksanaan tidak menggunakan sarana sesaji, akan tetapi dengan meditasi mengheningkan cipta untuk nembung (permisi kepada alam), njawab (menyapa lingkungan makhluk halus), panyuwunan (permohonan kepada Tuhan YME); Sementara empu Daliman lebih mantap dengan cara Katholik. Arca Bunda Maria sengaja dipajang di besalennya. Sementara beberapa seniman melakukan finishing touchnya masih dengan ritual kejawen seperti sepuh jilat (quenching dengan dijilat). Dari sikap batin itu, muncul greget atau keterpukauan yang tertanam pada keris sebagai perwujudan (imaji) bersatunya penghayatan, experience dan intelligency (Leo Tollstoy). "Mekanisme instingtif, inspiratif/ilham dan intuitif adalah yang sering terpakai dalam proses penciptaan karya seni dibandingkan dengan proses "formal" nya. Karena bagi seniman atau kreatornya, pengenalan obyektif atas dunia luar dengan segala azasnya, justru menjadi muatan esotericnya; sehingga karya yang diciptakan merupakan tangkapan atas sesuatu yang di luar dirinya yang dapat diesensikan sebagai memiliki persesuaian yang berada di dalam dirinya sendiri". (Drs. Budihardjo Wirjodirdjo M.Sn.)
Tidak berbeda dengan yang diutarakan pada tata cara tradisional yang sering dipenuhi prosesi panjang. Prinsip-prinsip dasar tata cara itu telah menjadi singkat tatkala dipraktekkan oleh para seniman (empu keris) Kamardikan. Mengacu prinsip: ada "subyek" (manusia) dan "obyek" (keris) yang diciptakan melalui sebuah proses penciptaan yang melibatkan imajinasi dan penjiwaannya. Bahwa perkerisan masa kini telah mampu menjamah fenomena esoteris, sebagai hal yang selalu dipertanyakan sebenarnya sudah terjawab.

Jika bercermin pada kepercayaan Jawa (kejawen), imajinasi yang menjamah sebuah benda akan tertanam oleh sebab induksi dari konsentrasi sang seniman (empu keris) sebagai kehendak, maka energi yang tertanam akan tertangkap oleh penikmatnya. Bisa berupa getaran/daya atau suatu gambaran/persepsi sesuai pengalaman dan inteligensi masing-masing penikmatnya. Gambaran atau kesan itu kita mengerti sebagai 'esoteric'.

Interpretasi esoteric, bisa digolongkan dalam 5 (lima) aliran, antara lain:
  1. Daya atau energi dari imajinasi yang tertanam pada keris dideteksi secara elektromagnetis (pendulum, aura dll). Dengan perabaan energi/daya akan menyentuh cakra-cakra manusia sebagai getaran dan atau penangkapan dengan foto aura. (Reiki; foto Kirlian dll).
  2. Daya yang di"personifikasi"kan melalui gambaran figur-figur makhluk halus atas dasar kekuatan visualisasi onderbewustnya (bawah sadar), hal ini terjadi karena ingatan dan wawasan. Maka ada “kawruh tayuh keris” (pengetahuan menebak kekuatan keris) seperti telah dikenal sebagai tradisi sampai kini dengan cara pokok yaitu mencari isyarat/impian.
  3. Penginderaan visual-estetis, munculnya suatu greget atau keterpukauan oleh hasil ekspresi dari wujud yang tertanam melalui proses intuitif, kreatif dan reka ulang ingatan/penghayatan dalam sentuhan pada karya.
  4. Pemahaman semiotik, antara lain simbol (tanda) yang dipahami sebagai maksud yang melahirkan harapan. Seperti lingkaran-lingkaran motif pamor udan-mas sebagai harapan kerejekian, garis lurus bertumpuk sebagai singkir dan metafora pamor rondoru (motif seperti gambar daun palm), blarak sinered, junjung drajat dll, sebagai symbol kemuliaan, derajat dan kemakmuran. (Drs. Budihardjo Wirjodirdjo M.Sn. Tentang semiotika Keris.; Jurnal "SENI”, ISI - Yogyakarta).
  5. Pesan filosofis sebagai esoteric yang dapat memberi keyakinan (pesan psikhis) pada pemiliknya. Dapur jangkung (bentuk keris luk 3) sebagai kekuatan yang dapat menumpu terjangkaunya cita-cita, dapur sengkelat (luk 13) untuk memantapkan keyakinannya dalam meraih kepangkatan, Kalamisani (keris lurus) sebagai ‘pameling’ (mengingatkan) agar selalu hidup dalam ketakwaan untuk mendapat ketentraman lahir dan batin, dll. (R. Ng. Atmotjurigo).
Sedang menempa bahan untuk pamor berasal dari bahan iron meteorite Sikhote Alin dari Rusia
Sedang menempa bahan untuk pamor berasal dari bahan iron meteorite Sikhote Alin dari Rusia


KRT. Subandi Suponingrat; the kris-master
KRT. Subandi Suponingrat; the kris-master
Upacara Sidikara
Upacara Sidikara, yaitu membaca mantra-mantra empu agar keris-keris para pejabat yang diupacarai di depan panggung kembali bertuah ampuh seolah seperti disetroom dilaksanakan oleh Paguyuban Sastra Jendra, di Taman Mini IndonesiaIndah – 14 Februari 2006.



Kesimpulan

Melalui pengetahuan tentang simbolisme keris itu, maka senirupa keris dapat merupakan tanggapan terhadap nilai yang kompleks dari perkerisan itu sendiri, terkecuali fungsi keris dalam tradisi busana. Keris Kamardikan yang kontemporer mungkin saja tidak terikat lagi pada warangka standar, karena akan lebih mengutamakan kebebasan dalam ekspresinya dari sekedar berfungsi sebagai pelengkap busana.

Budaya perkerisan yang hiruk-pikuk dengan sejarah dan tradisi yang bersumber dari kekuasan/keraton tetap menjadi target konservasi. Sementara keris Kamardikan kontemporer akan semakin affluent karena diikuti pengembangan asesorinya secara kreatif, sehingga akan mudah dinikmati oleh para awam keris.

Seniman atau empu keris masa kini sudah cukup menguasai kaidah ‘pakem’ karena sering mutrani (menduplikasi), tidak diragukan ketika dihadapkan dengan keris-keris tua, karena pada hakekatnya penguasaan terhadap ‘pakem’ dan pemahaman terhadap nilai-nilai tradisi keris tetap menjiwai para empu dalam berkarya (essensi).

Keris akan menjadi kaya aliran sebagai "variant klasik" dan sebagai "karya kontemporer", bukan mati salah satunya, melainkan akan tumbuh dimasa mendatang sebagai sebuah bentuk pelestarian.

"Tingkat intelektual seniman keris Kamardikan, sikap batin dan keinginannya mengutarakan suatu maksud (seperti filosofis, simbolis, reka inspirasi dan hal-hal esoteric lainnya) dalam 'penciptaan' karya, merupakan proses yang sama seperti pada 'proses penciptaan' keris tua oleh para empu keris jaman dahulu". (sequencetial - essensinya sama tetapi beda kurun waktu penciptaannya).

Pergeseran budaya sentralistik keraton (pengagungan) mungkin akan terjadi menuju budaya progresif dengan pemaknaan yang bebas, seperti munculnya muatan kritik sosial pada post¬modern (happening art, environmental art, dll.) dalam senirupa Barat. Perkembangan keris Kamardikan kontemporer tidak akan lepas dari tuntutan pemenuhan sisi ketertarikan (interesting demand), untuk beradaptasi dengan modernisasi, dan akan menjadi sebuah senirupa yang baru lahir dari Nusantara.

Ditulis ulang dari PAMOR Vol. 1, No. 3, Maret 2006. (JPK).


Referensi :

  • DR. Dharsono, M.Sn; Keris Nusantara, Revitalisasi melalui upaya konservasi:
    Makalah, 2005;
  • DR. Dharsono M. Sn; sebagai Ketua Bidang Lit.Bang SNKI - Dosen STSI - Solo.
  • Drs. Budihardjo Wirjodirdjo, M.Sn.; Isi keris ditinjau dari sudut pandang seni rupa;
    Makalah 1989; Sarasehan Kraton Yogyakarta.
  • KPH. Poerwohadikusumo; Sukamdi empu; dialog opini dan pemikiran; wawancara via telpon