Selasa, 03 November 2009

KETERANGAN SIFAT 20


Bab 2
KETERANGAN SIFAT 20

Manusia ditakdirkan/diciptakan sempurna karena mempunyai pikiran/akal dan alat perasa serta jasmani, Maka Ulama di zaman dahulu mempunyai pendapat bahwa Allah sebenarnya yang menciptakan, dan sebahagian besar menyebutkan sifat-sifat manusia sendiri adalah panca indra seperti Mata, Hidung, Mulut, Telinga dan Lidah. Beda dengan makhluk lain seperti binatang, walaupun mempunyai alat seperti manusia tetapi tidak lengkap, oleh karena itu hidupnya makhluk-makhluk tadi ikut kodrat masing-masing, bisa melihat, berjalan dan makan tapi tidak punya akal untuk berusaha dan sudah pasti hidupnya kurang lengkap. Berdasarkan keadaan, maka para orang bijak mempunyai pendapat ; bila manusia itu sifatnya lengkap dan tidak bisa berubah artinya Allah itu tidak kekurangan sifat seperti yang diciptakan. Walaupun semua Ulama sudah sampai disatu pendapat, tetap tidak bisa menemukan Allah SWT.

Maka dalam Wirid/pelajaran, Allah itu tidak bisa dijangkau oleh alat apapun bahkan oleh pikiran/perasaan. Jadi para ulama menyebut Dat yang maha agung yang bisa menciptakan Jagad raya.

Selanjutnnya keterangan sifat 20 (dua puluh) begini; Atas nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, terlebih dahulu dikutip dari buku Wirid Hidayat Jati tinggalan Ronggo Warsito;

Sebelum ada apa-apa yang ada hanya Allah yang berada dalam NUKAT GAIB yang diberi nama Qun, yaitu DAT sejati, Nukat artinya bibit, dan Gaib adalah samar/tidak nampak oleh mata yang disebut Nur Muhammad, yaitu Cahaya yang terang sekali tanpa bayangan, yang disebut sifat sejati QUN lalu FAYAQUN. Qun artinya Allah Bersabda (berkata) dan Fayaqun artinya Terjadi semua Afhngal (selamanya). Semua itu menjadi asalnya yang terjadi disebut Anasir Sejati. Jadi Allah memiliki 4 Anasir yaitu Dat, Sifat, Asma dan Afhngal.

Umpama penerimaan salah, pelajaran yang diatas tadi ada kata tempat di Nukat Gaib (benih yang tidak nampak) itu pasti dapat menimbulkan pendapat bahwa Allah itu berada disuatu tempat, karena disebut Layu Kayafu, itu semua salah, Allah tidak bisa disentuh atau dijangkau oleh apa saja, tidak ada yang menyerupai, karena semua itu sifat Baru (yang sudah ada).

Almarhum Kyai Agus Salim pernah berbicara; bahwa dasar agama Islam itu lebih dulu mengetahui nama Allah dan selanjutnya seluruh yang ada (Jagad Raya). Mustahil kalau tidak ada yang menciptakan, karena yang menciptakan wajib adanya (mokal dan wajib). Itu sebabnya manusia hanya menjumpai yang sudah ada dan tetap tidak bisa berubah. Kata mempunyai atau yang terjadi itu dalam bahasa Wirid/Pelajaran yaitu menyatu dan berpisah artinya sama, karena pusatnya itu Allah.

Wirid Hidayat Jati tersebut diatas akan diterangkan hanya soal 4 Anasir saja, oleh sebab itu akan dijumpai dibacaan ke-2. penelitian tentang 4 Anasir menurut catatan pelajaran agama yang tersebut dibawah ini:

1. Dat Allah yang tidak bisa dilihat tetapi mencakup/meliputi seluruh yang diciptakan semua yang dijumpai makhluk. Terbukti Layu Kayafu (tidak bisa diganggu oleh apapun), semua keterangan ada dibelakang. Umpama ada ikhtikat kepercayaan menceritakan manusia dapat / jumpa atau menghadap maju mundur dengan Allah, karena lupa dengan yang disebut Layu Kayafu.

2. Sifat itu sebetulnya perkataan sesudah ada Dat, artinya kekuasaan Dat Allah yang sebenarnya bisa menciptakan apa saja dan mempunyai sifat seluruh yang diciptakan.

Dengan kehendak Allah sifat itu apa yang telah diciptakan, sifat itu berjuta-juta (milyaran) warnanya, seperti yang tertulis dikitab Al-Quran, yang menyebutkan kekuasaan, keagungan dan Daya keperkasaan, umpanya bisa menidurkan, membangunkan,    menangiskan, menghidupkan benih. Oleh karenanya sifat-sifat yang begitu terdapat pada manusia. Para Ulama zaman dahulu kala sama-sama membicarakan satu keputusan bahwa sifat DAT yang wajib adanya itu menguasai manusia yang banyaknya 20+20+1,    maksudnya itu mempunyai sifat 20 yang wajib (tidak berubah-ubah), 20 lagi sifat    Mokal (bisa rusak/berubah) dan yang 1 adalah kuasa (wenang dalam bahasa jawa).    Jika difikir dengan benar bahwa sifat 20 itu menyatu dengan manusia, maka itulah disebut cukup alatnya. Oleh sebab itu manusia diwibawai dengan sifat 20 tadi,    umpamanya melihat, mendengar, hidup, bicara dan lain-lain. Semua sifat-sifat    Allah tersebut disebutkan dibawah ini;

SIFAT 20 ARTINYA

1. WUJUD = ADA
2. QIDAM = TIDAK ADA YG MENDAHULUI
3. BAQA = KEKAL
4. MUHALAFALIL HAWADIS = BEDA DENGAN YG BARU
5.QIYAMUH BINAFSIHI = BERDIRI SENDIRI
6. WAHDA NIYAT = MENYATU
7. QODRAT = KUASA
8. IRODAT = KEHENDAK
9. ILMU = PENGETAHUAN
10. HAYAT = HIDUP
11. SAMAK = MENDENGAR
12. BASHAR = MELIHAT
13. QALAM = BERKATA
14. QADIRAN = YANG MEMPUNYAI KUASA
15. MURIDAN = YANG MEMPUNYAI KEHENDAK
16. ALIMAN = YANG MEMPUNYAI ILMU
17. HAYAN = YANG MEMPUNYAI HIDUP
18. SAMIAN = YANG MEMPUNYAI PENDENGARAN
19. BASIRAN = YANG MEMPUNYAI PENGLIHATAN
20. MUTAKALINAN = YANG MEMPUNYAI PERKATAAN

Menurut pelajar Usuluddin bahwa sifat 20 itu diringkas menjadi 4;
1. Sifat kesatu disebut Nafsiah yaitu untuk badan (jasmani) nyata.

2. Sifat kedua sampai keenam disebut Salbiyah, yaitu sifat yang kekal.

3. Sifat Ke-7 sampai Ke-13 disebut Ma’ani, yaitu yang memiliki sifat Nafsiah, jika diteliti bekerjanya badan manusia bisa langsung bicara, mendengar dan berfikir.

4. Sifat ke-14 sampai ke-20 disebut Maknawiyah, yaitu yang memiliki sifat Ma’ani, artinya bisa bergerak, berkuasa, mempunyai kemauan dan ilmu.

Itu semua sifat yang utuh untuk menggerakkan, terdapat pada sifat ke-7 sampai ke-13, yaitu yang menghidupi badan manusia sehingga bisa bergerak dan yang menggerakkan terdapat pada sifat ke-14 sampai ke-20. Supaya jelas Dat Allah bisa menciptakan apa yang dikehendaki, lalu ada bentuk (wujud) manusia yang disebut Nafsiah, Karena hidupnya manusia mempunyai sifat-sifat 20. jadi bekerjanya sifat Ma’ani untuk manusia oleh karena manusia mempunyai sifat-sifat ke-14 dan ke-20. Tanda-tanda bukti (terbukti) sifat Qodrat (kuasa) itu sifatnya tetap berkuasa. Untuk manusia kekuasaan itu hanya memakai akibatnya daya yang memiliki kekuasaan Allah, contoh salah satunya sifat DAT. Umpama sifat ke-18 : (Sami’an) yang mendengarkan itu berada ditelinga, jadi ditelinga bisanya mendengarkan memiliki sifat Samak, dan terjadinya sifat Maknawiyah itu karena mempunyai sifat Ma’ani. Jelasnya Dayanya sifat Samak langsung bisa untuk mengetahui itu sesudah mempunyai sifat Wujud (ujud)/nyata yaitu telinga yang dimiliki manusia. Kalau salah penerimaan, kadang menjadi lupa dan menganggap Allah itu bertempat pada manusia, sebenarnya manusia itu hanya memakai Hakikatnya sifat-sifat Allah. Walaupun tidak berada ditelinga, Allah itu bisa mendengar, oleh karena Allah yang memilki semua sifat tersebut. Maka dari itu membaca Hidayat Jati itu harus dikaji, karena satu-satunya induknya pengetahuan, artinya Hidayat Jati itu tidak salah, tetapi yang membacanya saja harus berfikir. Umpama membaca sifat-sifat yang disebutkan diatas harus diulang-ulang, baru dapat merasa tentram dan terang, baru suasana menjadi merasa terbuka pikirannya, Firman Allah Qur’an surat Ar-Ra’d : 28;

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Dipelajaran semua sifat tadi lalu diulas (dibahas) lagi nama dan perkataan dibawah ini;

a. Sifat ke-1 disebut sifat Jalal, artinya Maha Agung, yang dinamakan agung itu DAT yang menyelimuti/melingkupi apa yang diciptakan.

b. Sifat ke-2, 3, 4, 5 disebut sifat Jamal, artinya Maha Elok/Sempurna, yang sempurna itu sifatnya, sebab tidak ada yang sama (menyerupai). Bukan laki, bukan perempuan, bukan banci, tidak beranak, tidak diperanakan (walam yalid walam yulad walam yakullahukufuan ahad) tidak bisa dijangkau dan tidak nyata.

c. Sifat ke-11, 12, 13 dan sifat ke-18, 19, 20 disebut sifat Kamal, artinya Maha Sempurna dan Afhngal yang menciptakan keadaan tanpa cacat, sebab tidak ada makhluk yang mengherankan.

d. Sifat ke-6, 7, 8, 9, 10 dan ke-14, 15, 16, 17 disebut sifat Kahar, artinya Maha Wisesa (Maha Menguasai), melayani semua tanpa pilih kasih (tidak membeda-bedakan) walaupun Jin, syetan, Manusia, dan Hewan, oleh karena itu Allah disebut Suci, jadi siapa saja yang hidup bisa menyebut Allah dengan caranya masing-masing.

3. Asma/NAMA (julukan) itu hanya kata manusia, hanya untuk menyebut nama Allah wajib adanya, karena manusia berhak menolak dan menerima, hanya terbawa diri sendiri karena bisa bicara (ngomong) mengatakan penguasa tinggi adalah Allah. Yang Maha Kuasa disembah/dipuja dan tidak bisa dilihat (tidak nyata), karena Hakikatnya menyelamatkan umat manusia, lalu menyebutnya macam-macam menurut pengetahuan masing-masing.

Keterangan : satu-satunya orang menyebut Allah ada.

Hidayat jati menerangkan Allah hanya nama pribadinya, pribadi itu bentuk manusia yang lengkap memiliki Datnya Allah. dan Datnya Allah meliputi Jagad Raya.

Firman Allah menyatakan Qur’an surat Fushshilat (Hammim As-Sajdah) : 54

“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.”

Karena Dat itu meliputi seluruh yang ada, manusia langsung mengakui bahwa Allah itu meliputi tidak diluar dan tidak didalam, seperti sirih; akar, pohon dan daun baunya sama. Oleh karena umpama Datnya Allah itu seperti rasanya sirih, karena sulit untuk ditebak, dinyatakan “tidak diluar dan tidak didalam”

4. Afhngal (geraknya Allah).

Karena Afhngal (gerak) semua makhluk yang diciptakan apa saja, Atom, seluruh zat gaib; Syetan, Malaikat dan manusia. Semua mengandung zat Allah. Jadi Jagad raya itu tidak pernah berubah (tetap) geraknya.

Bekerjanya Dat itu yang wajib sifatnya; tertib, Tentram, Adil, Suci, tidak membeda-bedakan, benar, tidak pernah berubah kekuasaannya. Umpama mau membuktikan setiap hari; ada orang membuat mainan dari kaleng diberi perputaran (as), minyak bensin dan roda, umpama mainan dibunyikan bisa berjalan, itu kerja yang membuat bisanya jalan barang tadi pasti sudah direncanakan dan memang pintar, kepintaran membuat barang disebut hakikatnya Dat yang membuat. Allah itu maha cerdik, lalu apa yang dikehendaki pasti jadi, pasti bergerak, itu contoh lain bagi tanda saksi bekerjanya (bergeraknya) DAT wajib adanya. Dari zaman dahulu kala jutaan tahun; bumi, matahari, bulan, bintang, udara dan lain-lainnya itu tarik menarik selamanya tanpa berubah, menjadikan daya alam (hukum-hukum alam) yang tertib seperti; siang, malam, panas, dingin tidak pernah berubah, tidak dapat diukur seberapa kekuatan DAT itu. karena sangat tertibnya dan tenang lalu timbul menuju arah satu, tidak cerai berai; terhadap manusia tiap hari tetap saling membutuhkan, contohnya begini;

a. Di hutan ada lebah madu glodok, madu kesukaan manusia dan lebah.
b. Karena madu lebah untuk jamu/obat, karena membutuhkan lalu mencari kehutan.

c. Di Hutan banyak bunga-bunga, itu saling dibutuhkan manusia, lebah, kupu-kupu saling mengisap.

d. Adilnya Yang Maha Kuasa; supaya kupu-kupu tadi selamat dari serbuan lebah dan manusia, sayapnya diciptakan satu warna dengan bunga-bunga tadi agar manusia dan lebah tidak bisa membedakan mana yang bunga dan mana yang kupu-kupu dikarenakan sayap kupu-kupu seperti bunga-bunga yang ada dihutan. Lama-lama manusia berusaha supaya lebah tadi semua berkumpul kerumahnya, lalu dibuatkan rumah-rumahan dari kayu yang dibuat seperti sarangnya, oleh karena itu manusia juga mempunyai kekuasaan mengatur lebah.

Jadi terjadinya manusia sebab dari yang satu (Allah), kalau difikir betul bentuk tentran ya DAT Allah SWT dan menuju yang satu menyebabkan terjadinya benar dan selamat. Apa buktinya bila manusia mempunyai kekuatan dari Allah, kata-kata mempunyai kekuatan bisa ditafsirkan manusia itu sama dengan Allah bagi orang yang salah tafsir (salah pendapat). Yang diatas menyatakan bila Allah itu mempunyai sifat 20 wajib, 20 mokal (sebaliknya) dan sifat berkuasa (Yang Maha Kuasa / Wenang dalam bahasa jawa), kuasa artinya yang menciptakan semua yang ada didunia ini.

1. WUJUD (Ujud) artinya ada (Allah), yang telah menciptakan Jagad Raya atau sebagai tanda saksi Bumi, Langit, Bintang, Matahari, Makhluk-makhluk semua dan Manusia Makhluk sempurna dan DAT yang tidak nampak itu wajib adanya. Keterangan itu orang bisa mengatakan ada (Ujud) karena diciptakan yaitu merupakan jasmani, hanya Cuma pinjam. Karena itu kitab Usuludin mengatakan sifat Ke-1 WUJUD untuk jasmani, itu sebabnya manusia bisa bergerak-gerak, kalau tidak ada berarti mati, sebab mati itu tidak bisa mengatakan (bicara) apa-apa.

2. QIDAM / Dulu tidak ada yang mendahului, maksudnya Allah itu Allah itu tidak ada yang lebih dulu dari padanya. Jadi jika ada sifat yang mendahului itu berarti bukan Allah. Jikalau ada yang mendahului itu pasti bukan Allah (Allah lebih dari satu), Allah 1 dan Allah 2 berebut kekuasaan, jadi manusia mengatakan Allah itu tidak ada.

3. BAQA (Abadi/kekal), maksudnya tidak bisa berubah selamanya. Jagad Raya yang diciptakan tadi tetap ujud tidak pernah berubah (abadi), Allah itu tidak seperti barang. Baru itupun yang mengatakan orang yang hidup. Sifat Allah yang bisa kita rasakan; Abadi itu sifatnya Allah sendiri sifat ke-1 sampai ke-20. Bukti untuk ukuran manusia, lidah tidak bisa merasakan manis/kelat sawo itu bila dimakan (dirasakan). Jadi sawo manis dan kelat bisa dirasakan, tetapi manis dan kelat itu sifatnya (langeng dalam bahasa jawa) kekal walaupun tidak dimakan orang. Kekalnya manusia karena bergerak, kekalnya sawo karena manis. Abadi itu batasnya masih hidup (sebelum mati). Jadi adanya senang, susah, dingin, panas yang memiliki (merasakan) orang hidup. Walaupun orang sudah mati siabadi tetap disebut abadi oleh orang yang masih hidup.

4. MUHALAFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru), artinya sifat-sifat Allah yang tidak bisa disamakan (diungguli) oleh siapa saja, karena semua itu ciptaannya. Untuk manusia semua beda bentuknya disebut sifat Baru (beda dengan yang baru). Manusia dilahirkan dengan sifat baru, bisa berubah-rubah karena namanya manusia didunia dimanapun beradanya pasti sama, bersuku-suku, mempunyai mata, kaki, telinga dan lain-lain. Walaupun kata-kata beda dengan yang Baru manusia, beda dengan hewan walau sama-sama hidupnya (lembu dan kambing), 10 juta lembu dan kambing ya bentuknya sama semua. Misal Manusia ada 10 juta ya sifatnya sama. Allah SWT itu jika menciptakan makhluk satu dan yang lain berbeda antara Manusia, Binatang, tumbuh-tumbuhan. Maha Bijaksana Allah menciptakan isi Alam ini bisa membeda-bedakan ciptaannya, itulah yang disebut MUHALIFAH LIL HAWADIS (beda dengan yang baru). Didunia banyak makhluk-makhluk yang mengherankan, semuanya berbeda-beda; Manusia, Lembu, Kambing, Lebah semuanya barang baru, beda dengan yang baru lagi. Semua tadi membuktikan (saksi) Allah menciptakan makhluknya menurut kehendaknya.

5. QIYAMUH BINAFSIHI (berdiri sendiri), artinya tidur nyeyak bangun sendiri, benih timbul sendiri dan Matahari, Bulan, Bintang, Siang, Malam bergerak sendiri tidak pernah berubah-ubah. Jadi yang bergerak itu mempunyai sifat Qiyamuhu Binafsihi, contoh lain Atom, Neutron, Positron, Elektron semua itu bisa (Makarti dalam bahasa jawa) atau bergerak karena mempunyai sifat berdiri dengan sendiri otomatis. Ilmu Kesehatan Plasma darah tetap jalan sendiri, sebab kena daya panas, umpama plasma itu bisa dipecah-pecah sampai halus walaupun tidak kena/tersentuh panas jika menempel ketubuh masih bisa berjalan sendiri. Semua ilmuwan mengakui bahwa Plasma-plasma itu hidup. Contoh lagi yang membuktikan memakai mikroskop ukuran 10,000 disitu terbukti Plasma tersebut bisa berjalan/bergerak-gerak (6 mm/jam). Ternyata habisnya pendapat tentang Allah yang menggerakkan makhluknya.

6. WAHDA NIYAT (satu), artinya tunggal, sifat itu mudah diterima karena bukan dua atau tiga, artinya satu itu meyakinkan bahwa adanya Allah. Untuk manusia adalah DAT, karena manusia asal dari DAT (zat) yang satu itu. Semua tujuannya benar, karena Dat Allah itu satu (Wahda niyat) yang memiliki sifat 20.

7. QODRAT (kuasa), keterangan itu begini; orang duduk dikursi akan berdiri dan langsung berdiri karena mempunyai sifat Qudrat /kuasa, sanggup memerintah dirinya. Qudrat air (kuasa air) tidak bisa memerintah, hanya mengalir ketempat yang lebih rendah dan merata (waterpass), bisa dilihat dari daya alam surya, panas, udara dingin menghembus, air (hydrogen) atom plus/minus bisa jadi elektrik. Yang Kuasa langsung membuat hukum-hukum alam yang teratur tidak bisa mengalami benturan. Qudrat itu diberikan kepada manusia tinggal pakai. Perkataan Qudrat jauh sekali, maka alat-alat manusia; Panca indra, pikiran dan nafsu itu dikodratkan oleh Allah karena manusia tadi mempunyai sifat Qudrat. Jadi semua tadi tinggal menggunakan Qudrat tadi. Qudrat Allah yang diciptakan semua sempurna dan mempunyai daya sendiri.

8. IRODAT (Kemauan/kehendak), jadi kehendak itu yang menguasai gerak, sifat Irodatnya diam (tidak bergerak), Irodatnya Allah yang melebihi (tidak wajar), umpama bayi kembar siam, bayi berkepala duapun di ciptakan.

9. ILMU (ilmu), manusia mempunyai pengetahuan karena mempunyai ilmu, dari sifat Allah Ilmu, manusia bisa membaca, menulis karena terbuka hatinya baru menulis karena terbuka hatinya baru mempunyai ilmu pengetahuan. Menuntut ilmu bisa terlaksana sempurna jika terbuka hatinya (Kijabnya), benar Firman Allah Qur’an surat An-Nissa : 126 :

“Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.”

Begitupun orang yang tidak tau apa itu, bukan karena bodoh, tetapi karena memang masih belum terbuka hatinya (terbuka kijabnya). Terbukanya hati terhadap orang-orang jaman dahulu terjadinya para wali Allah. Ilmuwan/sarjana, Pujangga, yang terbuka hatinya menuju kepada ilmunya Allah yang sejati. Dan ilmu lainnya hanya untuk bermasyarakat, itu setiap orang bisa belajar (mempelajari).

10. HAYAT (hidup), yang dibilang hidup ialah makhluk yang bergerak karena memiliki sifat ke-10 (HAYAT) dan sifat mokal (sebaliknya, Mati), manusia hidup lebih sempurna sifat hidupnya dari pada makhluk lain. Manusia sifat Hayat lebih sempurna dari zat-zat hewan dan tumbuh-tumbuhan, sebab manusia apa saja yang dikehendaki mesti tercapai walaupun perlahan (tidak merasakan) walaupun sifatnya gaib, sperma, basil, molekul-molekul yang tidak nampak, tetapi bisa dilihat dengan alat mikroskop maka terlihat bergerak-gerak. Itulah tanda bahwa DAT wajib adanya, sebab sifat Hayat meliputi Jagad Raya, dimana saja sifat Hayat tadi memberi daya. Intisarinya hidup itu bukan Allah, tetapi sifatnya mendayai (memberi daya) apa saja yang nampak dan tidak nampak (gaib). Gundik (jawa) Raja rayap itu dibungkus rapat dengan tanah liat sehingga tidak ada udara tetapi Raja Rayap tadi bisa hidup dan bertelur. Itu membuktikan sifat 20 meliputi seluruh keadaan, jadi hidup itu dimiliki semua makhluk, beda dengan manusia sifat hayat itu sempurna karena memilki sifat 20 yang lengkap sehingga bisa meneliti sifat-sifat Allah;

a. Tumbuh-tumbuhan hidup tetapi mempunyai sifat 20

b. Hewan hidup tetapi hanya memiliki sebagahagian sifat 20.

11. SAMAK (mendengar), memilki alat telinga mokalnya (jawa)/ sebaliknya tuli. Wirid Hidayat Jati yang asli halaman 12 baris kedua dari atas; DAT Allah Yang Maha Suci itu kalau melihat memakai mata kita, kalau mendengar melalui telinga kita, DAT ke-11 itu salah satu sifat Allah, walaupun punya telinga bila tidak dialiri sifat ke-11 (Samak) hanya telinga-telingaan. Pokok kata Dat sama walaupun tidak memakai telinga tetap mendengar, karena Allah yang memilki, manusia hanya memakai. Selanjutnya Datnya manusia adalah sifatnya Allah. Sebelum ada DAT tidak bisa mengetahui sifat (tidak ada), karena DAT Allah itu berada pada manusia dan manusia itu luhur (sempurna) karena itu hanya manusia yang memiliki sifat 20.

12. BASHAR (melihat), terhadap manusia dan hewan bekerjanya melalui mata, bukan berarti Allah melihat melalui manusia dan hewan, Allah itu melihat melalui mata kita kenapa kita tidak bisa melihat sebelum terjadi, sebab Allah melihat apa yang akan terjadi. Jadi pertanyaan salah menelaah tetapi benar, sebab terhadap umum (pendapat) pasti melihat itu karena mata yang melihat, sebab setiap melakukan pekerjaan selalu nampak jadi dinamakan Bashar. Jadi mata yang terang jika tidak dialiri sifat Allah yang namanya Bashar tentu tudak bisa melihat (buta), sifat mokal namanya. Bagaimana ukuran bagi Allah tentang sifat Bashar itu artinya Allah melihat tidak memakai mata karena Dat/sifat Bashar tadi memang sudah mempunyai daya sendiri, contoh orang tidur; mata tidak bisa melihat (bekerja) kenapa bisa melihat yang belum pernah dilihat atau mimpi (diwaktu mimpi). Jadi Dat yang memiliki sifat Bashar itu sebenarnya bekerja sendiri (Makarti dalam bahasa jawa). Dat yang bisa mengetahui tadi bisa dimiliki semua orang aktif (hidup), bekerjanya (Makartinya) tidak memerlukan pelajaran dan belajar, sebab anak-anak, orang dewasa selalu melihat yang belum pernah dilihat, sebab itu terjadinya bagi orang yang sempurna, orang bisaa bisanya melihat dengan tidak sengaja menurut kehendak Yang Maha Kuasa (Dat Bashar), sebab itu Dat Bashar itu salah satunya sifat Allah, lalu disebut Allah Yang Maha Melihat.

13. QALAM (berbicara), bicaranya Allah itu menurut sifatnya manusia bicara, burung berkicau dan lain-lain. Sifat-sifat yang baru dan semua isi Jagad Raya yang baru kehendaknya (Allah) atau sifat Allah yang dimiliki para Nabi, Wali dan Rasul-rasul Allah, yang maknanya menuju kebenaran, seperti kitab Al-Qur’an yang mengatakan Allah itu Rasullullah (Nabi Muhammad). Ukuran manusia sifat mokalnya / sebaliknya yaitu bisu, Sabda Allah menuju kebenaran. Orang yang bisa menunjukkan kesalahan menuju kebenaran adalah orang yang sudah memiliki sifat Qalam, umpama para Rasul, contoh manusia bergaul selalu salah menyalakan, Rasul lalu meluruskan (para Nabi), karena Rasul membawa Firman Allah, contohnya sifat ke-2 Qidam; dulu tidak ada yang mendahului, sifat ke-4 Muhalafah Lil Hawadis (sifat baharu/barang baru). Kata-kata yang benar itu tidak ada yang mendahului, artinya tidak ada ulur tarik dan tidak ada sifat mokal (saleh). Al-Qur’an itu semua tujuannya tdak ada yang berlawanan, terhadap perkataan yang dimiliki manusia, Wali, Mukmin yang telah sempurna, yang dibicarakan hanya perihal tentang Allah, perkataannya pasti benar, karena itu satu orang tidak sama oleh karena membuktikan, mereka mendapat Wahyu allah (sifat Qidam). Dan perkataan Allah beda dengan yang baru hanya terdapat pada manusia sendiri, artinya manusia berbicara berbeda dengan makhluk lain. Makhluk-makhluk yang memiliki sifat Qalam tidak hanya yang bisa bicara, tetapi semua bisaa bersuara karena dialiri oleh sifat Qalam.

14. QADIRAN (Yang Berkuasa), yang kuasa itu menurut ukuran manusia, umpama sudah mempunyai sifat Qudrat, karena memiliki sifat tadi, manusia bisa mengerjakan perintahnya, contoh mata; kalau tidur terpejam lalu bangun terbelalak-belalak, karena manusia mempunyai sifat Qadiran; bisa mejamkan mata dan membuka mata. Kuasanya manusia semua alat badan sebenarnya tidak tetap konsisten (tetap), tetapi berubah-ubah sebab manusia tidak bisa memerintah kodratnya mata, sewaktu mata tidak mengantuk; manusia tidak bisa membuka mata sampai lama dan pasti terasa pedih, memejamkan mata terus-menerus (lama) pasti tidak tahan karena tidak merasa mengantukl, jelas sifat Qadiran itu manusia bisa menundukkan alat tubuh jika tidak berlawanan demgan sipat kuasanya (kodratnya).

Keterangannya sipat Qadiran itu menyebabkan manusia bisa memerintah alat-alatnya karena alat sudah tercetak ucap kerja sama (constant) tidak pernah diperintah jadi yang bisa di perintah itu hanya alat-alat yang bekerja menurut kodratnya, karena manusia bisa merintahnya, itu karena memiliki sifat Qadiran. Yang lebih tinggi tingkatannya yaitu sifat Qodrat, sebab sifat Qodrat itu yang memiliki dan sifat Qadiran yang diberi.

15. MURIDAN (yang berkehendak), sifat itu terdapat (dimiliki) oleh manusia, artinya sesudah manusia memiliki sifat Irodat, Karena diberi sifat tadi (Irodat) manusia lalu disebut memilki sifat Irodat, contoh anak menulis itu mempunyai (mengerjakan), menulis itu pekerjaan (sifat). Untuk ukuran manusia sifat Muridan tadi terbukti rasa kemauan gerak, sebab dari gerak kemauan sebenarnya mannusia mempunyai sifat Irodat (kehendak), jadi bisa bicara karena mempunyai sifat Irodat, sifat Irodat bentuknya menjadi sifat sebagai yang memiliki (manusia).

Keterangan: diatas itu termasuk sifat-sifat ke-16, 17, 18, 19 dan 20, dan keterangan yang terakhir; sifat-sifat ke-1 sampai ke-20 sebenarnya hanya salah satu sifatnya Allah sendiri dan manusia seharusnya berterima kasih kepada Yang Maha Suci Allah, karena diciptakan memiliki sifat-sifat-Nya yang lengkap, begitu juga sifat Allah sendiri sifat 20+20+1; 20 Wajib + 20 Mokal (sebaliknya) + 1 Adil. Menurut para ahli, sifat-sifat yang dimiliki manusia itu disebut INGSUN (jawa), Purusha (Sansekerta), IKHEID (Belanda), Rabbi/Illahi (Arab), Pangeran/Gusti (jawa), Tuhanku (Indonesia). Bersambung ………

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.

BUDAYA KEBATINAN


 
Di dalam serat Wulang Reh, karya “kasusastran” Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Sunan Paku Buono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana usaha menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan mendekat Yang Maha Widi (Allah Yang Maha Kuasa) bisa dicapai.

Dalam tembang Kinanthi ajaran itu bertutur :

Pada gulangen ing kalbu ing sasmita amrih lantip aja pijer mangan nendra kaprawiran den kaesti pesunen sarira nira sudanen dhahar lan guling

(Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. Orang pun tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).

 

 

Sejarah budaya Kebatinan

 

Pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang telah diadakan kongres dari berpuluh-puluh budaya kebatinan yang ada di berbagai daerah di jawa dengan tujuan untuk mempersatukan semua organisasi yang ada pada waktu itu. Kongres berikutnya yang diadakan pada tanggal 7 Agustus tahun berikutnya di Surakarta sebagai lanjutannya, dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta yang mewakili 100 organisasi. Pertemuan-pertemuan itu berhasil mendirikan suatu organisasi bernama Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) (Badan 1956), yang kemudian juga menyelenggarakan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962 (Pakan 1978:98).

 

Kebanyakan budaya kebatinan di Jawa awalnya merupakan budaya lokal saja dengan anggota yang terbatas jumlahnya, yakni tidak lebih dari 200 orang. Budaya  seperti  itu secara resmi merupakan “aliran kecil”, seperti Penunggalan, perukunan kawula manembah gusti, jiwa ayu dan pancasila handayaningratan dari Surakarta; ilmu kebatinan kasunyatan dari yogyakarta; ilmu sejati dari madiun; dan trimurti naluri majapahit dari mojokerto dan lain-lain.

Sebagian kecil dari budaya kebatinan  ini biasanya mempunyai anggota tak lebih dari 200 orang namun ada yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai kota di jawa dan terorganisasi dalam cabang-cabang. dan lima yang besar adalah hardapusara dari purworejo, susila budi darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di semarang, paguyuban ngesti tunggal (pangestu) dari surakarta, paguyuban sumarah dan sapta dari yogyakarta.

Hardapusara adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, yang dalam tahun 1895 didirikan oleh Kyai Kusumawicitra, seorang petani desa kemanukan dekat purworejo. Ia konon menamatkan ilmu dari menerima wangsit dan ajaran-ajarannya semula disebut kawruh kasunyatan gaib. Para pengikutnya mula-mula adalah seorang priyayi dari Purworejo dan beberapa kota lain di daerah bagelan.  organisasi ini dahulu pernah  berkembang dan mempunyai cabang-cabangnya di berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa timur, dan juga Jakarta. Jumlah anggotanya konon sudah mencapai beberapa ribu orang. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku yang oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku Kawula Gusti dan Wigati.

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Budaya ini tidak mau disebut budaya kebatinan, melainkan menamakan dirinya “Pusat Latihan Kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh Indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul susila budhi dharma; selain itu gerakan itu juga menerbitkan majalah berkala berjudul Pewarta Kejiwaan Subud.

Pagguyuban ngesti tunggal, atau lebih terkenal dengan nama Pangestu adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku sasangka djati.

Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya yang kini sudah berjumlah 50.000 orang tersebar di banyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namun anggota yang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal di pemukiman transmigrasi di sumatera dan kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu dwijawara merupakan tali pengikat bagi para anggotanya yang tersebar itu.

Paguyuban sumarah juga merupakan organisasi besar yang dimulai sebagai suatu gerakan kecil, dengan pemimpinnya bernama R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940-an gerakan itu mulai mundur, namun berkembang kembali tahun 1950 di Yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

Sapta darma adalah yang termuda  dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan tahun 1955 oleh guru agama bernama Hardjosaputro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa keplakan dekat pare. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, sapta darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah kitab pewarah sapta darma.

Walaupun budaya kebatinan ada di seluruh daerah di jawa, namun Surakarta sebagai pusat kebudayaan jawa agaknya masih merupakan tempat dimana terdapat paling banyak organisasi kebatinan yang terpenting. Dalam tahun 1970 ada 13 organisasi kebatinan di sana; lima diantaranya dengan anggota sebanyak antara 30-70 orang, tetapi ada satu yang anggotanya sekitar 500 orang dalam tahun 1970. Sepuluh lainnya adalah organisasi-organisasi yang besar, yang berpusat dikota-kota lain seperti Jakarta, Yogyakarta, Madiun, Kediri dan sebagainya (jong 1973: 10-12).

S. de jong yang mempelajari budaya kebatinan jawa di jawa tengah, melaporkan bahwa dalam propinsi jawa tengah saja tercatat sebanyak 286 organisasi kebatinan dalam tahun 1870, dengan kemungkinan bahwa masih ada organisasi-organisasi kecil lainnya yang tidak terdaftar di sana.

Pengikut-pengikut terkemuka dari budaya kebatinan, yang diantaranya ada yang berlatar belakang pendidikan psikologi, biasanya menjelaskan bahwa timbulnya berbagai budaya itu disebabkan karena sebagian besar orang jawa butuh mencari hakekat alam semesta, intisari kehidupan dan hakekat Tuhan. Ahli sosiolagi Selosoemardjan berpendirian bahwa orang jawa pada umumnya cenderung untuk mencari keselarasan dengan lingkungan dan hati nuraninya, yang sering dilakukannya dengan cara-cara metafisik.


Mistik Kebatinan

 

Menurut pandangan ilmu mistik kebatinan orang jawa, kehidupan manusia merupakan bagian dari alam semesta secara keseluruhan, dan hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari kehidupan alam semesta yang abadi, dimana manusia itu seakan-akan hanya berhenti sebentar untuk minum.

Sikap. Gaya hidup, dan banyak aktivitas sebagai latihan upacara yang harus diterima dan dilakukan oleh seorang, yang ingin menganut mistik dibawah pimpinan guru dan panuntun agama itu, pada dasarnya sama pada berbagai gerakan kebatinan jawa yang ada. Hal yang mutlak perlu adalah kemampuan untuk melepaskan diri dari dunia kebendaan, yaitu memiliki sifat rila (rela) untuk melepaskan segala hak milik, pikiran atau perasaan untuk memiliki, serta keinginan untuk memiliki.. melalui sikap rohaniah ini orang dapat membebaskan diri dari berbagai kekuatan serta pengaruh dunia kebendaan di sekitarnya. Sikap menyerah serta mutlak ini tidak boleh dianggap sebagai tanda sifat lemahnya seseorang; sebaliknya ia menandakan bahwa orang seperti itu memiliki kekuatan batin dan keteguhan iman.

Kemampuan untuk membebaskan diri dari dunia kebendaan dan kehidupan duniawi juga melibatkan sikap narima yaitu sikap menerima  nasib, dan sikap bersabar, yang berarti sikap menerima nasib dengan rela. Kemampuan untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga dengan jalan melakukan berbagai kegiatan upacara kegiatan upacara yang meningkatkan kemampuan berkonsentrasi dengan jalan mengendalikan diri, dan melakukan berbagai latihan samadi. Melalui latihan bersemedi di harapkan agar orang dapat membebaskan dirinya dari keadaan sekitarnya, yaitu menghentikan segala fungsi tubuh dan keinginan serta nafsu jasmaninya.

Hal ini dapat memberikan keheningan pikiran dan membuatnya mengerti dan menghayati hakekat hidup serta keselarasan antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Apabila orang sudah bebas dari beban kehidupan duniawi (pamudharan), maka orang itu setelah melalui beberapa tahap berikutnya, pada suatu saat akan dapat bersatu dengan Tuhan ( jumbuhing kawula Gusti, atau manunggaling kawula-Gusti ) /Pendekatan kepada Illahi.

Namun dengan tercapainya pamudharan, yang memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kehidupan dunia kebendaan, orang itu juga tidak terbebas dari kewajiban-kewajibannya dalam kehidupan yang konkret; bahkan, orang yang sudah mencapai pamudharan, wajib amemayu ayuning bawana, atau berupaya memperindah dunia, yaitu berusaha memelihara dan memperindah dengan jalan melakukan hal-hal yang baik, dan hidup dengan penuh tanggung jawab.


Gerakan Untuk Purifikasi Jiwa

 

Semua organisasi kebatinan yang besar umumnya,  memang bersifat mistis; banyak gerakan kebatinan, terutama yang jumlah anggotanya sedikit, hanya berusaha untuk mencapai purifikasi jiwa,  Hal yang mereka inginkan adalah memperoleh suatu kehidupan kerohanian yang mantap, tanpa rasa takut dan rasa ketidak-pastian. Inilah yang oleh orang jawa disebut orang yang sudah “bebas” (kamanungsan, kasunyatan).

Cara untuk kamanungsan pada umumnya sama dengan cara untuk mencapai pamudharan tersebut diatas. Kecuali beberapa variasi kecil, maka cara untuk mencapai purifikasi jiwa pada dasarnya adalah dengan menjalankan kehidupan yang penuh tanggung jawab, baik secara moral, sederhana, mampu membebaskan diri dari keduniawian, mempunyai sikap yang baik terhadap kehidupan, nasib dan kematian dan melakukan samadi secara ketat. Oleh karena gerakan-gerakan kebatinan ini berusaha mencari kebebasan rohaniah individu, maka orang mudah mengerti bahwa sifatnya agak individualis; gerakan-gerakan seperti itu paling tidak menarik bagi orang-orang yang membutuhkan kehidupan keagamaan, tanpa harus menaati peraturan-peraturan keagamaan yang resmi secara ketat, namun menyesuaikan dengan adat istiadat (Said 1972-a: 153-154)


Kebatinan Yang Berdasarkan Ilmu Gaib

 

Di seluruh daerah tempat tinggal orang jawa banyak terdapat gerakan-gerakan kebatinan yang hanya beranggotakan beberapa puluh orang saja. Kebanyakan dari gerakan seperti itu berpusat di kota-kota dan pada umumnya bersifat rahasia, yaitu dengan tujuan-tujuan yang bersifat mistik, moralis, atau etis dan dipimpin oleh seorang guru. Untuk mencapai tujuannya, para anggota gerakan seperti itu banyak melakukan praktek-praktek ilmu gaib, disamping studi dan bersamadi.

Banyak dari budaya semacam itu pada awalnya adalah suatu organisasi yang mengajar seni bela diri pencak. Kecuali memberi latihan fisik, gurunya juga melatih murid-muridnya untuk melakukan meditasi. Untuk menciptakan suasana keramat, ada juga yang  ditambah berbagai ritus ilmu gaib secara rahasia yang dimaksudkan agar para muridnya, memperoleh kekebalan dan kesaktian tertentu.

WEDARAN WIRID I


Kata Pengantar

Mengingat bahwa bangsa Indonesia itu sebahagian besar agama Islam, mengingatkan dengan ucapan perkataan Paduka Yang Mulia Soekarno pada pertemuan musyawarah besar Islam di Solo (surakarta), supaya pemuda sama-sama mengorek (menggali) isinya Islam yang sebenarnya, maka penulis terdorong untuk saling mengeluarkan pendapat.

Para pembaca; penulis menerangkan pendapat itu karena mengingat para leluhur kita yang sudah sama-sama mengijinkan pendapat ilmunya, menjadi buku-buku suluk dan Wiridan (pelajaran), yang semasa zaman para Wali sangat dirahasiakan, karena dikhawatirkan bisa salah mengerjakan (mengartikan) !.

Kata Wirid itu pada suku Jawa (kejawen Jawa), mempunyai pendapat Wirid atau Rungsid, sembahyang Ikhlas (Khusyuk) serta zikir (mengingat-ingat) nama Allah serta mempelajari kitab Al-Qur’an Nul Qarim.

Penulis akan memberi pelajaran tentang 4 (empat) pelajaran yang sangat sulit, artinya empat jalan tingkatan Shalat (sembahyang) yang sempurna. Untuk pelajaran bangsa kita sendiri menurut undang-undang Pancasila, maka menyatukan pelajaran oleh penulis sengaja memakai bahasa Jawa yang sopan (telah diterjemahkan). Jika nanti ada kata bahasa Arab atau bahasa Barat lainnya itu menjadi pedoman penguat (meyakinkan) saja.

Karena menyatukan pelajaran Wirid itu berdasar (landasan) Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadist, maka penulis menggunakan Dalil yang terdapat pada Al-Qur’an dan Hadist. Selain dari itu mengutip pendapat para sarjana (cendikiawan) Jawa di tanah Jawa dan negara lain, terutama surat/buku karangan Alm. Pujangga R. Ng. Ronggo Warsito.

Dan selanjutnya mengingat kata-kata Bapak Ki. MO. Hatmoyuwono dengan saudara tertua Ki Broto Kesowo, dan artinya penulis dan pembaca harus menggunakan akal pikir yang sehat. Wedaran Wirid ini umpama makanan hanya mengambil dan memasak, maka sebelumnya harus dipikir terlebih dahulu benar salahnya keterangan ini. Bacaan ini bisa jadi ada yang tidak setuju, tetapi penulis mempunyai keyakinan; siapa saja tidak mengenal agama atau kepercayaan kebatinan, umpama mau berpikir tentang isinya dengan teliti, hasilnya akan menjadi saudara sependapat. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih.

Surabaya, 30 Mei 1957

Penulis,
Ki. R.S. Yudi Partojuwono

Bab 1
DAT ALLAH SWT WAJIB ADANYA.

Al-Qur’an surat Al-Israa : 15 ;

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul”

Keterangan tadi jika diteliti menunjukan kita, artinya seseorang harus mengetahui tentang hidup kita, walaupun hidup kita kearah jalan yang benar atau belum (salah).

Keterangan semua petunjuk dari satu-satunya orang lain belum tentu benar, karena orang itu berhak menolak dan mengolok, Karena tidak mau mengakui yang dikerjakan itu salah, walaupun orang itu banyak ilmunya.

Firman Allah SWT. Surat Al-Isra : 15, memberi peringatan siapa saya, artinya ilmu yang kita kerjakan benar atau salah yang harus merasakan adalah diri sendiri.

Untuk pekerjaan sehari-hari untuk semua pekerjaan orang itu seharusnya berhak memilih antara yang benar dan yang salah. Jadi kalau mau menggunakan kekuasaan itu tentu akan merasakan tenang. Umpama ada kegelisahan karena kurang waspada, umpamanya kita sudah menuju menuju yang benar ternyata masih salah, tetapi kita mau memperbaiki, pasti kita berbalik jalan kearah lurus (benar). Itu adalah contoh perjalanan hidup berkeluarga sehari-hari yang benar, dan salah dapat di perbaiki munurut keterangan (ramalan). Tetapi menurut ilmu sebenarnya tidak begitu, salah di dunia juga salah diakhirat. Jadi menurut Firman Allah SWT. Surat Al-Isra : 15 tadi, walaupun Allah sudah memberi petunjuk jalan yang benar melalui kitab-kitab yang disampaikan para Rasul-Rasul yaitu Agama. Walaupun begitu kita harus waspada, dan kitab-kitab suci itu semua isinya adalah petunjuk menuju kebenaran, maka kita harus berfikir yang benar. Jika orang yang membatah atau menyalahkan kebenaran, orang itu salah atau tidak benar.

Menurut masyarakat umum, orang yang tidak mau mengikuti (memeluk) salah satu agama, mempunyai keyakinan sendiri, menurutnya “makan tidak makan aku mencari sendiri, orang lain mau apa, yang penting tidak merugikan orang lain, ya sudah!!!.”
Untuk ukuran dunia, kemauan yang seperti itu memang benar, tetapi umpama dirasakan dengan isi hati kita mestinya menimbulkan pertanyaan, Tanggung jawab terhadap hidup bagaimana?, Nanti bila sudah ajal / Sekaratil maut, apa pasti bisa sempurna.

Apa percaya adanya Allah dan Gaib, apa hanya mengakui hidupnya didunia dilahirkan dengan manusia. Umpamanya mengakui jika lahir itu dari kandungan ibu, mestinya kita bisa teliti lebih jauh lagi selanjutnya. Karena percaya bila lahir dari manusia lantas mempunyai ikhtikat/kepercayaan yang menyebut sebenarnya manusia itu berdiri sendiri sebelum ada Allah dan malaikat dan lain-lain yang ada didunia. Selanjutnya diceritakan manusia itu asalnya dari adam / kosong. Walaupun orang biasa (awam) jika mau memikirkan yang lebih dalam, tentunya dalam hati timbul pertanyaan sebenarnya yang menciptakan itu siapa?, kenapa bisa melahirkan manusia lagi?, pertanyaan seperti tadi sudah tidak ada gunanya, malah menjadi perdebatan/persoalan. Sampai sekarang belum ada yang menerangkan bahwa manusia bisa membuat jangkrik atau lalat. Karena itu terpaksa mempunyai pendapat bahwa Allah itu ada tetapi hanya cerita orang terdahulu. Pikiran orang itu tambah bodoh dan juga tambah maju, terbukti adanya pendapat Allah (sang Pencipta) menyatu dengan yang diciptakan (Alam). Karena hidup dizaman modern ternyata sampai sekarang belum ada yang melihat / menyatakan Tuhan / Allah SWT. Karena sudah habis pikir / kehabisan pendapat, lantas mengatakan zat-zat atom alam seluruhnya itu adalah Allah, tetapi itu hanya pendapat segelintir orang, karena itu mempunyai pendapat dan akal yang cerdas, itupun para sarjana tidak mengetahui rahasia hidup. Artinya tidak bisa menjawab dengan tepat dari mana asalnya hidup itu. Karena habis pikir langsung timbul pendapat lagi bahwa hidup dari Allah. Itu sebenarnya hanya pendapat yang tidak ada ujungnya (buntu). Bukan karena bodoh tetapi hanya tidak bisa menjawab, buktinya menurut ilmu alam benda-benda itu terjadi dari perpaduan atom negative dan atom positif. Karena dari mana asalnya atom itu dan siapa yang membuat lalu bingung dan buntu cara berpikir langsung heran dan tegas mengatakan Allah itu sumber dari semua kekuatan / daya kekuatan gaib. Pendapat itu ibarat timbul dari keyakinan meneliti dengan keadaan daya tarik menarik dan dapat berubah-uabh menjadikan berputar, panas dan dingin, dan terjadi perputaran dunia dan bintang itu terjadi sebelum ada agama dan sangat teratur, dan manusia lahir didunia semua sudah terjadi sedemikian rupa.

Sarjana yunani yaitu Heraclitus dan Thales yang hidup antara 2500 tahun yang lalu, bertanya pada diri sendiri dari mana asalnya benda-benda dan zat-zat kimia tadi?.

Untuk dasar tentang zat yang maha suci wajib adanya, pertanyaan tersebut perlu dijawab berdasarkan hukum-hukum (proses) atom stelsel (kata atom) atau ilmu alam (Physica) modern, perlunya supaya tidak menimbulkan kepanatikan dan seharusnya menjadi kayakinan tentang zat yang Maha Suci wajib adanya. Karena seluruh keterangan disertai keterangan yang masuk akal, petunjuk yang mudah untuk menerangkan asal manusia itu dari Adam yaitu Kosong tetapi ada, dan berdiri sendiri sebelum adanya Allah.

Pelajaran itu umpama untuk orang awam (tidak tau apa-apa) sudah sangat tinggi, jadi seumpama ada orang yang Tanya manusia asalnya kosong (suwung dalam bahasa jawa) kenapa bisa jadi manusia? Lalu mereka diam (tidak ada jawaban). Hal demikian itu jika berdasarkan pengalaman untuk menjawab pertanyaan diatas samapai sekarang masih membingungkan.

Jadi ada pendapat dari beberapa ilmuwan dari barat yaitu Heraclitus dan Thales belajar membuktikan adanya Allah (Tuhan Gop Theo) untuk mencari asalnya benda-benda sampai buntu otaknya, tetapi tidak bisa membuktikan, akhirnya memutuskan bahwa asal benda-benda itu dari air. Di abad ke 19 pendapat tadi diteliti lagi oleh seorang ilmuwan Charles Darwin Faouback Karl marx, supaya bisa terbuka berdasarkan ilmu alam (kimia), air itu terjadi dari dua paduan (warna / Hidrogenium = Waterstof) dan zat baker (Oxygenium = Brandstof).

Perbandingan Hydrogenium (H) dicampur dengan 2 Oxygenium (O) bentuknya menjadi atom 2, jadi atom 2 H dan 2 atom (O) disingkat H2O bentuknya menjadi air.

Ilmuwan Dimocritus yang hidup 460 tahun sebelum Muhammad SAW lahir mempunyai pendapat bila zat cair, gas, padat dll itu terjadi dari paduan zat/benda yang halus sekali, sehingga tidak bisa dihancurkan lagi. Pendapat seperti itu dibenarkan oleh ilmuwan Aris Thoteles dan juga dibenarkan oleh ilmuwan Darwin dan mengatakan benda terjadi dari dua paduan yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat oleh mata kepala kita, zat/benda tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan tetapi bisa menyatu sendiri antara 2 paduan (Nitrogen dan Hydrogen) dan menjadi bentuk zat/benda yang disebut Molekul/Sel-sel. Umpamanya Alkohol terjadi dari campuran atom zat pembakar 2 atom zat arang (Koolzuur) 6 atom dan air. Selanjutnya para ilmuwan langsung menguji lagi, kenapa atom itu tidak bisa dipisah-pisahkan lagi. Percobaan tadi langsung diuji menggunakan cahaya (sinar X), kalau menurut ilmu kedokteran disebut Rontgen. Sedangkan pendapat ilmuwan Thomson tahun 1895 caranya cahaya sinar X itu disinarkan keatom tersebut dan atom tersebut hancur menjadi benda-benda yang sangat kecil-kecil sekali yang asalnya dari pusatnya sendiri (pusat atom) yang disebut “uratom”. Setelah di teliti ternyata mempunyai daya listrik negatif dan dinamakan Elektron, begitupun uratom itu sampai sekarang belum bisa diketahui besar kecilnya, walaupun dilihat memakai alat Mikroskop. Sampai sekarang Elektron tidak bisa diketahui daya alam atau daya mekanis, walaupun memakai berbagai bentuk alat. Menurut penelitian para ilmuwan tadi, pecahnya zat-zat tadi menyebabkan daya radio aktif, Radio aktif tersebut tidak bisa dibatasi dengan alat apapun. Radio aktif masih mempunyai daya tiga macam yaitu;

1. Daya Penetrasi yang bisa menimbulkan apa saja.
2. Daya Elektromagnetik
3. Lebih berat dari daya Elektron.

Mengandung daya menurut kodratnya, berjalan dengan sifatnya, maka semua yang tercipta (Gumelar bahasa jawa) itu bergerak tarik menarik satu sama lain, contohnya Bumi, Bulan dan Matahari. Penelitian para ilmuwan barat membuktikan seluruh benda yang terlihat oleh mata itu mempunyai daya magnit (listrik) negatif dan positif, atom dan intinya (uratom) itu bergerak tanpa sebab dan mengherankan para ilmuwan. Ditahun 1932 ilmuwan Rutherford dan Chadwich menemukan zat yang dinamakan Neutron yang tidak mengandung daya listrik, dan Rutherford sendiri menemukan Proton, waktunya lebih dari 1836 dari pada waktunya Elektron.

Tahun 1931 ilmuwan Pauli dan Fermi bisa mengalihkan daya Neutron, dan pendapat tadi disempurnakan lagi tahun 1955 karena daya Neutrino itu bakan zat ternyata sampai sekarang belum terlihat bentuknya kata Prof. Ac Lamok. Menurut keterangan Neutrino itu yang bisa menembus segala keadaan dialam ini dan bisa dihentikan/dibatasi oleh Timah, tebalnya bisa 30 juta km. Keterangan itu membuktikan daya Neutrino tidak ada bendingannya, umpamanya diukur dengan bulatnya dunia kira-kira 40.000 km, jadi jika Neutron-neutron tadi benturan/lawanan dengan anti Neutrino dibumi bisa hancur dan menimbulkan cahaya (daya gaib) yang menyebabkan seluruh makhluk dibumi tidak terguncang, walaupun bumi itu bulat dan berputar. Jadi daya tadi seumpama Lem yang melengket dibumi. Sesungguhnya daya yang timbul dari Neutrino adalah daya yang rendah, selama-lamanya tetap ada. Jika umpama daya tadi berhenti pasti akan terjadi kejadian yang luar biasa, semua benda-benda berantakan tidak tentu arahnya, semua terguncang oleh perputaran bumi. Sebab karena itu kita yakin bahwa Allah yang maha megetahui, sedang memikirkan keadaan Neutrino saja kita sudah pusing tujuh keliling/bingung apalagi untuk megetahui zat Allah. Apa yang dibicarakan tadi yang telah diketahui belum lagi yang tersimpan (belum diketahui) Gaibnya dunia itu tanpa pengetahuan. Maka timbullah pertanyaan siapa yang membuat atom-atom dan yang menimbulkan daya (kekuatan gaib)?. Jelas Allah SWT ada.

Dengan menggunakan ilmu yang disebut Spectraal Analyse yaitu ilmu yang meneliti apa yang ada dibumi dan diluar bumi.

Para ilmuwan mempunyai pendapat, benda-benda itu terjadi dari campuran zat atom dan zat-zat tadi. Menurut pendapat lain bahwa asal bintang atau planet-planet juga sama. Umpama Helium campuran dan surya karena Surya mengandung Helium, Calsium berasal dari Bintang Serius. Bisa mengatahui adanya itu bisa memakai alat yang meneliti keadaan cahaya-cahaya yang asalnya dari bintang tadi. Dengan bijaksana mengatakan itu mestinya harus mengagungkan nama Allah, dan berhenti disitu saja bahwa Allah semua kekuatan, umpama di piker lebih dalam oleh semua orang bisanya Cuma mengakui saja (mengatakan ya), dari lahir kedunia semua sudah ada, umpama ada orang bertanya pada bayi yang lahir antara 3 jam, “kamu kok nangis dan ketawa, kawanmu siapa?”, bayi itu tidak bisa jawab, umpama bayi umur 1 tahun, “kamu itu yang melahirkan siapa?”, bayi tetap tidak bisa jawab dengan tepat. Yang bisa menjawab hanya orang yang mengetahui keadaan ibunya waktu lahirnya sendirian, bisa tahu kalau dia lahir diberi tahu oleh yang melahirkan, jadi dia mengerti setelah dia bisa bicara dan dewasa.

Jadi sebenarnya orang lahir itu tidak tahu apa-apa, jadi kalau dipikir dengan cermat, orang tidak bisa mengatakan kalau Allah itu tidak ada. Jadi orang dilahirkan dengan tidak tahu apa-apa sampai tua dan tetap tidak tahu apa-apa yang dinamakan hidup dan mati itu apa. Orang lahir didunia itu semua sudah ada, jadi tidak perlu membuat lagi, lalu siapa yang menyediakan?, jawabnya adalah Allah, Sembahan yang tidak tampak tapi sebetulnya ada. Begitupun para Cendikiawan (ilmuwan) yang bisa meneliti atom dan zat yang lainnya juga belum bisa menjawab dari mana asalnya semua adanya atom, Oxygen dan zat-zat hidup itu?, tetap masih meraba siapa yang membuat.

Karena manusia itu dasarnya lebih sempurna dari makhluk lain, manusia mempunyai pikiran untuk memikir, bisa berusaha, itu sebabnya masing-masing merasa benar. Ada golongan mengatakan daya kekuatan itu Allah, ada mengatakan yang menciptakan kekuatan itu Allah, tetapi Dat-Nya tidak nampak. Selisih pendapat itu dari zaman ke zaman saling berebut benar. untuk menyelesaikan (menenangkan) itu semua maka Allah mengutus umatnya untuk memberi penerangan yang benar dan yang salah, dan umatnya yang disebut Rasul, para Rasul memerintahkan umatnya untuk mengakui dan meyakini bahwa Allah itu ada.

Karena zaman sekarang pikiran manusia belum berkembang maju, semua ajaran para Rasul hanya diterima begitu saja, “Allah itu ada” kata bapak dan ibu, tanpa dicari apa Allah itu, apa zat/data atau sifat dan daya kekuatan Allah. Karena masih ada yang bingung lalu timbul pikiran bahwa Allah itu hanya kumpulan bumi, matahari, udara dan air (4 anasir), ada juga yang mengatakan Anasir yang empat itu adalah sifat-Nya, jadi sampai turun temurun hingga sekarang bisa cuma percaya dan terima apa adanya. Karena itu memang benar apa kata firman Allah pada surat Al-Isra ayat 15 seperti diatas, bahwa semua kepercayaan itu tergantung diri masing-masing dan orang lain tidak turut campur. Bersambung………………

Sumber buku Wedaran Wirid I, Ki R.S. Yoedi Parto Yoewono. Surabaja : Djojobojo, 1962-64.

AJARAN BUDI PEKERTI DALAM SULUK GITA PRABAWA


Suluk Gita Prabawa menceritakan seorang anak raja yang bernama Gita Prabawa dengan ditemani seorang abdi yang setia yang bernama Darma Gandhul yang tak kalah jeleknya. Setelah bertapa pangeran itu menjadi orang yang sangat pandai berdebat, pandai menulis dan pandai berhitung , tanpa guru.

Pangeran lalu minta ijin ayahnya untuk berkelana mencari lawan untuk berdebat mengenai kawruh kasunyatan “ilmu kasunyatan” dan tentang hakikat Jalu Wanita (pria dan wanita), kelakuan dalam Asmara gama dan terjadinya benih manusia, akhirnya  Gita Prabawa mendapat lawan yang tangguh yang bernama  Dewi Pujiwati.

Dalam Suluk Gita Prabawa banyak terkandung pendidikan / ajaran budi pekerti yang luhur, dan menurut kaitannya dengan tahap-tahap syariat, tarikat, hakekat dan makrifat. Dalam suluk tersebut yang ada kaitannya dengan empat tahap perjalanan manusia menuju kesempurnaan antara lain sebagai beriku :

Wejangan Gita Prabawa

Darma Wasesa Kang winarna, langkung kagyat denira aningali, Gita Prabawa dene mlebu, marang guwa Siluman, pakartine Pujiwati sang Retna Yu, Darma Wasesa aturira, dhuh dhuh sampun den lampahi.

Terjemahan :

Diseritakan darma Gandhul, sangat terkejut melihat, Gita Prabawa masuk ke dalam gua siluman, itu perbuatan Sang Retna Ayu (Pujiwati), Darma Gandhul berkata, aduhai jangan dilakukan.

Dika manjing ing jro guwa, datan wande yen keneng kyeh bilai, langkung samar weritipun, ing ngriku pangalapan, kayangane sagungipun pra lelembut, Pujiwati kinuwasa, linulutas pra dhedhemit.

Terjemahan :

Tuan masuk ke dalam gua, pasti mati, sangat berbahaya, karena angker, disitu tempat tinggal para lelembut, Pujiwati yang diberi kekuasaan, dicintai para lelembut.

Niku tukang pangalapan, yen wus kapal tanpa daya samenir, yen dika kalebeng ngriku, tan wande ketiwasan, boten wonten ingkang kawula tut pungkur, yen paduka tekeng pejah, kawula kantun pribadi.

Terjemahan :

Itu sering membuat orang kalap, kalau sudah kalap tanpa daya sedikitpun, jika Tuan sampai masuk ke situ, pasti mati, tidak ada yang hamba ikuti, jika Tuan sampai mati, hamba tinggal sendiri.

Mendah dukane kang rama, Prabu Garbasumandha tembe wuri, Ki Gita Prabawa ambekuh, aywa kuwatir sira, lara pati iku dudu darbe ingsun, ing lohkhil makful wus ana, bilai lara lan pati.

Terjemahan :

Alangkah marahnya ayah anda Sang Prabu Garbasumandha nantinya, Ki Gita Prabawa mendengus, jangan kuwatirkan aku, mati hidup itu bukan kepunyaanku, di lohkhil makful sudah ada, celaka, sakit dan mati.

Ki Darma wasesa tur ira, mila amba kumapurun mambengi, saking sanget tresna ulun, darbe guru bendara, sampun ngantos manggih susah lara lampus, Gita Prabawa asru ngucap, apa sira wedi mati.

Terjemahan :

Ki Darma Gandhul berkata, hamba berani menghalang-halangi, karena rasa cinta kasih hamba, mempunyai Tuan dan Guru, jangan sampai mendapat susah, sakit atau mati, Gita Prabawa berkata dengan keras, takut matikah kau?.

Ki Darma wasesa tur ira, pejah nika tankeni denajrihi, gumantung karseng Hyang Agung, nanging tindak kang yogya, mangka ulun incen guwa peteng nglangut, pepadhas curine kathah, ting caringih mbilaeni.

Terjemahan :

Ki Darmo Gandhul berkata, mati itu tak boleh ditakuti, bergantung kehendah Hyang agung, tetapi untuk perbuatan baik, padahal hamba intip gua itu gelap sekali, padasnya runcing-runcing dan berbahaya.

Tur rupek peteng asamar, manjing guwa punapa kang denambil, tur gandane dahat arus, yekti kathah kang wisa, lamun dika anedya lumebeng ngriku, lepat pejah kenging wisa, tur wisa kang mbebayani.

Terjemahan :

Lagi pula sempit gelap berbayaha, masuk ke dalam gua apa yang diambil?, lagipula baunya amis, pasti mengandung bisa, jika Tuan bermaksud ke situ, pasti mati terkena bisa, dan bisa yang berbahaya.

Temah pejah siya-siya, tetep lamun janma bodho kepati, nir bobot lan timbangipun, suwawi kondur enggal, lamun lajeng sayekti yen manggih ewuh, manah ngong amelang-melang, tarataban ketir-ketir.

Terjemahan :

Akhirnya mati sia-sia, sungguh manusia yang bodoh, tanpa pertimbangan apa pun, mari pulang saja, jika diteruskan pasti akan mendapat bahaya, hati hamba sangat khawatir.

DALAM bait-bait tersebut, jelas dilukiskan bahwa seseorang yang mengabdi harus bertanggung jawah atas segala yang akan menimpa tuanya, memperingatkan tuannya jika akan berbuat salah, memberi nasihat jika berguna bagi keselamatannya, bahkan rela berkorban jiwa demi tuannya.

Janma Tan Kena Ingina

Gandanira apek pengus, kyai guru tan kuwawi, mambet ganda tan eca, mengo sarwi tutup lathi, idu riyak pulaeran, wenenh watuk sarta waing.

Terjemahan :

Baunya sangat tidak enak, kyai guru tidak tahan mencium bau tak enak itu, menoleh sambil menutup mulut, meludah sambil batuk serta bersin.

Sakabat kang aneng ngayun, sumingkire aneng wuri, nireng guru katri mira, waspada denira meksi, ing warnane janma prapta, mesum sayub cahya nya nir.

Terjemahan :

Sakabat yang ada dimuka, menyingkir di belakang ketiga gurunya, waspada memperhatikan, wujud orang yang datang, mesum suram tanpa sinar.

Seret denira anebut, astagafiru’llah ngalim, a’udubilahi minha, lagi iki sun udani, janma urip aneng donya, warnane tan lumrah janmi.

Terjemahan :

Tersendat mereka berucap, Astgafirullah ngalim, a’udubilahi minha, baru sekali ini aku melihat orang di dunia rupanya tidak umum.

Mengo ngucap muridipun, lah padha delengen kuwi, janma ingkang murang sarak, kurang wuruk mring agami, uripe ana ing donya, cilakane anemahi.

Terjemahan :

(Guru) menoleh berkata kepada muridnya, nah lihatlah, orang yang kurang ajar, kurang pengetahuan agama, hidupnya di dunia pasti celaka.

……….., patut dudu anak jalmi, anak wewe lan janggitan, Abduljabar nambung wengis.

Terjemahan :

……….., pantasnya bukan anak orang, anak wewe dan jangitan, Abduljabar dengan bengis menyambung.

Iki ta apa lu-ilu, lawan antu bangsa dhemit, utawa bangsa wa-uwa, kang manggon tengah wanadri, Abdulmanap aris mojar, lamun ing pembatang mami.

Terjemahan :

Apakah itu ilu-ilu dan hantu semacam dhemit, atau bangsanya wa-uwa yang hidup di tengah hutan?, Abdulmanap dengan halus berkata, kalau perkiraanku.

Bangsa uwil-uwil patut, kang uga thong-thongbret nami, Gita Prabawa mireng sabda, …………

Terjemahan :

Bangsa uwil-uwil, yang juga disebut thong-thongbret, Gita Prabawa mendengar kata, …………..

Yen ngono sira iku, nora pantes rembugan lan aku, awit sira wong munapek sun arani, durkaha marang Hyang Agung, lamun aku gelem tudoh.

Terjemahan :

Kalau begitu engkau itu, tidakpantas bicara denganku, sebab engkau orang munafik, berdosa kepada Tuhan, jika aku mau memberi tahu.

Pratingkahe laku dur, amuruki jawabe wong climut, nora wurung katularan awak mami, nadyan tan muruki, ingsun tan gelem sandhingan ingong.

Terjemahan :

Perbuatan jelek, mengajari jawaban orang curang, tidak urung akan ketularan juga diriku ini, meski aku tidak mengajari, duduk  berdekatan juga tidak mau.

DALAM bait-bait tersebut tercermin bahwa seseorang yang  merasa dirinya orang suci, pandai dalam ilmu menghina orang lain dengan seenaknya sendiri. Padahal dalam ajaran agama hal seperti itu tidaklah dibetulkan. Orang hidup harus saling harga-menghargai satu dengan lainnya tanpa memandang rupa, kekayaan, pangkat dan derajat. Dalam bait itu disebutkan ada tiga orang guru mengaji yang telah katam dalam ilmu agama, ternyata mereka menjadi takabur dengan ilmunya itu, sehingga menghina dan merendahkan orang seenaknya dan mengatakan bahwa orang-orang semacam diri merekalah yang kelak masuk surga firdaus.

Mring batal karam angrengut, sira sengguh kalal sakehipun, nadyan iwak celeng asu lawan babi, angger doyan sira kremus, nora wedi durakeng don.

Terjemahan :

Padahal yang batal dan haram geram, engkau kira halal semuanya, baik itu ikan babi hutan, anjing dan babi, asal engkau mau kau makannya, tidak takut akan durhaka.

Ki Gita Prabawa muwus, iku bener nggonira amuwus, nora luput nadyan iwak asu yekti, sun titik kamulanipun, dudu asu nggone nyolong.

Terjemahan :

Ki Gita Prabawa berkata, semua katamu benar, tidak salah meski ikan daging anjing sekalipun, jika diketahui asal mulanya, bukan anjing curian.

Deningu wiwit kuncung, lahta sapa wani ganggu-ganggu, luwih kalal saking iwak wedhus pitik, yen asale iwak wedhus, saka nggone anyenyolong.

Terjemahan :

Dipelihara dari kecil, nah siap berani mengganggu, lebih halal daripada ikan kambing dan ayam, jika asalnya ikan kambing, asalnya dari mencuri.

Sanadyan babi tuhu, ingsun titik ing kamulanipun, lamun ingon dhewe wiwit isih genjik, luwih kalal saka wedhus, nadyan iwak celeng yektos.

Terjemahan :

Meskipun babi, aku teliti asal mulanya, jika piaraan sendiri sejak kecil, lebih halal daripada ikan daging kambing, meskipun ikan babi hutan.

Kalamun antukipun, nggone mburu dhewe mring wana gung, dudu celeng colongan kalale luwih, saking ulam mesa lamun, asale nggone anyolong.

Terjemahan :

Jika didapat, dari beburu sendiri didalam hutan rimba, bukan babi hutan curian lebih halal, daripada daging ikan kerbau, yang asalnya dari mencuri.

Pan luwih karamipun, saking ulam celeng sarta asu, lan mangkono ngibarate kawruh jati, guru tiga ngucap, ……………

Terjemahan :

Itu lebih haram, daripada ikan babi hutan dan anjing, nah itulah ibaratnya ilmu jati, ketiga guru berucap, …………..

Gita Prabawa saurira, kadi paran nggon ingsun nampik milih, wus pinasthi ing Hyang Agung, sakehing karusakan, kabeh iku dadi darbeke wong lampus, dne sakehing kamulyan, dadi duweke wong urip.

Terjemahan :

Gita Prabawa menyahut, bagaimana aku harus menolak atau memilih?, sudah dipastikan oleh Tuhan, segala kerusakan itu, semua milik orang mati, dan segala kemuliaan, menjadi milik orang hidup.

Yen wong gesang iku susah, metu saking tekenane pribadi, ingkang karya susahipun, dening Hyang Mahamulya, sipat murah adil kukuh darbekipun, nanging kabet sipat samar, tan ana tinuting lair.

Terjemahan :

Jika orang hidup itu susah, berasal dari tanda tangannya sendiri, yang membuat susahnya, oleh Tuhan Yang Mahamulia, sifat murah adil dalam hukum, tetapi semua sifatnya samar-samar, tidak ada yang tampak dalam bentuk lahir.

Gita Prabawa malih mojar, adoh-adoh ingkang sira rasani, suwarga naraka, saiki wus gumelar, sapa ingkang luwih mulya uripipun, ya iku munggah suwarga, sapa apes dennya urip.

Terjemahan :

Gita Prabawa berkata lagi, jauh-jauh yang enkau sebut, surga dan neraka, sebutulnya sudah terpampang, barang siapa hidupnya mulia, yaitu naik surga, barang siap sengsara hidupnya.

Lamun sukmane wong Islam, anetepi salat limang prakawis, lan betah pangajinipun, anderes kitab Kuran, anetepi sahadat lan jakatipun, puwasa wulan Ramelan, tinarima mring Hyang Widhi.

Terjemahan :

Jika ruh orang Islam, yang mentaati salat lima waktu, dan tahan lama mengaji, membaca Qur’an,  menetapi sahadat dan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, diterima oleh Tuhan.

Denunggahken mring suwarga, wit jalaran manut parentah Nabi, akeh oleh-olehipun, kang wus kasbut ing kitab, lamun suksma nireng kaping kang tan anut, surake jeng Rassulullah, linebohake Yomani.

Terjemahan :

Dinaikkan ke surga, menurut perintah Nabi, banyak perolehannya, seperti telah disebutkan dalam kitab, jika ruh orang kapir yang tidak taat, pada perintah Nabi Rasulullah, di masukan kedalam neraka.

Gita Prabawa duk miyarsa, ………. wusana aris, pernahe iman puniku, aneng jantung nggenira, ing utek pernahe budi, otot balung punika pernahe kuwat.

Terjemahan :

Gita Prabawa setelah mendengar, ………. akhirnya berkata lembut, tempatnya iman itu, didalam jantung, sedangkan akal tempatnya otak, letak kekuatan ada pada otot dan tulang.

Pernahe wirang ing netra, ing donya kang luwih pait, wong miskin kang luwih susah, dene kang luwih pakolih, wong waras lan wong sugih, dene ingkang luwih dumuh, wong bodho tan wruh sastra, ingkang tamat ing pangeksi, iya iku janma wruh ngelmune Allah.

Terjemahan :

Letaknya rasa malu ada di mata, di dunia ini yang lebih pahit, adalah orang miskin yang menderita susah, sedang orang yang paling berbahagia, orang sehat dan orang kaya, yang lebih buta, adalah orang bodoh yang tidak tahu tengtang sastra, yang terang penglihatannya, adalah orang yang tahu tentang ilmu Tuhan.

Kang awit dina kiyamat, ing donya kang luwih gelis, luwih luhur saking wiyat, ngelmune tiba ing Nabi, jembar ngluwiji bumi, puniku jembaring kawruh, landhep ngluwihi braja, iku atine lantip, asrep luwih saking toya iku sabar.

Terjemahan :

Yang mulia pada hari kiamat, di dunia yang lebih cepat, lebih tinggi dari langit, ilmu yang turun kepada Nabi, lebarnya melebihi bumi, itulah luasnya pengetahuan, tajamnya melebihi senjata, itulah hati orang cerdas, dinginnya melebihi air itulah kesabaran.

Luwih atos saking sela, atine wong rupak, dene ta wong barangasan, luwih panas saking geni, wong jalu lawan estri, yekti kathah estrinipun, nadyan ing lair lanang, nanging tan bisa netepi, kuwajibaning priya sasat wanita.

Terjemahan :

Lebih keras dari batu, itulah hati orang yang sempit pikirannya, sedangkan orang yang pemarah, lebih panas dari api, laki-laki dan perempuan, sesungguhnya banyak perempuan, meskipun pada lahirnya laki-laki, tetapi jika tak dapat memenuhi kewajibannya sebagai laki-laki, tak ada bedanya dengan perempuan.

Wong mati lawan wong gesang, sayekti kathah wong mati, nadyan wujudira gesang, lamun nir budi pakarti, yeku prasasat mati, wong sugih lan miskin iku, iya kathah wong mlarat, senadyan sugih mas picis, lamun bodho tan wruh kawruh kasunyata.

Terjemahan :

Orang mati dan orang hidup, sesungguhnya banyak orang mati, meskipun kelihatannya hidup, tetapi jika tidak mempunyai budi pekerti, ya itu seperti orang mati, orang kaya dan miskin itu, juga lebih banyak yang miskin, sebab meskipun kaya harta benda, tapi jika bodoh ia tak tidak tahu ilmu kasunyatan.

Sayekti iku wong nistha, tanwruh wusanane benjing, nggenya mulih mring kalenggengan, wong Islam lawan wong kapir,  nadyan Islam ing lair, yen datan weruh ing ngelmu sanyatane agama, priye dadine agami, satuhune puniku kapir sadaya.

Terjemahan :

Sesungguhnya itu orang nista, tidak tahu akhirnya kelak, jika kembali menghadap Tuhan, orang Islam dan orang kafir, meskipun lahirnya islam, jika tidak tahu tentang ilmu agama, yang sesungguhnya bagaimana itu, sebetulnya itu pun kafir semua.

……, tegese wong laki rabi, lire wodon lawan lanang, aja ha cacade siji, wujude kalimat sahadat, tegese kadi pundi.

Terjemahan :

Artinya bersuami istri, artinya wadon (wanita) dan lanang (pria), jangan sampai ada cacadnya, wujud kalimah sahadat, artinya bagaimana?.

Basa lanang tegesipun, tan keni ingucap jalmi, lah tan iki warna-ningwang, yekti saru anglingsemi, wadon iku tegesira, basa wadon iku wadi.

Terjemahan :

Kata pria artinya, tidak boleh diucapkan orang, inilah ujud saya, betul-betul memalukan, kata wanita artinya, wadi (rahasia).

Mula rabi aranipun, wong lanang amengku estri, ing nedya datan sulaya, karep ala lawan becik, dadi jodho aranira, aywa kaledhong ing nami.

Terjemahan :

Maka dikatakan rabi, bagi pria kawin dengan wanita, dengan tujuan tidak akan berselisih, dalam kehendak buruk dan baik, jadi jodoh namanya, jangan terkecoh.

Aja tindak cula-cula, nganggoa patrap utami, dene ta kalimah sahadat, wong lanang kelawan estri, ingkang aneng sajro tilam, lamun arsa pulang resmi.

Terjemahan :

Jangan bertindak sembarangan, pakailah cara yang utama, yang dimaksud kalimat sahadat, adalah suami istri, yang sedang di tempat tidur, jika hendak bersetubuh.

Yen wus padha rujukipun, sami anekakken kapti, sakarone sami suka, mahanani raseng wiji, yen pinareng karseng Allah, kadadiyan putra benjing.

Terjemahan :

Juka sudah sepakat, sama-sama menyampaikan hasrat, keduanya sama-sama suka, menyebabkan rasa bahagia, jika Tuhan menghendaki, akan menjadi anak kelak.

Kalimah kalih puniku, wujude sira lan mami, tan liyan iki kang ana, dhasar samar kang sun nggoni, mila aran tapel Adam, enggon panggonan kang gaib.

Terjemahan :

Kedua kalimat itu, adalah ujudmu dan ujudku, tak lain inilah yang ada, dasar yang aku tempati tidak jelas, maka bernama tapel Adam, karena tempatnya yang gaib.

Puniku kang aran kakung, paksa kumlungkung mring rabi, aja kalah lan wanodya, iku wus mrantandhani, nalikane mong asmara, wong priya kang dipun pundhi.

Terjemahan :

Itulah yang disebut kakung (pria), memaksa diri kumlungkung (sombong) kepada istri, jangan sampai kalah dengan wanita, itulah telah tercermin, ketika sedang bermain asmara, priyalah yang dihormati.

Mila priya aranipun, wus mesthine angingoni, anyandhang estrinira, mila ing aranan estri, mung ngestreni jejerira, jumurung karsane laki.

Terjemahan :

Sebabnya disebut pria, sudah semestinya memberi nafkah, sandang dan pangan kepada istri, sebabnya disebut istri, karena hanya ngestreni (menungu) dan menyetujui, kemauan suami.

Mula wanita ranipun, kang wani temen ing laki, aja cidra lan sembrana, duk miyarsa Pujiwati, …………

Terjemahan :

Sebabnya disebut wanita, yang wani (berani) setia kepada suami, jangan ingkar dan gegabah, Pujiwati ketika mendengar, ………….

Wus pinasthikodrat ing Hyang, pepesthene janma tan kena gingsir, Darma Gandhul sru umatur menggah takdir ing badan, sinten ingkang uninga saderengipun, wikane yen wus klampahan, mupus takdire Hyang Widhi.

Terjemahan :

Kodrat Allah sudah pasti, takdir manusia tidak dapat berubah, Darmo Gandhul beseru keras adapun takdir diri, siapakah yang mengetahui sebelumnya?, bukankah tahunya itu jika telah terjadi, lalu berserah diri terhadap takdir Allah.

Saderenge kalampahan, ing agesang winenang nampik milih, de karsa tuwan puniku, sayekti yen nemaha, mring bilahi datan wande manggih dudu, dening Hyang Kang Murbeng alam, marga winastan takdir.

Terjemahan :

Sebelum terjadi, orang hidup berhak menolak dan memilih, seperti kehendak Tuan, itu pasti menempuh celaka, tak urung menemui kesalahan, dari Tuhan seru sekalian Alam, sebab yang dinamakan takdir itu.

Ingkang boten tinemaha, wusanane maksih manggih bilai, yeku takdir namanipun, lair batin sampurna, anyengaja lumebu jro guwa singup, niku takdir siya-siya, durake ing lair batin.

Terjemahan :

Yang tidak disengaja, tetapi akhirnya tertimpa celaka juga, itulah takdir namanya, lahir batin sempurna, sengaja masuk kedalam gua yang menakutkan, itu takdir sia-sia, berdosa lahir dan batin.

Laire aran kainan, winastanan janma kang tanpa pikir, ing batin yekti kasiku, marang sang Murbeng Alam, siya-siya menggih marang raganipun, mangka mung darmi ngenggea, prangrasane pasrah Widhi.

Terjemahan :

Lahirnya disebut kurang berhati-hati, dinamakan orang yang tanpa perhitungan, dalam batin sungguh salah terhadap Tuhan, menyia-yiakan badannya, padahal hanya sekedar memakai, menurut perasaannya berserah diri kepada Tuhan.

Hyang Suksma tan munasika, luwih-luwih karepe kang nglakoni, yen dika sedya rahayu, yekti yen menggih arja, lamun dika nemaha pratingkah dudu, sayekti manggih susah, Hyang Suksma amung njurungi.

Terjemahan :

Tuhan tidak akan mengganggu, lebih-lebih atas kehendak yang melakukan, jika tuan bertujuan baik, pasti akan mendapat kebahagian, tetapi jika tuan berbuat salah, pasti akan mendapat kesusahan, Tuhan hanya menyetujui.

Datan keni pinasrahan, mring bilai sakit tanapi pati, yen tan bener pasrahipun, satemah nemu duka, dene siya-siya marang dhewekipun, yen rusak katur Hyang Suksma, yek datan ayun tampi.

Terjemahan :

Tidak boleh diserahi tentang celaka, sakit atau mati, jika penyerahannya itu tidak betul, sehingga mendapat kemarahan, sebab semena-mena kepada dirnya, jika rusak diserahkan kepada Tuhan, pasti tidak mau menerima.

Jer andika kang kainan, yen wis tiwas wong liya kinen tampi, nandhang lara susah ngadhuh, lan ta dikasadhanga, aywa pasrah marang Hyang Kang Maha Luhur, Hyang Suksma tan apa-apa, boya keni dipun tagih.

Terjemahan :

Bukankah tuan yang kurang berhati-hati, jika celaka orang lain disuruh menerima, menderita sakit dan susah mengaduh, sebaiknya tuan rasakan sendiri, jangan menyerahkan kepada Tuhan, Tuhan tidak apa-apa, tidak boleh diminta (bertanggung jawab).

Takdiring Hyang wus ginawa, manut budi obah osiking ati, de ebah osike manus, manut rasa pangrasa, de kang rasa pangrasa iku pan manut, kanyataan kalairan, mungguh kanyataan lair.

Terjemahan :

Takdir Tuhan sudah dibawa, menurut kemauan hati dan pikiran, sedangkan kemauan manusia itu, menurut perasaan, dan perasaan itu menurut kenyataan lahir, kenyataan lahir itu.

Kalamun kirang prayitna, boten wande yekti manggih bilai, lampah paduka punika, nemaha kasusahan, anuruti tembung lamise wong ayu, tan wikan keneng loropan, Gita Prabawa muwus wengis.

Terjemahan :

Kalau kurang berhati- hati, tidak urung pasti mendapat celaka, perbuatan tuan itu sengaja akan menemukan kesusahan, menuruti bujuk rayu wanita cantik, tidak tahu kalau masuk dalam perangkap.

KUTIPAN pupuh diatas mengandung pendidikan budi pekerti sebagai berikut :

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, menurut ajaran Islam merupakan larangan besar, tetapi dalam hal ini titik tolak pendidikan budi pekerti yang diambil adalah masalah mencuri. Barang apapun yang baik, indah dan enak jika merupakan barang curian tiada harganya juka dibandingkan dengan barang yang jelek atau rendah tetapi barang itu miliknya sendiri. Maksud dan tujuannya adalah mendidik orang agar mensyukuri segala sesuatu yang menjadi miliknya bagaimanapun wujudnya, jangan menginginkan segala sesuatu yang baik atau enak tetapi bukan miliknya, shingga kalau dipaksakan mengakibatkan orang melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,24-29, bahwa orang hidup itu susah, sengsara dan menderita itu adalah perbuatannya sendiri, sedangkan Tuhan itu selalu adil adanya. Perbuatan yang baik akan mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman. Orang yang berbuat jahat akan mendatangkan kesengsaraan bagi dirinya sendiri. Dalam pupuh tersebut juga disebutkan bahwa surga dan neraka itu ada pada hati setiap manusia di dunia ini, barang siap yang dalam hidupnya selalu berbuat baik, mulia hatinya, tidak suka berbuat jahat terhadap sesama, hidupnya penuh kebahagian dan dapat menjaga diri dari segala macam godaan yang sifatnya menjerumuskan kedunia sesat, orang yang seperti itu sudah dikatakan  hidup di surga. Sebaliknya orang yang hidupnya selalu bebuat jahat, suka memfitnah, berbuat dengki terhadap sesama sehingga dikucilkan oleh sesamanya dan hidupnya selalu menderita, orang seperti itu dapat dikatakan hidup di neraka jahanam. Pendidikan budi pekerti disini bukan berarti orang yang kaya identik dengan masuk surga dan sebaliknya orang yang miskin masuk neraka, sebab orang kaya jika perbuatannya jahat dan tidak menjalankan perintah Tuhan itu pun akan masuk neraka.

Perumpamaan Seorang Pencuri

Sebaliknya walaupun orang miskin tetapi perbuatannya baik, suka mengamalkan apa saja dan menjalankan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya, dialah yang akan masuk surga. Untuk jelasnya dibawah ini diberikan satu contoh sebagai berikut :

Ada orang yang belum pernah mencuri, suatu saat terpaksa mencuri karena suatu hal. Setelah mencuri hati kecilnya merasa bersalah dan berdosa dan selalu dihantui oleh rasa berdosa ke mana pun dia pergi. Meskipun tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya dengan pandangan penuduh, sehingga ia merasa tersiksa, tidak ubahnya seperti hidup di neraka karena dikejar rasa berdosa.

Dalam pupuh IV, 55-54) disebutkan dalam rukun Islam, bahwa orang yang masuk surga itu adalah orang Islam yang melakukan shalat lima waktu, mengaji (membaca Al Qur’an) dengan rajin, mengucap sahadat dan berpuasa pada bulan Romadhan.   Adapun orang kafir yang masuk neraka adalah orang yang tidak menuruti ajaran Nabi Muhammad saw, meskipun mereka itu mengaku memeluk Islam.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IX,27-32, itu adalah tentang letak iman yang ada di jantung, letak akal yang ada di otak, letak kekuatan pada otot dan tulang, dan letak rasa malu ada di mata. Orang yang susah adalah orang yang miskin, dan orang yang bahagia adalah orang yang kaya ada sehat. Yang  dinamakan buta itu adalah orang yang bodoh tidak tahu tentang sastra ilmu Tuhan. Pengetahuan atau ilmu cepatnya melebihi putaran dunia, tingginya melebihi langit dan luasnya melebihi dunia, sedang orang yang cerdas itu tajamnya melebihi senjata dan orang yang sabar itu dinginnya melebihi air. Orang yang berpikiran sempit diibaratkan kerasnya melebihi batu. Orang yang pemarah panasnya melebihi api. Dan laki-laki dan perempuan lebih banyak perempuan, sebab meskipun lahirnya laki-laki apabila tidak dapat memenuhi kewajibannya itu bukan laki-laki. Orang mati dan yang hidup lebih banyak yang mati, sebab meskipun hidup jika tidak berakal itu tidak ubahnya seperti orang yang mati. Orang kaya dan miskin itu lebih banyak yang miskin, sebab orang yang kaya kalau tidak tahu tentang kawruh kasunyatan, ia itu tetap miskin dan hidupnya sangat hina. Orang Islam dan orang kafir lebih banyak yang kafir, sebab meski mereka mengaku Islam jika tidak tahu tengtang ilmu agama Islam yang sesungguhnya, mereka itu tak ubahnya seperti orang kafir.

Hikmah yang dapat dipetik dari uraian tersebut di atas, bahwa sebagai manusia harus belajar dengan baik dan sabar, tidak berpikir sempit, jangan marah lekas marah, harus dapat memanfaatkan kekayaan dengan sebaik-baiknya, dan harus juga menjalankan agama yang dianut sesuai dengan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Menurut Al Qusyairi alat batin yang terhalus adalah Al sirr. Dengan Al sirr seorang hamba dapat musyahadah (menyaksikan atau melihat) Allah, apabila benar-benar telah jernih. Al sirr menurut Al Qusyairi dapat disamakan dengan telenging kalbu (mata hati terdalam atau rasa) dalam kaitannya dengan sembah rasa dalam Serat Wedatama karya  Mangkunegoro IV Pupuh Pangkur bait 13 :

“Tan samar pamoring Sukma, sinukma ya winahya ing ngasepi, sinimpen telenging kalbu, Pambukaning waana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating supena, sumusuping rasa jati”.

Al sirr itu dapat pula disamakan dengan wosing jiwangga (inti ruh) seperti diungkapkan dalam Pupuh Sinom bait 16 :

“Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing Jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wenganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angelangut tanpa tepi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma”, sesuai dengan penegasan Al Qusyairi “Al sirr althafu min Al ruh” al sirr lebih halus daripada ruh); atau dengan kata lain : sirr itu adalah inti ruh, karena keduanya bermakna “alat batin terdalam”.

Lebih lanjut Al Qusyairi menjelaskan pada bagian lain bahwa “…… seorang hamba yang terus menerus munajat dengan Allah dalam sirrnya ……., maka ia disebut arif dan hal perbuatannya disebut makrifat”. Makfifat, berarti mengetahui Tuhan dan dekat sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Makrifat bukanlah hasil pemikiran manusia, tetapi bergantung kepada kehendak rahmat Tuhan. Makrifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Alat untuk memperoleh makrifat oleh kaum sufi disebut sirr.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh X,7-16, mengenai arti laki-rabi atau bersuami-istri. Yang dimaksud dengan rabi artinya orang laki-laki kawin dengan perempuan dan sebaliknya, dengan tujuan tidak berselisih pendapat, bersatu dalam segala hal yang baik, dan saling harga-menghargai. Sedankang yang dimaksud kalimat sahadat dalam pupuh X adalah suami istri yang sedang ada ditempat tidur. Pendidikan budi pekerti yang dapat ditekankan di sini adalah bahwa sepasang suami-istri bila hendak bersetubuh harus bersepakat, sama-sama berhasrat, dan sama-sama suka. Jika itu diperhatikan maka kebersamaannya akan menyebabkan kebahagiaan dan kepuasan kedua belah pihak, dan jika Tuhan berkenan akan turunlah benih yang dapat menjadi anak. Dalam pupuh tersebut disebutkan bahwa seorang laki-laki berkewajiban memberikan nafkah kepada istrinya, baik lahir maupun batin. Sebaliknya istri wajib mengikuti kehendak  suami, setia, berbakti, tidak bohong, berani jujur terhadap suami, dan yang penting harus dapat menjaga rahasia suami, sebab istri adalah wanita atau wadon, artinya tempat menyimpan wadi atau rahasia.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh XI,23-30, adalah takdir Tuhan itu sudah pasti adanya dan pasti terjadi pada setiap manusia. Manusia diberi kuwajiban berusaha memperbaiki takdirnya, tetapi takdir itu Tuhan juga yang menentukan. Adapun usaha manusia untuk memperbaiki takdirnya itu dengan cara berbuat baik, sebab dengan kebaikan Tuhan akan memberikan pahala. Jika manusia berbuat jahat, jelek atau dosa, maka Tuhan akam memberikan hukuman. Takdir sudah digariskan oleh Tuhan bagi umat-Nya, tetapi takdir itu ditentukan sendiri oleh kemauan dan pikiran manusia. Kemauan dan pikiran manusia itu ditentukan oleh perasaan menuruti kemauan lahir. Jadi dalam menuruti kemauan lahir itu manusia harus berhati-hati, jangan hanya sekehendak sendiri. Orang harus dapat mengendalikan kemauan lahir, kalau kemauan lahir itu baik patut dijalankan, tetapi jika kemauan lahir mengajak dalam perbuatan jelek atau jahat dan diturutinya maka takdir Tuhan juga akan jelek nantinya.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VII, bahwa sebagai umat Tuhan menurut ajaran Nabi Muhammad saw, haruslah menjalankan shalat lima waktu, yaitu : Subuh dua rekaat, Luhur empat rekaat, Magrib tiga rekaat, dan Isa’ empat rekaat. Dalam pupuh tersebut diterangkan bahwa sebahyang : (1) Shalat Subuh itu bersujud kepada Nabi Adam yang dianggap sebagai Bapak semua umat di dunia. (2) Shalat Luhur yang disujudi adalah Nabi Yunus, sebagai peringatan kepada manusia jika mendapatkan kesusahan hendaknya ingat kepada Tuhan, seperti pengalaman Nabi Yunus ketika ditelan ikan. Nabi Yunus minta pertolongan Tuhan sehingga terhindar dari petaka itu. (3) Shalat Magrib yang disujudi Nabi Musa, (3) dan Shalat Isa yang disujudi Nabi Isa, karena dianggap sebagai roh Tuhan yang menjelma ke dunia, oleh sebab itu pula Nabi Muhammad menyuruh umatnya bersujud kepada Nabi Isa.

Ajaran yang terkandung dalam pupuh XII, tentang arti ashadu allah ilaha ilallah Muhammadar rasulullah. Dalam pupuh itu juga diterangkan tentang letak nyawa, ada tiga puluh dua yang tersebar di seluruh tubuh ini.

Kabuka warang gung, tumalawung sepa sepi nglindhung, Wisnu Kresna uwus anunggal kajatin, marmenak kapenak lampus, kawengku neng rasa yektos.

Terjemahan :

Terbuka tirai agung, terpukau kosong sepi berlindung, Wisnu Kresna telah nyata bersatu padu, oleh sebab itu lebih enak dan nyaman, karena terliputi oleh rasa sejati.

Rasa Mulya satuhu, kang nduweni dene alamipun, manut karseng Pangeran Kang Mahaluwih, si raga nglakoni dhawuh, wus atas karseng Hyang Manon.

Terjemahan :

Rasa mulia sejati itu, yang sungguh-sungguh memiliki, adapun alamnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Kuwasa, tubuh melakukan perintah, atas kehendak Yang Maha Mengetahui.

Lamun sira tan nggugu, lah mengaa ing langit andulu, dudu sasi iku ingkang andamari, lan srengengene iku dudu, ingkang madhangi sumorot.

Terjemahan :

Jika kau tidak menurut, nah tengadahlah kelangit memandang, bukan bulan itu yang menyinari, dan matahari itu juga bukan yang menerangi, bercahaya.

Tan liya saking suwng, lah suwunge graitanen iku, yen siraasa nyatakken kawruh kang luwih, utamane wong tumuwuh, warneng damar wulan jumboh.

Terjemahan :

Tak lain daripada kosong, nah kekosongan itu renungkanlah, jika kau ingin membuktikan ilmu yang sempurna, keutamaan orang hidup, seperti sinar bulan.

Surya saksine iku, lamun siji wujude Allahu, sipat langgeng nora kena owah gingsir, wulan saksi rasa iku, owah lan gingsir enggon.

Terjemahan :

Matahari sebagai saksi, bahwa satu wujud Allahu itu, sifatnya abadi tidak dapat berubah bergeser, bulan menjadi saksi rasa itu, berubah dan bergesernya tempat.

Bisa nom tuwa iku, iya lintang iku saksinipun, tetep langgeng kawula ingkang saksi, tiga cahyane nggeguwung, seje wujude katonton.

Terjemahan :

Dapat tua dan muda itu, bintanglah yang menjadi saksi, tetap abadinya manusia itu saksinya, berbeda wujudnya kalau dilihat.

Iku ta tandhanipun, kawula gusti miwah rasa jumbuh, beda-beda jinis tan wujud tan sami, lan ora dulu-dinulu, tan tumunggal lan tan tinon.

Terjemahan :

Itu tandanya, manusia dan Tuhan bersatu raga, berbeda jenis, tak berujud dan tidak sama, dan tidak saling berpandangan, tidak melihat dan tidak kelihatan.

Adohe angelangut, luwih parek nanging datan gathuk, sesa-sesa karepe ingkang ngarani, denarani pisah kumpul, denranna parek tan nyenggol.

Terjemahan :

Jauh tanpa batas, meski dekat tak bersentuhan, terserah kemauan yang menyebut, dikatakan berpisah tetapi bersatu, dikatakan dekat tai tak bersentuhan.

Kawula gusti jumbuh, lan rasane apa bedanipun, seje-seje jinis rasa : kawula gusti, denranana tunggal kumpul, denranana seje seos.

Terjemahan :

Kawula gusti jumbuh, dalam hal rasa apakah bedanya?, berlainan jenis rasa kawula : gusti itu, dikatakan tuggal memang bersatu, dikatakan berbeda memang lain.

Ya sira iya ingsun, tunggal rupa sarana wus jumbuh, saksi nyata panitike surya mijil, cahyeng lintang wulan samun, sing haweng srengenge nyorot.

Terjemahan :

Engkaupun juga aku, satu rupa satu rasa telah jumbuh, saksi nyata ditandai dengan ketika matahari terbit, cahaya bitang dan bulan menjadi suram, karena udara sinar cahaya matahari.

Kalihnya lir linimput, kasorotan srengenge sumunu, nging yektine mor surahsa anyorot, wor nunggal cahya tetelu, Allah : Rasul : Suksma jumbah.

Terjemahan :

Keduanya seperti ditutupi, terkena sinar cahaya matahari, tetapi sesungguhnya bercampur bersatu dalam kerahasian menyinari, ketiga cahaya itu berbaur bersatu padu, Allah : Rasulullah dan Suksma jumbuh.

Yen wus srengenge surup, kari wulan lan lintang sumunu, ibarate wong kang merem datan guling, padhang ing rat tan kadulu, rasa lan pangrasa nyarong.

Terjemahan :

Jika matahari telah terbenam, tinggal bulan dan bintang bersinar, ibarat orang memejamkan mata tidak tidur, terangnya dunia tidak tampak, tapi rasa dan perasaan menerawang.

Kari suksma lan Rasul, ingkang ana wit srengenge surup, amung kari cahyanira ingkang maksih, katon dhewe-dhewe wujud, ibarate turu ngorok.

Terjemahan :

Tinggal Suksma dan Rasul, jika matahari terbenam, hanyalah sinarnya saja, yang masih tampak wujud masing-masing, ibarat orang tidur mendengkur.

Supena janma turu, kari rasa pangrasa kang kantun, Allah lawan Rasulullah ambenggangi, mung kari pribadinipun, ingkang dumunung neng kene.

Terjemahan :

Manusia tidur bermimpi, tinggal rasa dan perasaan tertinggal, Allah dan Rasulullah mengitarinya, tinggal pribadinya saja, yang masih ada di situ.

Yen eling janma turu, mendhung lelimengan kang kadulu, sirna mulih mring asale ingkang lami, apan kari asal suwung, mulih mring klangengan jumboh.

Terjemahan :

Jika orang tidur itu ingat, gelap gulita yang terlihat, hilang lenyap kembali ke asalnya yang dulu, sebab tinggal asalnya yang kosong, pulang kembali ke alam baka, jumbuh.

Gita Prabawa saurira, nora susah sira mateni mami, nganggo waos  lawan dhuwung, saiki sun wus pejah, guru tiga sugal ing pamuwusipun, amung lagi tatanira, wong mati cangkeme criwis.

Terjemahan :

Gita Prabawa menjawab, tidak usah engkau membunuh aku dengan tombak dan keris, sekarang pun aku sudah mati, ketiga guru berkata kasar, hanya kau yang berkata begitu, orang mati cerewet.

Awake wutuh lir reca, Gita Prabawa wengis denira angling, yen patine kewan iku, nganti rusaking jasat, lamun nganti aking paninireng kayu, yen ilang patine setan, lamun ingsun ingkang mati.

Terjemahan :

Badanya utuh bagaikan arca, Gita Prabawa berkata bengis, jika hewan mati, sampai rusak tubuhnya, jika sampai kering itu matinya kayu, jika hilang itu kematiannya setan, namun jika aku yang mati.

Ora wujud nora ilang, dina iki uga ingsun wus mati iku nepsuku, sakabehe kang salah, ingkang urip budi pakarti kang jujur, pisahing raga lan suksma, kinarya tandha ing lair.

Terjemahan :

Tidak hilang tidak juga berujud, saat itu juga aku sudah mati, yang mati adalah nafsuku, semua yang salah, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur, pisahnya jiwa dan raga, itu sebagai tanda lahir saja.

Puniku maknane sadat, pisahira kawula lawan Gusti, pisah esah tunggalipun, dadya roh Rasulullah, yen pisah raga lawan suksma iku, pangrasa lan cahya ilang, panggonane ana ngendi.

Terjemahan :

Itu makna sahadat, berpisahnya kawula dan gusti, berpisah sama sekali kesatuannya, menjadi roh Rasulullah, jika sudah berpisah jiwa dan raga itu, perasaan dan cahaya juga hilang, dimanakah tempatnya?.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh IV,48-62, adalah tahap manusia telah menyatukan diri dengan Tuhan. Dalam pupuh IV disebutkan bahwa jiwa manusia terpadu dengan jiwa alam semesta dan semua tidakan manusia semata-mata menjadi jalan menuju kemanunggalan dengan Tuhan. Orang yang mati telah dikuasai oleh “rasa sejati” dan dunianya menurut kehendak Tuhan, sedangkan tindakan manusia semata-mata hanya menjadi jalan menuju kemanunggalannya dengan Tuhan.

Ajaran yang termuat dalam Pupuh VI,50-52, menguraikan bahwa orang yang mati sebetulnya bukan mati yang sesungguhnya, yang mati itu hanyalah nafsunya, semua yang salah atau perbuatan jahat, dan yang hidup adalah budi pekerti yang jujur. Pisahnya jiwa dan raga telah terpisah maka perasaan dan cahaya pun hilang juga, kemana perginya, ada dimana tempatnya, tiada seorang pun yang tahu.

Pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam Pupuh VI,52-53, menyarankan jika orang ingin bersatu dengan Tuhan hendaklah berbuat yang baik, sebab kebaikan itulah yang akan dibawa jika menghadap kepada Tuhan.