Jumat, 17 Desember 2010

PASRAH ATAU FATALIS KAH DIRI ANDA ??


MENGUKUR KESADARAN DIRI


PASRAH

PASRAH, adalah kata-kata yang tak mudah dipahami. Banyak orang salah kaprah mengartikan makna pasrah yang dipahami sebagai sikap melenyapkan segala kemauan, keinginan, inisiatif, dan kehendak. Yang seperti ini sudah termasuk ke dalam terminologi FATALISME yang rentan sekali terhadap sikap putus asa. Tanpa disadari keputus-asaan akan mudah membuat siapapun mudah tergelincir pada sindrom radikalisme, ekstrimisme, dan ekslusivisme.

Pasrah berhubungan dengan penyelarasan sikap dan perbuatan diri dengan kehendak alam semesta alias kehendak tuhan. Pasrah bukan bermakna sikap pasif dan tanpa usaha. Justru pasrah di dalamnya termaktub suatu usaha sekuat tenaga, semaksimalnya agar supaya sikap dan perbuatan kita selaras dan sinergis dengan hukum alam. Sehingga di antara jagad kecil atau mikrokosmos dengan jagad besar atau makrokosmos tercipta hubungan yang harmonis. Dan begitulah hakekatnya orang yang disebut tunduk patuh kepada tuhan. Sebaliknya, radikalisme, ekstrimisme, mengarah pada kekerasan dan penghancuran antar sesama manusia, sudah termasuk ke dalam kategori bertentangan dengan hukum/kodrat alam yang bersifat sebaliknya, selalu harmonis berada dalam hukum keseimbangan alam semesta.

YANG HARUS DIBACA

Namun sebelum melanjutkan diskusi, alangkah idealnya jika para pembaca yang budiman mengklik kembali artikel terdahulu berjudul MENGENAL NGELMU SASTRA JENDRA, dan PUSAKA HASTA BRATA. Agar lebih gampang memahami serta mengikuti diskusi kali ini. Paling tidak lebih menselaraskan level pemahaman di antara kita semua.

FATALISME

Fatalisme adalah faham atau cara pandang hidup, disebut pula prinsip dalam menjalani kehidupan.  Secara sosiologis fatalistis menunjuk sikap seseorang yang selalu menghilangkan peran dan inisiatif diri sendiri secara mutlak, terutama pada saat menghadapi problema kehidupan. Lantas di mana kehendak diri atau self ? Musnah ditelan oleh suatu paham akan kemutlakan “kehendak tuhan”! Bila seseorang terlalu pasrah dalam segala hal sampai-sampai kehilangan inisiatifnya, maka sikap inilah disebut fatalis. Sikap fatalis yang telah menjadi prinsip menjalani hidup sehari-hari, berubah menjadi paham fatalisme. Dalam paham fatalisme, secara sadar atau tidak seseorang menyangka suatu keadaan sudah dikuasai oleh nasib dan tidak bisa dirubahnya tanpa kehendak tuhan. Bahkan pandangan fatalisme yang paling ekstrim menganggap segala nasib baik dan buruk mutlak datang dari kehendak Tuhan. Manusia tidak memiliki celah sedikitpun untuk merubahnya.  Dalam khasanah agama, sikap fatalistik berkaitan dengan cara pandang (mind set) seseorang terhadap pemaknaan takdir atau kehendak Tuhan yang dipahami dengan salah kaprah.

Ironisnya, sikap fatalistis biasanya justru bermula dari cara penafsiran akan ajaran suatu agama. Atau pola-pikir yang sudah terpola oleh doktrin agama yang tidak dipahami secara esensial/hakekat.  Sikap fatalis akan muncul bilamana seseorang memahami bahwa karsa atau kehendak dalam kehidupan ini mutlak merupakan kehendak Tuhan. Tak ada gerak-gerik sekecil apapun yang bukan kehendak tuhan. Sikap seorang fatalis menganggap semua keinginan manusia sekecil dan seburuk apapun tidaklah mandiri, kecuali sudah menjadi determinasi kekuasaan tuhan. Bahkan pada tingkat ekstrim, orang-orang tipe fatalis akan menganggap “kemutlakan tuhan” telah meniadakan peran individu sebagai makhluk hidup yang memiliki kehendak mandiri, dan memiliki kemampuan untuk memilih.   Misalnya anda garuk-garuk kepala pada jam 23.09 malam Jumat, tanggal 21 Agustus, merupakan kejadian yang sudah merupakan ketentuan Tuhan. Tuhan mengatur seekor nyamuk supaya terbang dari comberan lalu menggigit pantat anda, kemudian anda menepuk nyamuk tsb pada jam 23.07 wit. Seorang fatalis akan menganggap peristiwa itu sudah menjadi KODRAT TUHAN. Daun yang gugur dari ranting pohon pada jam 23.56 pun dipahami sebagai kodrat dan iradat (ketentuan dan kehendak) tuhan saat itu. Artinya tuhan telah menentukan peristiwa di mana anda menepuk nyamuk pada jam tersebut serta gugurnya daun dari ranting pada jam tersebut. Cara berfikir demikian inilah yang menjadi terkesan sangat aneh.

LANTAS BAGAIMANA MEMAHAMI KODRAT ?

Kodrat saya pahami tak ubahnya hukum alam yang di dalamnya terkandung rumus-rumus alam. Rumus-rumus itu sebagian kecil telah diketemukan manusia sejak zaman  paleolitikum, mezolitikum  hingga neolitikum. Hasil temuan manusia jika dibukukan sebagai hasil penemuan manusia maka jadilah ilmu pengetahuan. Jika dibukukan dengan klaim atas nama tuhan, jadilah buku yang disucikan dan dikeramatkan. Bedanya, ilmu pengetahuan butuh verifikasi, pengujian secara ilmiah, terbuka untuk dikritik agar mencapai kesempurnaan pemahaman akan rumus-rumus tuhan yang berlaku. Sedangkan buku yang dikeramatkan justru bersifat anti kritik, tabu untuk diperdebatkan, dan tidak butuh verifikasi atau uji kebenaran.

CHAOS dalam MEMAHAMI KODRAT

Kembali ke pokok bahasan, jika dianalogikan, kodrat bagaikan “karpet merah” yang musti dilalui manusia agar selamat dan sentausa menggapai kemuliaan hidup. Sebaliknya, orang yang enggan melewati “karpet merah” itu hidupnya akan mengalami sengsara dan gagal meraih kemuliaan lahir dan batinnya. Kodrat bisa saja bersifat pasif, yang aktif tentu saja manusianya. Manusia aktif untuk menentukan pilihannya secara tepat. Ketepatan memilih ditentukan kecermatannya memahami rumus-rumus hukum alam. Itulah makna memahami sejatinya hidup. Gusti iku mahawicaksana, nanging menungso ora biso hanggayuh kawicaksananing Gusti. Tuhan itu mahabijaksana, tetapi manusia sering gagal memahami kebijaksanaan tuhan. Sehingga kebijaksanaan tuhan yang mahaluas tiada batas, menjadi sesempit nalar manusia, lebih parah lagi dipersempit oleh doktrin (dogma-dogma) yang bertebaran menghipnotis mayoritas masyarakat dunia. Kesadaran spiritual manusia tak bisa berkembang sebab selalu terkurung di dalam kapsul kesadaran semu, kesadaran hasil indoktrinasi para saleh. Ironis sekali! Seharusnya dogma bertujuan memerdekakan manusia, dan membuka kesadaran spiritual seluas-luasnya, akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya, doktrin menghegemoni manusia, dan membelenggu kesadaran spiritual. Mengapa demikian ? Agama tak ubahnya parpol yang berorientasi mengejar kekuasaan yang diperoleh dari sisi KUANTITAS, yakni mencari pengikut sebanyaknya guna memperkuat barisan. Padahal tujuan semula agama adalah untuk memerdekakan individu, menggapai kualitas kesadaran spiritual yang lebih baik untuk menggapai kualitas hidup yang lebih baik pula. Namun kini, telah terjadi chaos (kekacauan) dalam kesadaran spiritual beragama. Serba kebalik (wolak-waliking jaman). Banyak orang tidak menyadari jika dirinya sedang tidak sadar. Yang sadar dianggap tak sadar, yang tak sadar merasa dirinya sadar.

FATALISME & PENYAKIT JIWA

Kapsul kesadaran berakibat fatal. Di antaranya adalah fanatisme (telah kami bahas dalam artikel lain) dan sikap fatalis. Sikap fatalis menenggelamkan segala kehendak seseorang. Jika sikap ini terus-menerus dijadikan pedoman hidup, setiap individu fatalis akan kehilangan cipta dan karsanya. Lantas ia cenderung berpangku-tangan menunggu-nunggu kehendak Tuhan. Secara tidak langsung sikap fatalis akan menimbulkan makna yang bisa di mana manusia sekedar menjadi obyek penderita. Di samping itu tanpa di sadari justru menimbulkan pemahaman seolah manusia bersikap tidak mau disalahkan, dan tidak mau melakukan instrospeksi diri akan keadaan nasib buruknya. Apabila kita mengerjakan pekerjaan dengan ceroboh, lalu mengalami kegagalan fatal, hal itu tetap dianggap sebagai kehendak Tuhan. Misalnya bila terjadi musibah kapal tenggelam gara-gara kelebihan penumpang, serta-merta dianggap sebagai kehendak Tuhan. Atau misalnya terjadi  kasus jebolnya tanggul waduk Situ Gintung yang menelan korban lebih dari 120 orang, lantas orang mengatakan,” musibah itu sudah direncanakan Tuhan” untuk memberi cobaan kepada umat manusia yang beriman. Kenapa orang tidak berkata sebaliknya,”..oh, musibah itu merupakan peringatan atau teguran tuhan kepada umat manusia yang sudah tidak eling dan waspada. Jika kita mau instropeksi, jebolnya tanggul Situ Gintung disebabkan oleh ulah para pejabat yang berwenang teledor melakukan perawatan tanggul. Dana anggarannya sengaja disusutkan dari alokasi APBD, atau malah diselewengkan sehingga rehabilitasi tanggul menjadi tertunda-tunda hingga musibah benar-benar terjadi.

Coba kita renungkan bersama. Kenapa banyak orang menggunakan jalur hijau dan wilayah resapan air sebagai pemukiman yang padat. Bukankah hal itu sebagai perbuatan MELAWAN KODRAT ALAM (Tuhan) ??!! Kenapa banyak orang diwawancara televisi berpendapat bahwa musibah itu dikatakan sudah menjadi kehendak dan rencana tuhan ? Waduh…jahat bener tuhan demikian?? Apakah tuhan berencana menciptakan para koruptor dan para penyeleweng anggaran pembangunan ? Apakah tuhan berencana membuat pejabat yang ceroboh ? Apakah tuhan merencanakan sebanyak 120 orang bakal mati konyol menjadi korban kecerobohan segelintir pejabat ?

Kemutlakan kehendak tuhan biasanya tertanam begitu kuat melalui doktrin yang berkesinambungan sejak masih usia kanak-kanak. Wajar jika doktrin kemutlakan tersebut akhirnya tertancap kuat dalam alam pikiran bawah sadar. Namun jika kemutlakan tuhan masih saja dipahami dengan pola pikir di atas, maka tanpa sadar pola pikir itu kian dekat dengan virus fatalisme yang erat dengan “gangguan kejiwaan”. Cobalah bersama-sama kita melakukan rehabilitasi atas gangguan kejiwaan itu. BUKAN BEGITU CARANYA MANUSIA PASRAH kepada tuhan.

PASRAH (TAPA NGELI)

Pasrah merupakan upaya manusia untuk menselaraskan, harmonisasi dan sinergisasi antara perilakunya dengan kodrat alam atau hukum alam yang terdapat di dalam semesta raya ini. Kodrat/hukum alam itulah yang dimaksud dengan aturan tuhan. Berbeda dengan fatalistis, “tapa ngeli” merupakan prinsip berserah diri atau selaras dan sinergis dengan “kebijaksanaan” hukum alam (tuhan). Tapa ngeli dapat “bekerja” secara efektif menjadi pedoman perilaku dan perbuatan pada saat seseorang menghadapi masalah berat atau dalam situasi yang serba gambling dan penuh resiko. Pada saat menghadapi kesulitan hidup yang sulit untuk dijabarkan dan dianalisa apa yang sesungguhnya terjadi, tanpa bantuan dan share dari siapapun, orang biasanya terjebak pada suatu keadaan yang serba membingungkan, dilematis dan buntu. Sangat sulit memahami secara pasti bagaimana jalan keluar yang harus ditempuh.

Belajar Dari Watak Sungai

Dalam kondisi demikian tapa ngeli menjadi jalan alternatif paling ideal. Tapa ngeli adalah di mana seseorang berprinsip menyerahkan segala proses pada irama atau ritme alam atau “kehendak tuhan”. Karena alam semesta ini, hukum alam dengan rumus-rumus keTuhanannya akan berproses secara alamiah. Terangkum sebagai rumus atau kodrat alam, bahwa alam mampu melakukan seleksi secara alamiah, adil, bijaksana, teliti, dan cermat (mulat laku jantraning bumi) tanpa menyisakan secuilpun ketidakadilan.  Jika seseorang dapat melakukan “tapa ngeli” ia akan membiarkan diri terbawa proses alamiah dalam kebijaksanaan alam (kehendak Tuhan). Bagi pelaku “tapa ngeli”  sikap dan perilaku akan menjadi sinergis,  harmonis, sesuai dengan rumus-rumus atau prinsip-prinsip alamiah tentang keadilan dan kebijaksanaan yang sejatinya. Sebagaimana disuguhkan oleh alam semesta melalui “bahasanya sendiri” yang menyiratkan hukum/kodrat alam. Namun prinsip-prinsip itu terasa sangat sulit dijabarkan dan dianalisa bila hanya mengandalkan  kemampuan akal budi manusia serta hanya berbekal dogma-dogma kaku anti-kritik. Sebaliknya terasa lebih mudah dipahami melalui indera rasa pangrasa (mata hati) kita.  Prinsip utama tapa ngeli adalah ; sabar, sumarah, sumeleh (qonaah) & pantang menggerutu (grenengan) atau tidak tulus menjalani suatu keadaan yang pahit. Dalam tapa ngeli ibaratnya kita “menghanyutkan diri kedalam aliran sungai kehendak alam semesta” yang terbukti bijaksana. Sungai yang masih alamiah selalu memiliki keseimbangan dengan alam sekitarnya. Sungai yang masih alamiah belum terkena polusi akal-akalan dan keserakahan manusia, sungguh masih berwatak sangat bijaksana. Sungai tidak akan merusak lingkungan alam, termasuk para penghuninya yang terdiri dari tumbuhan, hewan, masyarakat “halus” dan pemukiman penduduk. Sebaliknya sungai justru menjadi sumber berkah bagi lingkungan alam yang dilaluinya. Perjalanan air sungai yang penuh berkah hingga sampailah pada “muara keberuntungan”, masuk ke dalam “samudra kemuliaan” hidup.

Kita dapat memahami bahwa rumus tuhan mengejawantah ke dalam bahasa dan kodrat alam. Pada saatnya pelaku “tapa-ngeli” akan berhasil memasuki “muara samudra keberuntungan”. Ciri-ciri seseorang yang berhasil melakukan tapa ngeli, biasanya akan merasakan nikmatnya hidup, seolah serba kebetulan, dan selalu memperoleh keberuntungan (menggapai ngelmu bejo).  Terjadinya lika-liku hidup dirasakan sudah seperti ada yang mengatur. Sekalipun proses dan jalan cerita kehidupan kadang terasa pahit namun selalu indah pada akhirnya (happy ending). Bisa saja anda kilas balik merasakan perjalanan melewati masalah-masalah sulit dan berbahaya, namun pada akhirnya menemukan kemenangan dan kesuksesan yang di luar yang anda duga-duga sebelumnya. Begitulah hukum alam, asal manusia bersedia sinergis dan harmonis dengan hukum/kodrat alam, maka alam akan mengatur kehidupan anda menjadi harmonis penuh berkah.

Cermatilah; “Tapa Ngeli” atau Mengikuti “Air Bah”

Berikut ini saya membuat analogi dan ilustrasi untuk memudahkan Anda memilah,  mencermati dan membedakan  mana tapa ngeli dan mana yang bukan tapa ngeli. Tapa Ngeli adalah sikap perilaku kita yang mau mengikuti “aliran air sungai” agar kehidupan kita selaras sesuai hukum alam (kodrat Tuhan). “Aliran air sungai” pasti menuju “samudra” anugrah dan keberuntungan.  Sebaliknya adalah sepak terjang air bah yang menerjang wewaler, dengan kata lain perilaku yang melawan hukum alam (kodrat Tuhan). Jika tapa ngeli jauh dari polusi hawa nafsu negatif (nuruti kareping rahsa). Sebaliknya mengikuti “air bah” sama saja mengikuti hawa nafsu negatif (nuruti rahsaning karep) atau sikap semaunya si hawa nafsu sendiri (dikiaskan; manut wudele dewe). Air bah menerjang segala sesuatu yang bukan  menjadi haknya. Air bah merusak tepi pantai, daratan, pemukiman penduduk, sawah, ladang dan membuat kerusakan di mana-mana.

Perilaku “Tapa Ngeli”

Apabila perilaku dan perbuatan anda tidak melanggar sesuatu yang menjadi hak orang lain termasuk perbuatan melawan hukum (breaking the law), tidak menyinggung perasaan atau menyakiti hati orang lain, atau perilaku anda tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi orang banyak. Perbuatan Anda tidak merusak alam, lingkungan hidup, itulah perilaku yang masih berada dalam koridor tapa ngeli.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang  yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo boleh saja menganggap hal itu sebagai musibah. Musibah diterima, dijalani, dan dirasakan dengan penuh kesabaran sebagai kelalaian dan kealpaan manusia. Tidak perlu banyak menggerutu dan menyalahkan pihak lain atau mencari-cari kambing hitam termasuk menganggap sebagai akibat dari efek gempa Jogjakarta yang letaknya nun jauh dari lokasi musbah lumpur Porong Sidoarjo. Yang paling penting mau menanggung semua resiko lalu memenuhi kewajibannya dengan cara yang penuh tanggungjawab, ketulusan, dan penuh kasih sayang. Perusahaan secepatnya mengambil langkah-langkah  nyata melindungi dan mengganti kerugian kepada masyarakat sekitar yang tertimpa luapan lumpur dengan tulus ikhlas walaupun menguras aset perusahaan sampai habis. Begitulah perilaku tapa ngeli yang tepat.  Jika semua tanggungjawab dijalani dengan penuh kesabaran, penuh ketulusan dan kasih sayang untuk melindungi warga masyarakat yang tertimpa luapan lumpur seadil-adilnya, maka kemungkinan  besar perusahaan pengeboran itu akan mendapatkan gantinya yang jauh lebih besar dari apa yang telah ia keluarkan.

Sedangkan bagi masyarakat dan PemKab setempat, melakukan tapa ngeli dengan cara menerima penderitaan itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tidak sibuk menggerutu atau meratapi nasibnya, namun sebaliknya dengan penuh semangat tetap memperjuangkan apa yang menjadi haknya melalui prosedur yang tepat dan benar secara   hukum. Perjuangan tidak berhenti di situ saja, Pemkab bersama komponen masyarakat secepatnya menyusun rencana ke depan untuk merubah musibah menjadi anugrah. Dengan berfikir kreatif, alternatif dan inovatif untuk menciptakan peluang baru di tengah runyamnya keadaan akibat luapan lumpur. Dirancang melalui pemikiran positif, dilakukan dengan sikap positif bahu membahu antara Pemerintah dengan semua unsur masyarakat setempat. Saya yakin akan datang anugrah agung terlimpah bagi masyarakat Sidoarjo. Saya termasuk orang yang yakin 100 % bahwa mukjizat Tuhan harus diraih oleh manusia sendiri. Artinya manusia tidak bisa hanya dengan berpangku tangan lantas mukjizat Tuhan datang dengan seketika. Manusia harus benar dulu “laku”nya. Barulah anugrah dan mukjizat yang diharapkan benar-benar terwujud. Mujizat Tuhan (hukum alam semesta) hanya berlaku bagi orang-orang yang mau memperjuangkannya dan bagi orang yang percaya 100% saja.

Perilaku “Air Bah”

Sebaliknya, apabila perilaku dan perbuatan Anda sadar atau tidak ternyata telah menyakiti hati orang lain, menyinggung perasaan sesama, melibas hak orang lain, mencelakai dan merugikan orang, melakukan tindakan invasi, menyerobot, menggusur dan menjajah, maka termasuk mengikuti sepak terjang air bah.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang  yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo menganggap hal itu sebagai cobaan buat dirinya (atau cobaan untuk orang-orang yang “beriman”).  Sekilas kalimat itu terdengar indah sekali. Namun pernahkah  berfikir dan melakukan instropeksi diri bahwa musibah itu timbul atas kelalaian dan kecerobohan dirinya sendiri. Sangatlah arif dan bijaksana apabila pihak pengebor sendiri menyadari bahwa luapan lumpur Porong sebagai bentuk teguran atau hukuman Tuhan atas segala kesombongan manusia yang terlalu mengandalkan teknologi canggih, kurang bijak perlakuan terhadap alam semesta, dan sikap lancang tidak menghargai “masyarakat gaib” yang benar-benar ada di sekitar kita. Sikap instropeksi ini tentu saja lebih tepat dilakukan serta lebih arif dan bijaksana karena tidak “menyalahkan”  Tuhan secara tidak langsung.

Namun pada umumnya terjadi anggapan yang sebaliknya, musibah lumpur itu dianggap semata-mata datang dari Tuhan yang ingin mencoba-coba keimanan manusia. Seolah konsep keTuhanan hanya dijadikan sebagai obyek penderita saja, bahkan secara tidak langsung manusia menganggap Tuhan sebagai pelaku kerusakan alam. Lantas di mana letak kebenaran rumus bahwa: “Tuhan merupakan berkah bagi alam semesta (rabbul alamin)..?! Di situlah terdapat sifat egosentris manusia yang sangat halus, yang seringkali  tidak disadarinya. Tuhan dijadikan sarana kambing hitam dan cuci tangan manusia dari segala tuntutan tanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan akibat ulah ceroboh dan kelalaiannya. Hebatnya orang-orang tipikal demikian disadari atau tidak, dengan santun masih bisa berucap,”…kami melakukan “tapa ngeli” kami pasrah mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan..! Namun tanpa ia sadari dirinya telah mengikuti prinsip air bah,  nuruti rahsaneng karep, dengan bersikap golek menange dewe, golek benere dewe, golek butuhe dewe, sembari menjadikan Tuhan sebagai “kambing hitam” yang telah mendatangkan segala macam musibah. Orang-orang atau pihak yang memiliki sikap demikian itu, cepat atau lambat tidak ada yang luput dari bebendu (hukuman) Tuhan sejak masih di dunia maupun setelah ajal tiba. Itulah “ilustrasi” bilamana manusia mengikuti kehendak “air bah”.  Pada tingkat retorika, seolah sebagai orang yang tabah melakukan tapa ngeli. Diawas  den dieling, kita sering tidak menyadari hal itu terjadi pada diri kita sendiri. Maka jangan tertipu indahnya kulit, merdunya kalimat dan pesona wajah nan rupawan. Kebenaran sejati ada di dalam hakekat. Di balik semua yang tampak oleh mata.

BETULKAH TUHAN GEMAR MENCOBA ?

Saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman tentang suatu analisa bagaimana sistematika dan hubungan sebab-akibaat atas terjadinya berbagai bencana dan musibah di negeri ini, siapa tahu ada manfaatnya. Coba kita renungkan bersama, mengapa bencana alam kebakaran, angin, banjir dan gempa kini sering terjadi.

Mengapa terjadi kebakaran (hutan), banjir, angin, salah musim, hama tanaman, wabah penyakit, hingga gempa dahsyat dan tsunami..?

Pertanyaan di atas, akan menghasilkan berbagai jawaban seperti di bawah ini, sesuai dengan tingkat kesadaran si penjawab.

1. Jawaban paling mudah dan simpel, sekaligus bodoh; hal itu sudah menjadi kehendak tuhan. Sudah digariskan tuhan untuk mencoba keimanan manusia. Nah, jawaban ini keluar dari seseorang yang terlalu percaya diri, yang hanya membuat pribadi-pribadi seolah agamis, tetapi sungguh congkak menganggap diri sebagai orang beriman paling baik dan bener. Lantas dari mana manusia bisa mengukur keimanannya sendiri? Apa parameter keimanan, yang berkaitan dengan keyakinan yang mengendap dalam perasaan dan di alam pikiran bawah sadar? Jawaban ini beresiko membuat seseorang lupa diri, gagal melakukan instropeksi dan evaluasi diri. Maka termasuk tipikal orang yang tak tahu jika dirinya sedang tidak tahu.

2. Jawaban yang lumayan kritis ; hal itu terjadi karena manusia telah meninggalkan agama. Cuma sayangnya, agama mana yang ditinggalkan ? Biasanya masing-masing orang menjawab ; agama yang paling benar dan yang dianutnyalah yang ditinggalkan. Musibah itu sebagai hukuman bagi orang-orang yang telah menutup mata terhadap agama yang dianutnya. Jawaban ini masih terpolusi oleh rasa egoisme, fanatisme kelompok, golongan, sektarian, primordial, etnosentrisme. Apakah berkah dan kasih sayang alam semesta bersifat sektarian hanya welas asih kepada sekte/umat agama tertentu? Apakah kasih sayang dan anugrah alam bersifat primordialis, pilih kasih hanya kepada agama tertentu ? Apakah berkah dan anugrah alam bersifat etnosentris ? hanya berlaku bagi kebudayaan dan peradaban manusia tertentu? Apakah sumber kehidupaan yang disediakan oleh jagad raya ini hanya diperuntukkaan bagi  suku dan ras tertentu? Coba berfikirlah lebih dalam dengan hati yang bersih dan batin yang bening.

3. Jawaban lebih kritis; musibah dan bencana merupakan teguran tuhan (alam semesta) atas perilaku, perbuatan dan ulah manusia. Bahkan merupakan hukuman tuhan (alam semsta) agar supaya manusia dapat berinstropeksi diri. Agar supaya manusia lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah tuhan (alam semesta). Jawaban ini rasanya lebih positif, tidak menjadikan diri kita congkak, terlalu merasa percaya diri, dan membuat lupa diri. Hal ini menjadikan diri kita selalu sadar jika kita ternyata belum sadar. Kita menjadi tahu, jika diri kita ternyata belum tahu. Dan begitulah modal besar bagi siapapun agar menjadi oraang yang tahu dan sadar.

Jawaban yang lebih kritis, sebagai bentuk kesadaran kita akan adanya hukum sebab akibat. Bahwa musibah dan bencana ada hubungannya dengan ulah manusia. Mau percaya atau tidak percaya pada hukum alam dan hukum sebab akibat, toh hukum sebab akibat itu tetap ada dan terbukti bisa disaksikan siapapun yang mau mencermati hukum alam. Akibat adalah bentuk hisab. Kapan terjadinya hari hisab ? Tentu saja tak perlu menunggu “kiamat” (bagi yang percaya kiamat). Hari hisab terjadi setiap hari, di mana hari ini merupakan “buah” atas apa yang kita tanam beberapa hari, minggu, bulan, tahun lalu. Sing sopo nggawe bakal nganggo, siapa menabur angin akan menuai badai, siapa menanam pasti akan mengetam. Inilah hukum sebab akibat yang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, yang memungkirir maupun yang tak memungkirir.

Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran, bisa terjadi oleh ulah manusia. Manusia yg tak memahami hukum alam di wilayah tertentu (misalnya Indonesia), dengan seenaknya melakukan penggundulan hutan, ekploitasi alam secara berlebihan, tidak melakukan konservasi alam, merusak sungai, hutan, tepi pantai. Akibatnya sangat fatal. Hutan gundul mengakibatkan kurangnya resapan air ke dalam tanah. Akibatnya begitu kompleks. Lempeng bumi yang selalu bergetar, bergeser, setiap saat terjadi kekurangan “pelumas” dan pelentur berupa air sehingga keadaannya menjadi rapuh mudah patah. Pada saat terjadi sedikit geseran dan getaran, maka patahlah lempeng bumi mengakibatkan gempa. Terjadinya perpatahan lempeng bumi bersifat estafet, maka gempa terjadi beruntun terjadi secara estafet pula. Lindu sedino ping pitu. Akibat lain, reboisasi berkurang sangat signifikan, sehingga terjadi proses penguapan  air tanah secara besar-besaran, berakibat pada penyusutan kandunga air tanah dan global warming, hal ini menambah porsi penguapan air laut semakin bertambah besar, yang berpengaruh pada perubahan iklim secara distortif, lantas terjadi hujan salah mongso. Pada saat kemarau, empang, kolam tak kering kerontang, pada saat musim penghujan air meluap menjadi banjir besar. Akibatnya hasil pertanian gagal total. Sekali hujan maka terjadi sangat lebat, hingga menimbulkan banjir besar. Pemanasan global berakibat es kutub meleleh, terjadi elevasi air laut, perubahan cuaca yang begitu cepat dan terjadi berkali-kali dalam sehari. Suhu ektrim terjadi di mana-mana, menimbulkan pergerakan udara dingin ke panas terjadi begitu cepat, sehingga menimbulkan bencana angin topan, lesus, tornado, putting beliung yang merusak permukaan bumi. Pemanasan global, distorsi cuaca dan iklim, berimplikasia menimbulkan  wabah penyakit, virus, bakteri mengalami perubahan genetika dan  sifat dasar, lantas muncullah penyakit-penyakit baru yang mematikan manusia, tanaman dan binatang. Esuk lara sore mati, sore lara isuk mati.

Ini baru sedikit ulasan mengenai apa sebab musabab terjadinya gempa, banjir, anginm dan wabah penyakit. Masihkan kita “menyalahkan” tuhan yang ujug-ujug mencoba-coba manusia ?  Marilah berfikir dengan akal sehat, betapa ulah kita, ulah manusia telah menjadi penyebab utama kerusakan bumi ini. Tegakah kita kepada anak cucu generasi penerus kita, yang hanya kita warisi kerusakan, malapetaka, penyakit, wabah, kesengsaraan, penderitaan. Jika tidak eling dan waspada, diam-diam kita bisa berubah menjadi generasi biadab, keji, dan buas beringas, menjadi monster bagi anak turun kita sendiri…!! Siapa sesungguhnya yang menjadi dajjal ?

SIAPA YANG TAK BERAGAMA?

Tapa ngeli berarti perilaku yang sesuai dengan kodrat alam atau kodrat ilahi. Pelaku “tapa ngeli” inilah sesunggunya secara hakekat dikatakan orang yang beragama. Sementara itu, mengikuti “air bah” berarti melawan kodrat alam, melawan hukum alam.  Dan yang ini, tipikal orang yang tak beragama, sekalipun ia menganut salah satu agama yang ada. Atheis bukan berarti orang yang tidak menganut satu agamapun yang ada di bumi ini. Bagi saya pribadi, atheis lebih pas untuk menyebut orang yang perbuatannya selalu melawan dan menentang hukum alam. Sekalipun seseorang memeluk salah satu agama, namun perbuatannya selalu membuat kerusakan alam, mencelakai dan membunuh orang lain. Maka secara hakekat ia termasuk manusia tak beragama.

Mari..kita renungkan bersama..!

Rahayu Karaharjan

Sabda

Rasionalisasi Kejawen


Pasugatan Ki Sondong Mandali

Kodrat Tuhan, bahwa bangsa manusia diciptakan Tuhan berikut perangkat ‘build-in spirituil’ atau ‘wiji spirituil’ yang ‘jumbuh’ (sesuai) untuk menjalani hidup di habitat tempat  bangsa manusia tersebut diciptakan. Kenyataan yang ada, sesuai dinamika semesta, bahwa keadaan alam (termasuk geo spiritual) di bumi ini tidak sama.  Dengan demikian, ada perbedaan ‘wiji spiritual’ pada masing-masing bangsa manusia demi bisa ‘jumbuh’ dengan kondisi ’geo spiritual’ tempat masing-masing bangsa tersebut tercipta.
Interaksi ’wiji spirituil Jawa’ dengan ’situasi, kondisi, dan geo spiritual’ habitat Jawa menumbuh kembangkan ‘cipta rasa karsa’-nya wong Jawa.  Dari ’cipta rasa karsa’ ini tumbuh kesadaran adanya ’hubungan’ antar semua yang ada di jagad raya.

Kesadaran-kesadaran tersebut berupa;

1.      Kesadaran adanya Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
2.      Kesadaran adanya hubungan kesemestaan (hubungan manusia dengan jagad raya dan seluruh isinya);
3.      Kesadaran keberadaban (hubungan antar sesama manusia).

Kesadaran-kesadaran tersebut merupakan landasan utama ’kawruh kejawen’ atau ’ngelmu urip’-nya wong Jawa.  Maka dengan demikian ’cipta rasa karsa’ Jawa yang berdasarkan kesadaran ’ber-Tuhan, kesemestaan, dan keberadaban’ kemudian melandasi ’Ngelmu Urip’ (falsafah hidup) Jawa yang selanjutnya melahirkan budaya dan peradaban Jawa yang mencakup: sistim religi & spiritualisme, falsafah hidup, tradisi & laku budaya, sistim organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan, sistim ilmu pengetahuan dan tehnologi/peralatan, bahasa (termasuk aksara), seni budaya yang terdiri dari: kesenian, kriya, dan sastra.

Merupakan kodrat Tuhan pula bahwa kondisi alam semesta Jawa berada di khatulistiwa (tropis), bagian gugus kepulauan (bahari), dan banyak gunung berapinya (vulkanis).  Maka bumi Jawa termasuk yang subur makmur, bercurah hujan tinggi, sepanjang tahun mendapatkan sinar matahari.  Namun demikian, di bumi Jawa pula banyak terjadi ’bencana alam’ berupa gempa bumi, badai, gelombang laut yang tinggi dan tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir karena curah hujan tinggi.  Dengan demikian kondisi alam semesta Jawa bisa dikatakan ’jangkep’ (komplit).  Pada situasi semesta yang jangkep, maka hypotesanya ’wiji spiritual’ yang dianugerahkan Tuhan kepada insan Jawa juga ’jangkep’ supaya jumbuh dengan kondisi alam tempatnya diciptakan.

Hasil interaksi ’wiji spiritual Jawa’ dengan ’geo spiritual’ melahirkan pandangan Jawa yang dikenal dengan ’Falsafah Panunggalan’:  semua yang ada dan tergelar di jagad semesta ini merupakan ’kesatuan tunggal semesta’ yang dalam istilah Jawa disebut ’Panunggalan’.  Maksudnya, ada ’hubungan kosmis magis’ antar semua yang ada di jagad raya ini.  Hubungan panunggalan dimaksud terbangun dalam struktur ’pancer-mancapat’ atau ’inti-plasma’ yang terjalin satu dengan yang lain bertingkat-tingkat dari yang paling kecil (atom dan sel hidup) sampai ke seluruh alam semesta.  Pada konteks ’panunggalan alam semesta’, pancernya disebut ’Hyang Wisesa’ (sebutan lain: Suksma Kawekas, Guruning Ngadadi, Kang Maha Kuwasa) dan semua ciptaan posisinya sebagai ’mancapat’.

Berdasarkan konsep panunggalan semesta ini maka bisa dimengerti bahwa konsep ajaran Jawa tentang kewajiban manusia adalah menjaga  atau ’menyangga’ harmoni (keseimbangan, keselarasan) hubungan semua unsur semesta yang dikodratkan ’hayu’ (selamat, indah, sejahtera).  Dari konsep inilah terlahir istilah yang menjadi kewajiban semua titah dumadi untuk melakukan: ’Memayu Hayuning Bawana’.  Manusia sebagai salah satu ’titah dumadi’ yang diberi kelebihan berupa ’cipta-rasa-karsa’ dan ’daya spirituil’ termasuk yang memiliki ’kewajiban lebih’ dalam ’Memayu Hayuning Bawana’ tersebut.

Dalam ’kehayuan semesta’ disadari dan dimengerti oleh manusia Jawa ada ’dinamika pergerakan’ yang terus menerus tiada henti sebagai salah satu tanda ’urip’ (hidup).  Demikianlah, maka pada dasarnya pergerakan alam semesta memang ada dan dinamis sejak awal terciptanya.  Bahwa dampak dinamika pergerakan tersebut ada yang berupa ’bencana’ bagi kehidupan manusia juga sudah dipahami oleh insan Jawa.  Misalnya: pergerakan lempeng kulit bumi yang menimbulkan gempa, pergerakan angin oleh perbedaan suhu yang menimbulkan badai dan topan, pergerakan konsentrasi awan yang menimbulkan hujan dan banjir, pergerakan dinamis bulan yang menyebabkan pasang surut air laut, pergerakan atas dampak gerhana bulan dan matahari, dll.

Terhadap timbulnya berbagai bencana oleh akibat dinamika semesta menumbuhkan bermacam-macam ’laku budaya’ untuk menyikapi.  Dalam hal ini, sikap Jawa ternyata tidak sekedar ’menyerah pasrah’ kemudian memohon ’perlindungan’ Yang Maha Kuasa semata.  Tetapi juga melakukan upaya-upaya mengenali bencana-bencana dimaksud termasuk siklus terjadinya dan upaya untuk mengantisipasi dampak kerusakan kepada hidup manusia itu sendiri.  Maka kemudian dalam khasanah Jawa lahir ’petung’ untuk mengenali siklus terjadinya bencana tersebut.  Sedemikian rupa njelimet dan detil sehingga kemudian lahir berbagai ’ilmu petung’ sebagai tengara kemungkinan terjadinya bencana.  Di antaranya berupa pengenalan watak baik buruknya: hari (wetonan), wuku (pekan, minggu), mangsa (bulan dalam hitungan pranata mangsa), tahun, windu, mangsakala (siklus 33 tahun), sampai kepada siklus jaman yang disebut ’kali’ yang berlangsung setiap 700 tahun.

Di samping mengenali berbagai seluk beluk tentang bencana juga melakukan upaya-upaya penangkalannya yang berupa ritual budaya.  Di antaranya melakukan ritual sesaji, ritual mantra swara (kidungan), ritual bedayan (tari dan swara gamelan), ruwatan, merti desa, dll. Landasan pokok penyelenggaraan ritual-ritual tersebut berupa konsep ’menjaga panunggalan semesta’.  Penjelasan lebih mendalam tentang hal ini kiranya perlu diadakan sarasehan khusus mengenai ritual-ritual laku budaya Jawa. Yang penting, dalam wacana pemikiran ini, bahwa ritual-ritual laku budaya Jawa merupakan upaya manusia Jawa dalam menjalin hubungan baik dengan alam semesta dan seluruh isinya.  Jalinan hubungan yang baik dipahami akan mampu memberi ’keselamatan’ terhadap kehidupan manusia.
Falsafah hidup Jawa yang lahir dari tumbuh kembangnya ’cipta rasa karsa’ hasil interaksi ’wiji spiritual’ dengan ’geo spiritual’ lebih mengutamakan ajaran pemahaman tentang ’sejatining urip’ (hakekat hidup).  Pijakan ajaran tersebut bertumpu dari 3 landasan : kesadaran ber-Tuhan, kesadaran semesta (kosmis), dan kesadaran keberadaban.  Dengan demikian, insan Jawa kemudian cenderung lebih ’spiritualis’ karena masalah ’hakekat hidup’ berada di ranah spiritual. Kecenderungan ’spiritualis’ ini bisa dikatakan sebagai ’naluri alamiah yang adikodrati’.  Maka kemudian menjadi dasar dalam berinteraksi dengan budaya dan peradaban lain.  Inilah sebabnya ’kejawen’ sering dijustifikasi sebagai ’ketahayulan’ dan ’anti modernisasi’.

Dalam interaksi antar budaya dan peradaban manusia sudah barang tentu terjadi ’hybrid interconnectedness’ nilai-nilai.  Namun demikian, nilai-nilai budaya dan peradaban Jawa yang bertolak dari interaksi wiji spiritualnya dengan geo spiritual yang bersifat ’adikodrati’ tidak mudah hilang.  Justru kemudian ’mewarnai’ hasil asimilasi dan ’hybrid interconnectedbess’ yang terjadi.  Para pakar budaya kemudian menilainya sebagai ’sinkretisme’.
Pada wacana pemikiran awal tentang Rasionalisasi Kejawen ini saya sampaikan dasar-dasar yang melandasi budaya dan peradaban Jawa sebagai berikut:

1.      Landasan peri kehidupan berdasar ’Falsafah Panunggalan’, suatu pandangan hakiki bersatunya manusia dengan alam semesta yang dalam istilah Jawa dinyatakan sebagai ’jumbuhing jagad cilik lan jagad gedhe’.
2.      Landasan peri kehidupan ’Agraris Paradesa’, suatu kehidupan sosial yang berdasarkan kerukunan dan keselarasan.  Mulai komunitas kecil (desa) sampai kepada bentuk negara.
3.      Landasan peri kehidupan ’Spirituil Magis’, merupakan karakter umum insan Jawa yang spiritualis dan mempercayai adanya kekuatan-kekuatan magis dari alam semesta dan seluruh isinya.
4.      Landasan peri kehidupan ’Kalangwan’ (Mempersembahkan Keindahan), merupakan implementasi melaksanakan misi ’Memayu Hayuning Bawana’.
5.      Landasan peri kehidupan ’Kejawen’, merupakan piwulang Jawa dalam menyikapi berbagai perbedaan-perbedaan keyakinan dan kepercayaan umat manusia.

Piwulang ini saya simpulkan berdasar pengkajian terhadap kandungan visi misi serat-serat kapujanggan. Semestinya lebih tepat menggunakan istilah ’Bhinneka Tunggal Ika’, namun istilah ini rasanya belum ’pas’ karena sekedar bermakna ’kerukunan’ semua ’Sistim Religi’.  Sementara ’Kejawen’ ada wacana melebur semua perbedaan dalam bingkai ’Sistim Religi Jawa’.
© KSM.

Yayasan Sekar Jagad

WIRID MAKLUMAT JATI


“Wedharing Ilmu Kabatosan”



Di dalam kepustakaan Jawa, dikenal kitab kuno, yakni kitab Primbon Atassadhur Adammakna, merupakan salah satu kitab terpenting dalam ajaran Kejawen. Di dalamnya memuat ajaran-ajaran utamanya yakni Wirid Maklumat Jati di mana mencakup delapan wiridan sebagai berikut ;

1.      Wirayat-Jati; ajaran yang mengungkap rahasia dan hakikatnya ilmu kasampurnan. Ilmu “pangracutan” sebagaimana yang ditempuh oleh Sinuhun Kanjeng Sultan Agung merupakan bentuk “laku” untuk menggapai ilmu kasampurnan ini.

2.      Laksita-Jati; ajaran tentang langkah-langkah panglebur raga, agar supaya orang yang meninggal dunia, raganya dapat melebur ke dalam jiwa (warangka manjing curiga). Kamuksan, mokswa,  atau mosca, yakni mati secara sempurna, raga  hilang bersama sukma, yang lazim dilakukan para leluhur zaman dahulu merupakan wujud warangka manjing curiga.

3.      Panunggal-Jati; ajaran tentang hakikat Tuhan dan manusia mahluk ciptaanNya. Atau hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Meretas hakekat ajaran tentang “manunggaling kawula lan Gusti” atau “jumbuhing kawula-Gusti”. Panunggal-Jati berbeda dengan Aji Panunggal. Aji Panunggal membeberkan ke-ada-an jati diri manusia, yang meliputi adanya pancaindera. Aji Panunggal juga mengajarkan tata cara atau teknik untuk melakukan semedi/maladihening/mesu budi/yoga sebagai upaya jiwa dalam rangka menundukkan raga.

4.      Karana-Jati; ajaran tentang hakikat dan asal muasalnya manusia, ajaran ini sebagai cikal bakal ilmu “sangkan-paraning dumadi”. Siapakah sejatinya manusia. Hendaknya apa yang dilakukan manusia. Akan kemana kah selanjutnya manusia.

5.      Purba Jati; ajaran tentang hakikat Dzat, ke-Ada-an Dzat yang sejati. Menjawab pertanyaan,”Tuhan ada di mana ? Dan membeberkan ilmu tentang sejatinya Tuhan. Seyogyanya Purba Jati dibaca oleh pembaca yang budiman dan bijaksana, dan bagi yang telah mencapai tingkatan pemahaman tasawuf agar supaya tidak terjadi kekeliruan pemahaman.

6.      Saloka-Jati; ilmu tentang perlambang, sanepan, kiasan yang merupakan pengejawantahan dari bahasa alam, yang tidak lain adalah bahasa Tuhan. Supaya manusia menjadi lebih bijaksana dan mampu nggayuh kawicaksananing Gusti; mampu membaca dan memaknai bahasa (kehendak) Tuhan. Sebagai petunjuk dasar bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.

7.      Sasmita-Jati; ilmu yang mengajarkan ketajaman batin manusia supaya mengetahui kapan “datangnya janji” akan tiba. Semua manusia akan mati, tetapi tak pernah tahu kapan akan meninggal dunia. Sasmita Jati mengungkap tanda-tanda sebelum seseorang meninggal dunia. Tanda-tanda yang dapat dibaca apabila kurang tiga tahun hingga sehari seseorang akan meninggal dunia. Dan bagaimana manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari kematiannya.

8.      Wasana-Jati; ilmu yang menggambarkan apa yang terjadi pada waktu detik-detik terakhir seseorang meninggal dunia, dan apa yang terjadi dengan sukma atau ruh sesudah seseorang itu meninggal dunia.

Tulisan di atas hanya bersifat pengenalan awal dan pemetaan secara global tentang referensi atau buku-buku khasanah ilmu Jawa. Pada kesempatan selanjutnya, Sabdalangit Insya Allah akan berusaha memaparkan masing-masing ilmu kajaten (Wirit Maklumat Jati) di atas. Mudah-mudahan pemaparan ini dapat memberikan arti dan manfaat untuk seluruh pembaca blog ini, sekalipun hanya sedikit.


“Wedharing Ilmu Kabatosan”



Di dalam kepustakaan Jawa, dikenal kitab kuno, yakni kitab Primbon Atassadhur Adammakna, merupakan salah satu kitab terpenting dalam ajaran Kejawen. Di dalamnya memuat ajaran-ajaran utamanya yakni Wirid Maklumat Jati di mana mencakup delapan wiridan sebagai berikut ;

1.      Wirayat-Jati; ajaran yang mengungkap rahasia dan hakikatnya ilmu kasampurnan. Ilmu “pangracutan” sebagaimana yang ditempuh oleh Sinuhun Kanjeng Sultan Agung merupakan bentuk “laku” untuk menggapai ilmu kasampurnan ini.

2.      Laksita-Jati; ajaran tentang langkah-langkah panglebur raga, agar supaya orang yang meninggal dunia, raganya dapat melebur ke dalam jiwa (warangka manjing curiga). Kamuksan, mokswa,  atau mosca, yakni mati secara sempurna, raga  hilang bersama sukma, yang lazim dilakukan para leluhur zaman dahulu merupakan wujud warangka manjing curiga.

3.      Panunggal-Jati; ajaran tentang hakikat Tuhan dan manusia mahluk ciptaanNya. Atau hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Meretas hakekat ajaran tentang “manunggaling kawula lan Gusti” atau “jumbuhing kawula-Gusti”. Panunggal-Jati berbeda dengan Aji Panunggal. Aji Panunggal membeberkan ke-ada-an jati diri manusia, yang meliputi adanya pancaindera. Aji Panunggal juga mengajarkan tata cara atau teknik untuk melakukan semedi/maladihening/mesu budi/yoga sebagai upaya jiwa dalam rangka menundukkan raga.

4.      Karana-Jati; ajaran tentang hakikat dan asal muasalnya manusia, ajaran ini sebagai cikal bakal ilmu “sangkan-paraning dumadi”. Siapakah sejatinya manusia. Hendaknya apa yang dilakukan manusia. Akan kemana kah selanjutnya manusia.

5.      Purba Jati; ajaran tentang hakikat Dzat, ke-Ada-an Dzat yang sejati. Menjawab pertanyaan,”Tuhan ada di mana ? Dan membeberkan ilmu tentang sejatinya Tuhan. Seyogyanya Purba Jati dibaca oleh pembaca yang budiman dan bijaksana, dan bagi yang telah mencapai tingkatan pemahaman tasawuf agar supaya tidak terjadi kekeliruan pemahaman.

6.      Saloka-Jati; ilmu tentang perlambang, sanepan, kiasan yang merupakan pengejawantahan dari bahasa alam, yang tidak lain adalah bahasa Tuhan. Supaya manusia menjadi lebih bijaksana dan mampu nggayuh kawicaksananing Gusti; mampu membaca dan memaknai bahasa (kehendak) Tuhan. Sebagai petunjuk dasar bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.

7.      Sasmita-Jati; ilmu yang mengajarkan ketajaman batin manusia supaya mengetahui kapan “datangnya janji” akan tiba. Semua manusia akan mati, tetapi tak pernah tahu kapan akan meninggal dunia. Sasmita Jati mengungkap tanda-tanda sebelum seseorang meninggal dunia. Tanda-tanda yang dapat dibaca apabila kurang tiga tahun hingga sehari seseorang akan meninggal dunia. Dan bagaimana manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari kematiannya.

8.      Wasana-Jati; ilmu yang menggambarkan apa yang terjadi pada waktu detik-detik terakhir seseorang meninggal dunia, dan apa yang terjadi dengan sukma atau ruh sesudah seseorang itu meninggal dunia.

Tulisan di atas hanya bersifat pengenalan awal dan pemetaan secara global tentang referensi atau buku-buku khasanah ilmu Jawa. Pada kesempatan selanjutnya, Sabdalangit Insya Allah akan berusaha memaparkan masing-masing ilmu kajaten (Wirit Maklumat Jati) di atas. Mudah-mudahan pemaparan ini dapat memberikan arti dan manfaat untuk seluruh pembaca blog ini, sekalipun hanya sedikit.

MERAIH KASAMPURNAN HIDUP


LAKSITA JATI

Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma.

Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:

“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa”.


Sebagai contoh :

Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal  tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya.  Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.

            Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

   1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
   2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
   3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
   4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
   5. Sukma atau ruh (Ruhullah).


No 1 s/d no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan “perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.


KONSEP ARWAH PENASARAN

Sebaliknya ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran karena masih ada tanggungjawab di bumi yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau “hutang” yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Kejawen dipercaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyataan bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam ajaran Kejawen terdapat tata cara “penyempurnaan” arwah (penasaran) tersebut.


JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN

(Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil)

            Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :

“jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi”

(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang harus dicegah, yakni;

1.      Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.
2.      Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.
3.      Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.
4.      Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.
5.      Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.
6.      Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.
7.      Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang, walaupun  sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

1.      Mengumbar hawa nafsu.
2.      Mengumbar kesenangan.
3.      Suka bermusuhan dan tindak aniaya.
4.      Berulah yang meresahkan.
5.      Tindakan nista.
6.      Perbuatan dengki hati.
7.      Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.
8.      Enggan menderita dan prihatin.

Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

1.      Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.
2.      Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.
3.      Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.
4.      Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.


PERBUATAN, PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,

Siapa menanam, akan mengetam,

Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,

Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.

Orang pelit, pailit

Pemurah hati, mukti



PERILAKU TAPA BRATA

Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;

1.      Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.

2.      Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka  buruk, tidak iri hati.

3.      Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang  lain.

4.      Tapa/puasanya sukma; jujur.

5.      Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

6.      Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.

7.      Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.



Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

1.      Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.

2.      Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.

3.      Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.

4.      Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing  keburukan orang lain.

5.      Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan ngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.

6.      Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.

7.      Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.


Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

“Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.

(Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusia pinunjul harus;

1.      Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

2.      Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara

3.      Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.


Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;


1.      Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

2.      Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

3.      Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

4.      Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

5.      Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.


Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

1.       Zamannya kemelaratan,  dimulai dari perilaku boros

2.       Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

3.       Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

4.       Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

5.       Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

6.       Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

7.       Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.



Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”,  lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni;

1.       Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.

2.       Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.

3.       Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

4.       Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.

5.       Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.

6.       Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.

7.       Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo, legowo, tapa.



SHALAT/SEMBAHYANG DHAIM



Sebagai tulisan penutup, Sabdalangit berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi para pembaca yang masih awam tentang ajaran Kejawen.

Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden)  yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati,  tumbuhnya “tidak punya rasa punya”,  tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang.

Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu. Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb;

“ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”


            Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri. Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian.  Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah (shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan;

“salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG APA AGAMANYA.