Kamis, 26 November 2009

SABDOPALON MENGGUGAT

SABDOPALON MENGGUGAT
"Untuk Bangsa dan Negara yang kucintai"





Dalam pemahaman orang jawa yang masih memegang teguh keyakinan dan meyakini budaya jawa, tentu tidak asing dengan “ SABDOPALON “ dan “ NAYAGENGGONG “. Keduanya diasumsikan sebagai nama tokoh yang berperan penting pada masa Majapahit. Keduanya dianggap dan diyakini sebagai ‘ PANAKAWAN ‘, Damarwulan hingga naik tahta menjadi ‘ BRAWIJAYA ‘. Pada akhirnya disebut sebagai ‘ Brawaijaya I ‘. Peran penting apa yang dilakukan oleh Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan pribadi seorang ‘ Brawijaya ‘ ?. Kemudian apa peran utama Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa Kerajaan Majapahit ?. Sementara masyarakat pedesaan yang telah uzur usianya, masih berkeyakinan bahwa suatu ketika ‘ kakek ane ‘ ( sebutan bagi Sabdopalon ) akan muncul dan bersatu kembali dengan ‘ den bagus ‘ ( sebutan bagi Brawijaya ). Ketika keduanya muncul dan bersatu kembali, masyarakat pedesaan akan makmur dan sejahtera, disimbolkan sebagai ‘ Wong cilik gumuyu ‘. Keyakinan ini, boleh saja di lihat sebagai dongeng pelipur lara, boleh saja di lihat sebagai sebuah legenda, bahkan boleh saja di lihat sebagai mitos. Pada kenyataannya cerita itu masih hidup dan dinyakini oleh masyarakat pedesaan.

Ada seorang kawan ngrumpi malam hari, bertanya kepadaku : “ Mas Budda, apakah ada bukti-bukti yang bisa di lihat mata bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong itu ada pada masa kerajaan Majapahit ? “. Tentu, masih ada dan bisa dilihat pada dua buah candi karya ‘ Prabu Brawijaya V ‘ atau sering disebut sebagai ‘ Brawijaya Pamungkas ‘ yang berdiri di lereng gunung Lawu sebelah barat. Dua candi bergaya beda ini bernama candi “ Cetho “ dan candi “ Sukuh “, bisa disebut sebagai candi terakhir. Pada lantai ke 7 ( tujuh ) candi “ Cetho “ ada dua buah patung ‘ Sabdopalon ‘ dan ‘ Nayagenggong ‘. Pada lantai ke 3 candi “ Sukuh “ , ada relief ‘ Semar dan Gareng ‘. Keduanya punya makna dan esensi yang sama. Karena pada masa Kerajaan Majapahit bangsa kita tidak terlalu banyak mengembangkan budaya tulis, tapi lebih banyak mengembangkan budaya simbol. Ini bisa dipahami, karena bangsa kita masa itu mengembangkan optimalisasi potensi pikir. Dua candi ini bergaya hindu dan budha. Sering masyarakat beranggapan bahwa kedua candi ini sebagai tempat pemujaan, padahal jika kita simak lebih dalam lagi, kedua candi ini merupakan sebuah kitab atau buku ‘ filosofi budaya jawa ‘. Candi Cetho adalah kitab filosofi budaya jawa dalam konteks “ SANGKAN “, sedang candi Sukuh adalah kitab filosofi budaya jawa dalam konteks “ PARAN “.

Kawan ngrumpi yang masih kerabat Puro Mangkunegaran ini, melanjutkan pertanyaan : “ Nah, kalau itu sebagai sebuah simbol..apa makna Sabdopalon dan Nayagenggong pada alam kepribadian kita atau mikro kosmos ? “. Sabdopalon atau Semar adalah simbol “ Nur Illahi “ yang ada dalam jiwa kita. Itu terpancar pada system kerja otak kanan kita yang menghasilkan “ SQ “. Sedang Nayagenggong atau Gareng adalah simbol “ Kecerdasan Manusia “ dalam penalaran lima indra raga kita . Ini terpancar pada system kerja otak kiri kita yang menghasilkan “ IQ “. Keduanya adalah simbol ‘ panakawan ‘, pana bermakna ‘ memahami atau paham betul akan segala ciptaan Sang Pencipta ‘ , sedang kawan bermakna ‘ mitra kehidupan ‘. Sehingga dalam kita hidup di tengah seluruh ciptaan Sang Pencipta , sebagai manusia harus berjalan dan bermitra dengan “ SQ “ dan “ IQ “. Perjalanan hidup manusia dalam sehari-hari tidak lepas dari alam lingkungan dan Sang Pencipta. Ciptaan Sang Pencipta itu ada yang tampak oleh lima indra kita, ada yang tidak tampak oleh lima indra kita. Maka hanya manusia yang mampu naik ke tingkat tujuh itulah yang bisa menggunakan kemitraan dengan Sabdopalon dan Nayagenggong dalam kehidupan nyata. Nah, jika kita sebagai manusia mampu menggunakan kemitraan dengan Sabdopalon dan Nayagenggong, maka manusia itu mampu menjadi “ leader “ atau “ pemimpin sejati “ seperti seorang Brawijaya. Tentang bagaimana cara untuk bisa ke tingkat tujuh, aku rasa banyak cara ... yang bisa di temukan, baik dalam ajaran agama maupun keyakinan. Disinilah letaknya kenapa “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangwra “ menjadi hukum dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa kerajaan Majapahit. Jujur saja hampir semua simbol-simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia menggunakan simbol-simbol Majapahit, kan..?!.

Kawan ngrumpi ini semakin tajam bertanya : “ Kenapa Sabdopalon atau Semar sebagai simbol SQ, apa maknanya ? “. Aku rasa semua orang tahu, bahwa Semar adalah simbol ‘ dewa ngejawantah ing ngarcapada ‘ atau bisa diartikan sebagai pemikiran kadewatan atau keilahian yang ada pada diri manusia sebagai ciptaan paling sempurna. Semar juga identik dengan masyarakat bawah atau masyarakat pedesaan yang lugu dan jujur. Semar juga diidentikan dengan “ Wong Cilik “. Semar berasal dari kata “ Sar “ yang berarti “ Cahaya “, sesuatu yang memancarkan cahaya atau sumber cahaya. Semar juga disebut sebagai Badranaya yang berarti cahaya tuntunan atau tuntunan sejati atau masyarakat hindu jawa menyebut sebagai Sang Hyang Nur Cahya. Semar juga disebut sebagai Janabadra yang berarti cahaya pengetahuan atau cahaya jiwa, masyarakat hindu jawa menyebut sebagai Sang Hyang Rasa. Semar juga disebut sebagai ‘ samar ‘ atau ‘ maya ‘ yang berarti kesaktian Brahman atau kesaktian Sunya. Maya juga berarti tidak tampak. Semar juga disebut sebagai ‘ Janggan ‘, sebuah sebutan setingkat kyai atau orang yang dihormati, ada sebutan lain yaitu Indung-indung, Gelantung, Uluguntung, Cantrik, Cekel, Puthut, Mengayu, Wasi, Ajar, Pandita, Resi, Brahmana dan lain sebagainya. Semar juga berarti gaib atau misteri yang tidak dapat dijangkau oleh akal atau transenden. Semar juga bisa diartikan sebagai asmara, cinta-kasih atau mahabbah. Semar juga bisa diidentikan dengan santa atau suci. Semar juga disebut sebagai ‘ Duda Manang-munung ‘ yang berarti bukan lelaki, bukan wanita juga bukan banci yang tidak punya ‘ dunung ‘ ( tempat tinggal ), tetapi berada di mana-mana ( immanent ). Semar bisa diartikan sesuatu yang abadi dan lestari, karena dalam pewayangan tokoh Semar di segala jaman tidak pernah ‘ mati ‘.

Kawan ngrumpi sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam, mendengarkan sambil melihat ke langit. Diatas sebuah tikar kami duduk , disamping kami ada got atau selokan kering. Setelah meneguk teh yang masih hangat, kembali dia bertanya : “ Kenapa IQ disimbolkan sebagai Gareng atau Nayagenggong ? “.  Gareng atau Nayagenggong digambarkan sosok yang matanya ‘ kero ‘ atau ‘ juling ‘, tangannya ‘ ceko ‘ atau tidak bisa lurus, jalannya agak terseret-seret tidak tegap. Sebagaimana kita tahu, bahwa penalaran atau logika itu ‘ bias ‘ seperti mata juling memandang. Ilmu pengetahuan selalu berkembang dari berbagai sudut pandang tidak pernah ada definisi yang baku dan tepat. Sehingga segala kehidupan ini selalu berjalan dan berkembang menurut rotasi perkembangan jaman. Demikian pula penalaran manusia, tidak akan pernah berhenti. Segala yang tampak dalam lima indra manusia selalu terjadi multitafsir. Disinilah dinamika pemikiran manusia semakin hidup dan berkembang, sehingga tingkat kecerdasan manusia semakin meningkat. Tangan yang ceko menggambarkan bahwa pemikiran logika manusia tidak pernah menjangkau pemikiran Sang Pencipta yang juga selalu berkembang menurut jamannya. Sang Pencipta menggerakan alam lewat kuasa-kuasaNya, di jalankan berdasarkan esensi hukum alam ‘ Aksi = Reaksi ‘. Artinya ketika manusia membuat ‘ aksi ‘, maka alam akan melakukan ‘ reaksi ‘. Ketika itu berjalan, manusia di tuntut untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Bahkan manusia harus belajar terus hingga terpisah dari raganya. Jalannya terseret-seret, adalah gambaran bahwa ilmu pengetahuan dapat diciptakan setelah ada yang terjadi di alam jagat raya atau global. Jika saja manusia malas untuk mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan maka manusia tidak akan sampai pada tujuannya.

Kawan ngrumpi ini mengangguk-angguk tanpa aku ketahui maknanya. Sambil merubah sikap duduk iapun bertanya lagi : “ Kenapa dunia barat mengembangkan IQ dengan berbagai teknologi, kog sekarang mereka mengejar dan mencari bagaimana mengembangkan SQ ? “. Manusia yang disebut tinggal di dunia barat, sangat konsisten mengembangkan penalaran, hingga menciptakan berbagai teknologi canggih. Mereka ingin mengoptimalkan kemampuan ‘ otak kiri ‘, sehingga mengabaikan dan mengistirahatkan ‘ otak kanan ‘. Ilmu Pengetahuan menjadi ‘ dewa ‘ penolong bagi kehidupan dan kebutuhan. Sehingga lahirlah ilmu-ilmu pengetahuan yang berdampak rusaknya alam. Pemanasan global menjadi ‘ hantu ‘ yang menakutkan dalam kehidupan manusia. Kekacauan musim dan alam tidak pernah bisa dibendung oleh manusia. Alam ...


memberontak dan bereaksi atas aksi yang manusia lakukan. Bencana alam adalah sebuah pemberontakan terhadap sikap manusia yang hanya berkembang dari IQ. Alam menggugat manusia, segala kehidupan tidak lagi bisa dihitung dan di prediksi dengan hitungan matematika. Orang-orang dunia barat ‘ sadar ‘ bahwa apa yang mereka ciptakan adalah sebuah rekayasa demi memenuhi kebutuhan manusia. Rasa, budi-pekerti dan pemahaman bahwa manusia bukanlah satu-satunya ciptaan Sang Pencipta telah di istirahatkan atau di tidurkan. Cahaya keilahian dalam diri manusia tidak bersinar, yang ada adalah bagaimana memenuhi ambisi dan keserakahan. Lihat saja, Amerika yang di pandang sebagai negara super power, harus melihat dan mengakui mengalami krisis ekonomi akibat tidak menghidupkan kontrol diri yang ada di otak kanannya. Sementara kita masih mau mengagungkan mereka sebagai manusia yang canggih dan hebat. Karena bangsa kita mengikuti jejak langkah dunia barat, seolah bangsa kita kehilangan jati dirinya. Budaya atau kultur kehidupan berbangsa dan bernegara yang di bangun sejak leluhur kita di Majapahit, di tinggalkan bahkan diabaikan. Bangsa kita selalu membangun bangunan asing yang tidak tepat berada diatas pondasi, sehingga mudah dirobohkan secara alami dalam tempo yang tidak lama.

Kawan ngrumpi memotong penjelasanku : “ artinya kita sebagai bangsa telah meninggalkan kultur kehidupan kita ? “. Ada sebuah tulisan sastra kuno ucapan Sabdopalon dalam tembang jawa “ Sinom “ menyatakan begini : “ Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekaken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar “. Kemudian di bait lain di jelaskan “ ngidul ngilen purugira “. Dalam bahasa sederhananya sebagai berikut  kata-kata Sabdopalon itu : “ Bila tidak ada yang mau memakai ( rasa, budi, SQ, Sabdopalon ), akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin, setan, bekasakan dan lain-lainnya. Belum legalah hatiku belum aku hancur leburkan. Aku akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya . bait yang lain menjelaskan lahar tersebut mengalir ke barat daya ( ingat meletusnya merapi bersamaan dengan gempa jogya 27 Mei 2006 ) “. Karena itu tanda alam yang terjadi oleh karena janji Sabdopalon akan menggugat bila kehidupan bangsa dan negara ini telah bergeser dari kultur. Pemimpin tidak sungguh-sungguh memperhatikan nasib rakyat kecil atau wong cilik. Penderitaan wong cilik menjadi sebuah aksi ‘ prihatin dan doa ‘. Jeritan jiwa wong cilik, menggugah Sabdopalon melaksanakan janjinya untuk ‘ Menggugat ‘. Sebenarnya tanda-tanda alam itu terjadi sejak akhir 2003 dan awal tahun 2004. Alam secara jelas berbicara sebagai sebuah bahasa tersendiri, secara nyata Sang Pencipta bicara pada bangsa kita lewat gejolak dan pemberontakan alam, agar bangsa ini sadar. Sadar untuk kembali pada kultur kehidupan berbangsa dan bernegara. Sadar bahwa menjadi pemimpin jangan membohongi rakyat dan alam. Oleh karena sistem demokrasi kita berjalan dan akan mengalami pergantian pemimpin di 2009 ini, tentu kita sebagai bangsa harus melihat bahwa “ SABDOPALON MENGGUGAT “.

Kawan ngrumpi masih belum puas, bertanya lagi : “ Selain itu, apa yang dikatakan oleh Sabdopalon dalam rangka ‘ menggugat ‘ ? “. Kelak waktunya ada kesengsaraan di tanah jawa dan bumi nusantara ini. Seumpama orang menyeberang jembatan, ketika di tengah jembatan datanglah banjir bandhang. Sehingga banyak manusia yang menjadi korban. Itu sudah menjadi kehendak Sang Pencipta, tidak mungkin di hindari lagi. Sebab dunia ini ada di tangan Nya. Hal itu untuk mengingatkan bahwa sebenarnya jagat-raya ini ada yang membuatnya dan mengaturnya menurut kultur masing-masing. Bahaya lain yang terjadi adalah banyak orang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak susah hatinya. Para saudagar selalu menderita rugi. Orang tani dan nelayan susah hidupnya. Penghasilan mereka banyak hilang dalam hutan belantara kehidupan. Bumi mengurangi hasil kekayaannya, segala tambang dari bumi menurun karena bumi sudah enggan memberikannya. Hutan pada rusak oleh karena keserakahan manusia yang saling berebutan. Moral manusia sudah benar-benar rusak. Manusia bingung dengan sendirinya, sebab berebutan mencari makan. Manusia sudah tidak mengindahkan aturan negara, sebab tidak mampu menahan perut keroncongan. Hama penyakit berbahaya menebar di seluruh permukaan bumi. Seperti segala jenis alam bergejolak, seolah bumi nusantara tenggelam oleh luapan air laut. Dan masih banyak lagi artinya dalam tembang ‘ Sinom ‘ pernyataan “ SABDOPALON MENGGUGAT “.

Kawan ngrumpi terkejut dan spontan berkata sambil matanya melotot : “ Lho…itu kan sekarang sedang terjadi di bangsa dan negara ini !. Uuueeedddaaannn….!. Lalu apa kaitannya dengan ceritamu tempo hari tentang ‘ Gajahmada abad milenium ‘ ?. Kita harus berbuat apa pada bangsa dan negara ini ? “.  Kekacauan masa kini, tidak hanya pada aspek ekonomi saja. Kekacauan terjadi dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik hukum, budaya, politik dan lain sebagainya. Para elit politik mencoba untuk mengelabui rakyat kecil dengan topeng-topeng mereka. Sedikit yang betul-betul tulus berpihak pada wong cilik. Kekacauan saat ini identik dengan yang terjadi di Majapahit ketika Prabu Kalagemet memerintah. Sehingga dengan munculnya Tri Buana Tungga Dewi, mampu mmengantar Gajahmada memperbaiki segala kekacauan. Daerah minus bisa dirubah menjadi surplus. Jeritan rakyat kekurangan pangan dan penghasilan mampu diatasi dalam tempo dua tahun. Alam yang memberontak berangsur-angsur mereda, karena Gajahmada berfikir serius mengangkat kehidupan wong cilik atau rakyat kecil. Budaya bangsa kembali ditegakkan. Kehidupan politik berjalan diatas kultur berbangsa dan bernegara yang dimiliki ketika itu. Ratu adalah pemimpin pengayom yang harus sangat dekat dengan Sang Pencipta. Ratu seperti Garuda emas yang terbang tinggi mendekat ke Sang Pencipta untuk mengayomi wilayah dan masyarakatnya. Gajahmada sebagai mahapatih menjalankan kepemimpinan horizontal dalam kehidupan politik berbangsa dan bernegara. Karena Tri Buana Tungga Dewi adalah seorang wanita, maka fungsi ratu di jalankan oleh “ Sang Balanggadawang “. Tri Buana Tungga Dewi ikut menjalankan pemerintahan bersama Gajahmada. Dengan begitu dalam tempo empat tahun Gajahmada telah merubah bumi Nusantara yang tenggelam menjadi daratan kembali, hingga mencapai puncak kejayaan “ RAKYAT SEJAHTERA, NEGARA KUAT “.

Kawan ngrumpi gantian berkomentar : “ Artinya sebagai bangsa, saat ini kita jangan lagi menciptakan rekayasa-rekayasa politik. Untuk mengelabui masyarakat, yang pada akhirnya akan memancing Sabdopalon lebih menggugat. Pergantian pimimpin dilakukan dengan demokrasi yang bersih, agar Sabdopalon meredakan gugatannya bahkan mencabut gugatannya. Sebentar lagi ada Pilpres, apakah semua Capres-Cawapres dengan team suksesnya dari pusat hingga daerah mau melaksanakan itu ?. Ini sebuah persoalan tersendiri. Sebab siapa yang tidak ingin duduk diatas kursi kekuasaan ?. Politik itu kan harus berupaya semaksimal mungkin untuk merebut kursi kekuasaan. Sedang Pemilihan Legislatif kemarin puluhan juta masyarakat yang punya hak memilih terabaikan. Apakah mungkin itu bisa diperbaiki dalam waktu sekejap, atau malah lebih buruk lagi. Kenapa rakyat kecil selalu menjadi korban sepanjang sejarah bangsa dan negara ini ?. Kenapa rakyat kecil tidak pernah bisa tersenyum sepanjang negara ini telah merdeka ?. Kenapa dan kenapa ?. Atau Sabdopalon harus melakukan “ Menggugat “ hingga betul-betul hancur lebur ?. Ini tidak bisa hanya pada para elite politik, pasangan-pasangan Capres- Cawapres, team-team sukses dari pusat hingga daerah saja. Harus ada peran seluruh lapisan masyarakat, seluruh elemen masyarakat, bahkan wong cilik harus pandai memilih pemimpin yang mampu mengangkat mereka dari tenggelam di laut ke daratan. Mata hati rakyat kecil harus betul-betul bersih, jangan hanya karena limapuluh ribu rupiah sesaat, justru menghancurkan kehidupan mereka selama lima tahun mendatang. Rakyat kecil atau wong cilik juga Sabdopalon yang berhak menggugat untuk memperbaiki demokrasi menjadi bersih. Perbaikan demokrasi yang bersih hanya ada di kesempatan Pilpres ini. Gimana caranya ngomong pada wong cilik di seluruh wilayah Indonesia, ya….?! “.
Sumber : P. Budda Handayaningrat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar