Kamis, 10 Desember 2009

MENGUNGKIT HIDUP DALAM PIKIRAN

Menggapai perjalanan abadi akan terkait dengan pemahaman atas pandangan hidup dan mati, sejalan dengan itu sebagai muslim sebagai suatu pendekatan untuk memberikan daya dorong dalam bersikap dan berperilaku dalam maka dua kata dalam mengungkapkan hihmak berpikir untuk menentukan kadar iman dan amal manusia dalam kehidupan beragama diman manusia mengungkapkan keyakinan dan kepercayaan yang terkait dalam siapa, diarimna dan kemana manusia.

Sejalan dengan pemikiran itu, maka dalam kehidupan ini kita dihadapkan pada kehidupan didunia bahwa kemampuan berpikir menentukan pula sikap dan perilaku manusia dalam menjunjung arti kyakinan dan kepercayaan atas kebesaran Allah.

Oleh karena itu, maka pembicaraan, perbuatan dan kebiasaan akan menunjukkan kepribadian manusia. Jadi kepribadian akan menggambarkan tingkat kedewasaan manusia memamndang masalah hidup dan mati yang terkait dengan harapan dan ketakutan kepada Allah.

Bila kita sejenak untuk memahami tentang asal kejadian manusia maka dengan keyakinan dan kepercayaan pula kita dapat mengingat kembali apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada :

S.Q. 23 : 12 “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

S.Q. 23 : 13 “ Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”

S.Q. 23 : 14 “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jdikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Secilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”

Dari surat dan ayat tersebut diatas, kita dapat memahami asal kejadian manusia bahwa manusia berasal dari air, dari air berketurunan dimulai dari tanah, lalu air kemudian diberi roh dengan bercampuran suami isteri, dari setitik mani yang bercampur terpencarlah cairan terjadilah kehamiln. Dari air yang lemah dan hina, dari tidak ada menjadi ada, diciptakan oleh Allah dan kembali.

Tentang kata manusia, begitu banyak diungkapkan dalam Al Qur’an yang tercantum dalam Q.S.No.2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29, 30,31,32,33,34,35,36,37,38,39,41,42,43,44,45,46,47,49,50,51, 52,53,54,55,56,57,58,59,62,63,64,66,70,71,72,80,82,83,84,86,89,90,95,96,99,100,103,110,114 d , bserta ayat-ayat yang terkait dalam surat tersebut.

Disamping kata manusia, maka dalam Al Qur’an akan kita dapatkan pula makna manusia dalam kehidupan ini. Dalam perjalanan hidup ini hindari dari ketidaktahuan menjadi ragu-ragu, oleh karena itu simaklah pada surat dibawah ini untuk memahami inilah manusia pada :

S.Q. 96 : 1-6” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam

„Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

“Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

Dengan mengingat dan menghayati hal-hal yang diungkapkan dalam Al Qur’an akan dapat menuntun bersikap dan berperilaku dalam kehidupan untuk mengingat kita yaitu :

    * Manusia akan dicoba dengan kelaparan, ketkutan, dan jiwanya.
    * Manusia beriman akan dikumpulkan beserta keluarganya dalam surga.
    * Manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Tuhan
    * Manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi
    * Manusia dicoba dengan harta dan anaknya
    * Manusia diciptakan Allah tidak dengan sia-sia
    * Manusia diperintah berbuat baik terhadap orang tua
    * Hidup manusia penuh perjuangan
    * Hubungan manusia dengan Tuhan
    * Keberuntungan bagi manusia yang mensucikan jiwanya
    * Keadaan manusia di saat sakaratul maut
    * Manusia lebih sempurna dari mahluk lain
    * Dan seterusnya.

Jadi dengan sering kita menghayati makna manusia dan arti keberadaannya di dunia ini, kita lebih bisa mengendalikan buah pikiran yang dapat merusak sikap dan perilaku.

Dengan pemikiran tersebut maka manusia dapat memahami arti hidup dan mati dalam menuju perjalanan abadi berdasarkan tuntunan Aqidah (1. Iman kepada Allah, 2. Iman kepada Malaikat, 3. Iman kepada Kitab, 4. Iman kepada Rasul, 5. Iman kepada Hari Akhir, 6. Iman kepada Qadha dan Qodhar) dan Syariah (1. Bersuci, 2. Shalat, 3.Puasa, 4. Zakat, 5. Haji) yang dapat menuntu perjalanan hidup ini kedalam apa yang disebut :

    * Tentang umurnya untuk apa dihabiskannya
    * Tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan
    * Tentang hartanya dari mana diperoleh dan kemana digunakannya
    * Tentang jasadnya dipergunakan untuk apa

Dengan kesiapan itu, sadarlah dalam perjalanan hidup ini, lambat atau cepat kita pasti akan pulang ke akhirat. Oleh karena itu, keyakinan dengan agama yang memperdalam keimanan akan adanya kehidupan setelah mati, adalah merupakan sbagai penolong bagi manusia dengan keadaannya yang fana atas perjuangannya secara gigih dalam menempuh jalan yang baik dan harga diri yang abadi.

Jadi bila kita mengaku muslim, berarti menyerah dengan sebulat hati, maka segala perintah dan hukumnya aku taati ; suruhnya aku kerjakan, larangannya aku hentikan dengan segenap kerelaan, sehingga manusia dan takdirnya mengharapkan dengan hidayah Allah, orang akan memperoleh ridhanya, dengan ridha itu ada harapan orang akan selamat dari siksa abadi dan dimasukkan kedalam kesenangan yang sepurna di syurga.

Dengan memahami makna „OTAK“ dalam berpikir, diharapkan manusia dalam mengaktualisasikan bersikap dan berperilaku dimana berpikir, berbuat dan kebiasaan tertuntun ke jalan yang benar yang diridhoi Allah Swt. Sedangkan Allah melihat manusia dari sisi akhlak dan martabat manusia.

Manusia yang berakhlak dan bermartabat biasanya dapat berpikir akan selalu melibatkan Allah dalam setiap langkah dan tindakan dalam pemahaman hidup dan mati dala islam.

Dengan pemikiran tersebut maka setiap melangkah harus memasang niat, sehingga ia membayangkan kenikmatan yang hendak dicapai, dalam pandangannya. Oleh karena itu, bila hijrah itu dengan niat untuk kepentingan dunia, ia Cuma memperoleh itu. Jika ia hanya terpikat pada seseorang wanita dalam pikirannya ia Cuma akan mengawinya. Jadi bila hijrah setiap orang adalah menengoh niat yang diucapkannya sewaktu hijrah.

Sejalan dengan pikiran itu, kita harus takut dan mengharapkan kepada Allah Swt, maka dalam keidupan ini bahwa tiap hari adalah hari perbaikan untuk hidup manusia, oleh karena itu belajarlah dari kesalahan, sehingga kita dapat menyadari bahwa yang terpenting adalah belajar menguasai diri sendiri.

Untuk mendalami makna hidup dan mati akan kita bahas dilihat dari setiap unsur huruf menjadi kata yang bermakna, sehingga kita bisa menuju dan membina kesucian hati melalui makna HIDUP (hijrah, insyaf, durhaka, usaha, pahala) dan MATI ( malaikat, ajal, takdir istirahat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar