Kamis, 10 Desember 2009

Warning dari Ramalan



Dari Futurolog & Pujangga Besar Bumi Nusantara
Untuk generasi penerus bangsa


Walau kini sudah cukup terlambat melakukan refleksi dan otokritik. Namun demikian akan lebih baik daripada tidak pernah melakukan otokritik sama sekali. Sebagaimana pada abad 18 pernah diperingatkan oleh Pujangga Besar sekaligus Raja di Kraton Mangkunegaran Solo, KGPAA Sri Mangkunegoro IV bahwa suatu saat nanti (masa kini) akan terjadi kecenderungan gejolak para kawula muda generasi penerus bangsa yang sudah hilang penghayatan akan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang bangsa. Dan memungkinkan terjadi carut-marut dalam tatanan religi yang mewarnai nusantara.

Nilai luhur sungguh tidak bisa dipandang dari mana asalnya. Di muka bumi ini tergelar sedemikian banyaknya bahasa alam, sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan, dan di dalamnya terdapat manifestasi “bahasa Tuhan. Tanda-tanda tersebut, menjadi bahasa  Tuhan yang dapat diserap manusia menggunakan indera batin rahsa sejati. Tidak tergantung dari mana asal negaranya, bangsanya, suku, budaya, ajaran, maupun agamanya. Karena Tuhan tidaklah picik, tidak pula terbatas. Sebaliknya Tuhan Maha Luas Takterbatas, anugrah Tuhan meliputi semua suku, ras, negara dan bangsa manapun. Tuhan bukanlah Zat yang primordial, rasis (membedakan warna kulit), etnosentris (mengagungkan suatu budaya tertentu). Hakekat perbedaan adalah nikmat dan anugrah bagi seluruh manusia tanpa kecuali. Sebagaimana perbedaan telah digelar Tuhan di muka bumi ini, agar supaya manusia menemukan keindahan dan manfaat dari perbedaan itu. Kita sadari bahwa kesuksesan dan keberhasilan berawal dari perbedaan. Kebahagiaan dan ketrentaman juga berawal dari perbedaan. Bahkan manusia lahir di muka bumi merupakan hasil dari perbedaan pula. Sehingga segala sesuatu akan bergulir dalam perubahan yang dinamis dan selaras sesuai kodrat alam semesta yang telah menjadi rumus Tuhan. Berawal dari adanya tesis, lalu terdapat perbedaan berupa antitesis, hasilnya ditemukan hal baru sebagai sintesis. Itulah rumus dialektika alam semesta.

Tipe Ramalan atau Prediksi
Ramalan, prediksi, pra-kiraan, merupakan hasil karya manusia menjabarkan kemungkinan-kemungkinan tertentu yang akan terjadi di masa depan (futuristik) dalam jangka waktu tertentu, bisa beberapa tahun, puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. Dilihat dari metode pendekatannya, terdapat tiga tipe ramalan atau prediksi.  Pertama, ramalan ilmiah yang diperoleh melalui metode ilmiah biasa disebut prediksi, melibatkan data-data kualitatif, kuantitatif, dan kegiatan analiasa serta penyimpulan. Prediksi tipe ini bersifat ilmiah, cukup melibatkan kemampuan jasad yakni akal-budi atau nalar manusia. Prediksi ini tak pernah dikonotasikan secara negatif oleh agama. Kedua, ramalan kawaskitan atau prediksi yang diperoleh melalui metode olah batin (rohani) atau kebatinan (kerohanian), hasilnya disebut sebagai jongko, lazim juga disebut ramalan. Prediksi atau ramalan jenis ini melibatkan  ketajaman intuisi dalam olah batin. Namun demikian, prediksi tipe ini terkadang tidak dapat direncanakan, artinya terjadi secara spontanitas di luar kehendak seseorang yang memperoleh pralambang berupa apa yang akan terjadi. Biasanya ramalan kawaskitan ini tidak berkaitan dengan nasib pribadi seseorang namun cenderung melihat pada skala global. Tipe prediksi kedua ini sering dikonotasikan secara negatif. Ketiga, ramalan menggunakan ilmu magic, ilmu karang, ilmu ketrampilan memainkan media, ramalan dengan melihat ciri fisik, gurat tangan dst. Ramalan jenis ini lebih cenderung digunakan untuk melihat nasib seseorang. Nah, ramalan tipe ketiga ini yang lebih sensitif berbenturan dengan moralitas agama.

Mengapa Isi Ramalan Kawaskitan Dikiaskan ?
Terlepas dari berbagai tuduhan dan konotasi negatif sebagian masyarakat, ramalan apapun namanya, terutama yang bersifat kabar buruk, hendaknya dimanfaatkan sebagai peringatan dini agar supaya kita selalu eling dan waspadha. Jangan enggan melakukan otokritik, koreksi diri atau mawas diri agar selalu teguh dalam upaya meningkatkan kesadaran sejati (high consciuousness) kita. Agar supaya kita lebih cermat mengevaluasi diri sendiri, dan tampak di mana titik lemah kita, apa saja yang telah kita lakukan, dan sejauh mana kita mempunyai perilaku yang destruktif. Bila prediksi berupa kabar baik, hendaknya kita selalu terjaga jangan sampai berpangku tangan dan lengah lantas tak berbuat apa-apa dengan hanya menunggu ramalan yang baik datang dengan sendirinya. Kita musti selalu sadar jika berubahnya nasib tergantung diri kita sendiri.

Itulah mengapa sebuah ramalan yang berhubungan dengan nasib suatu bangsa. Masyarakat, atau seseorang, biasanya dikemukakan berupa kiasan-kiasan yang multi tafsir, mengandung bias dan sulit dimengerti secara pasti apa maknanya. Pembaca dibiarkan melakukan penafsiran secara bebas, sesuai dengan kemampuan nalar dan batin masing-masing. Tak ada paksaan untuk mematuhi satu pemaknaan saja. Alasannya jelas, bila prediksi atau ramalan mengenai nasib seseorang, masyarakat atau suatu bangsa dideskripsikan secara gamblang bahkan vulgar maka akan membuat orang terlena dan akan mempengaruhi proses menuju ke arah yang baik. Lain halnya ramalan yang bersifat kabar buruk biasanya dikemukakan secara jelas agar supaya menjadi warning bagi generasi penerus untuk lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan. Karena kejadian buruk yang kelak menimpa bisa jadi merupakan akibat dari situasi dan kondisi sebelumnya. Maka kebijaksanaan orang-orang zaman dulu selalu wanti-wanti, agar jangan menceritakan ramalan baik yang akan dialami seseorang karena dianggap ora ilok (sunda; pamali) mengko mundak kamanungsan, tidak seyogyanya menceritakan ramalan baik, karena akan membuat kamanungsan, yakni tercemar oleh nafsu/kecenderungan negatif manusia yang berakibat akan mempengaruhi proses.

Berikut ini adalah contoh prediksi di masa lalu yang umurnya kurang lebih sudah 170 tahun. Marilah kita cermati saat ini apakah prediksi tersebut cocok sudah terjadi, belum terjadi atau malah meleset.


Tembang Pucung

Nafsu negatif harus dipocong (dimatikan)
Pucung (mati) sajroning ngaurip
Agar supaya urip sajroning pucung (pati)

Padha kaping 33
Ngèlmu iku
Kalakoné kanthi laku
Lêkasé lawan kas
Tegesé kas nyantosani
Setyå budåyå pangekesé dúr angkårå

Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,
dimulai dengan kemauan
kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Teguh pada budi pekerti luhur
Sembari menaklukkan semua bafsu angkara

Padha kaping 34
Angkara gung
Nèng ånggå anggúng gumulúng
Gegolonganirå
Trilokå lekeri kongsi
Yèn dèn umbar ambabar dadi rubédå.

Nafsu angkara yang besar
ada di dalam diri kita sendiri, yang kuat menggumpal
golonganmu hingga tiga zaman,
jika dibiarkan berkembang akan berubah menjadi gangguan besar.

Padha kaping 35
Bédå lamun kang wus sengsem
Rèh ngasamun
Semuné ngaksåmå
Sasamané bångså sisip
Sarwå sareh saking mardi martåtåmå

Berbeda dengan yang sudah menjiwai,
Watak dan perilaku yang memaafkan
Menghargai perbedaan
selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,

Padha kaping 36
Taman limut
Durgamèng tyas kang wèh limput
Karem ing karamat
Karana karoban ing sih
Sihing sukmå ngrebdå saardi pengirå

Dalam kegelapan
angkara dalam hati yang menghalangi,
semua dapat larut dalam kesakralan hidup yang suci,
tenggelam dalam samodra cinta kasih,
cinta kasih sejati dari sang sukma (sejati)
tumbuh berkembang bagai gunung yang besar

Padha kaping 37
Yèku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhirå,
Åjå kåyå jaman mangkin
Kèh prå mudhå mundhi diri rapal maknå

Itulah yang pantas diteladani, contoh yang patut diikuti
seperti semua nasehatku
Jangan seperti zaman nanti !!
Akan banyak anak muda yang menyombongkan diri
dengan hafalan-hafalan ayat

Padha kaping 38
Durung becus kesusu selak besus
Amaknani rapal
Kåyå sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak
Gunaning jalmå

Belum mumpuni sudah berlagak pintar
Mengartikan ayat bagai sayid dari mesir
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain

Padha kaping 39
Kang kadyéku kalebu wong ngaku aku
akalé alangkå
élok Jawané dènmohi
Pakså langkah ngangkah met
Kawruh ing mekah

Yang seperti itu termasuk orang gemar mengklaim (budaya luar)
padahal kemampuan nalarnya dangkal
Keindahan ilmu Jawa (kearifan lokal) malah ditolak
Sebaliknya memaksa diri mengejar ilmu di mekah,

Padha kaping 40
Nora weruh
rosing råså kang rinuruh
lumeketing ånggå
anggeré pådhå marsudi
kånå kéné kahanané nora bédå

Tidak menemukan hakekat ilmu yang dicari,
padahal ilmu sejati berada di dalam jati diri.
Asal mau berusaha
Di sana maupun di sini (hakekatnya) tidak berbeda,

Padha kaping 41
Uger lugu
Dèn tå mrih pralebdeng kalbu
Yèn kabul kabukå
Ing drajat kajating urip
Kåyå kang wus winåhyå sekar srinåtå

Asal tidak banyak bertingkah mengumbar nafsu,
agar ilmu merasuk ke dalam sanubari
Bila berhasil, terbukalah derajat kemuliaan hidup yang sejatinya
Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas)

Padha kaping 42
Båså ngèlmu
Mupakaté lan panemuné pasahé lan tåpå
Yèn satriyå tanah Jawi
Kunå kunå kang ginilut tripakarå

Yang namanya ilmu hakekat,
Titik temu dan ketemunya dapat digapai dengan meredam nafsu
(jangan cari menangnya sendiri, benernya sendiri, dan butuhnya sendiri)
Dan dicapai dengan usaha yang gigih
Bagi satria tanah Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

Padha kaping 43
Lilå lamun kelangan nora gegetun
Trimå yèn ketaman
Sakserik samèng dumadi
Tri legawa
nalangsa srah ing Bathara

Pertama, ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
Kedua, sabar jika disakiti hatinya oleh sesama,
Ketiga, lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan

Padha kaping 44
Bathårå gung
inguger graning jajantung
Jenèk Hyang wiséså
sånå pasenedan suci
Nora kåyå si mudhå mudhar angkårå

Tuhan Maha Agung
Menjiwai dalam setiap hela nafas
hidup menyatu dengan Yang Mahakuasa
teguh mensucikan diri
Tidak seperti yang muda,
Yang mengumbar nafsu angkara

Padha kaping 45
Nora uwus karemé anguwus uwus
Uwosé tan ånå
Mung janjiné muring muring
Kåyå butå buteng betah anganiåyå

Tidak henti-hentinya gemar mencaci maki
Tanpa ada isinya, kerjaannya marah-marah
seperti sifat raksasa; bodoh, mudah marah dan suka menganiaya sesama

Padha kaping 46
Sakèh luput
ing ånggå tansah linimput
Linimpet ing sabdå
narkå tan ånå udani
Lumuh ålå ardane ginåwå gådå

Semua kesalahan dalam diri selalu tertutupi,
Dibalut kata-kata yang indah
namun ia mengira tak ada yang mengetahuinya,
Bilangnya enggan berbuat jahat,
padahal tabiat buruknya membawa kehancuran

Padha kaping 47
Durung punjul ing kawruh kaselak jujul
Kaseselan håwå cupet
kapepetan pamrih
tangèh nedyå anggambuh mring Hyang Wiséså

Belum cakap ilmu sudah keburu ingin dianggap pintar
Terselip hawa nafsu selalu merasa kurang,
tertutup oleh pamrih (cari menangnya sendiri, butuhnya sendiri, dan benernya sendiri)
Maka mustahil manunggal dengan Tuhan Yang Mahakuasa


Kemampuan melakukan prediski atau meramal tipe kedua melalui ketajaman intuisi batiniah menjadi salah satu barometer untuk mengukur tataran laku spiritual seseorang. Semakin jauh rentang waktu dan ketepatan ramalan semakin tinggi pula kewaskitaan seseorang. Ramalan hanyalah upaya manusia membaca bahasa alam yang di dalamnya banyak terdapat tanda-tanda akan keagungan Tuhan. Percaya atau tidak bukanlah masalah, itu hak setiap orang dan manfaatnya ada pada diri masing-masing orang pula. Bagi yang percaya ramalan berguna agar supaya manusia selalu eling dan waspada dengan meningkatkan sikap hati-hati, setiti, teliti agar mendapat keselamatan lahir-batin. Bagi yang tidak percaya biarkan semua berlangsung sebagaimana adanya tanpa perlu mengerti dan menyaksikan prosesnya. Ramalan bukanlah mendahului kehendak Tuhan, melainkan hanya membaca apa yang menjadi kehendak Tuhan. Apakah kita tahu bila kehendak tuhan telah ada dalam rencana sejak jutaan tahun lalu, jauh sebelum manusia mampu meramal ? atau sebaliknya Tuhan tak pernah bikin rencana semua berjalan tiba-tiba dan sangat mendadak ? Asumsi yang mengatakan ramalan mendahului kehendak Tuhan, terkesan seolah Tuhan menentukan segala sesuatu dengan cara mendadak tanpa rencana. Terasa pula penilaian under-estimate akan kemampuan manusia untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Terlepas dari adanya anggapan negatif tersebut marilah kita cermati berbagai kewaskitaan leluhur Nusantara di masa lalu sebagaimana terdapat dalam pupuh Kinanthi Serat Wedhatama berikut ini. Yang berisi nasehat bijaksana sebagai pepeling atau peringatan pada generasi bangsa di masa sekarang agar supaya eling dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya gambaran situasi dan kondisi zaman kini sebagaimana tersirat dalam prediksi di atas.
By ; http://sabdalangit.wordpress.com


Kinanthi

Untuk meraih kemuliaan hidup
bekalnya kanthining tumuwuh
yeku kanthi eling lan waspada
berupayalah selalu
 menajamkan kalbu dan batin

Padha Kaping 83
Mångkå kanthining tumuwuh,
Salami mung awas éling,
Éling lukitaning alam,
Dadi wiryaning dumadi,
Supadi nir ing sangsåyå,
Yèku pangreksaning urip.

Padahal bekalnya kehidupan, selalu waspada dan ingat,
Ingat akan tanda-tanda yang ada di alam semesta,
Menjadi kekuatannya asal-usul,
supaya lepas dari sengsara.
Begitulah memelihara hidup.

Padha Kaping 84
Marmå dèn taberi kulup,
Anglung lantiping ati,
Rinå wengi dèn anedya,
Pandak panduking pambudi,
Bèngkas kahardaning driyå,
Supåyå dadyå utami.`

Maka rajinlah anak-anakku,
Belajar menajamkan hati, siang malam berusaha,
merasuk ke dalam sanubari, melenyapkan nafsu pribadi,
Agar menjadi (manusia) utama.

Padha Kaping 85
Pangasahé sepi samun,
Aywå ésah ing salami,
Samångså wis kawistårå,
Lalandhepé mingis mingis,
Pasah wukir reksåmukå,
Kekes srabédaning budi.

Mengasahnya di alam sepi (semedi),
Jangan berhenti selamanya,
Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar biasa,
mampu mengiris gunung penghalang,
Lenyap semua penghalang budi.

Padha Kaping 86
Déné awas tegesipun,
Weruh warananing urip,
Miwah wisésaning tunggal,
Kang atunggil rinå wengi,
Kang mukitan ing sakarså,
Gumelar ngalam sakalir.

Awas itu artinya, tahu penghalang kehidupan,
serta kekuasaan yang tunggal, yang bersatu siang malam,
Yang mengabulkan segala kehendak,
terhampar alam semesta.

Padha Kaping 87
Aywå sembrånå ing kalbu,
Wawasen wuwus sirèki,
Ing kono yekti karåså,
Dudu ucapé pribadi,
Marmå dèn sembadèng sedyå,
Wèwèsen praptaning uwis.

Hati jangan lengah, waspadailah kata-katamu,
Di situ tentu terasa, bukan ucapan pribadi,
Maka tanggungjawablah,
perhatikan semuanya sampai  tuntas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar