Minggu, 13 Juni 2010

QUO VADIS ESTETIKA KERIS



Keris Tangguh Purwacarita, besinya nyerat, grenengnya bernyanyi serta rancang bangun luknya goyang pinggul. Koleksi : Hengki Joyopurnomo.


Keris telah menjadi barang yang tua dalam peradaban modern ini.
Keris tidak lagi dijamah oleh generasi muda pada peradaban modern ini.
Kenapa?
Barangkali treatment atau perlakuan kita terhadap keris yang terlalu kuno untuk beradaptasi pada dunia modern.
Atau barangkali kita telah tidak mampu bersaing dengan MTV dan ngakngekngok dan sebangsanya?

Sebuah kemunduran yang bukan ketertinggalan ....

Kita selalu mendengar kekaguman para penggemar keris memuji keris-keris tertentu misalnya pada jenis besinya, padahal yang dimaksud besi yang bagus juga tidak jelas kriterianya. Secara teoritis jenis besi yang bagus sering dikaitkan dengan estetika penglihatan bukan keberadaan teknologi kekerasan atau ketajamannya. Lalu ada diantara kita berdebat tentang jenis tampilan pamor dan motif pamor, diantara mubyar (pamor byor/deling) dan pamor kelem memiliki penggemarnya masing-masing, hingga menjadi perlakuan para pewarang (ahli jamas) untuk membuat byor atau kelem. Konon dari kraton justru kemubyaran harus disimpan untuk ”tidak sombong” atau bersahaja, maka pamor keris dikelem alias dibuat kusam. Lalu dibeberapa pihak menghargai garap pamor yang sulit (pamor sempurna atau pamor jadi), dipihak lain lebih baik pamor kandas asal karya itu punya garap yang bagus. Lalu kita dihadapkan pada contoh-contoh yang sebetulnya kita sendiri tak tahu apakah contoh itu barang sempurna atau barang gagal. Apalagi jika telah memasuki sebuah rancang bangun yang disebut garap .....oh!

Kala kita berbincang tentang keris Kamardikan, kita sering berdosa karena selalu menghilangkan arti dan pemaknaan estetika yang telah tertanam didalamnya. Keris Kamardikan dianggap tidak berguwaya lalu dicarilah cacat dan kekurangannya, dengan mencari persesuaian patron kraton Jogya ataupun Surakarta.

Teman saya, pengrajin dari Madura bahkan mengeluh, katanya ”sudah njiplak pleg” sebilah keris yang dianggap master yang sengaja dibawa ke Madura oleh pemesannya, contoh kerisnya didepan mata alias ngerpek, dengan ukuran sketmat yang pasti. Akan tetapi hasilnya tetap dikritik disana-sini oleh para pinisepuh .... lantas iapun termenung, apa betul para pinisepuh itu memang orang ahli yang bisa menilai karya itu ansich, atau karena si pengrajin bukan dari Solo atau Jogya?

Ketika kita kembali bercermin, ternyata perdebatan dan adu keahlian menilai keris telah membawa langkah kita ke dalam rongga-rongga kusut, untuk memaksakan persamaan pendapat yang ternyata kusut pula.

Konon ada anak muda yang semakin bingung tatkala telah yakin keris yang dimiliki sudah tepat, ternyata luput juga. Bahkan dirundung ketidak mengertian dengan adanya madzab-madzab pada kriteria pernilaian yang kemudian muncul seperti rumusan-rumusan .... ada Tanjeg ...ada Tarikan .... ada wangun dan ada-ada yang lainnya yang semakin mengkusutkan pemahaman sistematik yomorjosingun! Sementara yomorjosingun pun belum selesai karena masih dituntut untuk membuktikan kesahihannya .....”sing kepiye tho ....yomorjosingun sing apik”.

Tampaknya betul, bahwa kita selalu berbudaya keterkucilan, merasa keterhinaan (humiliated cultural) jika tidak dapat mengikuti sesuatu yang seolah telah dipakemkan bahkan merasa takut jika tak masuk dalam suatu madzab penilaian...... "iki lho keris sing apik ...!", kata salah seorang pinisepuh, sementara oleh sebab ucapan itu beribu-ribu keris terdampar dan terhampar seolah tanpa nilai!

Keris memang barang egoistik!

Kita tidak pernah berani berbudaya penuh harapan (cultural hope), kepeloporan, visioner, positif progresif untuk mengejar konsep modernitas dalam pelestarian perkerisan.
Kita selalu pula berbudaya untuk diselami, harus selalu diikuti, dituruti dan tidak peduli ..... padahal kita bukan untuk ditunggu melainkan harus menghadang berdiri di depan para generasi muda!

Jika mau membuka mata, ada sebuah pertanyaan : Apakah kita telah pernah membahas sebuah estetika yang menantang dan berlawanan dengan pemahaman yang ada sekarang? Padahal estetika itu telah digoreskan pada sebilah keris yang ada sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu .... di jaman Purwacarita. Monggo dilaras fotonipun (mari dihayati foto diatas). Mungkin justru pada keris inilah, nilai-nilai estetika ......itu? (TJ).
      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar