Jumat, 17 Desember 2010

APA MAKSUD ELING LAN WASPADA ?



ELING & WASPADA !!!!!!!

Dua buah kata populer yang berisi pesan-pesan mendalam dan dianggap wingit atau sakral. Namun tidak setiap orang mengerti secara persis apa yang dimaksud kedua istilah tersebut. Sebagian yang lain hanya tahu sekedar tahu saja namun kurang memahami apa makna yang tepat dan tersirat di dalamnya. Perlulah kiranya ada sedikit uraian agar supaya mudah dipahami dan dihayati dalam kehidupan konkrit sehari-hari oleh siapaun juga. Terlebih lagi pada saat di mana alam sedang bergolak banyak bencana dan musibah seperti saat ini. Keselamatan umat manusia tergantung sejauh mana ia bisa benar-benar menghayati kedua pepeling (peringatan) tersebut dalam kehidupan sehari. Sikap eling ini meliputi pemahaman asal usul dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan.


ELING DIMENSI KETUHANAN

1.      Eling atau ingat, maksudnya ingat asal usul kita  ada. Dari Tuhan dicipta melalui sang bapak dan sang ibu karena kehendak Tuhan (sangkaning dumadi). Pemahaman ini mengajak kita untuk menyadari bahwa tak ada cara untuk menafikkan penyebab adanya diri kita saat ini yakni sang Causa Prima atau Tuhan Maha Esa (God). Jadi orang harus tahu dan sadar diri untuk selalu manembah kepada Hyang Mahakuasa.
.
2.      Eling bahwa kita harus menjalani kehidupan di mercapadha ini sebagai syarat utama  yang menentukan kemuliaaan kita hidup di alam kelanggengan nanti, di mana menjadi tempat tujuan kita ada di bumi (paraning dumadi).  Manembah bukan hanya dalam batas sembah raga, namun lebih utama mempraktekan sikap manembah tersebut dalam pergaulan sehari-hari kehidupan bermasyarakat, meminjam istilah dari kitab samawiah sebagai habluminannas. Namun di sini menempuh habluminannas untuk menggapai habluminallah.


ELING DIMENSI KEMANUSIAAN

1.      Di samping manembah kepada Tuhan. Adalah keutamaan untuk eling sebagai manusia yang hidup bersama dan berdampingan sesama  makhluk Tuhan. Instrospeksi diri atau mawas diri sebagai modal utama dalam pergaulan yang menjunjung  tinggi perilaku utama (lakutama) yakni budi pekerti luhur,  atau mulat laku kautamaning bebrayan. Dengan melakukan perenungan diri, mengingat atau eling dari mana dan siapa kita punya (behave), kita menjadi, kita berhasil, kita sukses. Kita tidak boleh “ngilang-ilangke” atau menghilangkan jejak dan tidak menghargai jasa baik orang lain kepada kita. Sebaliknya, eling sangkan paraning dumadi, berarti kita  dituntut untuk bisa niteni kabecikaning liyan. Mengerti dan memahami kebaikan orang lain kepada kita. Bukan sebaliknya, selalu menghitung-hitung jasa baik kita kepada orang lain.  Jika kita ingat dari mana asal muasal kesuksesan kita saat ini, kita akan selalu termotifasi untuk membalas jasa baik orang lain pernah lakukan. Sebab, hutang budi merupakan hutang paling berat. Jika kita kesulitan membalas budi kepada orang yang sama, balasan itu bisa kita teruskan kepada orang-orang lain. Artinya kita melakukan kebaikan yang sama kepada orang lainnya secara estafet.
2.      Eling bermakna sebagai pedoman tapa ngrame, melakukan kebaikan tanpa  pamrih. Tidak hanya itu saja, kebaikan yang pernah kita lakukan seyogyanya dilupakan, dikubur dalam-dalam dari ingatan kita.  Dalam pepatah disebutkan,” kebaikan orang lain tulislah di atas batu, dan tulislah di atas tanah kebaikan yang pernah kamu lakukan”. Kebaikan orang lain kepada diri kita “ditulis di atas batu” agar tidak mudah terhapus dari ingatan. Sebaliknya kebaikan kita “ditulis di atas tanah” agar mudah terhapus dari ingatan kita.

3.      Eling siapa diri kita untuk tujuan jangan sampai bersikap sombong atau takabur. Selalu mawas diri atau mulat sarira adalah cara untuk mengenali kelemahan dan kekurangan diri pribadi dan menahan diri untuk tidak menyerang kelemahan orang lain. Sebaliknya selalu berbuat yang menentramkan suasana terhadap sesama manusia. Selagi menghadapi situasi yang tidak mengenakkan hati, dihadapi dengan mulat laku satrianing tanah Jawi ; tidak benci jika dicaci, tidak tidak gila jika dipuji, teguh hati, dan sabar walaupun kehilangan.


WASPADA

1.      Waspada akan hal-hal yang bisa menjadi penyebab diri kita menjadi hina dan celaka. Hina dan celakanya manusia bukan tanpa sebab. Semua itu sebagai akibat dari sebab yang pernah manusia lakukan sendiri sebelumnya. Hukum sebab akibat ini disebut pula hukum karma. Manusia tidak akan luput dari hukum karma, dan hukum karma cepat atau lambat pasti akan berlangsung. Sikap waspada dimaksudkan untuk menghindari segala perbuatan negatif destruktif yang mengakibatkan kita mendapatkan balasannya  menjadi hina, celaka dan menderita.  Misalnya perbuatan menghina, mencelakai,  merusak dan menganiaya terhadap sesama manusia, makhluk, maupun lingkungan alam.

2.      Waspada, atas ucapan, sikap dan perbuatan kita yang kasat mata yang bisa mencelakai sesama  manusia,  makhluk lain, dan lingkungan alam.

3.      Waspada terhadap apapun yang bisa menghambat kemuliaan hidup terutama mewaspadai diri sendiri dalam getaran-getaran halus. Meliputi solah (perilaku badan) dan bawa (perilaku batin). Getaran nafsu negatif yang kasar maupun yang lembut. Mewaspadai apakah yang kita rasakan dan inginkan merupakan osiking sukma (gejolak rahsa sejati yang suci) ataukah osiking raga (gejolak nafsu ragawi yang kotor dan negatif). Mewaspadai diri sendiri berati kita harus bertempur melawan kekuatan negatif dalam diri. Yang menebar aura buruk berupa nafsu untuk cari menangnya sendiri, butuhnya sendiri (egois), benernya sendiri. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus mewaspadai diri pribadi dari nafsu mentang-mentang yang memiliki  kecenderungan eksploitasi dan penindasan : adigang, adigung, adiguna. Dan nafsu aji mumpung: ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya nggawe rekasa, tutwuri nyilakani.

4.      Waspada dalam arti cermat membaca bahasa alam (nggayuh kawicaksananing Gusti).  Bahasa alam merupakan perlambang apa yang menjadi kehendak Tuhan. Bencana alam  bagaikan perangkap ikan. Hanya ikan-ikan yang selalu eling dan waspada yang akan selamat.
4.
Esensi dari sikap eling dan waspada adalah berfikir, berucap, bersikap, bertindak, berbuat dalam interaksi dengan sesama manusia, seluruh makhluk, dan lingkungan alam dengan sikap keluhuran budi, arif dan bijaksana. Mendasari semua itu dengan “agama universal” yakni cinta kasih sayang berlimpah. Menjalani kehidupan ini dengan kaidah-kaidah kebaikan seperti tersebut di atas, diperlukan untuk  menghindari hukum karma (hukum sebab-akibat) yang buruk, dan sebaliknya mengoptimalkan “hukum karma”  yang baik. Hukum karma, misalnya seperti  terdapat dalam ungkapan peribahasa ; sing sapa nggawe bakal nganggo, siapa menanam akan mengetam, barang siapa menabur angin akan menuai badai. Dalam kondisi alam bergolak, hukum karma akan mudah terwujud dan menimpa siapapun. Kecuali orang-orang yang selalu eling dan waspada.  Karena kebaikan-kebaikan yang pernah anda lakukan kepada sesama, kepada semua makhluk, dan lingkungan alam sekitar, akan menjadi PAGAR GAIB yang sejati bagi diri anda sendiri.

Duh Gusti Ingkang Murbeng Gesang, walaupun tanda-tanda dan bahasa alam telah Engkau tunjukkan bahkan dalam gambaran yang sangat jelas, walaupun terasa suram dan menakutkan menatap kedepan di bulan September ini, perkenankan diri ini ndableg tetap memohon-mohon tanpa malu untuk yang kesekian kalinya. Anugerahkan keselamatan, kesehatan, ketentraman, kecukupan rejeki untuk seluruh saudara-saudaraku, sahabatku, seluruh pembaca yang budiman yang sempat mampir ke gubuk ini serta seluruh saudara-saudara sebangsa setanah air, yang beragama, bersuku, ras, bahasa apapun juga, dan di manapun berada.

*******


i

6 Votes

Quantcast

 September 6, 2009  SABDÃ¥
Kategori: ELING & WASPADA Tag: eling, eling lan waspada, maksud eling dan waspada, prediksi gempa, ramalan gempa, waspada, waspada gempa
Like
Be the first to like this post.
25 tanggapan kepada “Apa Maksud Eling & Waspada ?”

    *

      Daryono
      September 6th, 2009 pukul 18:27

      Yth mas sabda
      Eling lan waspada dua kata yg sebenarya sudah akrab dng telinga kita tetapi pemahaman terhadap kata tsb berbeda.Yang saya alami 8 jam sebelum gempa tepat jam 7.21 2 sep 2009 saya dapat sms dari mas sabda yg isinya untuk lebih waspada,karna saya meyakini bahwa gempa akan terjadi dengan niat untuk menularkan rasa eling lan waspada sms mas sabda saya kirim ke 4 teman saya 2 di jakarta dan 2 di jambi.Teman saya yg di jambi kebetulan Projek manajer pembangunan jembatan di sungai batanghari karna meyakini sms yg saya kirim dengan pertimbangan keamanan meliburkan kegiatan proyek 1/2 hari pas malam setelah berita gempa sudah di ekspos di tv teman saya mengucapakan terima kasih atas sms yg saya kirim karena keluarga besarnya yg berada di jawa barat walaupun rumah ada kerusakan alhamdulilah semua keluarganya selamat.Kewaspadaan bagi teman saya di pahami sebagai upaya untuk selalu siap dalam menghapi sesuatu kejadian makanya sampai meliburkan proyeknya .Dengan tulisan eling dan waspada yg mas sabda sampaikan memberi makna yang lebih luas dan mendalam , trima kasih mas sabda. Salam.
      2
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      tomyarjunanto
      September 7th, 2009 pukul 09:30

      Suket godhong kayu watu bledheg cahya
      Kutu2 walang antaga
      Werjit cacing kang arupa gemremet
      Kang anak2 tanpa laki
      Kang gilig tanpa ngglintiri
      Kang manis tanpa nggulani
      Kabeh kang kumetip kang kesamadan dening Dzating Urip
      Dadya pangayomanku
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      hadi wirojati
      September 7th, 2009 pukul 14:27

      pamuji rahayu..,

      selalu saya terapkan pada keluarga kami , saudara saudara kami persis apa yang kangmas paparkan…., semoga semua ini menjadikan kita selalu dan selalu mawas diri, eling waspadha…,
      nuwun kangmas..,
      salam sihkatresnan
      rahayu,
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Titi Suwito
      September 7th, 2009 pukul 15:40

      Yth. Ki Sabda dan seluruh pengunjung,
      Saya ingin menyampaikan himbauan ‘Peduli Untuk Indonesia’ ini, semoga sikap eling terhadap salah satu Cagar Budaya Indonesia mampu memperkuat jati diri kita sebagai pribadi Indonesia.

      Tgl 2 Oktober nanti (hr Jum’at),UNESCO mengukuhkan BATIK Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage).
      Sebagai bangsa Indonesia,mari kita pakai baju batik pada tgl 2/10 (Let’s wear Batik on Oct2nd).

      Salam Rahayu
      Titi Suwito
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Marsudi Ahmad
      September 7th, 2009 pukul 19:02

      Eling itu sadar sebagai fungsi tertinggi dari angan2,dimana bayangan maya sudah mulai tersingkirkan layaknya embun yg dibias sinar mentari pagi……….
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      m4stono
      September 7th, 2009 pukul 23:23

      postingan panjenengan itu mengingatkan dengan seseorang dulu di TVRI pada waktu acara mimbar kepercayaan terhadap Tuhan YME saya marabi beliau pak Eling karena sering bgt menyebut kata eling…heheheheh

      saya sepakat dengan panjenengan ki, memang itulah eling lan waspada, eling marang Gusti lan waspada marang awake dhewe, ingat kepada Tuhan dimanapun kapanpun dan sedang apapun ketika tidur duduk berdiri lebih2 ketika sakaratul maut, waspada terhadap diri sendiri dari setan yg paling halus atau sombong juga setan yg paling kasar yaitu manusia yg kesetanan….semoga tulisan ki sabda ini bisa membuat sedulur2 sutresno blog ini utk lebih bisa mulat sarira satunggal sari rasa tunggal dan hangrasa wani dalam hijrah dari kesadaran naar ke kesadaran nuur
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Lambang
      September 9th, 2009 pukul 00:47

      Selamat malam mas Sabda,

      Piye kabare mas, apik tho…
      Mau tanya dikit mas, apakah semua kejadian alam ini ada hubungannya dengan pusaka yang diambil tanpa izin dari keraton / pantai selatan pada waktu pilpres kemarin? Kalau memang benar, apakah sudah ada solusinya bagaimana cara memaksa agar pusaka tersebut dikembalikan karena ibarat kapal yang berlabuh dengan jangkar, kalau jangkarnya diambil ya kapalnya pasti akan oleng terus. Kecuali kalau yang ngambil jangkar mati sebelum waktunya.
      Terima kasih sebelumnya mas.

      Salam Persahabatan.
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
          o

            SABDÃ¥
            September 9th, 2009 pukul 21:15

            Puji syukur kabar kula tansah apik mas. Pripun mas Lambang mugi tansah pinaringan kesehatan, wilujeng rahayu sedayanipun.
            Untuk pertanyaan panjejengan, sejauh yang saya tahu kok tidak pernah mendengar/tahu hal itu ya mas. Setahu saya, justru banyak pusaka warisan nenek moyang bangsa ini yg diabaikan. Generasi penerus bangsa sudah tidak mampu GOCEKKAN WATON. Sehingga terombang ambing bencana dan musibah, baik dari alam semesta maupun ulah manusianya.

            salam sih katresnan
            1
            0
            
            i
            
            Rate This

            Quantcast

            Balas
    *

      Ngabehi
      September 10th, 2009 pukul 10:32

      Nuwun sewu, sms penjenengan sampun kula bales lumantar email Ki, sumangga dipun bikak rumiyin. Kala wau enjing saweg wonten mergi tumuju dateng papan pakaryan. Suwun
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Si Gagak
      September 12th, 2009 pukul 17:20

      yth mas sabda

      matur nuwun mas berkat baca2 blog mas sabda saya jd lebih mengenal budaya jawa termasuk tentang pentingnya penghormatan pada leluhur sangat bermanfaat mas.Setelah saya tahu dr blog mas sabda saya mengajak org tua saya utk lebih rutin nyekar kemakam mbah saya, karena orang tua saya biasanya jarang utk ziarah kemakam. Terima kasih juga atas nasehatnya selama ini yg sangat membantu saya secara pribadi. Semoga mas sabda sekeluarga dilimpahi berkat dan kesejahteraan dari Gusti.

      salam damai
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      bayu
      September 12th, 2009 pukul 21:59

      Salam kenal kagem Mas Sabda dan para pembaca sekalian …
      Blog yang bagus,…… sudah lama saya mencari blog yang mengulas tentang budaya jawa,…. Tapi baru sekitar tiga minggu saya menemukan blog ini,.. saya sreg dengan ulasan dan tulisan panjengan, …sebuah kumpulan ulasan yang ditulis oleh orang yang benar2 “mengerti”,… saya bersyukur menemukan padepokan kejawen di dunia maya , dan sepertinya mas Sabda dilahirkan untuk menjadi “guru”. Ulasan panjenengan benar – benar membuat saya tersentil, agar tidak melupakan budaya jawa dalam perilaku sehari hari sekaligus tidak melupakan dawuhing para leluhur. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin nanti akan saya sampaikan ke email panjengan,semoga berkenan menjawabnya,… saya berharap kalo sekarang baru bisa berkomunikasi via email suatu saat bisa bertemu langsung,… syukur kalo bisa kumpul dengan pembaca yang lain juga. Semoga mas Sabda sekeluarga selalu dilimpahi kesehatan dan kesejahteraan agar bisa terus menyampaikan ulasan yang mencerahkan.
      Matur nuwun.
      bayu
      0
      0
      
      i
       
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Santri Gundhul
      September 13th, 2009 pukul 19:29

      Katur dumateng Kang Mas Sabdolangit, pamuji Rahayu.

      Eling marang KESADARAN akan suara-Kehendak URIP yang selama ini selalu MENGGENDHONG Raga kita kemana-mana. eling menowo kito kedah TETEKEN URIP ing samubarang tumindak.

      Waspada marang GODA RENCONO kehendak RAGA yang selalu penuh TIPU DOYO kang TANPO KENAL TUWUK lan SEMARAH anggene Nggayuh KEMELIKAN DONYA BRONO.

      Nuwun Kang, mugi tansah pinaringan Pepadhange Manah ugi Kebatosan.

      Rahayu
      2
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Pribadi
      September 14th, 2009 pukul 17:14

      Teguh, yuwono,slamet, rahayu…..
      Terimakasih ki sabda.. Dah me refresh lewat tulisanya….
      “Eling lan Waspada” , kawruh eling lan waspada memang enak dan ringan di baca dan ucapkan… Tapi ilmu eling lan waspada… Perlu perjuangan yg tekun dan kesabaran..setapak demi setapak..belajar dgn 5 waktu(sholat bserta makna dan aplikasinya dlm masyarakat), sholat sunnat, baru menginjak sholat daim… (sholat tanpa putus dimanapun )… Eling dawuhe mbah : mangan sitik sitik ben gak kaget wetenge, ojo kesusu ben ga keseleg… Lek urung tau mangan ojo ngomong wis ngrasakne wareg …
      Matur suwun.
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      yang-kung
      September 14th, 2009 pukul 23:46

      Dimana kekuatan manusia berhenti,disitulah pertolongan Allah mulai berperan.Dialah yang mengajari kita,yang menguatkan kita,yang menjadi segalanya bagi kita,dan Dia sendirilah yang menuntun kita kepada Nya.

      Teguh dalam iman,mendatangkan berkat dalam segala perkara hidup.

      salam rahayu kangmas sabdalangit
      1
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      mujahidahwanita
      September 15th, 2009 pukul 19:23

      Andai jarak tak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap. Tulus hati meminta maaf
      Tiada pemberian trindah&perbuatan trmulia selain maaf&saling memaafkan. “SELAMAT IDUL FITRI1428H”Minal aidin wal faidinMohon maaf lahir batin
      Semoga di hari yang fitri ini kita data lebur segala dosa dan kesalahan menjadi sebuah kesucian hati dalam menjalani fitrahnya

      Salam Hormat
      Salam Taklim

      Mujahidahwanita
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Gostav Adam
      September 16th, 2009 pukul 14:49

      Hari Raya besar umat Islam yang ditunggu2 kemeriahannya. Namun hakikatnya tidak hanya sekedar ceremoni belaka, namun diharapkan kita menjadi insan yang lebih baik kedepannya

      salam mampir ke blog kami
      Support me in SEO Contest. Thanks for your atention
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Alam Rasa
      September 17th, 2009 pukul 03:02

      Salam Kasih
      Senyum dari hati untuk Ki Sabda Langit dan ALL

      Eling dapat diartikan juga Sadar. Banyak dari kita yang tahu tapi tidak sadar. Apa bedanya tahu dengan sadar? Cobalah lihat pada diri kita sendiri. Kebanyakan dari kita tahu bahwa kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Allah, tetapi masih belum menyadarinya. Cobalah renungkan perbuatan-perbuatan kita selama ini. Siapkah kita untuk berada di hadapan-Nya untuk mempertanggung-jawabkan semua perbuatan kita? Kalau kita belum merasa siap, berarti kita belum sadar. Kalau kita sadar, tentu segala perbuatan, pikiran dan perkataan kita akan dilakukan sedemikian rupa untuk mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya, agar dapat mempertanggung-jawabkan semua perbuatan kita di hadapan Allah SWT.

      Disamping Eling kita juga harus waspada, karena Iblis dan semua yang berhubungan dengan kegelapan tidak menyukai dan memusuhi semua orang yang berada di jalan Allah. Kita akan menjadi sasaran tembak mereka. Iblis dan antek2-nya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggoyah keimanan kita, termasuk mencelakakan kita. Dalam hal ini kita harus senantiasa berdoa mohon perlindungan dan bimbingan kepada Allah, agar kita diberikan kekuatan iman, agar sesuatu yang buruk tidak terjadi pada kita, agar kita diingatkan atas segala bentuk bahaya yang mengancam kita.

      Terkait dengan ini, kita juga harus senantiasa melatih diri kita agar hati kita terbuka, untuk mengenal lebih baik diri sejati kita, agar dapat menggunakan “hati nurani” kita, yang merupakan anugrah yang luar biasa dari Allah SWT kepada manusia. Hati nurani inilah yang sering disebut sebagai Percikan Illahi, Guru Sejati, sumber segala ilmu dan informasi yang jauh lebih hebat dari intuisi dan otak yang terbaik sekalipun.

      Akhir kata, eling dan waspada keduanya dapat dicapai secara sempurna, hanya melalui proses pembelajaran dalam rangka mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
      Melalui latihan hati, memurnikan hati dengan membuang semua ego dan emosi negatif kita, yang menjadi kunci utama hubungan kita kepada Tuhan YME. Dan selalu berdoa kepada-Nya, karena hanya dengan rahmat Allah hati kita dapat terbuka, sehingga kita dapat mengenal Diri Sejati kita, kita dapat menggunakan “hati nurani” kita yang merupakan Guru Sejati kita, yang akan memberi informasi terbaik bagi kita, yang jauh lebih hebat dari intuisi dan otak yang terbaik sekalipun.

      Wassalam
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      eed umarya
      September 17th, 2009 pukul 08:52

      terimakasih saudaraku…!
      0
      0
       
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      shanushy0809
      September 20th, 2009 pukul 03:08

      andai mata salah melihat,
      telinga salah mendengar,
      mulut salah berbicara,
      saatnya kulontarkan kata
      Minal Aidzin Wal Faidzin
      Mohon Maaf Lahir dan Batin
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      bayu bs
      Oktober 1st, 2009 pukul 07:48

      turut berduka dengan gempa sumatra barat,…………
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Wolo Wolo Kuwato
      Oktober 2nd, 2009 pukul 15:33

      “Hukum sebab akibat ini disebut pula hukum karma. Manusia tidak akan luput dari hukum karma, dan hukum karma cepat atau lambat pasti akan berlangsung”

      Hukum karma atau hukum sebab akibat Sesuai dengan Al quran QS Yunus ayat 44:
      “sesungguhnya Allah tdk berbuat dzalim kpd manusia sedikitpun,akan tetapi manusia itulah yg berbuat dhalim pada diri mereka sendiri”
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      Widyo
      Oktober 16th, 2009 pukul 02:53

      Sugeng pitepangan,salam karahayon.Terima kasih atas semua ilmu dan kawruh yang sudah mas sabda tulis dalam blog yang sangat sarat dengan spiritualitas,kebangsaan,cinta budaya dan ajaran leluhur ini.
      Ngaturaken gunging panuwun atas semua pencerahannya,menjadikan saya tansah eling kepada Yang Maha Kuasa.dan semoga saya selalu eling lan waspada sampai perjalanan saya di dunia ini tamat.
      =============
      Sugeng rawuh salam karaharjan Mas Widyo yth
      semoga ruang ini menjadi wahana utk menjalin ta;i silaturahmi, persaudaraan NKRI yg kini tengah diremuk oleh rendahnya kesadaran dan hilangnya jati diri bangsa.
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      abimayu
      November 17th, 2009 pukul 09:45

      Kangmas kulo ingkang kinasih

      Ternyata untuk selalu eling itu ” gampang ngucap, abot neng laku”

      Apalagi pada jaman sekarang, didaerah yang seperti sekarang saya tempati

      “Golek Gocekan” wae wis angel opo maneh ” Golek papahan”

      Saat ini yang bisa dilakukan adalah dengan berpegang Pada titah Gusti kang Murbeng dumadi

      Mugi kangmas tansah saged terus memberikan semangat “mikul duwur mendem jero” agar kita dan para sedulur tidak makin terpuruk

      Salam Katresnan lan Rahayu
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      roedy karawang
      Mei 2nd, 2010 pukul 12:51

      sallam hormat sehu sabda langit.

      INGIN BELAJAR
      sebelumnya terimakasih atas tulisan tsb diatas itu sangat beguna untuk saya, namun ada yang saya ingin tanyakan. Apakah ELING dan WASPADA itu bisa juga dikatakan bagian MENDIRIKAN SOLAT ? mohon pencerahanya sehu sabda langit, trimakasih
      0
      0
      
      i
      
      Rate This

      Quantcast

      Balas
    *

      SantriGendeng
      Juli 1st, 2010 pukul 18:52

      Yth Mas Sabda.
      serta keluarga besar darah Nusantara yg saya hormati,

      Saya BUKAN SATRIA PININGIT.

      makna Satria ; orang yg bertingkah laku menggunakan ahlaq dan budi pekerti.
      makna Piningit ; adalah qolbu [hati] letak nya diapit di dalam dada.yg mana sebagai sumber penggerak , amal perbuatan yg dgn penuh kelembutan , [ahlaq yg luhur dan mulia ]

      jadi SATRIA PININGIT ada pada setiap insan manusia yg mau menggalinya, dgn menunjukkan tingkah laku yg baik, yg tidak berlawanan dgn kodrat alam atau hukum Tuhan.
      selalu ingat sangkan paraning dumadi. dgn sikap eling dan waspada.

      mohon di mengerti, dan ma,af adanya.
      salam Asah Asih Asuh.
      rahayu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar