Jumat, 17 Desember 2010

PASRAH ATAU FATALIS KAH DIRI ANDA ??


MENGUKUR KESADARAN DIRI


PASRAH

PASRAH, adalah kata-kata yang tak mudah dipahami. Banyak orang salah kaprah mengartikan makna pasrah yang dipahami sebagai sikap melenyapkan segala kemauan, keinginan, inisiatif, dan kehendak. Yang seperti ini sudah termasuk ke dalam terminologi FATALISME yang rentan sekali terhadap sikap putus asa. Tanpa disadari keputus-asaan akan mudah membuat siapapun mudah tergelincir pada sindrom radikalisme, ekstrimisme, dan ekslusivisme.

Pasrah berhubungan dengan penyelarasan sikap dan perbuatan diri dengan kehendak alam semesta alias kehendak tuhan. Pasrah bukan bermakna sikap pasif dan tanpa usaha. Justru pasrah di dalamnya termaktub suatu usaha sekuat tenaga, semaksimalnya agar supaya sikap dan perbuatan kita selaras dan sinergis dengan hukum alam. Sehingga di antara jagad kecil atau mikrokosmos dengan jagad besar atau makrokosmos tercipta hubungan yang harmonis. Dan begitulah hakekatnya orang yang disebut tunduk patuh kepada tuhan. Sebaliknya, radikalisme, ekstrimisme, mengarah pada kekerasan dan penghancuran antar sesama manusia, sudah termasuk ke dalam kategori bertentangan dengan hukum/kodrat alam yang bersifat sebaliknya, selalu harmonis berada dalam hukum keseimbangan alam semesta.

YANG HARUS DIBACA

Namun sebelum melanjutkan diskusi, alangkah idealnya jika para pembaca yang budiman mengklik kembali artikel terdahulu berjudul MENGENAL NGELMU SASTRA JENDRA, dan PUSAKA HASTA BRATA. Agar lebih gampang memahami serta mengikuti diskusi kali ini. Paling tidak lebih menselaraskan level pemahaman di antara kita semua.

FATALISME

Fatalisme adalah faham atau cara pandang hidup, disebut pula prinsip dalam menjalani kehidupan.  Secara sosiologis fatalistis menunjuk sikap seseorang yang selalu menghilangkan peran dan inisiatif diri sendiri secara mutlak, terutama pada saat menghadapi problema kehidupan. Lantas di mana kehendak diri atau self ? Musnah ditelan oleh suatu paham akan kemutlakan “kehendak tuhan”! Bila seseorang terlalu pasrah dalam segala hal sampai-sampai kehilangan inisiatifnya, maka sikap inilah disebut fatalis. Sikap fatalis yang telah menjadi prinsip menjalani hidup sehari-hari, berubah menjadi paham fatalisme. Dalam paham fatalisme, secara sadar atau tidak seseorang menyangka suatu keadaan sudah dikuasai oleh nasib dan tidak bisa dirubahnya tanpa kehendak tuhan. Bahkan pandangan fatalisme yang paling ekstrim menganggap segala nasib baik dan buruk mutlak datang dari kehendak Tuhan. Manusia tidak memiliki celah sedikitpun untuk merubahnya.  Dalam khasanah agama, sikap fatalistik berkaitan dengan cara pandang (mind set) seseorang terhadap pemaknaan takdir atau kehendak Tuhan yang dipahami dengan salah kaprah.

Ironisnya, sikap fatalistis biasanya justru bermula dari cara penafsiran akan ajaran suatu agama. Atau pola-pikir yang sudah terpola oleh doktrin agama yang tidak dipahami secara esensial/hakekat.  Sikap fatalis akan muncul bilamana seseorang memahami bahwa karsa atau kehendak dalam kehidupan ini mutlak merupakan kehendak Tuhan. Tak ada gerak-gerik sekecil apapun yang bukan kehendak tuhan. Sikap seorang fatalis menganggap semua keinginan manusia sekecil dan seburuk apapun tidaklah mandiri, kecuali sudah menjadi determinasi kekuasaan tuhan. Bahkan pada tingkat ekstrim, orang-orang tipe fatalis akan menganggap “kemutlakan tuhan” telah meniadakan peran individu sebagai makhluk hidup yang memiliki kehendak mandiri, dan memiliki kemampuan untuk memilih.   Misalnya anda garuk-garuk kepala pada jam 23.09 malam Jumat, tanggal 21 Agustus, merupakan kejadian yang sudah merupakan ketentuan Tuhan. Tuhan mengatur seekor nyamuk supaya terbang dari comberan lalu menggigit pantat anda, kemudian anda menepuk nyamuk tsb pada jam 23.07 wit. Seorang fatalis akan menganggap peristiwa itu sudah menjadi KODRAT TUHAN. Daun yang gugur dari ranting pohon pada jam 23.56 pun dipahami sebagai kodrat dan iradat (ketentuan dan kehendak) tuhan saat itu. Artinya tuhan telah menentukan peristiwa di mana anda menepuk nyamuk pada jam tersebut serta gugurnya daun dari ranting pada jam tersebut. Cara berfikir demikian inilah yang menjadi terkesan sangat aneh.

LANTAS BAGAIMANA MEMAHAMI KODRAT ?

Kodrat saya pahami tak ubahnya hukum alam yang di dalamnya terkandung rumus-rumus alam. Rumus-rumus itu sebagian kecil telah diketemukan manusia sejak zaman  paleolitikum, mezolitikum  hingga neolitikum. Hasil temuan manusia jika dibukukan sebagai hasil penemuan manusia maka jadilah ilmu pengetahuan. Jika dibukukan dengan klaim atas nama tuhan, jadilah buku yang disucikan dan dikeramatkan. Bedanya, ilmu pengetahuan butuh verifikasi, pengujian secara ilmiah, terbuka untuk dikritik agar mencapai kesempurnaan pemahaman akan rumus-rumus tuhan yang berlaku. Sedangkan buku yang dikeramatkan justru bersifat anti kritik, tabu untuk diperdebatkan, dan tidak butuh verifikasi atau uji kebenaran.

CHAOS dalam MEMAHAMI KODRAT

Kembali ke pokok bahasan, jika dianalogikan, kodrat bagaikan “karpet merah” yang musti dilalui manusia agar selamat dan sentausa menggapai kemuliaan hidup. Sebaliknya, orang yang enggan melewati “karpet merah” itu hidupnya akan mengalami sengsara dan gagal meraih kemuliaan lahir dan batinnya. Kodrat bisa saja bersifat pasif, yang aktif tentu saja manusianya. Manusia aktif untuk menentukan pilihannya secara tepat. Ketepatan memilih ditentukan kecermatannya memahami rumus-rumus hukum alam. Itulah makna memahami sejatinya hidup. Gusti iku mahawicaksana, nanging menungso ora biso hanggayuh kawicaksananing Gusti. Tuhan itu mahabijaksana, tetapi manusia sering gagal memahami kebijaksanaan tuhan. Sehingga kebijaksanaan tuhan yang mahaluas tiada batas, menjadi sesempit nalar manusia, lebih parah lagi dipersempit oleh doktrin (dogma-dogma) yang bertebaran menghipnotis mayoritas masyarakat dunia. Kesadaran spiritual manusia tak bisa berkembang sebab selalu terkurung di dalam kapsul kesadaran semu, kesadaran hasil indoktrinasi para saleh. Ironis sekali! Seharusnya dogma bertujuan memerdekakan manusia, dan membuka kesadaran spiritual seluas-luasnya, akan tetapi kenyataannya justru sebaliknya, doktrin menghegemoni manusia, dan membelenggu kesadaran spiritual. Mengapa demikian ? Agama tak ubahnya parpol yang berorientasi mengejar kekuasaan yang diperoleh dari sisi KUANTITAS, yakni mencari pengikut sebanyaknya guna memperkuat barisan. Padahal tujuan semula agama adalah untuk memerdekakan individu, menggapai kualitas kesadaran spiritual yang lebih baik untuk menggapai kualitas hidup yang lebih baik pula. Namun kini, telah terjadi chaos (kekacauan) dalam kesadaran spiritual beragama. Serba kebalik (wolak-waliking jaman). Banyak orang tidak menyadari jika dirinya sedang tidak sadar. Yang sadar dianggap tak sadar, yang tak sadar merasa dirinya sadar.

FATALISME & PENYAKIT JIWA

Kapsul kesadaran berakibat fatal. Di antaranya adalah fanatisme (telah kami bahas dalam artikel lain) dan sikap fatalis. Sikap fatalis menenggelamkan segala kehendak seseorang. Jika sikap ini terus-menerus dijadikan pedoman hidup, setiap individu fatalis akan kehilangan cipta dan karsanya. Lantas ia cenderung berpangku-tangan menunggu-nunggu kehendak Tuhan. Secara tidak langsung sikap fatalis akan menimbulkan makna yang bisa di mana manusia sekedar menjadi obyek penderita. Di samping itu tanpa di sadari justru menimbulkan pemahaman seolah manusia bersikap tidak mau disalahkan, dan tidak mau melakukan instrospeksi diri akan keadaan nasib buruknya. Apabila kita mengerjakan pekerjaan dengan ceroboh, lalu mengalami kegagalan fatal, hal itu tetap dianggap sebagai kehendak Tuhan. Misalnya bila terjadi musibah kapal tenggelam gara-gara kelebihan penumpang, serta-merta dianggap sebagai kehendak Tuhan. Atau misalnya terjadi  kasus jebolnya tanggul waduk Situ Gintung yang menelan korban lebih dari 120 orang, lantas orang mengatakan,” musibah itu sudah direncanakan Tuhan” untuk memberi cobaan kepada umat manusia yang beriman. Kenapa orang tidak berkata sebaliknya,”..oh, musibah itu merupakan peringatan atau teguran tuhan kepada umat manusia yang sudah tidak eling dan waspada. Jika kita mau instropeksi, jebolnya tanggul Situ Gintung disebabkan oleh ulah para pejabat yang berwenang teledor melakukan perawatan tanggul. Dana anggarannya sengaja disusutkan dari alokasi APBD, atau malah diselewengkan sehingga rehabilitasi tanggul menjadi tertunda-tunda hingga musibah benar-benar terjadi.

Coba kita renungkan bersama. Kenapa banyak orang menggunakan jalur hijau dan wilayah resapan air sebagai pemukiman yang padat. Bukankah hal itu sebagai perbuatan MELAWAN KODRAT ALAM (Tuhan) ??!! Kenapa banyak orang diwawancara televisi berpendapat bahwa musibah itu dikatakan sudah menjadi kehendak dan rencana tuhan ? Waduh…jahat bener tuhan demikian?? Apakah tuhan berencana menciptakan para koruptor dan para penyeleweng anggaran pembangunan ? Apakah tuhan berencana membuat pejabat yang ceroboh ? Apakah tuhan merencanakan sebanyak 120 orang bakal mati konyol menjadi korban kecerobohan segelintir pejabat ?

Kemutlakan kehendak tuhan biasanya tertanam begitu kuat melalui doktrin yang berkesinambungan sejak masih usia kanak-kanak. Wajar jika doktrin kemutlakan tersebut akhirnya tertancap kuat dalam alam pikiran bawah sadar. Namun jika kemutlakan tuhan masih saja dipahami dengan pola pikir di atas, maka tanpa sadar pola pikir itu kian dekat dengan virus fatalisme yang erat dengan “gangguan kejiwaan”. Cobalah bersama-sama kita melakukan rehabilitasi atas gangguan kejiwaan itu. BUKAN BEGITU CARANYA MANUSIA PASRAH kepada tuhan.

PASRAH (TAPA NGELI)

Pasrah merupakan upaya manusia untuk menselaraskan, harmonisasi dan sinergisasi antara perilakunya dengan kodrat alam atau hukum alam yang terdapat di dalam semesta raya ini. Kodrat/hukum alam itulah yang dimaksud dengan aturan tuhan. Berbeda dengan fatalistis, “tapa ngeli” merupakan prinsip berserah diri atau selaras dan sinergis dengan “kebijaksanaan” hukum alam (tuhan). Tapa ngeli dapat “bekerja” secara efektif menjadi pedoman perilaku dan perbuatan pada saat seseorang menghadapi masalah berat atau dalam situasi yang serba gambling dan penuh resiko. Pada saat menghadapi kesulitan hidup yang sulit untuk dijabarkan dan dianalisa apa yang sesungguhnya terjadi, tanpa bantuan dan share dari siapapun, orang biasanya terjebak pada suatu keadaan yang serba membingungkan, dilematis dan buntu. Sangat sulit memahami secara pasti bagaimana jalan keluar yang harus ditempuh.

Belajar Dari Watak Sungai

Dalam kondisi demikian tapa ngeli menjadi jalan alternatif paling ideal. Tapa ngeli adalah di mana seseorang berprinsip menyerahkan segala proses pada irama atau ritme alam atau “kehendak tuhan”. Karena alam semesta ini, hukum alam dengan rumus-rumus keTuhanannya akan berproses secara alamiah. Terangkum sebagai rumus atau kodrat alam, bahwa alam mampu melakukan seleksi secara alamiah, adil, bijaksana, teliti, dan cermat (mulat laku jantraning bumi) tanpa menyisakan secuilpun ketidakadilan.  Jika seseorang dapat melakukan “tapa ngeli” ia akan membiarkan diri terbawa proses alamiah dalam kebijaksanaan alam (kehendak Tuhan). Bagi pelaku “tapa ngeli”  sikap dan perilaku akan menjadi sinergis,  harmonis, sesuai dengan rumus-rumus atau prinsip-prinsip alamiah tentang keadilan dan kebijaksanaan yang sejatinya. Sebagaimana disuguhkan oleh alam semesta melalui “bahasanya sendiri” yang menyiratkan hukum/kodrat alam. Namun prinsip-prinsip itu terasa sangat sulit dijabarkan dan dianalisa bila hanya mengandalkan  kemampuan akal budi manusia serta hanya berbekal dogma-dogma kaku anti-kritik. Sebaliknya terasa lebih mudah dipahami melalui indera rasa pangrasa (mata hati) kita.  Prinsip utama tapa ngeli adalah ; sabar, sumarah, sumeleh (qonaah) & pantang menggerutu (grenengan) atau tidak tulus menjalani suatu keadaan yang pahit. Dalam tapa ngeli ibaratnya kita “menghanyutkan diri kedalam aliran sungai kehendak alam semesta” yang terbukti bijaksana. Sungai yang masih alamiah selalu memiliki keseimbangan dengan alam sekitarnya. Sungai yang masih alamiah belum terkena polusi akal-akalan dan keserakahan manusia, sungguh masih berwatak sangat bijaksana. Sungai tidak akan merusak lingkungan alam, termasuk para penghuninya yang terdiri dari tumbuhan, hewan, masyarakat “halus” dan pemukiman penduduk. Sebaliknya sungai justru menjadi sumber berkah bagi lingkungan alam yang dilaluinya. Perjalanan air sungai yang penuh berkah hingga sampailah pada “muara keberuntungan”, masuk ke dalam “samudra kemuliaan” hidup.

Kita dapat memahami bahwa rumus tuhan mengejawantah ke dalam bahasa dan kodrat alam. Pada saatnya pelaku “tapa-ngeli” akan berhasil memasuki “muara samudra keberuntungan”. Ciri-ciri seseorang yang berhasil melakukan tapa ngeli, biasanya akan merasakan nikmatnya hidup, seolah serba kebetulan, dan selalu memperoleh keberuntungan (menggapai ngelmu bejo).  Terjadinya lika-liku hidup dirasakan sudah seperti ada yang mengatur. Sekalipun proses dan jalan cerita kehidupan kadang terasa pahit namun selalu indah pada akhirnya (happy ending). Bisa saja anda kilas balik merasakan perjalanan melewati masalah-masalah sulit dan berbahaya, namun pada akhirnya menemukan kemenangan dan kesuksesan yang di luar yang anda duga-duga sebelumnya. Begitulah hukum alam, asal manusia bersedia sinergis dan harmonis dengan hukum/kodrat alam, maka alam akan mengatur kehidupan anda menjadi harmonis penuh berkah.

Cermatilah; “Tapa Ngeli” atau Mengikuti “Air Bah”

Berikut ini saya membuat analogi dan ilustrasi untuk memudahkan Anda memilah,  mencermati dan membedakan  mana tapa ngeli dan mana yang bukan tapa ngeli. Tapa Ngeli adalah sikap perilaku kita yang mau mengikuti “aliran air sungai” agar kehidupan kita selaras sesuai hukum alam (kodrat Tuhan). “Aliran air sungai” pasti menuju “samudra” anugrah dan keberuntungan.  Sebaliknya adalah sepak terjang air bah yang menerjang wewaler, dengan kata lain perilaku yang melawan hukum alam (kodrat Tuhan). Jika tapa ngeli jauh dari polusi hawa nafsu negatif (nuruti kareping rahsa). Sebaliknya mengikuti “air bah” sama saja mengikuti hawa nafsu negatif (nuruti rahsaning karep) atau sikap semaunya si hawa nafsu sendiri (dikiaskan; manut wudele dewe). Air bah menerjang segala sesuatu yang bukan  menjadi haknya. Air bah merusak tepi pantai, daratan, pemukiman penduduk, sawah, ladang dan membuat kerusakan di mana-mana.

Perilaku “Tapa Ngeli”

Apabila perilaku dan perbuatan anda tidak melanggar sesuatu yang menjadi hak orang lain termasuk perbuatan melawan hukum (breaking the law), tidak menyinggung perasaan atau menyakiti hati orang lain, atau perilaku anda tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi orang banyak. Perbuatan Anda tidak merusak alam, lingkungan hidup, itulah perilaku yang masih berada dalam koridor tapa ngeli.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang  yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo boleh saja menganggap hal itu sebagai musibah. Musibah diterima, dijalani, dan dirasakan dengan penuh kesabaran sebagai kelalaian dan kealpaan manusia. Tidak perlu banyak menggerutu dan menyalahkan pihak lain atau mencari-cari kambing hitam termasuk menganggap sebagai akibat dari efek gempa Jogjakarta yang letaknya nun jauh dari lokasi musbah lumpur Porong Sidoarjo. Yang paling penting mau menanggung semua resiko lalu memenuhi kewajibannya dengan cara yang penuh tanggungjawab, ketulusan, dan penuh kasih sayang. Perusahaan secepatnya mengambil langkah-langkah  nyata melindungi dan mengganti kerugian kepada masyarakat sekitar yang tertimpa luapan lumpur dengan tulus ikhlas walaupun menguras aset perusahaan sampai habis. Begitulah perilaku tapa ngeli yang tepat.  Jika semua tanggungjawab dijalani dengan penuh kesabaran, penuh ketulusan dan kasih sayang untuk melindungi warga masyarakat yang tertimpa luapan lumpur seadil-adilnya, maka kemungkinan  besar perusahaan pengeboran itu akan mendapatkan gantinya yang jauh lebih besar dari apa yang telah ia keluarkan.

Sedangkan bagi masyarakat dan PemKab setempat, melakukan tapa ngeli dengan cara menerima penderitaan itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Tidak sibuk menggerutu atau meratapi nasibnya, namun sebaliknya dengan penuh semangat tetap memperjuangkan apa yang menjadi haknya melalui prosedur yang tepat dan benar secara   hukum. Perjuangan tidak berhenti di situ saja, Pemkab bersama komponen masyarakat secepatnya menyusun rencana ke depan untuk merubah musibah menjadi anugrah. Dengan berfikir kreatif, alternatif dan inovatif untuk menciptakan peluang baru di tengah runyamnya keadaan akibat luapan lumpur. Dirancang melalui pemikiran positif, dilakukan dengan sikap positif bahu membahu antara Pemerintah dengan semua unsur masyarakat setempat. Saya yakin akan datang anugrah agung terlimpah bagi masyarakat Sidoarjo. Saya termasuk orang yang yakin 100 % bahwa mukjizat Tuhan harus diraih oleh manusia sendiri. Artinya manusia tidak bisa hanya dengan berpangku tangan lantas mukjizat Tuhan datang dengan seketika. Manusia harus benar dulu “laku”nya. Barulah anugrah dan mukjizat yang diharapkan benar-benar terwujud. Mujizat Tuhan (hukum alam semesta) hanya berlaku bagi orang-orang yang mau memperjuangkannya dan bagi orang yang percaya 100% saja.

Perilaku “Air Bah”

Sebaliknya, apabila perilaku dan perbuatan Anda sadar atau tidak ternyata telah menyakiti hati orang lain, menyinggung perasaan sesama, melibas hak orang lain, mencelakai dan merugikan orang, melakukan tindakan invasi, menyerobot, menggusur dan menjajah, maka termasuk mengikuti sepak terjang air bah.

Misalnya, perusahaan pengeboran tambang  yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur Porong Sidoarjo menganggap hal itu sebagai cobaan buat dirinya (atau cobaan untuk orang-orang yang “beriman”).  Sekilas kalimat itu terdengar indah sekali. Namun pernahkah  berfikir dan melakukan instropeksi diri bahwa musibah itu timbul atas kelalaian dan kecerobohan dirinya sendiri. Sangatlah arif dan bijaksana apabila pihak pengebor sendiri menyadari bahwa luapan lumpur Porong sebagai bentuk teguran atau hukuman Tuhan atas segala kesombongan manusia yang terlalu mengandalkan teknologi canggih, kurang bijak perlakuan terhadap alam semesta, dan sikap lancang tidak menghargai “masyarakat gaib” yang benar-benar ada di sekitar kita. Sikap instropeksi ini tentu saja lebih tepat dilakukan serta lebih arif dan bijaksana karena tidak “menyalahkan”  Tuhan secara tidak langsung.

Namun pada umumnya terjadi anggapan yang sebaliknya, musibah lumpur itu dianggap semata-mata datang dari Tuhan yang ingin mencoba-coba keimanan manusia. Seolah konsep keTuhanan hanya dijadikan sebagai obyek penderita saja, bahkan secara tidak langsung manusia menganggap Tuhan sebagai pelaku kerusakan alam. Lantas di mana letak kebenaran rumus bahwa: “Tuhan merupakan berkah bagi alam semesta (rabbul alamin)..?! Di situlah terdapat sifat egosentris manusia yang sangat halus, yang seringkali  tidak disadarinya. Tuhan dijadikan sarana kambing hitam dan cuci tangan manusia dari segala tuntutan tanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan akibat ulah ceroboh dan kelalaiannya. Hebatnya orang-orang tipikal demikian disadari atau tidak, dengan santun masih bisa berucap,”…kami melakukan “tapa ngeli” kami pasrah mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan..! Namun tanpa ia sadari dirinya telah mengikuti prinsip air bah,  nuruti rahsaneng karep, dengan bersikap golek menange dewe, golek benere dewe, golek butuhe dewe, sembari menjadikan Tuhan sebagai “kambing hitam” yang telah mendatangkan segala macam musibah. Orang-orang atau pihak yang memiliki sikap demikian itu, cepat atau lambat tidak ada yang luput dari bebendu (hukuman) Tuhan sejak masih di dunia maupun setelah ajal tiba. Itulah “ilustrasi” bilamana manusia mengikuti kehendak “air bah”.  Pada tingkat retorika, seolah sebagai orang yang tabah melakukan tapa ngeli. Diawas  den dieling, kita sering tidak menyadari hal itu terjadi pada diri kita sendiri. Maka jangan tertipu indahnya kulit, merdunya kalimat dan pesona wajah nan rupawan. Kebenaran sejati ada di dalam hakekat. Di balik semua yang tampak oleh mata.

BETULKAH TUHAN GEMAR MENCOBA ?

Saya ingin berbagi kepada para pembaca yang budiman tentang suatu analisa bagaimana sistematika dan hubungan sebab-akibaat atas terjadinya berbagai bencana dan musibah di negeri ini, siapa tahu ada manfaatnya. Coba kita renungkan bersama, mengapa bencana alam kebakaran, angin, banjir dan gempa kini sering terjadi.

Mengapa terjadi kebakaran (hutan), banjir, angin, salah musim, hama tanaman, wabah penyakit, hingga gempa dahsyat dan tsunami..?

Pertanyaan di atas, akan menghasilkan berbagai jawaban seperti di bawah ini, sesuai dengan tingkat kesadaran si penjawab.

1. Jawaban paling mudah dan simpel, sekaligus bodoh; hal itu sudah menjadi kehendak tuhan. Sudah digariskan tuhan untuk mencoba keimanan manusia. Nah, jawaban ini keluar dari seseorang yang terlalu percaya diri, yang hanya membuat pribadi-pribadi seolah agamis, tetapi sungguh congkak menganggap diri sebagai orang beriman paling baik dan bener. Lantas dari mana manusia bisa mengukur keimanannya sendiri? Apa parameter keimanan, yang berkaitan dengan keyakinan yang mengendap dalam perasaan dan di alam pikiran bawah sadar? Jawaban ini beresiko membuat seseorang lupa diri, gagal melakukan instropeksi dan evaluasi diri. Maka termasuk tipikal orang yang tak tahu jika dirinya sedang tidak tahu.

2. Jawaban yang lumayan kritis ; hal itu terjadi karena manusia telah meninggalkan agama. Cuma sayangnya, agama mana yang ditinggalkan ? Biasanya masing-masing orang menjawab ; agama yang paling benar dan yang dianutnyalah yang ditinggalkan. Musibah itu sebagai hukuman bagi orang-orang yang telah menutup mata terhadap agama yang dianutnya. Jawaban ini masih terpolusi oleh rasa egoisme, fanatisme kelompok, golongan, sektarian, primordial, etnosentrisme. Apakah berkah dan kasih sayang alam semesta bersifat sektarian hanya welas asih kepada sekte/umat agama tertentu? Apakah kasih sayang dan anugrah alam bersifat primordialis, pilih kasih hanya kepada agama tertentu ? Apakah berkah dan anugrah alam bersifat etnosentris ? hanya berlaku bagi kebudayaan dan peradaban manusia tertentu? Apakah sumber kehidupaan yang disediakan oleh jagad raya ini hanya diperuntukkaan bagi  suku dan ras tertentu? Coba berfikirlah lebih dalam dengan hati yang bersih dan batin yang bening.

3. Jawaban lebih kritis; musibah dan bencana merupakan teguran tuhan (alam semesta) atas perilaku, perbuatan dan ulah manusia. Bahkan merupakan hukuman tuhan (alam semsta) agar supaya manusia dapat berinstropeksi diri. Agar supaya manusia lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah tuhan (alam semesta). Jawaban ini rasanya lebih positif, tidak menjadikan diri kita congkak, terlalu merasa percaya diri, dan membuat lupa diri. Hal ini menjadikan diri kita selalu sadar jika kita ternyata belum sadar. Kita menjadi tahu, jika diri kita ternyata belum tahu. Dan begitulah modal besar bagi siapapun agar menjadi oraang yang tahu dan sadar.

Jawaban yang lebih kritis, sebagai bentuk kesadaran kita akan adanya hukum sebab akibat. Bahwa musibah dan bencana ada hubungannya dengan ulah manusia. Mau percaya atau tidak percaya pada hukum alam dan hukum sebab akibat, toh hukum sebab akibat itu tetap ada dan terbukti bisa disaksikan siapapun yang mau mencermati hukum alam. Akibat adalah bentuk hisab. Kapan terjadinya hari hisab ? Tentu saja tak perlu menunggu “kiamat” (bagi yang percaya kiamat). Hari hisab terjadi setiap hari, di mana hari ini merupakan “buah” atas apa yang kita tanam beberapa hari, minggu, bulan, tahun lalu. Sing sopo nggawe bakal nganggo, siapa menabur angin akan menuai badai, siapa menanam pasti akan mengetam. Inilah hukum sebab akibat yang bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, yang memungkirir maupun yang tak memungkirir.

Gempa, banjir, kekeringan, kebakaran, bisa terjadi oleh ulah manusia. Manusia yg tak memahami hukum alam di wilayah tertentu (misalnya Indonesia), dengan seenaknya melakukan penggundulan hutan, ekploitasi alam secara berlebihan, tidak melakukan konservasi alam, merusak sungai, hutan, tepi pantai. Akibatnya sangat fatal. Hutan gundul mengakibatkan kurangnya resapan air ke dalam tanah. Akibatnya begitu kompleks. Lempeng bumi yang selalu bergetar, bergeser, setiap saat terjadi kekurangan “pelumas” dan pelentur berupa air sehingga keadaannya menjadi rapuh mudah patah. Pada saat terjadi sedikit geseran dan getaran, maka patahlah lempeng bumi mengakibatkan gempa. Terjadinya perpatahan lempeng bumi bersifat estafet, maka gempa terjadi beruntun terjadi secara estafet pula. Lindu sedino ping pitu. Akibat lain, reboisasi berkurang sangat signifikan, sehingga terjadi proses penguapan  air tanah secara besar-besaran, berakibat pada penyusutan kandunga air tanah dan global warming, hal ini menambah porsi penguapan air laut semakin bertambah besar, yang berpengaruh pada perubahan iklim secara distortif, lantas terjadi hujan salah mongso. Pada saat kemarau, empang, kolam tak kering kerontang, pada saat musim penghujan air meluap menjadi banjir besar. Akibatnya hasil pertanian gagal total. Sekali hujan maka terjadi sangat lebat, hingga menimbulkan banjir besar. Pemanasan global berakibat es kutub meleleh, terjadi elevasi air laut, perubahan cuaca yang begitu cepat dan terjadi berkali-kali dalam sehari. Suhu ektrim terjadi di mana-mana, menimbulkan pergerakan udara dingin ke panas terjadi begitu cepat, sehingga menimbulkan bencana angin topan, lesus, tornado, putting beliung yang merusak permukaan bumi. Pemanasan global, distorsi cuaca dan iklim, berimplikasia menimbulkan  wabah penyakit, virus, bakteri mengalami perubahan genetika dan  sifat dasar, lantas muncullah penyakit-penyakit baru yang mematikan manusia, tanaman dan binatang. Esuk lara sore mati, sore lara isuk mati.

Ini baru sedikit ulasan mengenai apa sebab musabab terjadinya gempa, banjir, anginm dan wabah penyakit. Masihkan kita “menyalahkan” tuhan yang ujug-ujug mencoba-coba manusia ?  Marilah berfikir dengan akal sehat, betapa ulah kita, ulah manusia telah menjadi penyebab utama kerusakan bumi ini. Tegakah kita kepada anak cucu generasi penerus kita, yang hanya kita warisi kerusakan, malapetaka, penyakit, wabah, kesengsaraan, penderitaan. Jika tidak eling dan waspada, diam-diam kita bisa berubah menjadi generasi biadab, keji, dan buas beringas, menjadi monster bagi anak turun kita sendiri…!! Siapa sesungguhnya yang menjadi dajjal ?

SIAPA YANG TAK BERAGAMA?

Tapa ngeli berarti perilaku yang sesuai dengan kodrat alam atau kodrat ilahi. Pelaku “tapa ngeli” inilah sesunggunya secara hakekat dikatakan orang yang beragama. Sementara itu, mengikuti “air bah” berarti melawan kodrat alam, melawan hukum alam.  Dan yang ini, tipikal orang yang tak beragama, sekalipun ia menganut salah satu agama yang ada. Atheis bukan berarti orang yang tidak menganut satu agamapun yang ada di bumi ini. Bagi saya pribadi, atheis lebih pas untuk menyebut orang yang perbuatannya selalu melawan dan menentang hukum alam. Sekalipun seseorang memeluk salah satu agama, namun perbuatannya selalu membuat kerusakan alam, mencelakai dan membunuh orang lain. Maka secara hakekat ia termasuk manusia tak beragama.

Mari..kita renungkan bersama..!

Rahayu Karaharjan

Sabda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar