Kamis, 16 Desember 2010

MOKSA, NGAHIYANG, MUKSWA ATAU KAMUKSAN


Berbicara moksa, ngahiyang, mukswa, kamuksan, merupakan sebuah peristiwa perpindahan manusia dari dimensi planet bumi/wadag ke dalam dimensi gaib, alam kelanggengan atau keabadian. Biasa di sebut sebagai peristiwa kematian. Sama halnya dengan peristiwa kematian, tetapi kematian untuk menunjuk raganya saja. Sedangkan sukmanya masih akan terus hidup selamanya di alam keabadian. Kematian yang sudah bersifat umum, tentu saja yang mati raganya saja. 

Sedangkan kamuksan, moksa raga tidak mati, melainkah masuk ke dalam dimensi keabadian. Syaratnya cukup “sederhana” asalkan raga kita bersih atau suci dari segala macam kesalahan, terutama terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk, dan selama hidup di dalam dimensi wadag planet bumi kita sangat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada seluruh makhluk, maka akan memenuhi syarat untuk pindah tempat ke alam keabadian melanjutkan suatu kehidupan model baru. 

Secara singkat peristiwa ini digambarkan sebagai warangka manjing curiga, atau selongsong keris masuk ke dalam pamornya. Raga yang menyatu ke dalam sukma. Agak aneh dibayangkan, tetapi anda akan manggut-manggut begitu mafhum bila telah memahami rumus-rumus yang berlaku di alam gaib khususnya tentang hal ini. 

Sebab tak ada hal gaib yang tidak masuk akal. Jika masih belum masuk akal, ibarat dongeng, dapat dipastikan anda belum lengkap mengetahui rumus-rumus tuhan yang ebrlaku di alam gaib, khususnya peristiwa ini. Untuk mempermudah pengertian, peristiwa moksa sebagai kebalikan dari peristiwa kelahiran. Peristiwa lahir digambarkan secara simpel sebagai curiga manjing warangka, atau sukma yang manjing, menyatu ke dalam raga. Peristiwa ini tidaklah aneh, karena anda telah memang telah memahami rumus-rumusnya.

Saya yakin saat ini masih banyak orang yang mampu meraih kamoksan, hanya saja peristiwa lenyapnya raga tidak terjadi manakala seseorang tersebut mati, dan masih dilihat banyak orang. Jadi peristiwa kamoksan berlangsung manakala raganya telah dikubur di dalam tanah agar supaya tidak menimbulkan fitnah banyak orang yang hidup di zaman modern ini. 

Salah satu ciri-ciri orang yang kemungkinan bisa meraih kamuksan, coba perhatikan raganya, biasanya walau dokter sudah menyatakan mati, tetapi 4 jam kemudian, suhu raganya masih terasa hangat, tubuhnya tidak mengeras, dan tidak kaku.  

Sebagaimana beberapa tahun yang lalu, saat guru besar Fak Filsafat UGM Prof Dr Damarjati Supadjar ditelpon temannya yang tinggal di Magelang, bahwa dirinya sudah akan mati. Cepatlah datang kemari agar bisa melihat peristiwa kebesaran Tuhan. Pak Damar telat sampai di Magelang dan sahabatnya telah wafat beberapa jam lalu. Tetapi temannya yang lain yang sempat menunggui saat kematiannya, lalu menutupnya dengan tikar pandan. Pak Damar penasaran bagaimana kondisi terakhir fisik sahabatnya itu yang katanya tidak sakit samasekali. Lalu dibukanya tikar tersebut dan kagetlah ia, begitu dibuka raganya telah hilang musnah. Ooh inilah betapa kebesaran tuhan yang dimaksudkan tadi. Akhirnya tak ada upacara pemakaman jenazah. Sebab raganya sudah ikut manjing ke dalam sukma, untuk pindah tempat hidup ke alam kehidupan yang abadi. Semoga peristiwa tersebut menjadi pelajaran yang bermanfaat untuk kebaikan hidup kita semua. 


  1. Apa beda reinkarnasi dan nitis.
  2. Fenomena ngahiyang dan moksa masuk ke arah yang mana, mohon pandangannya ki.
Jawab;
Saya akan menjawab bukan melalui berbagai referensi. Tapi menurut apa yang berkali-kali saya saksikan sendiri. Jadi mohon maaf bila mungkin ada perbedaan dengan yang ada dalam referensi apapun. Silahkan nanti bisa disimpulkan sendiri.
  1. Ada seseorang sudah memiliki rohnya sendiri yang asli. Ciri-ciri rohnya yang asli jika dilihat/tampak maka bentuk, gambaran, tubuh, wajah dan wujud rohnya sangat mirip dengan raganya. Nah, di samping itu raga tersebut sering digunakan oleh leluhurnya sendiri dan atau leluhur besar utk berkomunikasi dgn jagad wadag termasuk dgn sesama manusia. Sukma sejati leluhur tersebut seringkali masuk ke dalam raga seseorang tersebut, serta menjiwai dan mensifatinya. Kasus semacam ini kemudian saya pahami sebagai roh leluhur yang menitis ke dalam raga anak turunnya, bisa juga raga orang yang bukan anak turunnya.
  2. Ada seseorang dengan rohnya sendiri yang asli. Tapi banyak leluhurnya sendiri dan atau leluhur besar yang selalu membimbing dan mengarahkan langkah-langkanya dalam menapaki kehidupan ini. Kasus seperti ini saya sebut dijangkung dan dijampangi (dibimbing dan diasuh/diarahkan). Leluhur tersebut berfungsi ibarat sebagai guru besarnya.
  3. Ada pula seseorang yang selalu didampingi oleh seorang leluhur, bisa satu bisa dua leluhur sebagai pendamping intensif seseorang tersebut. Kasus ini ada yang menyebut sama dengan no 2, leluhur yang njangkung, tetapi secara khusus bisa disebut sebagai sang pamomong atau sing momong.
  4. Masing-masing orang apapun agamanya, pasti memiliki guru sejati. Guru sejati tidak lain adalah sukma sejati kita sendiri. Wujud dan suaranya, mirip dengan wujud raga kita. Hanya bedanya sifat dan tabiatnya sangatlah arif dan bijaksana, karena guru sejati tidak terikat oleh raga kita yang seringkali banyak terkena polusi nafsu dan angkara murka.  Guru sejati merupakan wujud kesatuan antara sukma (ruh) dan rasa sejati (sir). Saat berkomunikasi dengan raga kita, bisa dilihat dalam wujud pada saat terjadi peristiwa di mana kita ketemu dan berdialog dengan “diri kita” (yang tampak sebagai badan halus).  Bagi yang tak bisa melihat, bisa merasakan getaran nurani kita sendiri, karena guru sejati biasanya mengirim sinyal kebenaran melalui getaran nurani. Guru sejati bersifat langgeng, abadi, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Sebab  ia  berujud gaib dan sangat mudah berinteraksi di dalam alam kehidupan yang sejati (alam kelanggengan) di mana tak ada lagi tabir yang menutupi mana kebenaran sejati dan manapula “halusinasi” nafsu. Jadi sebenarnya setiap orang sudah memiliki sensor untuk memilah dan memilih mana kebenaran sejati dan manapula hanyalah “getaran” nafsu. Hanya saja, banyak orang yang tidak telaten mengolah batin sehingga jiwanya cenderung dikuasai oleh unsur-unsur ragawi (nuruti rahsaning karep). Celakanya, tidak sedikit orang yang kemudian salah menyangka bahwa getaran nafsunya dianggap sebagai getaran nurani. Ini lah sumber kesalahkaprahan. Sumber dari wolak-waliking jaman. Untuk itu, kita perlu suatu upaya untuk Mengolah dan Mempertajam Nurani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar